Ros (2) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ros (2) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:00 Rating: 4,5

Ros (2)

Ringkasan Cerita Sebelumnya

Saat Ros berumur lima tahun, Ma mengatakan bahwa Pa telah meninggal karena pneumonia. Namun ketika ia berumur dua puluh delapan,Ma meralatanya. Ia mengatakan bahwa Pa masih hidup dan bekerja tak jauh dari tempat Ros bekerja. Kerinduan pada sosok Pa membuat Ros melamar pekerjaan sebagai florist di hotel tempat ayahnya bekerja. Namun saat berkumpul dengan teman-teman karyawan ia terkejut mendengar apa yang mereka katakan tentang Pa.

RASANYA seperti mendengar petir menggelegar di dekat telingaku. Selama beberapa saat tanganku gemetar. Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Rasanya sulit sekali mengendalikan raut wajahku supaya terlihat biasa saja. Inikah yang dimaksud Ma dengan kalimat, “Aku tak sanggup mengatakannya”?

“Pasangannya bernama Sebastian,” lanjut atasanku lagi. “Brondong, beberapa tahun lebih muda. Aku belum pernah melihatnya secara langsung dan lama. Hanya sekilas.”

Aku meletakkan garpu ke atas piring supaya atasanku tak curiga melihat tanganku yang masih gemetaran saking kagetnya. Aku menyelesaikan makan siang lebih cepat dari teman-teman yang lain. Lalu menyelinap ke ruang loker. Sepi tidak orang. Saat memastikan suasana benar-benar aman, aku menelepon Ma.

“Kau sudah tahu,” kata Ma dengan menghela napas panjang. Suaranya terdengar begitu sedih.

“Ya.” Aku berusaha tegar. Meski hati ini ingin menangis, tapi aku tetap mengupayakan senyum. Aku yang anaknya saja terkejut mendengar berita ini, apalagi Ma yang mengetahui sendiri sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Apakah kondisi Pa ini merupakan salah satu penyebab perpisahannya dengan Ma? Ingin aku menanyakan hal tersebut, tapi aku tahan dan urungkan. Aku ingin menjaga perasaan Ma.

***

Buket mawar berukuran sedang aku susun rapi. Bunganya aku pilih yang paling segar. Pagi hari tadi kami mendapat kiriman langsung dari suplier yang memiliki kebun sendiri. Aku terpaksa merogoh kocek sendiri untuk membeli bunga-bunga tersebut. Merangkai dan membungkusnya dengan kertas warna kalem dan tidak mencolok perhatian.

Setiba di depan ruangan RM, aku malah merasa ragu. Benarkah yang sedang aku lakukan sekarang? Kepalan tanganku menggantung di udara. Aku menghitung sampai sepuluh sebelum memutuskan akan benar-benar mengetuk pintu. Kalau saat di hitungan sembilan atau sepuluh, perasaanku mengatakan sebaiknya aku angkat kaki dari sini maka akan aku batalkan rencana menemui Pa.

Satu, dua, tiga...

Sebuah suara berat memintaku masuk setelah ketukan ketiga. Aku membuka pintu perlahan dan menyapa sopan. Laki-laki itu, ayahku—Pa, sedang menunduk memeriksa tumpukan kertas pekerjaan di atas meja. Aku berdiri menunggu tanpa mengatakan apa-apa. Sesekali aku amati karakter fisik Pa—sepertinya aku memiliki bentuk hidung dan dagunya.

“Ya? Ada apa?” Pa akhirnya mendongak saat menyadari salah satu pegawainya yang barusan masuk malahan hanya berdiri diam.

“Apakah Anda tahu kalau mawar adalah bunga perlambang cinta, Pak?” tanyaku. Aduh, suaraku bergetar.

“Merahnya warna pekat. Sepekat darah yang menunjukkan kedalaman perasaan cinta.”

Pa memandangku dengan heran dan juga bingung.

Aku meletakkan hand bouquet mawar yang aku susun ke atas meja.

“Anda mendapat bunga ini dari seorang perempuan, Pak.”

Sungguh, sulit sekali rasanya untuk berdiri tegak. Kakiku goyah seperti agar-agar.

“Dari seorang anak perempuan yang bernama sama dengan bunga yang baru saja diserahkan kepada ayahnya; Ros.”

Pa segera saja duduk tegak. Raut mukanya terlihat sangat terkejut. “R-Ros?”

Mulutku bergetar. Sebulir air mata mengalir turun tanpa bisa dicegah.

***

Malam ini aku gugup membenahi pakaian yang aku kenakan untuk makan malam. Bukan jenis gaun malam yang mewah, hanya kemeja perempuan berpotongan dan berdetail sederhana. Warna merah muda lembut aku kira cukup dan tidak norak. Aku mengenakan celana panjang kain dan flat-shoes. Aku memulas muka dengan dandanan tipis—yang penting mukaku tampak segar, tidak pucat.

Seminggu lalu setelah kejadian aku meletakkan buket mawar ke meja Pa, aku kembali bekerja seperti biasa. Hanya saja menjadi lebih banyak diam. Tak banyak bicaran bahkan untuk mengobrol dengan kawan-kawan. Aku cemas bila Pa kemudian memberhentikanku dari pekerjaan. Demi menyelamatkan diri dari malu dan takut masa lalunya terbongkar, ia memecatku. Ketakutan-ketakutan itu membuatku enggan banyak bicara. Namun, ternyata Pa tak seperti itu.

Jumat sore sepulang bertugas, aku menemukan sebuah surat pendek dalam amplop putih polos di dalam lokerku. Terselip di antara jaket dan tas. Aku membuka dengan tangan gemetar.

Ros, anakku.

Sabtu malam sepulang dari bekerja, aku undang kau makan malam. Datanglah. Aku sungguh-sungguh ingin bertemu dan bercakap denganmu.

Sebuah undangan makan malam yang singkat. Di sudut kanan bawah terdapat tanda tangan beserta nama lengkap Pa pada bagian bawahnya. Begitu formal—ia melakukan ini barangkali karena kebiasaannya sebagai RM. Pa menulis sebuah alamat yang mesti kutuju untuk menghadiri undangan makan malam.

Malam ini aku menghentikan motor matic di halaman sebuah apartemen mewah. Apakah ini tempat tinggal Pa? Apakah ia tinggal bersama Sebastian pasangannya? Mendadak aku gugup. Apa yang harus aku katakan nanti? Apa yang harus kami obrolkan nanti? Apakah sebaiknya aku tidak menyebut-nyebut Ma? Atau bagaimana?

Aku merapikan rambut yang kusut dan lepek tertutup helm melalui pantulan kaca dinding lift. Sesampai di tempat kutuju, seorang laki-laki berusia sekitar 30 atau 40-an tahun membukakan pintu. Rambutnya berombak pirang kecoklatan. Perawakan tubuhnya sedang saja—tak gemuk tak pula kurus. Senyumnya ramah. Tutur katanya halus.

“Ros ya… Selamat datang. Aku Sebastian.”

Aku menyambut uluran tangan Sebastian.

Ruangan dalam apartemen itu lumayan luas. Tertata rapi dan sedikit wangi. Aku menyimpan helm di meja di dekat pintu masuk. Sebastian menyimpan jaketku di sebuah gantungan mantel tak jauh dari meja. Pa keluar menyambutku dengan pelukan hangat. Pa dan Sebastian kemudian minta izin menyelesaikan menata meja untuk makan malam. Aku menunggu di sofa ruang tamu sambil membolak-balik majalah fashion terbitan sebulan lalu.

Saat makan malam, Sebastian berusaha mencairkan suasana dengan guyonannya yang ringan. Menu malam ini bukan ia dan ayahnya yang memasak, tapi koki hotel. Pa memesan saat lima menit terakhir karena ia menggosongkan omelet dan lupa mematikan kompor hingga sup mereka kering. Aku mencoba tertawa sopan.

Ia laki-laki yang halus dan telaten. Aku perhatikan dari caranya menata makanan—tak ada sedikit pun noda yang menetes, napkin dilipat rapi, sendok dan garpu yang dilap hingga mengilat.

Seusai makan malam kami duduk bertiga di sofa saling berhadapan. Pa menceritakan bagaimana awal mula ia dan Sebastian bertemu.

“Di sebuah halte bus,” sahut Sebastian dengan suaranya yang lembut sembari menuang minuman dan menyerahkannya padaku.

Ya, mereka bertemu di sebuah halte bus. Saat itu hari hujan. Mobil Pa mogok hari itu sehingga ia terpaksa bepergian menggnakan bus. Sore hari yang basah. Tak ada orang lain di halte kecuali Pa. Hingga seorang anak bermuka sedih duduk di sebelah Pa. Kausnya basah kuyup dan ia menggigil kedinginan. Pa baru menoleh dan bertanya ada apa ketika tangis pemuda itu semakin mengeras.

Sebastian, nama pemuda berperangai halus dan berkulit putih bersih itu, memiliki toko bunga dan sedang dalam kondisi hancur-hancuran. Ia baru saja ditipu pelanggan; memesan berbagai jenis bunga dalam jumlah besar namun saat ditagih orang itu menghilang tak dapat ditemukan.

Pa tertarik ingin membantu Sebastian. Keesokan harinya, Pa mampir ke toko bunga milik Sebastian untuk memeriksa kondisi toko bunga, apakah terawat, rapi, dan wangi, kemudian memeriksa catatan penjualan, apakah terdokumentasi dengan rapi dan baik, dan masih banyak yang lain. Berkat bantuan kucuran dana dari Pa, toko bunga Sebastian kembali bangkit. Dan kini telah sebuah usaha besar.

Orangtua dan keluarga besar Pa berang ketika mengetahui kenyataan tentang Pa dan Sebastian. Mereka meminta Pa dan Sebastian berpisah.

“Sebaiknya kau mencari wanita baik-baik untuk kau nikahi. Membangun rumah tangga yang normal dan bahagia.”

Pa menikahi Ma, seorang wanita baik-baik dan sedikit penggugup yang kemudian melahirkanku beberapa tahun kemudian. Pa bahagia dengan keluarga kecilnya. Namun, tahun keempat ia merasa tak kuasa lagi membohongi diri sendiri. Pada tahun kelima Pa memutuskan berpisah dengan Ma untuk kembali pada Sebastian.

Berkali-kali aku meneguk air minum, namun tenggorokanku terasa terus-menerus kering. Lalu Sebastian mengundangku untuk mampir ke toko bunga miliknya. Aku katakan, ya, nanti bila memiliki waktu luang.

Dalam perjalanan pulang kembali ke rumah, aku tak tahu mengapa tiba-tiba Pa mengundangku datang. Barangkali karena ingin bertemu anak perempuannya yang telah lama ditinggalkan. Atau, ingin menjelaskan mengapa ia berpisah dengan Ma, yaitu cerita mengenai perasaannya pada Sebastian. Namun alasannya tak masuk akal buatku.

Motor  matic-ku terseok saat melintas di jalan berpasir. Hampir saja terjatuh, namun sigap aku berhenti dan menahan kendaraan dengan kaki. Motor dengan kapling otomatis ini tidak lincah dan agak sedikit sulit dikendalikan. Berhati-hatilah, Ros! Ingatku sendiri dalam hati.


TIGA

Dibutuhkan pesanan bunga; lima ikat anthorium merah, tujuh ikat krisan puma kuning, sepuluh ikat mawar merah, tiga ikat lily stargazer, tiga ikat lily casablanca, dan beberapa macam dedaunan. Semuanya akan digunakan untuk keperluan pesta ulang tahun yang diselenggarakan nanti sekitar pukul tujuh malam. Single rose dalam vas sudah harus diletakkan di round table, sedangkan rangkaian bunga warna-warni lainnya ditempatkan pada sudut-sudut ruangan. Semua sudah harus siap paling lambat pukul lima sore. Sekarang tengah hari, namun bila dikerjakan dengan cepat sekiranya bisa rampung dengan baik.

“Kau yakin bisa mengerjakannya sendirian?” tanya seorang teman. Ia tak bisa membantuku karena harus menggantikan teman kami yang mendadak tidak masuk karena sakit.

Aku mengangguk. Catatan itu aku baca dan perhatikan dengan raut muka serius. “Ya. Tidak usah khawatir.”

Aku menelepon suplier untuk memesan bunga. Setelah bunga-bunga datang dan diturunkan dari bak belakang mobil, aku tak segera mengurusnya.  Aku  hanya mengambil secukupnya untuk dirangkai sesuai kebutuhan. Dalam merangkainya pun sama sekali tak sedap dipandang. Aku kerjakan tidak dengan senang hati. Selama beberapa hari ini aku melulu uring-uringan. Hatiku penuh emosi dan amarah. 

Setelah selesai, sisa bunga yang tak terpakai aku tumpuk sembarangan. Kelopak bunga yang rontok kubiarkan begitu saja. Tangkai bunga lily yang dijadikan satu, kukencangkan sekali lagi ikatannya hingga kulit tangkainya lecet. Kutekuk tangkai bunga anthorium —sebentar lagi akan layu dengan luka warna hitam di bekas lipatan.

Setelah semua kerusakan ini selesai aku lakukan, aku pergi ke dining room. Menghabiskan waktu sembari duduk makan siang menjelang sore. Salah seorang petugas di dining room menegur heran; apakah aku tak ada pekerjaan? Aku jawab tidak—sedang luang dan belum segera ingin pulang.

Pukul empat sore, aku menyelinap ke ruang loker. Mengenakan jaket, menyandang tas, dan bergegas pulang. Aku mematikan ponsel dan pergi ke sebuah kafe sepi hingga jelang tengah malam.

Biar saja bu Virda dan teman-teman kelimpungan. Ruangan yang harusnya sudah siap dengan hiasan bunga-bunga semerbak dan menawan demi menunjang acara pesta ulang tahun, hanya akan terlihat berantakan dan bahkan beberapa sudut ruangan ada yang kosong melompong. Apakah akan diganti dengan hiasan balon atau kertas krep, aku tidak peduli. Bila tamu complain, tentu RM yang akan dicari guna dimintai pertanggungjawaban.

Keesokan pagi Pa datang ke rumah dengan menahan amarah. Ia tak meledak lalu menghambur-hamburkan kalimat penuh emosi, tidak. Ia hanya mengatakan bahwa bila aku ingin menyalurkan kemarahan karena perbuatannya, sebaiknya tidak merugikan orang lain. Pa bisa mengatasi masalah dengan caranya, namun: 1. Hotel tercoreng namanya, 2. Para pegawai florist harus mendapatkan pinalti atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, 3. Sebaiknya aku bisa memisahkan antara permasalah pribadi dengan kerja profesional.

Baik, kataku dalam hati. Bila tidak diizinkan melakukan keonaran di hotel, aku akan melakukannya di tempat lain.

Pa tidak memecatku, hanya saja ia minta aku bertanggung jawab dengan meminta maaf pada seluruh kawan-kawanflorist. Tapi aku belum terpikir untuk melakukan permohonan maaf.

Aku membolos tiga hari. Hari pertama, aku tidak melakukan apa-apa. Ponsel masih aku matikan. Aku tahu betul, bila kunyalakan, pesan masuk bernada jengkel pasti akan datang bertubi-tubi.

Hari kedua, aku melongok ke luar jendela. Apakah sekiranya aman kalau aku berjalan-jalan keluar hari ini? Kartu nama flower shop milik Sebastian aku baca lekat-lekat. Hari ketiga, dengan mengenakan masker menutup separuh muka (pura-puranya kena flu) aku berkendara ke luar rumah. Sepeda motor aku parkir agak jauh di trotoar jalan.

Tiba di halaman depan flower shop milik Sebastian, aku meraih bunga apa saja semampuku. Aku campakkan begitu saja di dekat ember penyimpan berisi air. Kuraup sekali lagi, lalu kucampakkan di jalan. Hari belum terlalu siang, trotoar masih sepi. Aku sempat menginjak-nginjak beberapa tangkai sebelum berlari pergi. Menyelinap bersembunyi di sebuah gang kecil. Menunggu beberapa saat sebelum keluar dan berkendara pulang.

Merusak toko bunga Sebastian ini tidak disangka menyenangkan sekali. Kupikir Sebastian tahu, tapi ia diam saja. Kali ketiga aku mengacau, Sebastian sempat hampir memergokiku. Ia melihat dari bagian dalam toko yang berjendela kaca lebar. Sempat aku mendengar ia memanggil, “Hei, Ros...“ Tapi aku sudah cepat kabur.

Berikutnya aku melakukan dengan cara lain. Aku menelepon toko bunga Sebastian, memesan berbagai macam jenis dengan rangkaian yang berbeda-beda.Semua pesanan tersebut kukirim ke alamat tujuan seperti kuburan, panti lansia, juga bahkan pernah tempat penampungan tuna wisma. Karena merasa tidak pernah memesan, mereka pasti menolak dan tak mau membayar.

Bunga rangkaian sudah tak lagi segar, pegawainya pulang dengan kerugian yang tak seberapa—namun bila terjadi berkali-kali tentu menjadi sebuah kerugian yang besar.

Seminggu melakukan keonaran, aku kembali mendekam di rumah. Beberapa hari tak terjadi apa-apa. Pa tak datang ke rumah. Sebastian juga tak mendatangiku untuk bertanya atau mungkin marah-marah. Teman kantor juga tak berusaha mencari tahu. Aku tiba-tiba merasa hampa.

Semua tindakanku salah. Aku marah namun tak dapat mencegah untuk tak berbuat gegabah. Apa aku harus minta maaf?

***

“Seharusnya kamu malu dengan semua perbuatanmu, Ros.”

Aku kira bibir Ma bergetar saat mengatakan kalimat barusan. Suaranya terdengar bergoyang. Pagi ini aku menelefonnya saat tak tahu harus melakukan apa lagi.

“Aku dan Pa-mu bahkan tidak bertengkar saat kami berpisah. Aku sudah bertemu Sebastian dan ia bahkan menangis minta maaf. Dan, sebagainya.”

Ma kemudian diam lamaaa... sekali. Berkali-kali ia menyusut ingus dan mendesah berat. Tuhan. Aku kira hanya aku yang terluka karena peristiwa 20 tahun yang lalu. Tapi, perangaiku yang buruk, malah membikin tiga orang yang lain tersakiti.

“Apa yang sebaiknya aku lakukan, Ma?”

“Meminta maaf.”

Terbayang teman-teman hotel yang akan menggeruduk begitu aku sampai di tempat kerja.

Sudah seminggu lebih aku tak berangkat. Kuanggap diriku sudah mengundurkan diri begitu saja. Sungguh, tindakanku ini memalukan. Aku juga tak sanggup membayangkan aku mengetuk pintu dan masuk ruangan kerja Pa.

Laki-laki yang berparas letih saat makan malam di tempat Sebastian itu tak marah saat aku mengacaukan pekerjaannya.

Penerimaan akan sikapku yang keterlaluan dengan legawa itu malah membuatku sungkan. Juga Sebastian. Ia memiliki hak untuk mendatangiku, marah karena merugikannya secara waktu dan finansial, mengadukanku pada Pa, dan sebagainya. Tapi tak ia lakukan.

“Pada Pa?” tanyaku seperti anak kecil.

Aku sudah dewasa tapi menentukan sikap secara mandiri pun aku tak mampu.

“Pada siapa saja yang menurutmu kau harus meminta maaf.” (bersambung)


Desi Puspitasari. Novel terbarunya JOGJA JELANG SENJA (2016).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Desi Puspitasari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Kartini" edisi 2427 27 Mei - 12 Juni 2016

0 Response to "Ros (2)"