Mimpi Mutiara | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mimpi Mutiara Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Mimpi Mutiara

GARIS-GARIS kuning cahaya matahari menerobos kamar, melalui jendela kaca yang ditalap kertas koran, yang sebagian telah sobek termakan usia juga titik-titik air hujan. Garis-garis cahaya itu tepat mengenai wajah Mutiara. Ia menggeliat dari tidurnya. Sejenak. Lalu menutup kembali tubuhnya dengan selimut bergambar mawar merah menyala.

Sebenarnya, mutiara ingin kembali meneruskan tidurnya. Sebab, hingga lewat tengah malam, ia tidak bisa tidur dan baru bisa memejamkan kedua matanya ketika azan Subuh berkumandang. Tapi telinganya mendengar langkah kaki yang bergesa emnuju ke arah kamarnya. Itu langkah kaki yang sudah ia kenal. Itu langkah kaki ibu tirinya. Dan Mutiara buru-buru bangun dan segera merapikan selimutnya tepat ketika langkah itu berjenti tepat di depan pintu kamarnya.

"Mutiara, Mutiara, Bangun!"

Suara seorang wanita berteriak dari luar kamarnya sambil mengetuk-ngetuk pintu dengan ketukan yang keras.

"Masih belum puas juga kau tidur dari semalam, hah?"

"Aku sudah bangun, Bu," jawab Mutiara dengan pandangan berkunang-kunang.

"Tapi kenapa belum juga ke dapur?"

"Aku baru menyelesaiakn tugas sekolah." Mutiara berbohong. Terpaksa.

"Halah. Alasan. Lekas ke dapur. Piring belum pada dicuci. Adikmu juga belum dimandikan."

"Iya. Tiara segera ke dapur, Bu."

"Awas kamu. Masih muda sudah malas-malasan. Mau jadi apa kamu nanti? Mau jadi gelandangan? Pelacur?"

Mutiara yang baru 15 tahun usianya, segera berdiri dan mengikat rambutnya yang sebahu dengan gelang karet. Disambarnya handuk lusuh yang tergantung di balik pintu untuk mengusap wajahnya yang kusut. Ia segera membuka pintu. Ibunya, dengan wajah kaku memelototi dirinya. Seperti tatapan singa lapar di depan seekor kelinci di tengah hutan.

Bagi Mutiara, semua sudah biasa terjadi sperti itu. Hardikan, bentakan, dan kata-kata kasar dan jorok yang meluncur dari mulut ibunya adalah irama hidupnya sehari-hari. Mutiara berusaha untuk tidak mengeluhkan sikap dan perlakuan ibunya. Meski begitu, sisi hatinya yang lain masih kerap merindukan hadirnya sosok yang benar-benar menjadi seorang ibu baginya. Sosok yang bisa mendekaonya di kala ia sedang ketakutan, membelainya di kala gundah serta membesarkan hatinya di saat dia mendapat cemooh dari teman-temannya ketika nilai pelajarannya paling rendah di kelas.

Tapi, harapan-harapan itu sepertinya terlalu mahal meski sekadar untuk dikhayalkan. Sikap dan perlakuan ibunya tak memberikan banyak pilihan bagi Mutiara selain hanya pasrah walau kepasrahan itu harus ditebusnya dengan hati yang luka. Penuh darah. Penuh genangan air mata.

Seringkali di saat Mutiara merasa tak sanggup lagi dengan keadaan seperti itu, dia hanya memikirkan satu hal; pergi dari rumah. Pergi sejauh mungkin ke suatu tempat yang tak seorang pun dapat menemukannya. Syukur bila tak ada yang berpikir untuk mencarinya. Entah ibunya, entah ayahnya.

Namun apakah nanti ibunya akan merasa kehilangan? Apakah ayahnnya akan merasa kehilangan? Lalu siapa yang akan membantu ibunya kalau dia pergi? Siapa yang akan mencuci piring di dapur, menyapu lantai, menyapu halaman, mencuci baju, menjemur baju, melipat dan menaruhnya ke dalam lemari?

Di saat pertanyaan itu muncul, Mutiara menepis semua keinginannya untuk pergi. Masih selalu ingat kata-kata gurunya di sekolah;

"Taat pada Ibu adalah tanda-tanda anak soleh. Anak seperti itu akan masuk surga." Dan Mutiara ingin sekali menjadi anak solehah. Hidup bahagia di dunia dan kemudian masuk surga saat sudah meninggal dunia. Lalu, apakah ibunya juga akan masuk surga? Padahal katanya surga adalah tempat bagi orang-orang yang baik. Tapi ibunya bukan orang yang baik karena suka membentak, memarahi, memukuli dan mengeluarkan kata-kata jorok pada dirinya. Setiap hari.

"Tiaraaaaa...! Ngelamun lagi, ngelamun lagi," pekik ibunya. Telinga Mutiara berdengung. Seperti baruu saja mendengar suara petasan yang dinyalakan tepat di dekat telinganya. Dia terkejut dan tanpa sadar piring yang sedang dicucinya pun terlempar. Pecah jadi tiga. Pranggg...

Mutiara tercekat. Tubuhnya gemetar. Ia tidak berani menoleh pada ibunya yang berdiri dekat di belakangnya. Apa yang akan dilakukan ibunya selanjutnya? Itulah pertanyaan yang seketika menyelinap di benak Mutiara. Dan belum selesai  ia membaca kemungkinan terburuk yang akan dilakukan perempuan itu, sebuah tarikan tangan yang sangat keras menjamah rambutnya. Sebuah tarikan penuh kemarahan dan kebencian yang hebat.

Perih.

Hanya itu yang Mutiara rasakan sebelum tubuhnya terjengkang ke belakang. Kepalanya membentur lantai. Dugg. Aneh, tak ada air mata meluncur dari kedua pelupuknya. Tidak. Memang tidak boleh ada air mata. Dia tidak boleh menangis. Menangis hanya akan membuat dirinya terlihat semakin lemah, dan itu semakin mengundang nafsu ibunya untuk menyiksa dirinya.

"Anak tidak tahu diri." Kembali ibunya memekik hebat taanpa melepaskan cengkereman tangannya pada rambut Mutiara.

Mutiara tetap diam. Kedua matannya terpejam. Kemudian tanpa sengaja tangannya menyentuh salah satu pecahan piring yang di lantai. Ia meraihnya, mencengkeremnya erat-erat. Jari telunjuknya menyentuh salah satu  ujungnya yang tajam runcing. Mutiara membayangkan  sesuatu yang bisa dilakukan terhadap ibunya dengan benda tajam itu. Sesuatu yang akan mengakhiri semua hal tidak menyenangkan yang dilakukan perempuan itu kepadanya.

Tapi, lagi-lagi Mutiara teringat kata-kata gurunya.

"Ah, aku ingin masuk surga. Aku harus patuh pada Ibu. Aku tidak boleh menyakitinya. Dengan cara apa pun. Tapi... tapi, Ibu orang jahat. Ibu orang yang tidak baik. Ibu tidak akan masuk surga kalau terus berbuat jahat kepadaku. Ibu harus dihentikan. Kebiasaan Ibu harus diakhiri biar dosanya tidak semakin bertambah."

Mutiara terus mencengkeram erat pecahan piring itu. Ia berpikir, dengan benda yang dipegangnya, dia bisa membantu ibunya mengakhiri perbuatan jahatnya. Mutiara mencoba berdiri meski tangan ibunya masih erat mencengkeram rambutnya. Kini, dia berdiri berhadapan begitu dekat di depan ibunya. Wajah ibunya masih terlihat merah. Penuh amarah.

Di saat seperti itu, Mutiara berusaha menatap kedua mata ibunya. Begitu lama. Dan ia seperti menemukan kesempatan sangat baik untuk melanjutkan niatnya. Niat yang tak boleh ditunda. Mutiara merasa darah dalam tubuhnya mulai mengalir sangat cepat menuju ke satu arah; ke tangan kanannya yang sedang menggenggam erat pecahan piring yang sangat tajam itu. Tampak dari balik baju yang dikenakan, jantung ibunya yang  berdegup-degup kencang sangat jelas terlihat. Bagi Mutiara, itu akan sangat memudahkan baginya untuk melaksanakan apa yang  sudah sejak tadi ingin dia lakukan.

"Sekaranglah waktunya. Ya, sekaranglah waktunya!" Mutiara membatin. Lalu;

"Ibuuuu...!"

Garis-garis kuning cahaya matahari menerobos masuk ke dalam sebuah kamar. Garis-garis cahaya itu tepat menimpa wajah Mutiara. Seketika ia tergeragap, bangun dengan napas tersengal-sengal. Mutiara bergegas membuka pintu kamar. Tampak ibu tirinya sedang menyiapkan sarapan pagi untuknya. Perempuan itu menoleh dan tersenyum kepadanya.

"Kau sudah bangun, sayang? Mari kita sarapan pagi bersama."
Kebumen, 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Salman Rusydie Anwar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 26 Juni 2016

0 Response to "Mimpi Mutiara"