Perempuan Limited Edition (22) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Limited Edition (22) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:37 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (22)

KESEDIHAN Adrian semakin akut ketika melihat mamanya masih tetap tidak kembali normal seperti mamanya yang dulu. Sosok mama yang dikagumi, mama yang dibanggakan, bahkan ada salah satu temannya yang sangat mengidolakan Nadia. Nadia memang sangat akrab dengan semua teman-teman Adrian yang sering datang ke rumah. Dan ketika mereka berkumpul di kamar Adrian untuk menonton siaran langsung sepak bola, sambil bercanda mereka bicara tentang tokoh idola masing-masing.

"Kalau idolaku Jokowi..." kata salah satu teman Adrian.

"Aku Nabila Syakib..." kata yang lain.

"Aku Maroon 5."

"Aku Ahok..."

"Aku Christiano Ronaldo."

"Aku Mamanya Adrian...," kata Andre.

"Haah? Kok bisa?" ucap mereka berbarengan sambil ketawa. Adrian sendiri terbahak-bahak mendengar jawaban Andre.

"Kalian boleh mengidolakan artis politikus atau apalah, tapi Mamanya Adrian tetap idolaku," tegas Andre.

"Kok bisa gitu Ndree?" tanya Adrian sambil tertawa.

"Ya iya. Mamamu itu hebat," Andre mengacungkan jempolnya.

"Tapi amamku kan nggak jadi apa-apa."

"Gua salut dengan cara berpikir Mamamu, Bro dan prinsip-prinspinya. Bukan masalah jadi apa."

Adrian merasa lucu dan memajukan bibirnya.

"Emang kamu nggak bangga ma Mamamu?"

"Emang Mamanya Adrian itu wangun kok kalau ngasih tahu orang,"kata yang lain.

"Iya, dan dia itu bisa tahu gitu lho tentang kita-kita, eh jangan-jangan Mbokmu paranormal, Bro," kata teman yang lain dibarengi tawa semua. 

"Ngawur wae, aku sudah tanya Mamaku, kok bisa tahu sifat-sifat kalian dari mana, katanya dari model dan gelagat kalian aja. Bukan paranormal ih. Tapi seneng banget aku jika jadi paranormal, biar yang konsultasi tak suruh bawa rokok dua bungkus tiap orang kan lumayan," ujar Adrian dan pecahlah suasana kamar saat itu.

"Mbokmu ngrokok-nya kayak sepur ya Bro?" tanya temannya lagi.

"Iya tuh... dari kecil katanya. Mbokku itu nggak pernah ikut-ikutan orangnya. Prinsipnya kuat banget, heran juga aku. Nggak bisa ya aku kayak mbokku."

"Wah kalau kowe ki payah Bro, gampang melu-melu," sahut yang lain.

Suasana ramai sekali hingga terdengar dari dapur, Nadia yang sedang memasak untuk menyediakan makanan untuk anak-anak itu segera ke kamar Adrian.

"Waduh, waduh ramainya. Ayo makan dulu, itu Tante udah masakin buat kalian. Ayo Ad, ajak teman-temanmu makan dulu," kata NAdia.

"Iya Ma, bentar tunggu selesai pertandingan dulu," jawab Adrian.

"Duh Tante selalu repot deh kalau kami ke sini."

"Alaah gayamu, udah biasa juga ini," jawab Nadia yang memang tanpa jarak terhadap anak-anak itu. Namun mereka tetap tahu batas kesopanan terhadap diri Nadia.

Sekarang tidak ada lagi namanya emasak atau biat makanan untuknya. Jangankan masuk dapur, untuk menyisir rambutnya saja Nadia enggan.

Seperti sore ini ketika Adrian pulang dari kuliah didapati mamanya duduk di teras rumah sambil merokok.

"Mama.... jangan terlalu banyak dong ngrokoknya," ucap Adrian setelah diliatnya ada beberapa puntung rokok yang berceceran. Dan ini sama sekali tidak seperti Nadia yang biasa menyediakan asbak bertumpuk dan selalu mengganti asbaknya jika sekiranya sudah ada beberapa puntung dalam asbak.

"Lagian Mama ngapain duduk di sini?" kata Adrian lagi karena tak mendapat jawaban dari Nadia. Nadia tetap tak menjawab  dan masih mengisap rokoknya.

"Mama bisa stadium dua kalau begini terus." Kata Adrian lagi sambil berusaha mancing tawa mamanya seperti biasa.

"Mama masih belum gila," jawab Nadia datar.

"Tapi bisa gila beneran Ma jika Mama kayak gini terus," protes Adrian..

"Biarin...." jawab nadia sambil bangkit dari duduknya menuju kamar.

Lagi-lagi Adrian menarik napas panjang sambil mengikuti mamanya.

"Jangan gitulah Ma, apa kata etman-temanku nanti jika Mama sampai gila?"

"Udah kamu ganti pakaian dulu sana."

Adrian menurut sambil menarik napas lega. Lega karena mamanya masih punya kesadaran. Ya, salah satunya itu tadi, harus tukar pakaian setiap pulang dari mana saja.

Adrian memang sangat khawatir dengan kondisi mamanya, yang tak pernah mengerjakan apa-apa. Tidak ada lagi canda-canda seperti dulu yang sangat memperlihatkan keakraban. Tidak ada lagi masakan kesukaan dirinya yang bisa ditemui di meja makan. Tidak ada lagi diskusi-diskusi apapun seperti dulu. Mama hanya mengurung diri di kamar, kalau nggak, mamanya akan pergi entah ke mana dan dengan siapa. Mamanya juga tidak pernah memberitahu lagi kalau mau pergi ke mana seperti biasanya.

Dulu, meskipun Adrian sedang kuliah atau ke mana, selalu memberitahu entah lewat telepon atau SMS. Tapi sekarang mamanya tak pernah berpamitan lagi. Sungguh tak pernah terbayangkan di otak Adrian akan seperti ini perubahan mamanya semenjak kepergian Oom Hendra. Adrian sangat tahu bagaimana kedekatan mamanya dengan Oom Hendra.

Kejadian ini sangat mengguncang mamanya, sehingga Adrian tak bisa menyalahkan jika mamanya sekarang berontak dan hilang kepercayaan akan adanya Tuhan. Meski begitu, Adrian tak pernah melupakan apa yang selalu ditekankan mamanya dulu yaitu untuk berdoa. Meskipun mamanya sendiri sudah hilang kepercayaannya akan kekuatan doa tersebut, tetapi Adrian tak pernah berhenti untuk tetap percaya bahwa Tuhan itu ada. Mama hanya perlu waktu dan sedikit mujizat yang nyata.

"Semoga waktu tidak berkepanjangan dan mukjizat-Mu segera menghampiri Mama," pintanya pada Tuhan. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 19 Juni 2016


0 Response to "Perempuan Limited Edition (22)"