Ketika Wuru | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ketika Wuru Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Ketika Wuru

SETIAP Lebaran tiba, Sugeng selalu bertanya kepada bapaknya, Tarnowo. Mengapa setelah salat Id, ia diajak nyekar ke makam neneknya di pemakaman desa? Tapi ia tidak pernah diajak nyekar ke makam kakeknya. Tapi setiap kali itu pula, Tarnowo bilang ke anak semata wayangnya jika kakeknya dimakamkan di tempat yang sangat jauh. 

"Kakekmu itu sudah lama meninggal dan dimakamkan di tempat yang sangat jauh, di luar pulau sana. Kalau nyekar ke sana harus naik kapal atau pesawat terbang. Bapak tidak punya uang untuk ke sana," kata Tarnowo. 

"Tapi kan Sugeng pingin nyekar ke makam kakek seperti teman-teman. Lihat, kalau habis salat Id, kan makam di desa kita ramai banyak orang nyekar," timpal Sugeng. 

"Sudah, jangan banyak tanya soal kakek. Tidak nyekar juga tidak apaapa, yang penting kita berdoa agar kakekmu mendapat tempat yang baik di surga." 

"Iya, kita doakan saja ya," imbuh Prapti, ibunya Tarnowo. 

Mereka bertiga lalu membersihkan pusara nenek yang hampir setahun tidak didatangi. Rumput-rumput tumbuh liar di sana-sini terpaksa harus dicabut. Prapti yang sudah membawa sapu lidi pun membersihkan daun-daun kering yang menutup pusara. Setelah bersih, keluarga kecil ini lalu khusuk berdoa membaca yasin tahlil di dekat pusara nenek yang tepat berada di tengah-tengah pemakaman. 

Matahari yang baru seperempat jalan tentu saja tidak terasa panasnya di pemakaman itu. Angin yang perlahan bertiup dari kaki Gunung Slamet dan pohonan besar seperti jati, sengon dan beberapa pohon buah membuat pemakaman rimbu dan teduh. 

Sementara itu di beberapa makam, nampak orang khusuk berdoa mendoakan keluarganya yang telah mati. Sesekali Tarnowo mengelus-elus papan nisan yang tulisan neneknya sudah luntur.
Usai berdoa, dia diam sejenak. Matanya terpejam. Bayangan bapaknya kembali melintas di benaknya. Air matanya lalu menetes pelan. Istri dan anaknya ikut terdiam melihat Tarnowo. Beberapa detik kemudian pria setengah baya itu membuka matanya dan bangkit dari jongkoknya.

"Ayo kita pulang. Kita masih harus sungkem ke rumah pakde."

"Kenapa bapak menangis?" kata Sugeng.

"Tidak apa-apa."

Mereka melangkah keluar pemakaman. Sesekali harus bersalaman dengan tetangga dan orang yang dikenalnya yang bertemu di jalan setapak itu.

*** 
Setiap Lebaran tiba, Tarnowo selalu teriris hatinya. Setiap nyekar, ia selalu teringat pada bapaknya yang tidak tahu dimana rimbanya. Ia masih ingat betul pada sosok bapak. Badannya yang sedikit kurus, kulitnya legam dan senyumnya yang mengembang dengan bibir tebal dan hitam akibat kretek yang dihisap. Di mata Tarnowo, bapaknya adalah jawara main ebeg, kesenian kuda kepang/lumping. Ketika wuru alias trance, bapak selalu menjelma menjadi sosok macan yang gagah, kuat dan tajam tatapnya. Tarnowo tak takut, tapi bangga dengan aksi bapaknya. Dia selalu ikut kemanapun bapak dan grup ebegnya ditanggap, walau harus rela berjalan kaki puluhan kilometer. 

Dia hanya sebentar hidup bersama bapaknya. Di usia Tarnowo 12 tahun, ayahnya tiba-tiba menghilang. Tidak ada yang tahu dimana rimbanya. Dan hingga dia menikah, dia hanya diasuh oleh ibunya. Menjalani hidup yang penuh liku sebagai keluarga miskin di desa. 

Tarnowo menikahi Prapti di usia 29 tahun. Telat memang untuk ukuran bujang di desanya. Prapti adalah anak dari pamannya, namun beda kakek. Prapti dinikahi saat menginjak usia 16 tahun. Baik Tarnowo maupun Prapti, tak ada yang sekolah. Tapi untuk membaca dan menghitung, sedikit-sedikit mereka bisa. Pasangan itu baru diberi anak saat pernikahan mereka berumur 30 tahun. Sangat lama memang, tapi itulah garis dari tuhan yang sudah dituliskan. 

Di samping menjadi kuli kebun, Tarnowo juga meneruskan profesi bapaknya sebagai seorang penari ebeg. Apa lagi kesenian ini sudah sangat melekat pada dirinya. Sering ia dan grupnya ditanggap di acara-acara warga maupun pemerintahan. Kadang di acara khitanan, kawinan atau peresmian pembangunan talut di desa. Gerakannya luwes dan lincah ketika dipadu dengan tabuhan gending, calung dan kendang. Ketika wuru/trance, ia pun menjelma menjadi sosok macan yang, gagah, trengginas dan tatap matanya tajam. Sama seperti almarhum bapaknya dulu. 

*** 
Sepekan setelah Lebaran, Tarnowo dan grup ebegnya mendapat undangan untuk labuh di kabupaten tetangga. Tepatnya di sebuah lapangan dusun kecil tak jauh dari pantai selatan. Seperti biasanya, Tarnowo dan sejumlah penari asyik menari diiringi gending dan calung banyumasan. Tiga sinden tua berdandan menor melengking suaranya. 

Beberapa saat sebelum ritual wuru, tiba-tiba mata Tarnowo melihat sesosok laki-laki yang sangat tua. Usianya sekitar 80 tahun. Laki-laki itu mengenakan batik dan duduk dengan kursi roda. Seketika ingatannya kembali saat ia berusia 12 tahun. Saat itu ia sedang sembunyi di balik lemari kayu. Dia melihat seorang laki-laki yang tegap memegang tubuh bapaknya dan menjambak rambutnya. Mata kanan laki-laki itu buta dan ada bekas luka sayatan. Laki-laki itu membentak-mbentak. Sementara bapak hanya dapat berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang menolongnya. Hingga akhirnya Tarnowo melihat bapaknya yang mengenakan kaus merah bertuliskan Lekra diseret keluar rumah oleh laki-laki buta sebelah itu. Dan itulah terakhir kalinya Tarnowo melihat bapaknya. 

Laki-laki yang duduk di kursi roda menonton pertunjukan ebeg itulah yang membuka kenangan pahit Tarnowo. Sementara, para niyaga menabuh gending dengan cepat. Tarnowo pun wuru. Indang macan masuk dalam tubuhnya. Otot tangan dan kakinya menegang. Jemarinya kaku seperti cakar. Tubuhnya berjalan pelan, matanya memerah dan menatap tajam seperti macan yang hendak menerkam kancil. Kebetulan, sinden tua tengah nembang Eling-eling . Dalam hitungan detik, Tarnowo berlari dan meloncat menuju laki-laki di kursi roda itu. Tangannya mencekik lehernya beberapa lama, hingga laki-laki tua yang buta sebelah dengan bekas luka sayat di mata kanannya itu lemas dan tergeletak tak bernapas. Ratusan penonton pun menjerit dan berhamburan. 

Tembang Eling-eling terdengar samar-samar... eling-eling, sapa eling balia maning, Rama balia rama, ya rama... wong eling ning alam donya. Oh ya ning alam donya... - o 

Purbalingga, 2016 

Ryan Rachman, penulis cerpen dan puisi. Pengasuh rubrik Ruang Sastra di Radio Ardilawet Purbalingga dan bergiat di Komunitas Katasapa Purbalingga. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Unsoed Purwokerto, tinggal di kaki Gunung Slamet Desa Bumisari, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ryan Rachman
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 19 Juni 2016

0 Response to "Ketika Wuru"