Kita Meraba Dunia dengan Kata | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kita Meraba Dunia dengan Kata Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:04 Rating: 4,5

Kita Meraba Dunia dengan Kata

Kita Meraba Dunia dengan Kata 

Kita meraba dunia dengan kata
Menyentuh apa pun dengan kata

Bila kau menyentuhku dengan kata
Hilanglah kemurnianku
Wujudku makin sementara
Dan kesucianku tinggal gema

Bila aku merabamu dengan kata
Lenyaplah wajah aslimu
Keanggunanmu pudar sirna
Mati tersalib umpama

Kata-kata
Membuat segalanya menjelma kiasan
Bayang dan dikaburkan
Dinyatakan ketidaknyataan

Sejak Tuhan disalin ke dalam kata
Kita makin tak menemukannya
Tuhan pun kesepian
Dalam kitab-kitab suci yang ditulisnya

Sejak cinta diungkap dengan kata
Kita pun kehilangan debarnya
Rindu kehilangan deburnya
Bintang-bintang di langit padam
Kehilangan pusat cahaya

Betapa eloknya dunia
Bila tak ada kata
Benda-benda bicara dengan matanya

Dengan pancaran dirinya
Memantul dari benda ke benda
Bagai pantulan cinta
Dari jiwa ke jiwa

Kita pun akan mengenal segala-galanya
Tidak dengan ungkapan
Namun dengan pengalaman
Sebagaimana Musa ambruk di hadapan cahaya
Sebagaimana Zulaikha tersayat oleh pesona?
Pulangkan Aku ke Jauh-Jauh Hari

Masih kuingat janji
Ketika engkau bertanya di awal hari
Ah, bukan di awal hari
Bukankah saat itu ruang dan waktu belum terjadi?
Bahkan sunyi, bahkan puisi
Semua masih khayalan suci

“Bukankah aku adalah kekasih
Dari apapun yang paling terkasih?
Bukankah aku adalah bukan
Dari apapun yang dicipta oleh pikiran?“

Kau bertanya. Kami yang saat itu tak punya mulut
Serempak dapat bicara, serempak punya suara:

“Engkaulah kekasih, engkaulah kekasih
Engkaulah, engkau, kau!“

Kini, ribuan hari telah kulewati
Ribuan senja telah kulukai
Dengan kata, dengan puisi
Setelah kaulepas aku ke dunia seorang diri
Setelah aku tertawa sekaligus menangis seorang diri
Memanggilimu di kelam hari
Ketika mereka turun ke bumi
Menyingkap langit malam sunyi
Merobek langit dalam diri

Sesekali kau tiba
Menjelma sepoi angin subuh hari
Meresap ke pori-pori
Menjelma darah, mengalir ke jantung ini
Oh, inikah kenikmatan abadi
Yang menggetarkan Musa dan para nabi
Yang membuat Al-Busthami
Hanya ingin memilikimu seorang diri

Kurasakan bibirmu mengulum jiwaku
Mengulum kemanusiaanku
Ketika di menara-menara dalam hati
Para kekasih memanggilimu tak henti-henti
Ketika segala ketika Tiada lagi di batin ini

Oh, kembalikan aku padamu, Kekasih
Pulangkan aku ke jauh-jauh hari
Sebelum ruang dan waktu terjadi
Sebelum kau dan aku dinamai
Sebelum kau dan aku dilukai
Dengan apa pun dalam puisi

Achmad Faqih Mahfudz, lahir di Buleleng, Bali, 14 Maret 1987. Alumnus Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Faqih Mahfudz
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 19 Juni 2016

0 Response to "Kita Meraba Dunia dengan Kata "