Menjelang Berangkat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menjelang Berangkat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:10 Rating: 4,5

Menjelang Berangkat

HANYA TINGGAL BEBERAPA HARI SEORANG LELAKI AKAN BERANGKAT PULANG. KOTA ISKANDARIA DI matanya tampak indah dan menawan. Ia tidak tahu kapan bisa mengunjunginya lagi, karena ia akan menghabiskan hari-hari liburnya di desa bersama keluarga. Rasa sedih dan berdosa selama bermukim kini berubah menjadi rasa rindu yang amat dalam. Tidak terasa selama ini ia tinggal di dekat cafe ‘Sayyid Jabir’ selama empat tahun. Ia berkata dalam hati, sambil mengisap rokok, bahwa tak mungkin ia bisa menemukan cuaca sebaik kota Iskandaria untuk menanam tembakau. 

Seorang bartender yang datang membawa kopi berkata dengan nada menyayangkan, “Anda akan meninggalkan kami dalam waktu panjang, Tuan ….”

Si lelaki tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Saat itu datanglah seorang perempuan yang dikenal sebagai primadona ‘Sayyid Jabir’. Dia datang ke cafe setiap bulan, namun sejak akhir musim panas ia menghilang. Dia mengenakan gaun musim dingin, bersyal cokelat dan berkalung emas—gaun-gaun yang cocok dipakai di musim pancaroba dan selaras dengan awan putih yang menutup matahari. Lalu ia duduk di samping Rumi—pemilik cafe. Seperti karyawan lain, keduanya berbicara sejenak, namun kemudian lebih banyak diam.

“Bukankah ia begitu cantik,” tanya bartender berbisik.

Si lelaki melihat matanya bulat dan kedua pipinya merah. 

Dengan tanpa ragu ia menjawab, “Bukan dandanannya yang membuatku terpesona …!”

Hari itu, menjelang berangkat, udara dingin menyelimuti kota Iskandaria.

“Aku telah tinggal di Iskandaria selama empat tahun, tapi aku belum pernah sekali pun mengunjungi kebun binatang, atau musim Yunani dan Romawi. Juga kali ini …,” katanya kepada bartender.

“Apalagi di kota Asyuth. Anda tidak akan menemukan apa-apa di sana,” kata bartender menimpali.

Dia melayangkan pandangannya ke perempuan itu sebagai isyarat perkenalan, sementara di cafe ada dua pemain bilyard. Si perempuan menyambut baik.

“Menjauhlah!” katanya kepada bartender.

Si perempuan mendekatinya, lalu bartender membawakan segelas bir. Bartender meyakinkan bahwa perkenalan mereka merupakan pertemuan yang indah.

“Anda seperti pohon mangga,” katanya dingin.

Si lelaki mengangkat alis.

“Anda perlu pelayanan yang agak lama dan butuh sedikit kesabaran!” lanjut si perempuan.

Agar tidak gugup, si lelaki mengangkat gelas tanda perkenalan. Keduanya saling berpandangan. Diam.

“Rumahku hanya beberapa menit dari sini,” kata si lelaki.

“Lima puluh ribu …. Sekarang terserah kamu,” kata si perempuan tanpa basa-basi. Lalu ia memasukkan uang ke dalam tas. Keduanya meninggalkan cafe.

Sesampai di rumah, si perempuan memuji interior yang ditata rapi dan memuji pembantunya. Si lelaki datang membawa buah-buahan dan meletakkannya di atas meja dekat ranjang. Lalu keduanya berpelukan, tanpa sepatah kata sebelumnya. Dalam sepi terdengar suara ranjang berderit. Gelap menyelimuti kamar yang tertutup. Daun jendela diterpa angin. Suara hujan terdengar berdenting di atas atap.

Si lelaki menatap ke luar jendela dengan pandangan sendu lalu berbisik. “Cuaca sedang pancaroba. Kurang sehat.”

Namun si lelaki merasakan kehangatan dan istirahat yang dalam. Ketika hari menjadi gelap, ia julurkan tangan untuk menyalakan lampu. Denting suara hujan masih saja terdengar. Ia melihat mata perempuan terpejam seperti tidur. Ia terpesona memandang kelopak matanya yang seperti daun mawar. Ketika ia berkaca, wajahnya tampak kuyu. Suara hujan tak terdengar lagi.

“Kamu tidur?” tanya si lelaki.

“Aku tidak biasa tidur sebelum fajar,” jawab si perempuan tanpa membuka mata.

Si lelaki mengupas pisang dan memakannya dengan lembut di antara bibirnya yang tebal. Si perempuan duduk bersila di lantai.

“Kata majikanku, kamu akan pergi besok. Ehm, ngomong-ngomong siapa namamu?” tanya si perempuan.

Si lelaki tersenyum. Ia teringat bahwa mereka belum berkenalan sebelumnya. Ia mengatakan bahwa namanya Barokat. Ia mengaku sebagai karyawan yang akan dimutasi ke Asyuth. 

“Namaku Dania,” katanya sambil mengupas pisang.

Barokat berkata dalam hati, “Nama yang asing dan indah, tetapi tentu nama palsu. Sebagaimana segala sesuatu dalam kencan ini, palsu.” Ia kini merasa bosan. Ketika Dania menceritakan kisah-kisah pribadinya, Barokat sama sekali tidak tertarik.

“Rumah dan perabotnya telah kujual. Besok rumah ini segera ditempati orang lain,” jawab Barokat ketika Dania menanyakan rumah dan perabotnya. 

Minuman dan pisang hampir habis. Kalau bukan karena uang lima puluh ribu, Barokat tentu sudah membuyarkan kencannya. Di puncak kegusaran, Barokat melihat Dania mengambil tas yang diletakkan di atas kursi dan mengeluarkan uang lima puluh ribu tersebut. Barokat memperhatikan penuh tanda tanya, ketika Dania beranjak ke sisi lain dari ranjang untuk meletakkan uang tersebut dalam laci. Ia memandang Barokat dan tersenyum. Barokat melihat tatapan matanya seperti polos tanpa dosa.

“Mengapa?” tanya Barokat.

“Uangmu kukembalikan,” katanya tanpa berkedip.

Barokat terperangah. Ia sama sekali tidak mengerti.

“Kamu mengerti, tapi pura-pura bodoh.”

Barokat bersumpah kalau ia tidak pura-pura bodoh.

“Dalam suasana begini, tak selayaknya aku menerima uang,” kata Dania.

“Dalam hal bagaimana?” tanya Barokat.

“Cinta! Demikianlah kulakukan kalau aku menyukainya.”

Barokat merasakan sepercik kebahagiaan merayap dalam hati. Perasaan itu seperti menggetarkan dinding-dinding rumah. Namun ia segan menerima uang itu. 

“Jangan! Ehmm ….”

Belum sempat Barokat berkomentar, Dania keburu menggelendot dan menciumnya. Ia tak bisa meneruskan kata-katanya. Tapi kini ia betul-betul bahagia, dan berniat menikmati segala sesuatu yang mungkin ia nikmati. Ia lalu menyiapkan tempat untuk bermalam panjang. Ia beranjak ke samping radio dan menyetelnya. Ia menyuruh pembantu mengambil dua gelas minuman dan seporsi daging panggang. 

“Selama empat tahun ini, mengapa baru kali ini aku melihatmu di cafe. Aku memang bodoh.”

“Kapan berangkat?”

Barokat menggelengkan kepala dan menyesal.

“Besok lusa! Sulit dipercaya. Tapi aku memang bodoh.”

Barokat meloncat dan bertepuk tangan mengikuti irama rancak yang terdengar dari radio. Ia lega melihat Dania cukup menikmati suasana yang ada. Tiba-tiba Barokat mempunyai gagasn. Ia meloncat ke lantai.

“Bagaimana kalau kita pergi bersenang-senang malam ini?”

Keduanya pergi ke niteclub di jalan Nabi Danial. Di sana Barokat leluasa memenuhi keinginannya. Setelah puas minum, keduanya berdansa. Saat beristirahat, Barokat melihat seorang pemuda yang memandangi Dania secara khusus. Pikirannya jadi keruh. Ia bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tidak menyenangkan. Pemuda itu mendekati Dania, menyapa, lalu mengajaknya berdansa. Barokat marah. 

“Ini kebiasaan di sini. Biasa. Tidak apa-apa,” bisik Dania menenangkan.

“Aku tidak suka,” kata Barokat geram. “Pergi!” bentaknya dengan mata melotot.

Tak terdengar jawaban, tetapi lalu keduanya terlibat perkelahian seru. Barokat berhasil memukul perut lawannya hingga oleng hampir saja terjengkal kalau tidak ditolong bartender. Karena dalam keadaan mabuk, Barokat pun terhuyung-huyung. Pemilik niteclub menyeruak di tengah pengunjung menenangkan keributan. Lalu ia memberi isyarat ke pemain orkestra. Musik pun mengalun mengajak para pengunjung berdansa. Barokat kegerahan. Dania berusaha melepaskan dasinya yang menjerat leher, melepas kancing jaket dan melonggarkan baju. Sedang luka yang mengenai dadanya, tak begitu ia pedulikan. Luka-luka itu hanya berpengaruh beberapa saat. Ia cepat menemukan keseimbangan. Ia segera meneguk minuman yang ada. Beberapa orang memelototi keduanya. 

“Mari kita pergi saja,” ajak Dania.

Keduanya meninggalkan niteclub. Puluhan orang memandangi keduanya dan mencibir, tetapi Barokat malah senang dan bangga. Ada gurat keangkuhan di wajahnya. 

“Tak perlu gelisah. Ini masalah kecil, dan biasa terjadi,” kata Barokat.

Keduanya naik trem bersama-sama orang yang keluar dari bioskop. Barokat merangkulkan tangan untuk melindungi Dania dari desakan mereka. Meski begitu masih ada juga seseorang yang mendesak-desak, entah disengaja atau tidak. Ia marah tetapi arus yang datang dari arah berbeda menambah padat. Kepalanya yang pening karena mabuk membuatnya mudah marah. Barokat dan orang itu saling mengumpat, lalu saling menampar dan mengepalkan tinju. Polisi datang melerai dan menghalau kerumunan. 

Pelipis kiri Barokat terluka. Darah mengalir dari pojok bibir bawah. Ia mengusapnya dengan sapu tangan selama perjalanan. Yang membuatnya agak terhibur, karena kumis lawan berlumuran darah. Angin semilir berhembus saat keduanya meninggalkan trem. Barokat menjadi segar.

“Lukaku ringan, sementara ia pasti menyesali hidungnya yang terluka,” kata Barokat.

“Kamu hampir saja membunuhnya. Tuhan tentu akan mengutukmu,” kata Dania.

Barokat malah tertawa dan menceritakan masa mudanya yang diwarnai banyak perkelahian, sebelum kemudian menjadi karyawan. Dia menceritakan dengan penuh bangga. Seperti tidak ada lelaki lain di dunia ini. Ketika pulang di kamar sudah tersedia minuman dan daging panggang. 

“Bagus! Sayang tidak ada bunganya. Mestinya ada bunga mawar di sini. Sayang sekali,” komentar Barokat.

Dania membasuh lukanya dan mengusap pelipisnya. Sementara dirawat, Barokat bernyanyi-nyanyi. Dania tertawa mendengar suaranya yang, katanya, kurang enak didengar. Barokat tidak peduli. Baginya yang terpenting ia terhibur. Ia pun terus bernyanyi, kemudian juga berbicara tentang cinta.

“Tak terlukiskan ….”

Barokat mencium Dania dengan mesra lalu berkata, “Aku harus kembali ke Iskandaria kalau ingin banyak bertemu denganmu nanti.”

Ketika ia diam, terdengar suara guntur di luar jendela.

Ia tertawa.

“Cuaca di kotamu memang sedang pancaroba, tapi menyenangkan.”

Saat segalanya ditelan gelap, suara guntur semakin keras. Gelombang cahaya kilat menyambar-nyambar, hingga sesaat perabot di dalam rumah jelas terlihat. Lalu kembali gelap. Barokat tiba-tiba teringat suasana pantai. Rasa rindunya menekan-nekan. Di puncak rindunya, nafsunya bergelora seirama hujan yang turun deras. Hujan masih terdengar menerpa jendela. Ia semakin tenggelam dalam kehangatan dan kemesraan. Ia merasakan di ayunan cinta, betapa waktu begitu cepat berlalu. 
Pagi hari keduanya bangun. Barokat membuka jendela. Udara dingin masuk dan nampak langit tertutup awan kelabu. Tak bergairah. 

Dania duduk di atas ranjang, rambutnya tergerai, matanya sembap, dan pandangannya kuyu. Seakan ia tak ingat kemesraan semalam. Dania menguap lalu berkata, “Ini saatnya pergi.”

“Mengapa tergesa?”

“Malam terlah berlalu. Aku ada kerjaan dan janjian.”

Barokat melihat sikapnya aneh. Dania menuju ke samping ranjang, membuka laci, mengambil uang lima puluh ribu dan memasukkannya ke tas. Ia kembali menguap. Apa maksudnya? Dalam bingung Barokat bertanya, “Apakah kamu sedang membutuhkan uang?”

“Sama sekali tidak. Aku sekedar mengambil sesuai kesepakatan kita saja!”

Dalam keadaan terkejut dan sedih, Barokat masih bertanya, “Kesepakatan yang mana?”

“Kesepakatan kita. Kamu lupa?”

Barokat tertawa terbahak. “Kamulah yang lupa!” katanya.

Dania mengelak.

“Aneh. Kini kamu membicarakan uang, padahal kemarin kamu mengatakan …. Apa kamu betul-betul lupa?” tanya Barokat sedih.

“Aku atau dia yang sebetulnya gila,” kata Barokat dalam hati.

“Mengapa? Apa yang terjadi? Katakan padaku!”

Dengan senyum dingin Dania balik bertanya, “Apakah kamu suka mengambil tanpa memberi?”

“Katamu karena cinta, kamu tak akan meminta!”

Dania menatap dengan pandangan aneh dan berkata, “Aku bermaksud memberimu malam bahagia, begitulah selalu ….”

“Itu kan hanya alasanmu saja?”

“Tetapi bukankah aku telah membuatmu bahagia?”

Kemarahan Barokat menggumpal seperti topan di cakrawala.

“Dusta yang memalukan ….”

“Jangan kecewa. Kebahagiaan itu sungguh-sungguh kita rasakan. Aku berhak menerima ucapan terima kasih!”

Barokat memandang dengan mata nanar. Kini di matanya wajah Dania menjadi buruk dan menyesakkan dada. Ia mendengar suara hatinya berontak dan mendorong-dorongnya untuk memukul Dania hingga berdarah. Dania tampak gelisah dan takut. 

“Syetan alas!” teriak Barokat.

Dania tak berkedip. Ia bersiap melompat apabila diserang. 

“Alasan yang sia-sia. Aku berharap kamu bisa menghargai hidupmu,” kata Barokat.

Dania tak menjawab dan semakin takut.

“Apa sih gunanya begitu, hei pelupa? Kamu tak mungkin bisa mengulanginya lagi.”

Dania kembali tenang. Namun Barokat sudah seperti kesurupan lalu diam. Ia kelihatan sedih sekali.

“Bukankah itu hal yang wajar menjelang berangkat?” kata Dania.

Dengan suara rendah Barokat berkata, “Sebagaimana telah kukatakan, hei pelupa, kamu tak mungkin lagi bisa mengulanginya ….”

“Siapa bilang kita akan bertemu lagi?!”



Naguib Mahfouz (81) adalah novelis Mesir peraih hadiah Nobel untuk bidang sastra tahun 1988. Sarjana filsafat dari Universitas Kairo ini sampai sekarang telah menghasilkan lebih dari 20 karya fiksi, antara lain “Bayn al-Qasran”, “Qasr as-Shawq”, dan “As-Sukkariya” yang dikenal sebagai triloginya, dan lain-lain. Mantan Direktur Organisasi Perfilman dari Kementerian Kebudayaan Republik Persatuan Arab ini adalah pemuka aliran realis dalam bidang sastra. Naguib Mahfouz memulai karier kepengarangannya dari cerpen. “Menjelang Berangkat” diambil dari antologi cerpen “Bayt Sayyi’ al-Sum’ah”, terbitan Darul Qalam Beirut, 1971. (Matra, September 1992).

Kelik M. Nugroho. Alumni Fak. Adab jurusan Sastra Arab IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kini dia bekerja sebagai wartawan di majalah Tempo.


***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Naguib Mahfouz dan dialihbahasakan oleh Kelik M. Nugroho
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi Agustus 1992

0 Response to "Menjelang Berangkat"