Melukis Langit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Melukis Langit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:12 Rating: 4,5

Melukis Langit

UNTUK KELIMA KALINYA IA MEMENCET NOMOR-NOMOR TELEPON ITU dengan tak sabar. Bunyi yang keluar masih sama. Sibuk. Sudah jam dua siang. Apakah Bapak tengah berpidato di telepon? Dira membanting gagang telepon itu. Musa, tetangganya yang sejak tadi mengintip dari balik majalah, tertawa mengikik. 

“Jangan terlalu berbakti, Dir. Bapakmu baik-baik saja.”

“Taik. Kamu nggak tahu kalau Bapak sudah menelepon Pak Mahmud? Gila. Lima jam. Gagang telepon sampai panas, Mus. Mending amat pembicaraannya bermutu. Soal pengalaman di penjara jaman revolusi diulang-ulang. Seluruh plat masa lalunya sudah diputar di muka setiap orang.”

“Alaa, Dir, maklum dong. Bapak lu biasa sibuk. Sekarang ditinggal melulu sama anaknya yang setan kerja,” ucap Musa seenaknya. 

Nadira melirik sambil terus memencet nomor telepon rumahnya dengan tak sabar. 

“Bapak … ?”

“Eh, Dira … aduh, bapak baru saja taro telepon.”

“Bapak pidato lagi, ya. Nanti rekening teleponnya menjulang lagi.”

Terdengar tawa ngakak yang keras. Dira menjauhkan gagang teleponnya sejenak lantas mendekatkan kembali ke daun telinganya. Musa tersenyum.

“Anu, Dir … Pak Mahmud tadi memuji-muji wawancaramu itu. Katanya tajam betul pertanyaanmu. Bapak bilang kan itu karena keturunan saya selalu punya otak tajam, ha … ha … ha ….”

Nadira tersenyum. “Bicara tiga kalimat saja mosok sampai lima jam, Pak.

“Ah, ndak lima jam toh, Dir. Bapak baru cerita itu filem di tivi siang ini. Bagus sekali lo. Apa sih kamu sok mengeritik teve swasta. Kamu nggak tahu saja, teve swasta muter film bagus-bagus. Buktinya kemarin muter filmnya John Wayne. Waduh, Bapak jadi inget waktu masih naksir ibumu. Gilanya, Bapak juga pernah mengajak pacar Bapak satu lagi nonton film yang sama. Wua … ha … ha ….”

“Film John Wayne kok ditonton.”

“Apa kamu sok tahu. Kamu mana ngerti idiom-idiom John Wayne, Clark Gable, Humphrey Bogart atau Gregory Peck. Mereka itu memang tergolong dalam genre film yang berbeda, tapi itu adalah kosa kata film masa lalu Bapakmu, nduk. Kamu kan cuma tahu nama-nama masa kini macam Robert de Niro, Jack Nicholson, Dustin Hoffman atau siapa itu yang jadi banci dalam penjara Brazil itu ….”

“William Hurt ….”

“Ya, William Hurt. Tapi nama-nama itu nggak legendaris. Dan film-film mereka belum tentu abadi, meski dalam resensimu itu kau puja seolah-olah mereka itu dewa kayangan saja ….”

“Lantas apa bagusnya si John Wayne itu?”

“Wah, ya itu, kau nggak bisa menghargai. Gerak-gerik dan olah tubuhnya, tanpa harus jungkir balik seperti jagoan ninja jaman sekarang, sangat teguh, tegap dan mewakili ketetapan hatinya. Dia hanya berdiri di ujung jalan, menghadapi 11 penembak ulung. Tapi kita tahu, mereka semua akan mati di tangannya. Dor! Dan sebelas orang itu terkapar semua.”

“Lha, itu yang bikin nggak seru, Pak. Mosok kita sudah tahu duluan si John Wayne bakal menang.”

“Ya, intinya bukan siapa yang bakal menang atau kalah. Tapi bagaimana ia bisa mendapatkan kemenangan itu …”

Dira menghela nafas. Dia memindahkan telepon ke kuping kirinya. “Bapak belum makan, ya?”

Tak terdengar jawaban apa-apa. 

“Pak … ?”

“Yaaa, sudah minum kopi tadi pagi …. Kopi itu cukup mengisi perut Bapak lo. Waktu dulu bapak konperensi IGGI di Amsterdam ….”

“Pak kok gitu. Kan si Nah janji mau masak lasagna kesukaan bapak ….”

“Tapi lain dengan lasagna buatan kantin ….”

“Loo, mana ada buatan kantin yang enak, Pak. Sudah. Saya bawain cah kailan restoran Trio, ya. Mau?”

“Ndak. Makanan kantin kantor bapak paling enak.”

Dira sudah mulai tak sabar. Dari kejauhan dia melihat Eni memanggil karena ada telepon untuknya. “Pak, sudah ya Pak … ada telepon untuk Dira ….”

“Tunggu, Dira. Kalau mau bawa makanan buat bapak, dari kantin saja. Beli lasagna buatan ibu Murni. Lantas, sekalian beli kue lumpur surga beberapa buah. Nanti malam ada film Alfred Hitchcock di tivi.”

“Ya, ya ….”

Hari sudah pukul setengah tujuh malam ketika Nadira melangkah masuh perlahan. Suara penyiar tivi yang merdu dan dengung nyamuk di kupingnya memberikan sebuah tanda. Bapaknya sudah duduk di muka televisi. Hampir setahun lamanya, pemandangan itu menjadi bagian rutinitas kehidupan keluarga Suwandi. Saat ini, keluarga Suwandi hanya tinggal Nadira dan bapaknya. Yu Nin masih bergulat memelototi buku-bukunya di perpustakaan hanya untuk menambah tiga huruf di belakang namanya. Dan itu jauh-jauh dilakukannya di Amerika. Arya bertapa di tengah hutan. Dengan setia abangnya menjaga hutan jati milik rakyat agar jangan dicuri tangan iseng. 

Ibu Suwandi sudah lama memilih untuk tidak pusing dengan kewajiban di dunia. Setiap kali membaca tulisan anak bungsunya di koran, tekanan darahnya melesat ke titik yang mengerikan. Karena itu, Nadira selalu memasang senyum setiap kali pulang meliput peristiwa-peristiwa kontroversial yang kira-kira bisa mengganggu jam tidur ibunya. Nadira tahu betul, ibunya sudah kenyang dengan kehidupan sebagai “isteri wartawan ideal”. Dan ia mengerti, sesungguhnya kepedulian ibunya terhadap nasib orang-orang yang tergusur atau ketidakjelasan praktek hukum justru membuat tubuh dan hatinya terus menerus gundah. 

Akibatnya, Dira terlalu sering menyimpan penderitaannya untuk diri sendiri. Pekerjaannya sebagai wartawan telah begitu semangat menggerogoti tubuh dan pikirannya. 

Ketika terjadi mutasi besar-besaran di kantor ayahnya, pikiran Nadira tersedot habis ke dalam persoalan itu. Ayahnya, seorang wartawan senior yang dihormati mendadak mendapat sebuah tawaran kedudukan yang ganjil. Kepala Bagian Iklan. Dan selama itu pula, Nadira dan kedua kakaknya lupa bahwa ibu Suwandi pun sesungguhnya sudah rapuh. Di tengah kekalutan itu, ketiga bersaudara terkaget-kaget ketika suatu pagi menemui wajah ibunya yang biru di pinggir tempat tidur (“mula-mula aku mengira ia sedang tidur tidur di lantai. Malam-malam ibu sering kegerahan,” bisik Dira kepada Musa pada hari penguburan ibunya. Tanpa ratapan. Tanpa air mata). 

Kematian ibunya yang mendadak telah membuat Nadira begitu tua. Sejak penguburan ibunya setahun silam, lingkaran hitam di bawah kedua bola matanya tak pernah hilang. Dan sejak kematian itu pula, Dira memandang segala sesuatu di mukanya tanpa warna. Semuanya tampak kusam dan kelabu. Ia tahu tawa ayahnya berisi air mata. Ia tahu ketak-ketok bakiak ayahnya setiap jam tiga pagi adalah bunyi detak jantung ibunya yang saling berkejaran dengan bunyi lonceng kematian. 

Di muka layar televisi, ayahnya memandang adegan demi adegan itu tanpa berkedip. Sudah jam delapan. Ayahnya segera mematikan televisi. (“Saya tak sanggup melihat acara gunting pita dan pukul gong. Semuanya adalah pameran kepandiran,” ujar ayahnya ketika Dira menanyakan kenapa ia selalu mematikan televisi tepat jam delapan. Dan itu dilakukan secara rutin sejak kematian ibunya.) Bapaknya memasukkan kaset video yang sudah dikenalnya. All the President’s Men. Film itu sudah ditontonnya puluhan kali. Tiba-tiba bapaknya merasa ada yang memperhatikan dirinya. Ia menoleh. 

“Dira ….”

“Ini saya bawakan lasagna buatan kantin kantor bapak. Masih ada dua potong terakhir ….”

Mata Bapaknya berkilat menatap bungkusan di tangan anaknya. Ia tersenyum kecil. 

“Ketemu siapa saja di kantin, Dira?”

Nadira mengambil piring di lemari dan menjawab sekilas. “Pak Riswanto ….”

Bapaknya terdiam. Dipandangnya dua potong lasagna itu. Kilat matanya kembali redup. Kemudian menatap ke layar tivi. Ada adegan kesibukan di ruang kantor harian The Washington Post. Lantas muncul Dustin Hoffman. Terdengar dengung nyamuk di kupingnya. 

“Pak, sudah saya bawakan, Pak ….”

“Ya, ya … bawa sini.”

Dira mengambilkan piring berisi dua potong lasagna dan memindahkan beberapa potong kue lumpur surga ke piring kecil yang lain. Didekatinya bapaknya dan disodorkannya kedua piring itu. Bapaknya mengambil piring-piring itu dari tangan anak bungsunya. Diletakkannya kedua piring itu ke atas meja kecil di sebelah kursinya. Tatapannya tetap lurus ke arah layar televisi. 

Nadira menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Air dingin yang dibanjurkan ke mukanya bercampur dengan air hangat yang mengalir dari kedua bola matanya. 

“Yu, Nin ….”

“Hei, Dira? Gila … jam berapa ini?”

Nadira melirik ke jam dindingnya. Jam setengah tiga pagi. 

“I need you ….”

“Of course …. Kalau tidak kau tak akan segila ini. Ada apa?”

Nadira terdiam. Dia tak bisa langsung menjawab apa yang ingin diutarakannya. Kelihatannya begitu sepele, begitu remeh temeh, hingga ingin rasanya ia meletakkan gagang telepon itu. Namun suara Yu Nin yang biasanya mantap dan sedikit tergesa-gesa karena kesibukannya, kini terdengar lebih sabar. Mungkin karena dia menyadari urgensinya telepon adik bungsunya itu. Nadira memang tak terlalu sering menelepon kakak sulungnya yang tengah bergulat menyelesaikan disertasi doktornya di Amerika. Selain ongkos telepon terlalu mahal, dia tak suka dengan ketergesaan kakaknya yang selalu sibuk untuk mengembalikan buku ke perpustakaan atau harus bertemu dengan salah satu pembimbingnya. 

“Kenapa Dira? Bapak?”

“Dia tidak makan seharian ini …” akhirnya meluncur juga kata-kata itu. 

“God, that man … sudah berapa lama?”

“Kemarin sih makan, meski cuma gado-gado dari kantin. Padahal Yu Nah sudah membuatkan urap kesukaannya. Empat hari yang lalu, dia juga ogah makan lalu menyuruh saya membelikan soto ayam dari kantin. Yu Nah sudah mulai tersinggung, merasa masakannya nggak dihargai.”

“Jadi ini mengadu soal Yu Nah atau bapak?”

“Ya dua-duanya. Tapi yang gawat kan bapak? Lagi pula, dia terserang insomnia akhir-akhir ini. Setiap malam aku dengar kletak-kletuk bakiaknya di dapur.”

“Alaa, insomnianya kan sejak dia jadi wartawan ….”

“Ya, tapi makannya? Kan bapak biasa jagoan makan?”

“Ya, sudah. Nanti juga dia makan kalau lapar ….”

Nadira menggigit bibir. “Dia … dia hanya suka menonton tivi, Yu. Lantas lihat video All President’s Men diulang-ulang cuma untuk mengingat masa lalunya sebagai wartawan.”

“Lo, itu kan bagus? Daripada seperti Oom Prie yang menghabiskan waktunya minum di bar?”

“Dia kan memang suka minum alkohol. Bapak tidak. Lagi pula, frustrasinya lain. Oom Prie kan di-PHK, kalau bapak ….”

“Nah …, bapak kenapa? Kan dia yang keras kepala. Coba tawaran Pak Riswanto diterima ….”

“Gimana sih kau, Yu. Bapak itu lulusan Amsterdam University. Sarjana Politik dan Ekonomi. Sudah meliput berbagai sidang internasional, seperti IGGI dan OPEC. Sudah pernah mewawancara ….”

“Come on, Dira, kok kamu jadi ketularan Bapak, memutar plat lama. Aku kan sudah mendengar bab itu sejak kamu masih bau pesing. Aku juga hafal curikulum vitae bapak. Tapi dengan segala latar belakang intelektual itu apa salahnya dia jadi Kepala Bagian Iklan?”

Nadira tak tahan. Hatinya seperti melepuh saking panasnya. Dia meletakkan gagang itu perlahan-lahan. Ketika telepon berdering-dering kembali, Dira mematikan lampu kamarnya. Dan dering telepon itu pun berhenti. Kesunyian malam itu hanya diganggu suara bakiak bapaknya yang mondar-mandir di dapur. Dira keluar dari kamarnya dan menyeret kakinya ke kamar mandi. Dicelupkannya seluruh kepalanya ke dalam bak mandi, lantas diangkatnya seluruh kepalanya yang kuyup. Dipandangnya tembok putih kamar mandi itu. Semuanya kelihatan begitu kelabu. Berulang-ulang dia menyelupkan kepalanya ke bak mandi dan mengangkatnya kembali. Sementara jam dinding milik kakek mengumumkan waktu. Pukul tiga pagi. 

“Dira?”

“Ya, Bapak? Ini bapak?”

“Wah, jelas betul terdengarnya, Dira … seperti kau ada di Jakarta. Justru kalau telepon satu kota, kita harus teriak-teriak, ya. Dira, kau baik-baik saja kan?”

“Ya, oke-oke saja. Di bandara Ninoy tadi, agak migren. Biasa. Kan kumuh dan bau. Tapi tadi sempat tidur dua jam, lalu makan malam dengan Tony. Rasanya ….”

“Kau betul baik-baik saja?”

“Ya, pak. Kenapa, sih?”

“Tadi sore di koran ada berita si Honasan mengancam akan menggulingkan pemerintahan Cory lagi.”

“Ah, di sini kan selalu ada ancaman itu setiap menit. Biasa Pak. Ini negara aneh. Orang bicara mau terjadi kudeta seenteng orang bilang mau ke pasar. Begitu saja ….”

“Tapi itu bukan sekedar gertak sambal. Hotelmu dijaga ketat ndak? Dan sebaiknya kau ke mana-mana dengan si Tony saja ….”

“Tenang, dong, Pak. Aku mengenal Manila seperti mengenal pori-pori tubuhku sendiri. Kenapa ….”

“Dira, hati-hati dengan anak buah Enrille.”

Dira tertawa ngakak hingga keluar air mata.

“Pak, pak … mereka bukan mafioso. Biasa aja, deh. Besok aku akan mewawancarainya di Makati.”

“Lo, sudah dapat janji?”

“Ya, sudah, dong. Sama Fidel juga sudah. Pejabat tinggi Filipina kan ndak kayak kebanyakan pejabat tinggi Indonesia, sok penting. Sok memandang rendah sama wartawan.”

“Kenapa tidak sekalian dengan Presidennya saja ….”

“Bapak ….”

“Lo kenapa tidak? Bapak dulu ketika mewawancarai Indira Gandhi ….”

“Udah dong, Pak … sudah hafal.”

“Oh, kalau cerita Ziaul Haq, yang Bapak dikasih pisau pembuka surat yang bergagang marmer itu?”

“Sudah, pak. Mulai saya di SD, bapak sudah menunjukkan pisau itu kepada saya. Sudah bapak ulang ceritanya sekitar lima belas kali ….”

“Sejak kau SD? Sudah begitu lamakah? Aduh, rasanya baru kemarin Bapak ke Pakistan. Bapak cuma mau menasihati, meski kau tak setuju dengan kebijakan politik pejabat yang kau wawancarai, kau harus tetap bersikap netral. Kau harus dingin, nduk. Sebaliknya seandainya kau berhasil mewawancarai Cory, mentang-mentang perempuan, jangan lantas jatuh simpati ndak karuan. Dingin. Kau harus tetap dingin.”

“Pak, Cory bukan dalam rencana saya. Saya nggak tertarik. Lagi pula ….”

“Lo kan seandainya … bapak saja waktu wawancara Indira Gandhi juga nggak rencana dan semula nggak tertarik. Semuanya begitu saja. Pak Mahmud masih punya klipingnya ….”

Nadira terdiam dan menggigit bibirnya. Dia menyingkap gorden jendela hotelnya. Alangkah jauhnya bapak. Tapi alangkah dekatnya suara itu. Tiba-tiba, di tengah kawasan Roxas Boulevard Manila, ia melihat sebuah layar kapal yang besar dan hitam. Dan dengan jelas ia melihat bapaknya yang bersarung mondar-mandir di dapur mencari-cari kaleng kopi dan gula. Lantas ia mendengar bunyi ketak-ketok bakiak ….

“Dira ….”

“Bapak tidur aja, deh. Sudah malam. Memangnya nggak bisa tidur lagi, ya ….”

“Ah, ya kebetulan habis nonton All the Presidents Men …. Bukan video lo. Televisi! Hebat ya televisi swasta kita bisa memutar film itu.”

“Ya Tuhan, apa bapak nggak bosan nonton film itu?”

“Luar biasa. Aku jadi kangen sama Bob. Hei, bapak sudah cerita waktu berkunjung ke kantor The Washington Post kan? Bapak sudah kasih lihat foto bersama Bob Woodward? Oooo, dia sangat rendah hati, Dira. Dia wartawan luar biasa. Salah satu yang terbaik di dunia. Mana ada wartawan kita yang sehebat dia ….”

“Pak ….”

“Memang bapak ndak mengharapkan agar wartawan bisa menggulingkan seorang pemimpin. Ndak. Tapi kemampuan Woodward dan Bernstein dalam investigative reporting itu, nak. Apa kamu ndak ingin seperti mereka”

Dira terdiam. Dia melongok ke luar jendela. Kini yang terlihat, sebuah ruang yang luas di sebuah gedung tinggi yang melambai-lambai ke langit dengan masyarakat wartawan di dalamnya. Tiba-tiba, melalui jendela kaca itu, ia merasa sedang menontoni kesibukan dan ketergopohan kawan-kawannya yang tengah memburu berita. Masyarakat wartawan, di mata Dira, adalah sebuah masyarakat yang selalu menuntut hal-hal yang besar, yang terbaik, terkadang muluk dan paradoksal. Sebuah masyarakat yang, terkadang secara tidak sadar, merasa dirinya secara moral di atas manusia-manusia lain. Sebuah masyarakat yang mengklaim dirinya sendiri sebagai pembawa kebenaran, atau bahkan messiah yang bisa menyembuhkan borok setiap manusia, setiap masyarakat, bahkan setiap negeri yang ditulisnya. Masyarakat wartawan bak seorang komentator olahraga yang dengan asyiknya berkata, “ya tendangannya kurang akurat kali ini saudara-saudara …” dan mereka sendiri bukanlah pemain bola bahkan menyentuh rumput lapangan bola pun tak pernah. 

“Maksud bapak, bagaimana kita bisa bikin film sebagus itu, coba? Apa bisa? Apa bisa? Belum apa-apa, judulnya saja sudah diubah. Nanti ndak enak, katanya. Debat judul saja sudah makan dua tahun. Lantas, skenarionya. Skenarionya, ya musti yang penuh petuah-petuah, lantas …” Bayangan di muka Dira hilang. Kelap-kelip lampu kapal bermunculan satu persatu. 

“Dira bisa membuat film yang bagus, pak ….”

“Apa?”

“Dira bisa membuat film tentang kehidupan wartawan juga, pak. Tapi bukan seperti All the President’s Men. Dira akan membuat wartawan yang idealis, yang ingin membawa kebenaran, yang ….”

“Gimana mau jadi wartawan pembaca kebenaran, wong kita ndak boleh menulis tentang kebenaran ….”

“Judulnya : Melukis Langit. Ceritanya tentang bagaimana para wartawan dengan semangat menggebu-gebu meliput tentang kebanjiran di desa anu. Tentang jatuhnya kapal terbang itu. Tentang kudeta di Thailand dan tentang kasus-kasus penggusuran petani. Mereka begitu gagah, begitu semangat dan begitu merasa sebagai makhluk yang paling moralistis di atas muka bumi ini ….”

“Tapi menjadi wartawan memang harus memiliki nilai-nilai moralistis yang tinggi, nak ….”

“Lantas suatu hari, wartawan itu, katakanlah si Fulan, sudah capek menjadi pahlawan kebenaran bertemu dengan seekor kucing yang sedang menyusui keempat ekor anaknya di trotoar. Dia segera menyambar anak kucing itu, dan dimasukkannya ke dalam tasnya yang biasa menenteng tape recorder dan kamera kecil miliknya ….”

“Film macam apa itu, nak?”

“Di dalam taksi menuju kantornya, kucing itu menggeliat-geliat dan mengeong-ngeong hingga sang supir taksi menengok ke belakang beberapa kali dan memandang wajah si Fulan dengan curiga. Tapi si Fulan tenang-tenang menghembus asap rokoknya. Ketika taksi setop di muka kantornya yang bertingkat 30, sebuah kantor yang pucuknya melambai-lambai ke langit, supir taksi itu bertanya, ‘Bawa apa, Neng?’ Si Fulan memandang supir taksi itu dengan jijik, lalu ia meludah. Crott!! Sambil tertawa terbahak-bahak, ia memasuki gedung kantor itu ….”

“Nadira … kamu perlu tidur ….”

“Di dalam lift yang penuh sesak, beberapa pegawai bank mengamati wajah Fulan seolah-olah Fulan adalah makhluk planet. Tas kain yang disandang Fulan bergerak-gerak dan itu membuat seluruh penduduk lift itu semakin tegang. Tapi mereka tak berani bertanya. Ada kilat di mata Fulan yang membuat mereka lebih suka menutup bibir serapat mungkin. Ketika bunyi ‘ting’ pada lantai dua puluh tujuh berbunyi, pegawai-pegawai bank itu menghela nafas lega. Fulan melangkah ke luar lift. Sebelum pintu lift tertutup, ia meludah dengan semangat. Crot! Crott!! Lantas tertawa sejadi-jadinya. Ditinggalkannya penduduk lift yang terbelalak memandangi tingkahnya. 

“Di ruang besar lantai dua puluh tujuh, seperti biasa rekan-rekan Fulan berseliweran ke sana kemari karena sibuk mencetak lembaran Kartini; tertawa ngakak sembari jari-jarinya mengetik cerita tentang pemerkosaan seorang gadis usia 7 tahun oleh kakeknya sendiri atau koruptor kelas kakap yang dibebaskan dari tuduhan. Di pojok yang lain, ia melihat salah seorang kawannya dengan bibir menganga memandangi layar komputer video game. Sekitar tujuh orang mengelilinginya dan mengerutkan kening, ikut memikirkan langkah-langkah yang harus dipikirkan seolah-olah urusan video game adalah soal hidup dan mati. 

“Fulan berjalan ke tengah ruangan. Lantas ia mengeluarkan kucing itu dari dalam tas. Kedua mata kucing itu menatapnya pasrah dan mengerang perlahan. Fulan segera mengambil tas rafia dari meja salah satu redakturnya yang gemar menarik mobil-mobilan dengan tali rafia di waktu senggangnya. Beberapa pasang mata mulai memandangnya dengan was-was ….”

“Dira … Dira … eling, ibumu datang. Lihat, ibumu datang melalui jendela …. Dira, stop omong kosongmu. Bukakan pintu ….”

“Fulan memegang ekor kucing itu dan mengayun-ayun kepalanya seperti sebuah pendulum. Beberapa rekan wanita berteriak melihat kelakuan Fulan yang aneh. Fulan tersenyum. Ia senang melihat beberapa kawannya masih punya belas kasih terhadap binatang itu. Dengan menggunakan benang rafia, Fulan mengikat ekor kucing itu dengan erat lantas digantungkannya pada pegangan pintu. Erangan kucing itu semakin melengking ….”

“Dira … ibumu datang … Dira ….”

Di luar jendela, kelap-kelip lampu kapal sudah hilang. Malam begitu pekat. Nadira seperti terjebak ke dalam gumpalan tinta gurita. Dan dia terengah-engah. 

“Bu ….”

“Nadira … kok kurus betul ….”

“Aku sedang mimpi ya Bu. Kan seharusnya kau sudah mati.”

Wajah ibunya yang bulat berseri semakin seperti bulan purnama karena senyumnya yang lebar. “Kok bodoh betul. Tentu saja kau sedang mimpi. Mana bisa kita bertemu di luar mimpi ….”

Nadira merebahkan kepalanya di atas paha ibunya yang gembur karena kelebihan lemak. Begitu empuk dan hangat. Dalam sekejap, paha ibunya sudah basah oleh air matanya. Ibumu mengusap dan sesekali mencium kepalanya. 

“Berikan kopi jahe saja pada Bapak, Dira …” bisik ibunya. 

“Nanti dia akan semakin rajin mondar-mandir dapur setiap malam, bu. Tanpa kopi saja dia sudah susah tidur ….”

“Pijiti kakinya ….”

“Mana ada waktu … setiap hari mengejar deadline.”

“Kau masih betah jadi wartawan?”

Nadira diam tak menjawab. Bibirnya bergerak-gerak. 

“Kau tak bahagia?”

Dira menggelengkan kepalanya perlahan. 

“Saya … muak. Sesungguhnya saya muak. Pada akhirnya orang-orang, mungkin termasuk saya sendiri, menggunakan profesi ini sebagai baju. Pada akhirnya, bukan binatang yang namanya kebenaran yang dikejar-kejar, tapi gaji yang tinggi dan kedudukan yang nyaman. Kasihan Bapak. Saya kira, ia begitu tulus. Tapi ia menjadi korban dari kepalsuan itu ….”

Heran. Betapa lega hati Dira setelah berhasil memuntahkan kata-kata itu. Ibunya mengusap-usap kepala Nadira sambil tersenyum.

“Kok pagi-pagi betul, Dira?” tanya bapaknya heran melihat Dira sudah menyisir rambutnya. Inah baru saja merebus air panas untuk mandi, sementara ayam jago tetangga sebelah baru saja berkokok. Bapaknya tengah menghadap secangkir kopi hitam berkepul-kepul untuk menghalau kantuknya. 

“Mau jemput Pronk.”

“O, kamu ikut meliput itu, to. Tolong beri salam bapak, seandainya kamu memang mewawancarainya …” tiba-tiba wajah bapaknya yang mengantuk itu berkilat-kilat. 

“Dira tak akan mewawancarainya. Itu bagian orang lain. Ini cuma peliputan biasa, pak. Paling-paling melihat ia turun dari pesawat dan disalami pejabat-pejabat dan menjawab pertanyaan wartawan. Begitu saja ….” Dira mengenakan sepatunya perlahan-lahan tanpa melihat wajah bapaknya.

“Kenapa kau tidak mewawancarainya? Bapak punya bahan IGGI yang paling lengkap. Sejak kamu masih bau pesing, bapak salah satu wartawan pertama yang selalu meliput IGGI. Tahu nggak? Ayoh … jangan bilang kamu emoh mewawancarai soal ekonomi. Masalah bantuan IGGI kan selalu menarik … bukan cuma ekonomi. Ini persoalan sosial dan politik ….”

Nadira memandangi sepatunya dengan seksama seolah-olah ada kutu yang bertengger di situ. Tapi bapaknya terus menerus mengoceh tentang pengalamannya meliput IGGI di Belanda, ketika “bapak masih gagah dan lincah seperti kau”. Ini gawat. Bisa-bisa ia mengeluarkan simpanan plat lamanya volume 20 Bab Pronk dan dengan semangat memutarnya tepat di telinga Nadira. 

Tiba-tiba Nadira ingat mimpinya semalam. 

“Mau kopi jahe, pak?”

Ocehan bapaknya berhenti seketika. “Kopi jahe?” matanya melotot. “Kok tumben. Kau mau bikinin?”

“Oke deh …” ia melompat dengan lincah dan melesat ke dapur. 

Ketika Nadira kembali membawakan secangkir kopi jahe yang mengepul-ngepul, bapaknya sibuk memijit-mijit nomor telepon. 

“Telepon siapa sih pak masak pagi-pagi mau pidato sama Mahmud?

“Neen … neen …. Ik wil de Nederlandse Ambassadeur telefoneren saya mau telepon dubes Belanda. Bapak mau minta acara Pronk. Kita undang saja makan siang di sini ….”

Nadira, Nadira sayang. 

Kau ingat ketika kita baru pulang dari Australia dan kau berteriak-teriak, “I wanna go hooome”? Pasti tidak, soalnya kau masih bau pesing. Masih berusia enam tahun. Yang aku ingat, aku emoh kencing di toilet embah yang kau katakan “kok cuma lubang” dan kau juga menangis setiap kali pulang sekolah karena kawan-kawanmu menertawakan bahasa Indonesiamu yang ganjil di telinga mereka. Aku ingat, ibu selalu berusaha menghiburmu sekaligus ikut-ikutan menangis. “Nadira, ini rumahmu. Bukan Canberra. Meski hitam dan jelek, ini rumahmu,” bisik ibu di telingamu. Ingatkah kau Dira? Ibu khawatir kita akan menderita. Tapi ia lebih-lebih lagi khawatir akan penderitaan Bapak.

Ibu memang tak pernah bahagia, karena ia terlalu mencintai Bapak. Dan di mata ibu, Bapak amat menderita dalam pekerjaannya. Ia bangga menjadi wartawan, tapi ia begitu pedih dan kecewa karena terlalu banyak hal yang merupakan kebenaran yang tak bisa diungkapkan. 

Apakah ibu terlalu cengeng dan rapuh? Saya kira, Dira, ibu adalah seorang manusia yang tahan banting. Lihat bagaimana kuatnya ibu bertahan bekerja di dalam institusi macam UNHCR, di mana ia harus menghitungi jumlah korban perang yang tak habis-habisnya sementara setiap pulang kantor ia harus menyediakan ruang di dadanya untuk menampung keluh kesah bapak. Meski ibu gemuk, Dira, tapi sesungguhnya tubuh itu terlalu kecil untuk menyanggah kebesaran idealisme Bapak. Dan kau, Dira, tidak semua jamban di toilet bisa licin dan bersih seperti yang kau harapkan. Negara kita mengaku sedang menjalani Indonesia Visit Year, tapi ngurus kakus saja belum beres. Kakus bangsa kita masih kotor, sayang, dan kau harus belajar terus menerus membersihkannya. 

Nadira, ibu telah tumbuh menjadi seorang pelukis yang mengukir langit dengan angan-angan masa depan negerinya. Dan pada hari-hari terakhir, ya pada hari ketika kita menemukannya dengan wajah membiru di pinggir tempat tidur dan botol obat tidur yang menggeletak di sampingnya, ia baru menyadari bahwa apa yang dilihatnya selama ini adalah hasil lukisannya di langit. Bukan hasil lukisan Tuhan di kanvas dunia. Dira, kau bisa menjadi pelukis kehidupan melalui profesimu. Tapi jangan termakan dengan kebesaran cita-cita untuk mampu mengungkapkan kebenaran. Di kantormu, Dira, ada berapa orang yang sungguh-sungguh menjadi wartawan karena ingin mengungkapkan kebenaran? Hitunglah dengan sebelah tangan. Mungkin kau mengejek mereka yang ingin menjadi wartawan hanya karena mementingkan mobil, gaji dan kedudukan yang nyaman. Mungkin mereka adalah orang-orang yang justru melukis di atas kertas dengan menggunakan darah manusia sebagai cat dan rambut manusia sebagai kuas. Tapi, jangan-jangan itulah realita. Sedangkan kau bersibuk-sibuk melukis langit dengan cita-citamu yang mengawang-awang. Jika kau terus menerus mempertahankan gayamu melukis, kau akan menyusul ibu dengan segera. 

Lalu Bapak. Bapak yang kau katakan hatinya begitu hancur dan kecewa hanya karena gagal mengundang Pronk. Pronk yang dulu begitu sering keluar masuk rumah kita untuk sekedar makan siang dan bergosip dengan Bapak. Dira, tugasmu kini adalah mengguncang-guncang bahu bapak dan berteriak agar ia tidak terus menerus hidup di masa lalunya. Jika kini ia merasa sulit menemui Pronk dan mengeluh karena kepadatan acaranya, sesungguhnya ia bukan sedang mengeluh kegagalannya untuk mengundangnya makan siang. Ia sedang tak habis-habisnya, menyesali sesuatu yang dianggapnya bukan miliknya lagi. Dan hanya melalui dirimu, yang kini menjadi wartawan, ia bisa menemukan ‘sesuatu yang hilang’.

Come on, Dira, jangan begitu sentimentil dan menjadi puber. Kau lebih besar dari yang kau sangka. 

Yu Nin.

Nadira melipat surat dari Yu Nin itu perlahan-lahan. Diambilnya korek api dan menyalakannya dengan semangat. Disulutnya lembaran-lembaran kertas itu. Kegelapan kamarnya tertembus nyala api yang menjilat-jilat kertas Yu Nin. Di luar, suara ketak-ketok bakiak ayahnya mengisi keheningan. Lantas jam dinding milik kakeknya kembali menyentaknya. Pukul tiga pagi. 

“Eh, Nak Dira … lho, kok, kurus betul kamu. Baru minggu kemarin kemari, kok, kayaknya daging kamu susut ….”

Nadira tersenyum, “Dua bungkus lasagna, Bu.”

Bu Murni mengangguk dan mencomot dua potong lasagna dari oven. 

“Kebetulan masih panas. Bapak gimana?”

“Seperti biasa. Kangen sama masakan Bu Murni.”

Bu Murni, ibu yang makmur dengan daging dan keringat itu semakin lebar senyumnya. “Ini ibu tambahkan kue lumpur surga dua buah. Ndak usah bayar. Ibu ngerti, bapakmu suka betul sama kue lumpur surga …” katanya tertawa.

“Alaa, bu, ah. Jangan begitu. Nggak enak ….” Nadira buru-buru mengorek-ngorek dompetnya dan mengeluarkan lima ribuan.

“Sudah-sudah … bayar lasagna saja. Nih, kembalinya. Salam buat bapaknya, ya. Aduh, ibu iri bapak bisa ongkang-ongkang menikmati pensiun, ya ….”

Bapak bukan pensiun, ucap Nadira dalam hatinya sambil menuju bajaj yang menungguinya. Bapak bukan pensiun. Jam setengah tujuh. Seperti biasa, bapaknya ditemani dengung nyamuk dan suara Good Evening yang fasih dari pembaca berita. Nadira melangkah perlahan dan berhenti tepat di belakang kursi bapaknya. Ada pemberitaan tentang acara serah terima jabatan pimpinan di sebuah harian. Adegan di televisi itu berlangsung begitu cepat. Di situ ada bapak. Dan di situ ada pak Riswanto. Jadi pak Riswanto kini menduduki jabatan bapak. Napas Dira tertahan.

“Pak … saya bawa lasagna buatan kantin ….”

Bapaknya menengok. Tiba-tiba Nadira melihat wajah bapaknya yang begitu tua. Jantungnya berdegup. “Bapak …” katanya terbata-bata sambil menyodorkan piring berisi beberapa potong lasagna dan kue lumpur surga. “Ini ada kue lumpur surga dari Bu Murni ….”

Plak! Bapaknya menepis tangan anaknya. Piring itu terpental dan pecah berkeping-keping. Kue-kue itu, lasagna itu, bertebaran dan celemotan di lantai. Nadira melongo sejadi-jadinya. Lebih-lebih ketika melihat bapaknya tergopoh-gopoh memunguti kue-kue itu sambil berlinang air mata. Nadira berlari ke kamar mandi. Dicelupkannya kepalanya ke dalam bak mandi. Lantas diangkatnya. Gelap gulita seperti tinta gurita. Dicelupkannya kepalanya. Lagi. Lagi. Berkali-kali. “Yu Nin ….” Air bak mandi yang dingin itu berbaur dengan air matanya yang hangat. “Yu Nin … kau benar. Bapak bukan pensiun. Bapak tengah melukis langit dengan darahnya sendiri.”

Jakarta, Maret 1991 – Seattle, Juni 1991



Leila S. ChudoriLahir di Jakarta, 12 Desember 1962. Menulis cerita pendek sejak remaja, 1970-an. “Sejak masih di kelas V SD,” katanya. Memasuki dekade 1980-an, karya-karyanya semakin memperlihatkan kematangannya sebagai pengarang. Alumni Universitas Trent, Ontario, Kanada (1988), ini pernah bergabung dengan Majalah Jakarta Jakarta. Kini, ia wartawan TEMPO.

Beberapa fiksinya telah dibukukan, antara lain Hadiah 1976, Seputih Hati Andra (1981), Sebuah Kejutan (1983), dan Malam Terakhir (1989). Sementara itu, cerpen-cerpen karyanya tersebar di beberapa media, antara lain Femina, Horison, Kompas, Suara Pembaruan, dan MATRA. Solidarity, Manila, Tenggara, Kuala Lumpur, dan Menagerie, Jakarta, menerbitkan beberapa cerpen karyanya, dalam bahasa Inggris. 

“Melukis Langit”, adalah Pemenang Harapan Pertama, Sayembara Penulisan Cerpen MATRA 1991. (Matra, Maret 1992)


***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Leila S. Chudori
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi Maret 1992



0 Response to "Melukis Langit"