Ketoprak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ketoprak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:15 Rating: 4,5

Ketoprak

Gapura berwarna-warni telah berdiri megah di sisi kanan panggung pementasan. Dilatarbelakangi gedung-gedung tinggi sebagai dekornya dengan beberapa bentuk rumah-rumah kayu yang kumuh dan suram. Satu persatu lampu dinyalakan, menyorot ke arah panggung. Dalam waktu singkat, panggung menjadi sangat benderang, tetapi kemudian beberapa lampu sorot itu dimatikan. Bersamaan dengan itu terdengar suara musik yang mulai menggelegar. Gong, simbal, dan efek bunyi-bunyian MIDI terdengar begitu nyaring! Dengan satu hentakan berhentilah seluruh musisi dengan alat musiknya. 

Beberapa lampu sorot dinyalakan kembali langsung ke arah para penabuh. Satu di antara mereka menengok, menghadap ke lampu itu dengan senyum mengembang … sambil melambaikan tangannya yang masih menggenggam stick drum. 

Lampu warna-warni mulai dimainkan … hm … kelihatannya malam ini akan sukses, sebab semua perangkat bekerja dengan baik. Bagian tata lampu cukup puas melihat hasil karyanya yang cukup ciamik. Sedangkan sang penata dekor mantuk-mantuk di sudut kursi penonton dengan jari-jari kedua tangannya saling bertemu di dekat hidungnya yang cukup mancung. Sekali-sekali suara perkusi mengisi memberikan tawaran inspirasi. 

Sang penata dekor masih juga manggut-manggut. Ada yang sedikit mengganjalnya. Ia menatap terus apa ya yang kurang? Kelihatannya gapura itu terlalu mencolok warnanya dibandingkan dengan dekor lainnya. Ya, … rasa-rasanya memang begitu, warnanya kurang natural dan hidup. Kesannya justru mencolok dan kurang menyatu dengan lainnya. Mungkin harus dibantu dengan permainan lampu yang diubah, efek para pemain yang membuat blocking di sekitar gapura nanti akan berbeda. Ah … mungkin sebelum pertunjukan hari kedua esok bisa sedikit dibetulkan warnanya. Sekarang mana mungkin, satu jam lagi sudah mulai manggung. 

Eh … tentu para pemain sudah mulai sibuk dengan dandanannya yang super medok dengan kostum ajaibnya mulai dikenakan. Ruang ganti yang diterangi lampu-lampu 75 watt terdengar begitu gaduh. Ada suara tawa dan canda dari arah sana. Dari semua personil kelompok drama itu, memang para pemain terkenal paling meriah. Sangking terbiasa bermain di panggung bertahun-tahun, bercuap-cuap lantang selama 24 jam nonstop tidak ada lelahnya. Jangan ditanya gimana kekuatan suaranya … kalau mungkin gapura di panggung itu ikutan roboh, hi … hi … hi … ketawa lagi … !

Suara cekikikan Melis terdengar lagi. Si ceriwis itu sibuk membenahi kostumnya yang rupanya agak sedikit salah setrika. Untung ia tidak cemberut atau stres gara-gara itu. Bisa-bisa pertujukannya penuh dengan aroma dan bau buah asam. Sebab wajah cemberutnya akan dominan di panggung. 

“Udah deh Lis … nasib kamu lipitnya agak berantakan!” suara Luna yang berperan jadi ibu-ibu pejabat memperhatikan rekannya. 

“Untung nggak ada cap strikaannya ya … mah bajunya jadi berbatik dong!” Melis masih berusaha membetulkan bajunya semaksimal mungkin. Memang lipit-lipitnya sedikit tidak di jalur yang sebenarnya. 

Sementara Audina, sang asisten sutradara masih juga mondar-mandir kegugupan, “Duh … Notty kok belum datang juga sih. Tuh anak bikin kita jantungan aja ….”

“Tenang deh Din … entar lagi juga nongol. Dosennya lagi kasih ceramah tambahan kali tuh!” Tamara sedang membetulkan eye shadow-nya yang agak asimetris. 

Belum sampai tiga menit … muncul Notty yang terengah-engah degan tasnya sebesar karung beras. Audina langsung menyambutnya dengan cukup lega.

“Sorry Din … duh, tahu nggak … !”

“Enggak!” celetuk Luna dan Melis serentak. 

“Aqua … aqua dong!” Notty menambah kegaduhan di ruang ganti, “Kipas … kipas, aduh metropolitan ini begitu panas yeah …,” ia mengibas-ibaskan tangannya. 

“Hu … Notty belum jadi nyonya menteri beneran udah sibuk merintah melulu!” Tamara memberikan segelas aqua dan tawa Notty meledak, “Ha … ha … ha …. Lho yang suruh ambil siapa?! Lumayan kan tiga bulan latihan dulu jadi nyonya menteri. Tiga tahun lagi baru jadi istri menteri betulan!”

“Hu … mimpi! Pertunjukan yang akan datang kamu jadi pohon aja ya. Susah lho Not!” Melis menggodanya.

“Dan kamu jadi buah simalakamanya. Ngegelantung terus tiga jam. Bersedia? He … he … he …!” kick balik Notty cukup jitu. 

“Udah buruan atuh neng … kamu kan belum dandan! Audina memperingatkannya, tangan kirinya sibuk dengan sebatang samsoe yang kelima pak kedua. 

“Ntar dulu … baru sampe. Sebel banget tadi … bajaj gue mogok di daerah tanggung. Mau turun … bajaj lain pada ogah nganterin, mau jalan wah … wah pegel amat! Tuh jadi telat!” celoteh Notty setelah meneguk aquanya setengah.

“Ya udah … ini udah jam berapa. Buruan!” Audina tidak sabaran. Ya … siapa yang tidak panik kalau pemeran utamanya telat datangnya.

“Oke Boss …!” Notty langsung melompat dari kursi dan mulai mencari pembersih mukanya dari dalam tas.

“Moga-moga Emak gue nggak ngomel melulu abis lihat pertunjukan ini. Katanya, sekolah gue nggak beres-beres gara-gara kebanyakan jadi pemain ketoprak. Sialan!” Tangan Notty mulai membersihkan mukanya dengan susu pembersih. 

“Ya … ampun, kenapa nggak tanjidor sekalian!” Melis yang sudah rapi dengan dandanannya menanggapi. Notty menjulurkan lidahnya kepada Melis.

“Pokoknya sebagian dari honor mau gue beliin kado buat Emak tersayang!” sambung Notty.

“Dee … nyogok ni ye …!” sahut yang lainnya. Ruangan ini semakin penuh saja. Pemain laki-laki mulai ikutan nimbrung. 

“Enak aja, itu namanya berbakti!” sahut Notty bela diri. 

“Berbaktinya sih cuma satu persen … sisanya untuk meredam ceramah subuh!” sahut Bondi, salah satu pemain senior. Gurauan itu disambut meriah oleh yang lainnya. Tamara juga sudah menjanjikan sepersekian honornya untuk memberikan suatu surprise untuk tunangannya. Kalau Bondi yang hidupnya penuh pengabdian kepada dunia teater ingin mengajak anak-anaknya ke Dufan sepuasnya. 
Tapi keceriaan mereka hanya datang sekejap. 

Dengan nafas terengah-engah Hardi, salah satu personil menyuruh mereka berkumpul segera di panggung. Melihat ekspresi wajahnya, semua sudah bisa menebak pasti ada sesuatu yang terjadi.
Di luar, penonton yang satu persatu berdatangan mulai memperhatikan karton yang baru saja ditempel dengan isolasi. Kelihatannya semua dilakukan dengan tergesa-gesa. Tulisan warna merah yang cukup mencolok berisi pesan singkat:

MOHON MAAF PERTUNJUKAN “MONOPOLI” TIDAK DAPAT DIPENTASKAN BAGI PARA PENONTON YANG TELAH MEMBELI TIKET DAPAT MEMPEROLEH UANGNYA KEMBALI DI SEKRETARIAT GEDUNG TEATER DUA PADA JAM 10.00 - 14.00 WIB. TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA.

Tanpa menunggu komando, secara reflek para wartawan yang khusus diundang untuk malam perdana langsung mengeluarkan notes, tape recorder dan segala atributnya. Mereka langsung menghampiri sutradara yang kebetulan masuk pintu belakang. Dalam sekejap, suasana berubah jadi gaduh. 
Penonton VIP yang belum tahu tetap sibuk mencari tempat parkir, sementara yang sudah membaca pengumuman itu tetap berkerumun dengan penuh tanda tanya dan mengoceh kanan kiri. Pintu masuk memang belum dibuka. Tirai pintu yang tadinya sempat terbuka, kemudian ditutup kembali. Para tukang parkir juga jadi sibuk menyebarkan informasi kepada penonton yang berdatangan. Beberapa tukang catut karcis yang memperoleh undangan yang datangnya entah dari mana, wajahnya menjadi lesu. Habislah harapan mereka untuk memperoleh penghasilan mendadaknya. Beberapa tiket yang sudah di tangannya batal disodorkan kepada calon penonton yang ngotot ingin nonton hari pertama. “Ya … kok dibatalin sih?!” sahut gadis berbaju Gianni Versace dengan gelang gaya Chanel-nya menyesali. 

“Hu … sebel banget, waktu itu gue nggak sempet nonton. Abis … duh, no way ya nonton teater absurd …. Pusing deh, ya!” sahut temannya yang tidak kalah gaya, legging hitam ketat mengkilat dengan blazer gaya marinirnya ikut menggerutu. Beberapa langkah dari mereka segerombolan pria muda juga kesal. Rata-rata berambut panjang. Ada yang dikucir dengan klimis jelly, beberapa yang lainnya digerai dengan bandana warna-warni. Tidak lupa jins dedel dowelnya. 

Seorang ibu yang cukup cantik dan rapi bersama anak gadisnya berumur tanggung, baru saja menuruni tangga menanti Pak sopir yang ikutan antri menjemput tuannya. Wajah-wajah penonton terlihat kehilangan hiburan. Tapi penonton masih berdatangan juga walaupun mereka sempat memperoleh indormasi dari tukang catut dan tukang parkir. Rupanya mereka masih tetap penasaran. Yang bingung dan prihatin banyak, tapi yang sekadar berhai-hai tanpa turut merasa sedih juga tidak sedikit. Yang penting sempat membeberkan penampilannya. 

Di pintu belakang, para wartawan tetap berusaha menghadap sang sutradara yang juga kewalahan masuk pintu. Dari berbagai penjuru, tangan para wartawan menyodorkan tape recorder dan pertanyaan. 

Sang sutradara akhirnya dibantu anak buahnya bisa masuk dan berusaha menghalau wartawan yang ingin ikut mendesak ke dalam. 

“Beri kami nafas sedikit, Bung … waktu wawancara akan kami berikan …!” salah satu dari mereka angkat bicara kemudian berusaha menutup pintu. 

“Kapan … kapan?!” terdengar teriakan dari beberapa wartawan. 

“Malam ini juga, sabar sedikit ya …!” dan pintu berderak ditutup dan dikunci.

Kuyu, kesal dengan rambut yang sudah tidak teratur lagi sang sutradara menyusuri lorong pintu belakang dengan bahu dipeluk salah satu rekannya. 

Seluruh personil yang tergabung dalam sandiwara “Monopoli” sudah berkumpul di tengah panggung. Seluruh lampu menyala menyoroti mereka. Sang sutradara berhenti melangkah, satu persatu ditatapnya mereka semua. Ah … mereka sudah lengkap dengan atribut panggung, polesan make up yang tebal, bibir merah, bahkan beberapa di antaranya sudah memakai rambut palsu. Duduk tepekur dan seakan-akan sudah mengetahui apa yang akan diumumkan. 

“Rupanya tahun ini bukan milik kita …,” suara bergetar sang sutradara terdengar. Perlahan-lahan ia melangkah menerobos lingkaran para personil drama Monopoli. 

“Apa lagi alasannya, Mun?” Bondi yang sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini angkat bicara.
Harmun, sang sutradara terdiam … menarik nafas panjang perlahan, “Drama ini dianggap tidak bermutu, dapat menimbulkan kericuhan!”

“Jadi …? Kita berhenti sampai di sini?” sambung Tamara tidak terima alasan itu. Harmun hanya mengangguk. 

“Lha selama ini ijin yang sudah turun tidak berlaku sama sekali?” Audina masih tidak percaya. Hatinya begitu jengkel karena drama yang akan dipentaskan kali ini sebagian besar adalah hasil jerih payahnya. Harmun memberikan tantangan itu kepadanya. 

“Menurut yang berwenang, ijin itu hanya untuk pemakaian gedung, sedangkan ijin pementasan belum ada!” sahut Harmun dengan nada kesal. 

“Lho, yang ngatur bukannya dari pihak Teater Dua?” tanya Bondi heran, diikuti Audina, “Dan menurut prosedur, pihak Teater Dua yang mengatur segalanya. Kita sudah mengirimkan naskahnya pada mereka tiga bulan yang lalu untuk ijin pementasan! Kok aneh sih!!”

“Kita dianggap melangar peraturan, karena ijin pementasan belum ada, tapi jalan terus,” Harmun memberi keterangan yang sebenarnya tidak bisa ia yakini.

“Terus alasan dapat menimbulkan kericuhan itu apa maksudnya?” Notty yang dari tadi hanya membisu karena terbawa rasa kagetnya mulai bersuara. 

“Nah … itu alasan berikutnya!” Harmun menambahi.

“Hebat ya nyari alasannya … mbok ya dari dulu, waktu naskah itu diterima!” Audina menyahut sebal, “Jangan-jangan justru pihak Teater Dua nggak ngirim naskahnya!”

“Eh … bisa jadi tuh!” sambung Notty dan Melis bersamaan. 

“Hush ah …, jangan main nuduh, adik-adik!” Bondi menengahi sambil menyeringai.

“Kan itu mah cuma barangkali!” Notty mengecilkan suaranya dengan kepala merunduk-runduk. Suasana berubah menjadi hening. Terbuai pikiran masing-masing. Habis sudah harapan Bondi mengajak anak-anaknya ke Dufan. Teringat wajah istrinya yang tidak pernah mengeluh kalau beberapa kali pulang dengan tangan hampa. Hanya sebuah kalimat yang selalu diingatnya, “Bon … aku sih udah terbiasa dengan keadaan begini. Tapi anak-anak? Mereka terlalu kecil untuk memahami keadaannya. Sementara di sekelilingnya tidak semua keadaannya seperti mereka ….” Tapi kesabaran manusia sampai kapan?

Baru kali ini hatinya terasa pedih, kalau bukan istrinya yang menjadi salah satu karyawan bank, mungkin perekonomian mereka sejak semula sudah morat-marit. Wajah istrinya membayangi terus. Selama beberapa hari ini wajahnya selalu gembira karena berhasil membantu menjualkan karcisnya. Bahkan permintaan mengalir terus. 

Dulu … sebelum teater ini jaya, wah … seretnya setengah mati mencari penonton. Laku setengah kapasitas dari tempat duduk sudah anugerah. Sekarang … baru isu-isu mau manggung, yang antri udah bejibun. Di antaranya, istri Bondi berani promosi di kalangan tempat kerjanya. 

Ingatannya melayang jauh ke belakang. Keberanian istrinya teruji ketika ia memberikan dua buah tiket kepada bosnya yang terkenal kaku orangnya. 

“Dia itu persis seperti cerita Uncle Scroodge yang kaku dan kikir itu. Bayangin, pas hari ulang tahunnya, eh … anak buah malah disuruh ngelembur. Mending ditraktir lagi. Tetep aja kita disuruh makan nasi bungkus!” wajah istrinya begitu masam. 

Tetapi entah apa, dua hari setelah hari ulang tahunnya, sang bos pagi-pagi menghampiri meja istri Bondi yang baru menyalakan mesin ketik IBM-nya, “Ning … terima kasih karcisnya. Baru kali ini saya bisa tertawa terpingkal-pingkal melihat pementasan tadi malam. Suamimu memang hebat mengocok perut saya …,” dengan wajah sumringah sang bos menyampaikan profisiatnya. Sementara istri Bondi hanya melongo saja. 

Sejak itulah … perangai atasannya mulai berubah. Entah karena baru selesai membaca buku “Mari Bergaul” atau karena nonton sandiwara yang kebetulan ceritanya menyentil hatinya. Dia jadi orang nomor satu yang selalu memborong tiketnya. Lucunya, dia pun jadi salah satu kritikus nomor wahid bila permainan sandiwara mereka jelek ….

Sementara Bondi melamun, Notty tepekur dengan mata berair, “Aduh … Mama pasti akan memberikan senyum kemenangan. Mana mungkin dapat ijin ikut pementasan lagi ….”

Tamara juga hanya bisa terdiam, sekotak alat-alat pahat terbaik yang akan diberikan kepada tunangannya tinggal kenangan, “Ah … Andi harus kerja dengan alat-alat kunonya lagi.”

Seperti ada yang mengkomando hati mereka, semua personil dengan atribut ondel-ondelnya berjalan menuju ruang protokol. Dari arah luar, penonton bisa menyaksikan para pemain menyanyikan berbagai lagu mars perjuangan. Serbuan wartawan seperti biasa menyebarkan blitz-nya dari aneka penjuru. Mereka ikut berdesakan pula dengan calon penonton. Pawai pemain yang semangat bernyanyi dianggap sebagai tontonan yang batal disaksikan mereka. Untunglah pintu kaca masih tetap kokoh menahan desakan lautan manusia. 

“Hancurnya ‘Monopoli’ Teater”

“Bahaya Monopoli?”

“Monopoli Dapat Menimbulkan Keresahan”

Sebagian dari berbagai judul pada berbagai harian yang terbit keesokan harinya. Berita Utama kali ini mampu menggeser perang dingin di blok Timur. Penjual koran seliweran di antara antrian panjang kendaraan yang menuju kantor masing-masing. 

Hari ini, mereka tidak peduli mengasong di antara kendaraan. Habis … sudah pasti kocek-kocek ratusan akan mengalir cepat. Wah … tiras koran pasti mencuat cepat. Ternyata “Monopoli” mampu memberikan nafkah tambahan hari ini. Siapa bilang sandiwara itu mengakibatkan keresahan. Buktinya tiras harian menambah senyum sang pemilik harian, agen, dan diikuti tawa sang penjaja koran. Lha … tapinya kan jadi nglanggar peraturan to? Ah … kok jadi sambung menyambung. 

Sementara, Harmun masih tetap termangu dengan wajah kusut. Audina dan beberapa personil lainnya tidak kalah pahit wajahnya. Mereka hanya bisa menanti berjam-jam, sekadar ingin mengetahui seberkas keadilan yang belum juga menampakkan tanda-tandanya. 

Tak ada alasan yang jelas, rugi materiil yang entah bagaimana harus digantinya. Belum ada sehari, pemberi sponsorship sudah mendatanginya dan ingin menarik uangnya segera. Belum lagi penonton yang nuntut ganti rugi juga. Persis cerita drama Melayu … selalu merana, sudah jatuh tertimpa tangga eh … kelindes Baby Benz.

Begitu pembredelan drama “Monopoli” tersebar ke berbagai penjuru, terpancar puas wajah Ramdala. Pembicaraan diplomatis sang super power pengusaha seratus empat puluh empat perusahaan kepada pihak petinggi selesailah sudah. Benaknya begitu bungah dan puas berujar, “Dipikirnya apa mereka itu? Enak saja menyindir kepiawaianku. Ini kan dunia bisnis toh? Memang paling enak menjadi bagian dari dunia celebrities. Memberikan pengaruh dan sedikit mengumbar kanan-kiri plus big power jadilah semua bisa dilakukan! Jangan sok idealis sementara lingkunganmu makan sepiring berdua. Aku tidak melakukan monopoli, sirik aja sampeyan. Ini justru keberhasilan dan kejelian otak dan pikiranku. Kok kehebatanku diludahi dengan sandiwara picisan itu! Tak sudi aku jadi bahan tertawaan, wah … apalagi aku sekeluarga diundang khusus untuk menyaksikannya. Yang benar aja. Harmun … Harmun otakmu ditaruh di mana sih?” Dengan mengangkat kakinya Ramdala membaca harian yang baru diterimanya dari sang butler, mester Mandol. Sepiring toast plus salami dengan telur dadar menemani sarapan paginya. Tak lupa ia meneguk fresh orange juice yang tidak boleh lebih dari dua jam setelah dibuat. 

Masih teringat gerutuan Imelda, anak gadisnya yang baru meningkat remaja, “Duh Pap … ikke sebel deh. Masa’ sandiwaranya dibatalin.”

“Oh, ya … wah kok seni ikut dibredel juga. Kapan kita bisa maju?” sambut Ramdala dengan acting  herannya. 

“Iya tuh, rumoursnya sih katanya agak-agak nyentil para konglomerat. De … gitu aja pake dipikirin. Seharusnya take it easylah, anggep aja just for fun. Oh, ya oom Tan dateng lo, terus oom dan tante Koy kasih salam. Gila … Bi-emnya baru lagi. But masih kalah serinya sama kita, Pap …,” walaupun kesal Imelda masih bisa tersenyum sebab bersama teman-temannya sudah memutuskan untuk pergi ke coffee shop hotel termewah di jagad ini. Habis … gengsi dong kalau dalam seminggu belum menampakkan wajahnya. Apalagi gold card membernya minggu ini belum digosok lagi!



Vashti Trisawati. Lahir di London. Hobi tulis-menulis direntang sejak tahun 1979 di beberapa majalah remaja dan wanita. Aktivitas sehari-harinya kini dihabiskan di Headline Creative Communications sebagai copywriter serta menjadi pengajar di FISIP dan Program Diploma Sastra, Universitas Indonesia. Bersama tim Headline lainnya, dunia fashion di media elektronik dengan lebel “Ekspresi” menjadi salah satu garapannya. Salah satu keinginnya yang belum terealisasi adalah menulis fiksi yang dibukukan. (Matra, April 1993)


***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Vashti Trisawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi April 1993


0 Response to "Ketoprak"