Ros (3) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ros (3) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:58 Rating: 4,5

Ros (3)

Ringkasan Cerita Sebelumnya 
Ros syok mendengar cerita tentang Pa. Ia berusaha tegar meski hatinya ingin menangis. Ia dapat membayangkan seperti apa perasaan Ma ketika mengetahui hal itu. Ros memberanikan diri menemui Pa dan mengakui siapa dirinya. Pa lantas mengundang Ros makan malam di apartemennya. Di sanalah untuk pertama kalinya Ros bertemu Sebastian. Keesokan hari Ros pun membuat ulah. Ia mengobrak-abrik tatanan bunga untuk pesta ulang thaun di hotel. 



Biar saja bu Virda dan teman-teman kelimpungan. Ruangan yang harusnya sudah siap dengan hiasan bunga-bunga semerbak dan menawan demi menunjang acara pesta ulang tahun, hanya akan terlihat berantakan dan bahkan beberapa sudut ruangan ada yang kosong melompong. 

Keesokan pagi Pa datang ke rumah dengan menahan amarah. Ia tak meledak lalu menghambur-hamburkan kalimat penuh emosi, tidak. Ia hanya mengatakan bahwa bila aku ingin menyalurkan kemarahan karena perbuatannya, sebaiknya tidak merugikan orang lain. Pa bisa mengatasi masalah dengan caranya, namun: 1. Hotel tercoreng namanya,
2. Para pegawai florist harus mendapatkan pinalti atas perbuatan yang tidak mereka lakukan,
3. Sebaiknya aku bisa memisahkan antara permasalah pribadi dengan kerja profesional.

Baik, kataku dalam hati. Bila tidak diizinkan melakukan keonaran di hotel, aku akan melakukannya di tempat lain.

Pa tidak memecatku, hanya saja ia minta aku bertanggung jawab dengan meminta maaf pada seluruh kawan-kawan florist. Tapi aku belum terpikir untuk melakukan permohonan maaf.

Aku membolos tiga hari. Hari pertama, aku tidak melakukan apa-apa. Ponsel masih aku matikan. Aku tahu betul, bila kunyalakan, pesan masuk bernada jengkel pasti akan datang bertubi-tubi.

Hari kedua, aku melongok ke luar jendela. Apakah sekiranya aman kalau aku berjalan-jalan keluar hari ini? Kartu nama flower shop milik Sebastian aku baca lekat-lekat. Hari ketiga, dengan mengenakan masker menutup separuh muka (pura-puranya kena flu) aku berkendara ke luar rumah. Sepeda motor aku parkir agak jauh di trotoar jalan.

Tiba di halaman depan flower shop milik Sebastian, aku meraih bunga apa saja semampuku. Aku campakkan begitu saja di dekat ember penyimpan berisi air. Kuraup sekali lagi, lalu kucampakkan di jalan. Hari belum terlalu siang, trotoar masih sepi. Aku sempat menginjak-nginjak beberapa tangkai sebelum berlari pergi. Menyelinap bersembunyi di sebuah gang kecil. Menunggu beberapa saat sebelum keluar dan berkendara pulang.

Merusak toko bunga Sebastian ini tidak disangka menyenangkan sekali. Kupikir Sebastian tahu, tapi ia diam saja. Kali ketiga aku mengacau, Sebastian sempat hampir memergokiku. Ia melihat dari bagian dalam toko yang berjendela kaca lebar. Sempat aku mendengar ia memanggil, “Hei, Ros...“ Tapi aku sudah cepat kabur.

Berikutnya aku melakukan dengan cara lain. Aku menelepon toko bunga Sebastian, memesan berbagai macam jenis dengan rangkaian yang berbeda-beda.Semua pesanan tersebut kukirim ke alamat tujuan seperti kuburan, panti lansia, juga bahkan pernah tempat penampungan tuna wisma. Karena merasa tidak pernah memesan, mereka pasti menolak dan tak mau membayar.

Bunga rangkaian sudah tak lagi segar, pegawainya pulang dengan kerugian yang tak seberapa—namun bila terjadi berkali-kali tentu menjadi sebuah kerugian yang besar.

Seminggu melakukan keonaran, aku kembali mendekam di rumah. Beberapa hari tak terjadi apa-apa. Pa tak datang ke rumah. Sebastian juga tak mendatangiku untuk bertanya atau mungkin marah-marah. Teman kantor juga tak berusaha mencari tahu. Aku tiba-tiba merasa hampa.

Semua tindakanku salah. Aku marah namun tak dapat mencegah untuk tak berbuat gegabah. Apa aku harus minta maaf?

***

“Seharusnya kamu malu dengan semua perbuatanmu, Ros.”

Aku kira bibir Ma bergetar saat mengatakan kalimat barusan. Suaranya terdengar bergoyang. Pagi ini aku menelefonnya saat tak tahu harus melakukan apa lagi.

“Aku dan Pa-mu bahkan tidak bertengkar saat kami berpisah. Aku sudah bertemu Sebastian dan ia bahkan menangis minta maaf. Dan, sebagainya.”

Ma kemudian diam lamaaa... sekali. Berkali-kali ia menyusut ingus dan mendesah berat. Tuhan. Aku kira hanya aku yang terluka karena peristiwa 20 tahun yang lalu. Tapi, perangaiku yang buruk, malah membikin tiga orang yang lain tersakiti.

“Apa yang sebaiknya aku lakukan, Ma?”

“Meminta maaf.”

Terbayang teman-teman hotel yang akan menggeruduk begitu aku sampai di tempat kerja.

Sudah seminggu lebih aku tak berangkat. Kuanggap diriku sudah mengundurkan diri begitu saja. Sungguh, tindakanku ini memalukan. Aku juga tak sanggup membayangkan aku mengetuk pintu dan masuk ruangan kerja Pa.

Laki-laki yang berparas letih saat makan malam di tempat Sebastian itu tak marah saat aku mengacaukan pekerjaannya.

Penerimaan akan sikapku yang keterlaluan dengan legawa itu malah membuatku sungkan. Juga Sebastian. Ia memiliki hak untuk mendatangiku, marah karena merugikannya secara waktu dan finansial, mengadukanku pada Pa, dan sebagainya. Tapi tak ia lakukan.

“Pada Pa?” tanyaku seperti anak kecil.

Aku sudah dewasa tapi menentukan sikap secara mandiri pun aku tak mampu.

“Pada siapa saja yang menurutmu kau harus meminta maaf.” 

Saat itu malam hujan turun deras. Aku kadang suka bertanya dalam hati, mengapa dalam adegan cerita fiksi atau mungkin juga film, keadaan hujan selalu digunakan untuk mendukung suasana cerita dalam kondisi tertentu. Seperti yang kualami saat ini; ban motor matic-ku selip saat melindas lubang kecil di sebuah jalan. Ban depan tersorok masuk teralis gorong-gorong saluran air bawah tanah. Motor matic ini memang tidak gesit dan kurang lincah dikendalikan. Ditambah kondisi jalanan yang licin.

Aku terjatuh dan menahan tubuh menumpu pada dua lengan. Aku kira semua akan baik-baik saja sampai aku berdiri dan terjatuh lagi. Kepalaku pusing. Kausku basah sama sekali dan aku tidak bisa berdiri. Tidak ada banyak orang berjalan di luar karena keadaan hujan.

Seseorang dalam tudung payung mengulurkan tangan.  Aku menerima dan ia membawaku masuk. Orang-orang di kafe menoleh sejenak sebelum kembali menghadap minuman mereka. Tidak ada untungnya mengurusi seorang pengunjung basah kuyup seperti tikus kecemplung got. Menyeruput minuman hangat di hari hujan adalah pilihan yang jauh lebih baik.

“Motorku….” Aku menggumam sembari menggigil kedinginan. Aku membungkuk untuk memeriksa kondisi kaki. Jaket orang yang menolongku disampirkan bahuku. Sebelum keluar orang itu masih sempat memesan minuman panas pada pelayan untukku. Sembari menunggu, aku merapatkan jaket. Aroma parfumnya lembut.

“Aku sudah menyimpan motormu. Aku kenal pemilik kedai, aku titipkan di bagian belakang kedai ini.“

Aku mendongak. Tak lama, orang itu sudah kembali. Orang yang menolongku ternyata Sebastian.

“Kau tak apa-apa, Ros? Apa ada yang sakit?” Sebastian mempersilakan pelayan meletakkan cangkir cokelat panas. Ia duduk mengibas basah di pakaian dan memaksaku untuk segera menyeruput minuman. Ia bahkan hendak meminjamkan pakaian kering tapi aku menolaknya.

Sebastian menunggu sampai minumanku habis. Ia panik ketika terdapat baret di telapak tanganku yang sudah kering. Dengan lembut ia membersihkan pasir halus yang menyelip di antara baret. Aku mengatakan bahwa tak mungkin ada pasir pada saat hari hujan tapi laki-laki itu tidak peduli.

“Aduh…” aku mengeluh. Kepalaku hanya pening sedikit. Namun, reaksi Sebastian sungguh di luar kewajaran. Ia khawatir bukan main. Setelah membayar pesanan, aku dibawa ke rumah sakit. Astaga, ia berlebihan sekali. 

Ia mulai menjalankan mobil dengan hati-hati. "Apakah kakimu bengkak? Bagian pergelangan terkilir ke arah yang tidak benar?”

“Aku baik-baik saja. Sungguh.” Aku menenangkan Sebastian. Tak ingin ia cemas berlebihan. “Hujan sudah reda. Sebaiknya kita kembali ke kedai. Aku akan pulang dengan motorku dan...“

Kami meluncur menuju kediaman Sebastian. Karena katanya aku tak mau ke rumah sakit, maka ia akan merawatku di apartemennya. Besok pagi ia akan mengantarku mengambil motor yang dititipkan di kedai.

“Apa kau melakukan ini karena aku anak ayahku?” tanyaku hati-hati. Aku meletakkan kepala di sandaran—pening yang sedikit itu mulai datang lagi.
“Tentu tidak.” Sebastian hanya menengok sekilas. “Semisal kau hanya seekor anak kucing terlantar, atau bulldog galak yang pernah mengejarku sewaktu kecil hingga terkencing-kencing dan jatuh namun bila aku telah mengenalmu sebelumnya, aku akan tetap akan menolong.”

“Kalau tak kenal?”

“Pikir dua kali.” Sebastian nyengir. “Sebenarnya kau hendak ke mana? Bepergian di hari hujan seperti ini.”

Aku tak segera menjawab. Diam mengumpulkan keberanian. “Ingin pergi ke tempatmu. Untuk… meminta maaf.”

EMPAT

“Kami, aku dan ayahmu, sudah tidak lagi bersama.”

Aku yang duduk bersandar dengan kaki berselonjor segera bangkit. Namun berat di kepala mencegahku bangun lebih lagi. Ini sakit kepala karena pusing kena air hujan aku kira, bukan terantuk karena terjatuh dari motor.

“Sudah lama.” Sebastian turut bersandar di punggung sofa. “Aku akan pindah ke Paris. Mengembangkan usaha. Toko bungaku yang di sini, yang kemarin dikacau oleh seorang gadis pemarah (Sebastian tertawa kecil), akan dipegang salah seorang pegawai senior.”

Aku tak percaya. Apakah mereka sudah berpisah sejak lama, bahkan sebelum bertemu denganku saat makan malam beberapa waktu lalu?

“Ya.”

Sebastian yang meminta ia dan Pa untuk tak lagi bersama. Menurut Sebastian, Pa kembali padanya hanya karena rasa kasihan. Sebastian tumbuh di panti asuhan. Sepanjang hidupnya ia digembleng dalam kehidupan yang tangguh—sehingga menjadi sedikit sensitif bila ada yang berusaha mengasihaninya dengan berlebihan.

Sebastian kerap di-bully oleh teman-teman panti asuhan karena tingkah lakunya yang lemah lembut dan gemulai. Ia mengalihkan kesendirian dan kesepian juga kesedihannya dengan merawat kebun kecil terlantar di bagian belakang panti.

Beranjak remaja Sebastian bekerja dan menabung yang digunakan untuk mendirikan toko bunga. Pendapatannya dibagi dua: untuknya sendiri, dan diserahkan ke panti asuhan untuk membantu adik-adik panti supaya kehidupan mereka menjadi lebih baik. Waktu bertemu Pa, seperti yang pernah ia ceritakan sebelumnya, ia barusan ditipu besar-besaran sehingga dipastikan bila tanpa bantuan Pa ia akan bangkrut.

“Barangkali Pa-mu adalah orang paling plin-plan tanpa tandingan.  Atau malah ia laki-laki paling berjiwa welas asih sedunia.” Sebastian mengembus napas berat.

Pa menyayangi Sebastian dan jatuh cinta pada Ma. Laki-laki itu kembali pada Sebastian lebih karena rasa kasihan. Namun, cinta sejati tak bisa dipungkiri. Cinta sejati tak akan pernah mati. Pa ingin kembali pada Ma. Sebastian dan Pa sudah membicarakan hal ini panjang lebar diselingi isak tangis.

Sebastian berhasil membuktikan diri bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan. Laki-laki paruh baya itu tak perlu khawatir meninggalkannya. Pa dan Sebastian tetap berteman baik setelah berpisah. Sudah lama Pa mencari cara untuk kembali pada Ma. Hanya belum tahu bagaimana. Sampai akhirnya Ros datang menemui Pa di ruangannya.

“Ia sangat nervous—antara sangat ingin menemuimu dan takut karena pernah pergi begitu saja dari kehidupan kalian.” Sebastian melanjutkan, “Itulah mengapa ia minta bantuanku untuk menemani dengan mengadakan makan malam di sini.”

Aku menggeleng. Kenyataan demi kenyataan berdentam-dentam menghantam isi kepala. Ini rasanya seperti tidak masuk akal. Atau, ini sebenarnya sungguh-sungguh masuk akal, hanya saja aku masih terlalu kaget menerimanya.

“Sepertinya kita bisa menjadi teman.”
Aku dan Sebastian mengatakan kalimat tersebut bersamaan. Kami menoleh, saling tatap. Lalu, tanpa direncana dan disengaja, kami menggeleng kembali bersamaan. 

“Sepertinya tidak.” Ucap kami kembali berbarengan. Bukan karena kami saling membenci, tapi lebih karena harus menjaga perasaan banyak pihak.

“Ya.” Sebastian mengembus napas sambil tersenyum. Setelah lama diam, ia menghadapkan badannya ke arahku. Katanya sambil menumpukan kepala ke sandaran sofa, “Kau pergi ke tempatku, untuk minta maaf?”

“Ya,” gantiku balas mengembuskan napas panjang. “Karena tingkah laku kekanak-kanakan—mengacau toko bungamu sampai sebegitunya.” 

Aku menegakkan badan. Balas menghadap ke arah Sebastian dan mengucap kalimat berikutnya dengan sungguh-sungguh. “Maafkan aku.”

“Aku memaafkanmu.” Sebastian membalas lembut. “Seumpama aku berada di posisimu sepertinya akan melakukan hal yang sama. Meski aku tidak sepemarah dirimu.”

Aku tertawa. 

“Terima kasih,” ucapku.

***

Setiap kesalahan yang aku lakukan harus kutanggung sendiri akibatnya. Tidak sungguh-sungguh sendiri sebenarnya. Pa yang mendukungku di belakang. Sebagai permintaan maaf yang besar, katanya, meski sebenarnya tak sebanding dengan perbuatannya meninggalkanku dan Ma.

Aku menemui teman-teman florist. Mengakui terus terang kesalahan yang telah aku perbuat tanpa menyebutkan alasannya. Sebastian membantuku memilih motif scarf untuk teman perempuan dan dasi untuk kawan laki-laki untuk dibungkus rapi dan kuberikan pada mereka sebagai permintaan maaf. Pa yang bertanggung jawab atas semua pengeluaran. Ia juga bilang sudah memaafkanku bahkan jauh sebelum aku meminta maaf.

Pa menawariku untuk bekerja kembali di hotel, tapi kutolak. Aku terlalu malu karena telah membikin onar. Namun, bila aku juga mendapat pekerjaan pengganti, Pa bersedia menerimaku kembali. Aku berterima kasih dan segera pamit pulang.

“Ros….”

Aku berhenti di pintu.

“Tentang Ma-mu…. Tidak. Tidak jadi.” Pa menggeleng sembari tersenyum. “Akan aku lakukan sendiri saja. Aku telah begitu merepotkanmu.”

Aku tidak tahu apa maksud Pa.

Cinta memang hal paling sureal di dunia. Ma memiliki sebuah lubang besar bernama luka di dalam hatinya. Memendam rindu dan berjuang sendirian karena ditinggal Pa. Cinta antara Pa dan Ma kemudian terpisah lama oleh sebuah jarak paling absurd yang pernah mereka temui dalam hidup mereka. Ma bilang bekas luka itu tak akan pernah sembuh dan tak terlupakan, namun Ma legawa. Ia mengambulkan permintaan maaf dan juga menerima kembali kehadiran Pa.

Aku tak mengerti. Barangkali aku tak akan pernah bisa mengerti. Entahlah. Barangkali ini semacam kisah cinta sejati yang memiiliki awal yang buruk namun berakhir dengan sebuah kebahagiaan besar.

“Pa-mu meneleponku,” begitu kata Ma singkat.

“Lalu?” tanyaku.

Ma tak mau menjelaskan bagaimana kelanjutannya. Hanya mengulang kalimat yang sama sebanyak tiga atau lima kali, “Pa-mu meneleponku.” 

Aku membiarkannya dengan tak bertanya lebih lanjut. Itu urusan mereka—Pa dan Ma. Biar mereka selesaikan sendiri.

Sementara itu, di sebuah pagi aku menerima sepucuk kartu pos dari Sebastian. Ia senang tinggal di Paris. Mengembangkan toko bunga baru dengan lebih baik. Bila ia travelling ke negara-negara baru, ia berjanji akan mengirimiku kartu pos. Dan, bila aku ingin bunga, tinggal datang dan minta pada pegawainya. Sebanyak apapun yang aku minta, pasti akan diberi.

Ros, 
tetaplah tersenyum dan tertawa laiknya mawar merah atau kuning ceria yang mekar. Kenyataan hidup terkadang pahit, namun kau tak boleh menyerah dengan bersikap kekanak-kanakan seperti putri malu yang bila disentuh daunnya akan segera menutup diri.
Aku bahagia di sini. Aku harap begitu juga dengan keadaan Pa dan Ma-mu. Juga keadaanmu sendiri.
Senang bisa bertemu dan mengenalmu, Ros, meski hanya sebentar.
Xoxo
Sebastian

“Senang bisa mengenalmu meski hanya dalam waktu yang sekejab,” bisikku ketika aku berkendara melintas di depan toko bunga Sebastian. (Selesai)

Desi Puspitasari, novel terbarunya JOGJA JELANG SENJA (2016).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Desi Puspitasari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Kartini" edisi 2428 9 - 23 Juni 2016



0 Response to "Ros (3)"