Menunggu Ayah - Kangen - Gerhana di Tepi Singai matamu - Hari Raya Kubur - Piknik ke Kuburan - Di atas Nisan, di Hari Raya Kubur | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menunggu Ayah - Kangen - Gerhana di Tepi Singai matamu - Hari Raya Kubur - Piknik ke Kuburan - Di atas Nisan, di Hari Raya Kubur Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:19 Rating: 4,5

Menunggu Ayah - Kangen - Gerhana di Tepi Singai matamu - Hari Raya Kubur - Piknik ke Kuburan - Di atas Nisan, di Hari Raya Kubur

Menunggu Ayah

Kecipir tumbuh di pagar, belimbing manis
di tanagn gadis. Langit sore turun di dahan
pohon manggis memanggil angin

Ada capung bersayap emas, terbang serentak
dari ujung rumputan. Ilalang berbisik meniupkan sunyi,
pada telapak gadis yang kini menangis.

"Pakailah sandalmu, sayang,
sebelum ayahmu pulang."

Ia menatap ke kajauhan, sayap elang mengitari padang,
menembus bukt di atas awan
mencari mangsa yang kesepian

"Apakah elang jantan selalu terbang
tak pernah pulang?"

Langit sore kini temaram,
gadis melangkah menuju malam

Ilalang berbisik bersama dahan,
memandang gadis di ujung jalan.

Singkawang, 2016

Kangen

                              : Hian Ho
Ada bau tubuhmu, antara pagar dan daun pintu.
Sebatang bunga liar mungkin tumbuh di situ, menjadi jembatan
musim hujan ke musim kemarau. Hamparan kerikil pasir
dalam ingatan, batu-batu, daun kering, serta angin yang terperangkap
di bawah teras, mungkin semua adalah
wajahmu yang pergi.

Di daun puntu adalah cermin waktu yang lapuk,
sintar matahari mengantar sunyi setiap hari. Sejengkal
demi sejengkal jarak, di antara kayu dan paku-paku,
tertulis kalimat demi kalimat, yang bayangannya
memanjang dalam menuju senja

Ada pemisah antara pagar dan pintu rumah
Matahari terik, rangasnya daun, dan perginya
burung-burung menuju jalan
sunyi tanpa suara

Jakarta, 2016

Gerhana di Tepi Singai Matamu

Aku melihat riak, aku melihat perahu, aku melihat
sebatang bambu tertancap menjulang di tengah sungai. Telanjang
Tanpa duan, tanpa pegangan

Senja telah menjadi jarum
runcing dengan cahaya karat keemasan berpendar
melukai mataku

Perahu melaju ke arah hulu, dan aku terdiam
mengingat dirimu.

Perahu, riak, dan bambu,
air yang mengalir ke hilir. Menjauh menuju waktu,
Meninggalkan batu-batu, bersama pasir yang 
mendesir
di kedalaman dingin
dan beku.

Ada angin di umpun perdu
menyalakan hari dan burung yang terbang pulang
ke rahim sunyi. Menunggu malam
dalam diam

Pontianak, 2016

Hari Raya Kubur

Pulanglah sayang, ke Singkawang
ketemu sanak kerabat
di kuburan

Rumah kita,
rumah ingatan. Diterbangkan angin
di atas nisan. Leluhur menunggu
dupa dan tungku. Anak dan cicit
jumlah seribu.

Burung elang membangun sarang. Di celah
bukit ia berdendang. Menjulang ke langit
ia memandang. Leluhur Singkawang
memanggil pulang

Singkawang, 2016

Piknik ke Kuburan

Mari hirup asap dupa
sambil diam-diam tertawa, di atas tanah kuburan
Liang Shui Hwa


Jangan lupa kamera
Memotret iringan kereta kencana
berisi jenazah penuh
bunga-bunga

O amitabha.

Susi! Nyonya Shin Wu! Tuan dan Puan!
Rapikan baju, sebarkan wangi parfum amlinetta
Sepatu Richard Orlendiva, gaun rancangan Violin Batubara
Ayo! Ayo! Tampakkan berlian
dan segala permata

Kita selfie di atas keranda,
Sebelum kereta kencana
Berangkat menuju
kuburan orang kaya

Bau dupa
harum parfum violet amlinetta
Baju dengan bahu terbuka,
dada mulus paha berkilau cahaya.

Burung-burung di atas
boleh berduka.
Serangga di liang'boleh berpesta:

bagi matinya Liang Shui Hwa

Singkawang, 2016

Di atas Nisan, di Hari Raya Kubur

Ini Hari Raya, sayang kenakan gelang
kalung berlian gaun sutera. Bawa anak,
bawa cucu,
     bawa cicit
Jangan lupa bersolek. Jangan lupa
dandan molek. Bawa mobil paling mewah
Bawa cerita paling megah
Kita ketemu
Di kuburan

Kuburan adalah tempat orang mati, dan
tempat semua orang menanti. Maka sebelum
keranda tiba menagih ajal,
dan kelak engkau terkubur di tanah dingin,
datanglah ke mari, sayang,
di Hari Raya gembira.

Lihat nama leluhur di pahat altar,
mengharap teh dan arak persembahan arwah,
nyala lilin, buah bunga
yang mereka suka di dunia. Kita bakar uang plastik,
mobil kertas, komputer dan kerdus,
jam tangan pura-pura, dan semua tiruan
palsu harta benda,
supaya mereka tenang
dan tak merasa
ditinggalkan.

Mereka suka
asap kertas
yang dibakar
dengan bahagia.

Maka tertawalah sayang, terbahak-bahak,
sambil melihat api, minum arak,
ngobrol sana-sini. Memamerkan benda-benda.
Para leluhur akan datang
bersama kita. Makan bersama kita. Mabuk.
Ngobrol tentang semua harta
yang kita punya. Mereka bukan hantu
yang selalu kesepian.

Katakan jika punya mobil tiga. Jangan malu
membuka lengan yang dihiasi berlian. Bahkan jika
harus berbohong tentang pabrik,
toko-toko, rumah mewah lantai lima,
wisata ke tempat jauh di dunia,
hingga tato gambar naga
di paha istri kita.

Lihatlah sayang, langit telah mulai tinggi
Jangan terlambat sebelum mereka datang
Jangan sambail terlalu siang, dan membuat
roh leluhur kita kepanasan. Kita berdoa,
semoga kelak nanti
tidak kesepian

Kita ketemu
Di atas kuburan

Singkawang, 2016

Hanna Fransisca (Zhu Yongxia) lahir 30 Mei 1979 di Singkawang, Kalimantan Barat. Buku puisinya adalah Konde Penyair Han (2010) dan benih Kayu Dewa Dapur (2012).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hanna Fransisca (Zhu Yongxia)
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 25 Juni 2016




0 Response to "Menunggu Ayah - Kangen - Gerhana di Tepi Singai matamu - Hari Raya Kubur - Piknik ke Kuburan - Di atas Nisan, di Hari Raya Kubur"