Rupa Ayah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rupa Ayah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:28 Rating: 4,5

Rupa Ayah

"BAGAIMANA rupa Ayah?"

Pertanyaan itu sudah bercokol sejak aku mampu mengeja. Dan tanya itu semakin sering muncul seiring bergulirnya waktu. Tapi, semua itu sebentar lagi akan menemui jawaban.

Kau tahu? Dalam sekali putaran jarum panjang, aku akan bertemu ayah. Ayahku yang hebat. Ayahku yang keren. Ayahku tersayang. Ayahku yang ah, pokoknya tiada duanya. Hari yang istimewa, bukan?

Aku sampai bolos sekolah. Kesempatan ini sudah kunanti lama. Tak mungkin melewatkannya. Agak aneh memang, kenapa ayah tak datang ke rumah saja? Malah mengajakku bertemu di sebuah restoran. Kata ibu, mungkin ayah terlalu sibuk untuk menyambangi rumah kami.

Tak masalah ayah mengajakku bertemu di mana. Sebab hal itu telah membuatku tak bisa tidur semalaman. Setiap kali hendak memejam, hasrat untuk mereka-reka rupa ayah, menyusup begitu saja. Aku ingin cepat-cepat menyongsong hari esok. Sejak kabar dua puluh empat jam lalu, rasanya mau kupecut saja waktu agar segera sampai pukul delapan.

Ibu bahkan samapi gemas dengan tingkahku semalam. Mengambil pakaian, mematutnya sebentar, lalu melempar ke atas tempat tidur, mengambil lagi, begitu seterusnya.

"Tidak usah pilih-pilih. Pakai saja seadanya. Seperti mau kencan saja."

Ah, Ibu, apa tidak tahu? Ini memang kencan. Kencan pertamaku dengan ayah. Aku ingin tampil seapik mungkin. Biar ayah tahu, betapa cantik putrinya sekarang.

Bagaimana rupa Ayah? gagahkah? Tuakah? Miripkah denganku? Haaah.... sungguh sudah tidak sabar ingin menjumpainya. Seperti mimpi. Membayangkannya saja sudah membuatku senyum-senyum. 

Aih, malunya. Sampai sopir taksi menatap curiga. Pasti dia menebak, aku gadis yang sedang kasaran. Biarlah

***
"AYAHMU terlalu keren. Dia tidak suka difoto, Arin."

Itu jawaban ibu tiap kali aku menanyakan foto ayah. Lama-lama aku jengah. Meski setiap kenaikan kelas atau Lebaran selalu mendapat bingkisan dari ayah. Kadang baju, sepatu, bahkan terakhir sebuah telepon pintar model terbaru. Tapi aku tak pernah melihat rupa ayah. Seperti ada tapi tak berwujud.

Keraguan mulai menelusup dalam hati. Kadang terpikir bisa saja barang-barang itu, ibu yang membelikannya atas nama ayah. Untuk mengecoh, jika aku memang punya ayah. Tapi uang dari mana? Ibu hanya buruh pabrik kecil.

Hingga kabar itu datang di suatu sore. Aku yang baru saja pulang sekolah, mendapati ibu yang sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Ibu tampak tegang. Tentu saja aku khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Ibu berteleponan dengan seseorang jelas fenomena langka. Selama ini tak ada yang tahu nomor telepon ibu. Lalu siapa?

Aku mendekat bertepatan dengan ibu menyudahi acara teleponannya.

"Ayahmu. Dia ingin bertemu besok."

Ibu menjelaskan tanpa diminta. Aku sontak membeliak. Tidak percaya dengan apa yang barusan ibu ucapkan. Ayah mau bertemu denganku? Seperti mimpi.

***
Kini, aku mendongak menatap jalanan. Sebentar lagi sampai. Tetiba aku merasa perut seperti diremas-remas. Mulas. Mual. Tangan hingga kaki terasa dingin. Tinggal menghitung menit, aku akan bertemu ayah, Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

Ketika akhirnya taksi berhenti di sebuah restoran terkenal, aku sedikit terpaku. Aku membayangkan berapa rupiah yang mesti dikeluarkan untuk sekadar membeli minuman di sini. Ayahku benar-benar hebat. Sebelum masuk, kuhirup udara sebanyak mungkin.

Kuseret kaki melewati ambang pintu restoran. Suasana elegan dan modern menyambut. Tiba-tiba aku tersadar. Bukankah aku tak tahu seperti apa rupa ayah? Bagaimana bisa mengenalinya?

Di tengah kebingungan, ekor mataku menatap sosok yang tengah duduk di meja dekat jendela. Lelaki berjas yang sibuk dengan gadget-nya. Sekali lihat, aku langsung merasakan ada sesuatu yang menarik. Entah bagaimana, aku yakin lelaki itulah ayahku. Dengan langkah mantap aku menghampiri lelaki itu. Semakin dekat, aku seperti mengenali wajahnya. Rasanya tidak asing. Alis, hidung, bibir, tulang pipi. Aku seperti melihat diriku sendiri dalam versi seorang lelaki.

"Ayah."

Lelaki itu mendongak. Senyum langsung terkembang di wajahnya. Sekarang aku yakin, dia benar-benar ayahku. Bahkan ketika tersenyum pun aku seperti sedang bercermin. 

"Duduk."

Ayah menyimpan ponselnya. Dia menatapku seksama. Aku justru merasa canggung ditatap seperti itu.

"Well... langsung saja, ya. Sebentar lagi ada rapat. Sekarang kamu tahu kan, saya Ayahmu. Seperti yang kamu tahu dari Ibumu, saya sebentar lagi akan maju untuk pemilihan wakil rakyat. Tidak enak rasanya kalau saya terbebani masa lalu."

"Maksud ayah...?

"Tunggu. Biar saya lanjutkan dulu. Saya hanya ingin menyampaikan kalau hubungan kita sampai di sini saja. Setelah ini, anggap saya tidak kenal dengan kamu juga sebaliknya. Tentu saya bukan Ayahmu lagi. Saya tidak ingin masa lalu dengan Ibumu merusak citra di mata masy...."

Jeritan ponsel mengalihkan perhatiannya. Ayah menerima dengan menyingkir dariku.

Aku memutar memori. Mengeluarkan rekaman ucapan ayah barusan. Apa katanya tadi? Apa dia kira, memiliki anak merupakan sebuah kontrak? Yang kapan saja bisa diputus hubungannya seperti orang pacaran. Sinting!

"Maaf. Nah, jadi sudah jelas, kan? Sekarang kamu sudah melihat wajah Ayahmu. Untuk yang pertama dan terakkhir kali. Tapi setelah ini tolong lupakan. Kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Saya harus pergi, oh ya, ini ada beberapa hadiah untukmu dan Ibumu. Satu lagi, biaya sekolah nanti akan ditransfer oleh sekretaris saya. Saya duluan."

Aku memandang sosok berjas yang kini semakin menjauh. Ada beragam rasa menggumpal dalam dada. Marah, kecewa, sedih. Itukah rupa ayahku? Apa ia manusia? Pertemuan yang kuharapkan penuh kehangatan justru membuatku ingin muntah. Tak ada pelukan. Tak ada saling tukar kabar. Tak ada tawa. Tak ada belaian lembut. tak ada ayah hebat. Tak ada ayah keren. Dia hanya lelaki iblis berupa manis. 

Fajriatun Nurhidayati, RT 06/01 Karangsalam Kecamatan Susukan Banjarnegara, Jawa Tengah.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fajriatun Nurhidayati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 19 Juni 2016 





0 Response to "Rupa Ayah"