Kembali ke Laut - Rumahku di Laut - Mahkota Kupu-Kupu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kembali ke Laut - Rumahku di Laut - Mahkota Kupu-Kupu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:48 Rating: 4,5

Kembali ke Laut - Rumahku di Laut - Mahkota Kupu-Kupu

Kembali ke Laut

Aku selalu bermimpi tentang itu

Kapal-kapal kargo yang
bersandar pada kaki langit
Pada sore yang beranjak
Petang di Selat Madura
Bermahkotakan pendar lampu-lampunya
Yang memantul di riak gelombang

Sore yang bersulang dengan petang

Arus laut demikian kuat
membawaku hanyut

Aku terus hanyut, hanyut
di selat yang nampak sahaja ini
yang diapit dua dermaga tua

Oh mercusuar, di mana suarmu?
Adakah engkau hilang
ditelan gemerlap lampu-lampu kapal?

Arus laut ini terus membawaku hanyut
Tidak ke samudera lepas
Tetapi ke Kalimas, ya Kalimas!
Seperti dulu Tartar dan bala tentaranya
Merangsek masuk ke udik

Lumpur seperti menarik-narik kakiku
Adakah terjadi pemberontakan
pada muara?
Adakah air sungai membangkang pada laut
pulang ke hulu, ke mata air
yang gelap dan sungi
di bawah dekapan rindang mahoni?

Aku terus menghilir ke Kalimas
Ke Brantas, ke Bengawan
Solo, dan ke pedalaman
Suara berisik diesel perahu penambang
pasir membuatku cemas
Tanggul-tanggul angkuh
berdiri di tepi-tepi sungai
Kail-kail pemancing yang
bertebaran mengancam jiwaku

Bukankah aku dilahirkan
sebagai putri pesisir?
Darahku adalah darah laut!

Tidak!
Aku harus pulang ke laut yang beralun
Mencecap asin airnya
Berkejar-kejaran dengan tongkol dan tuna
Berselancar di punggung
ikan pari yang manis
Dan berlompatan dengan barakuda

Hidup tenteram
di selat yang diapit dermaga
tua tanpa mercusuar
Aku harus pulang ke laut!

Ya, ya... aku selalu bermimpi tentang itu:
Tentang seruas arus yang mengajakku
jauh menghilir ke hulu
Dan aku selalu menolak ajakannya
Karena aku adalah laut

Surabaya, Desember 2015

Rumahku di Laut

Tidak terlalu penting
Kamu bertanya di mana rumahku
Karena tadi sebelum fajar merayap
Telah kuapungkan rumahku ke laut

Rumahku menghadap langit
Berfondasi gelombang
Tak berpintu, tak berjendela

Nelayan bisa leluasa
Keluar-masuk ke rumahku untuk rebahan
Pelaut juga bebas menyelundupkan pelacur
di saat lembar sauh

Adakalanya cumi-cumi masuk ke rumahku
mengecat rumahku dengan tintanya
Adakalanya kerang-kerang singgah
lalu meninggalkan kulitanya jadi hiasan

Sesekali  burung bangau mampir
Dalam migrasinya
Lalu bersenandung tentang
negeri yang elok

Jika kau mencari rumahku carilah di laut
Mungkin sekarang sedang
mengapung di segara kidul
Dengan seorang gadis tertidur
pulas di dalamnya
Setelah semalam bertukar pantun
dengan bintang-bintang

Surabaya, Desember 2015

Mahkota Kupu-Kupu

Kepompong membawakan aku
Mahkota raja

”Pakailah,“ katanya
”Tidak,“ kataku
”Tak pantas aku mengenakannya.
Aku hanyalah tiram yang
hanyut ke sana-kemari
Dibawa gelombang laut,” kataku lagi.

”Pakailah!“ desaknya.
”Tidak!“ sanggahku.
”Aku hanyalah camar
Yang hinggap ke sana-kemari
Di karang-karang di samudera,“ kataku lagi.

Kepompong menatapku
Lalu perlahan dia menjelma
Menjadi kupu-kupu

”Jika kau tak mau memakai mahkota raja ini
Pakailah warna-warniku saja
sebagai mahkotamu
Tidak hanya di kepalamu,
tapi juga di hatimu
Hiasilah, hiasilah...!!!“ katanya

Warna-warninya rontok
Beterbangan dibawa angin laut
Lalu hinggap pada diriku

Di depan cermin aku bergumam perlahan:
”Ibu, tidakkah kau lihat putrimu ini
Cantik seperti bidadari?!“

Sidoarjo, 10 Desember 2015



Leres Budi Santoso lahir di Surabaya, 1969. Belajar kesenian di Bengkel Muda Surabaya. Tahun 1996 diundang Dewan Kesenian Jakarta mengikuti Mimbar Penyair Abad Ke-21. Pernah bekerja di JTV. Sekarang direktur PT Cinta Indonesia Grup. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Leres Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos: Minggu 5 Juni 2016



0 Response to "Kembali ke Laut - Rumahku di Laut - Mahkota Kupu-Kupu"