Seribu Bulan di Langit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Seribu Bulan di Langit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:38 Rating: 4,5

Seribu Bulan di Langit

MALAM seribu bulan. Tiap kali ingat perkataan itu, Makbul selalu menatap langit. Dibayangkannya bulan berjumlah seribu ada di atas kepalanya. Alangkah terangnya. Betapa silaunya dunia dengan seribu bulan di langit. Entah purnama, entah separo, entah sabit. Mengapung semuanya. Menggantung seluruhnya. 

Malam itu hanya sekali hadir saat ramadan, demikian kata orang-orang yang pernah ditanyainya. Tak ada yang tahu kapan malam yang karib disebut lailatul qodar itu tiba. Bahkan, sejumlah manusia suci pun tak pernah sanggup menuturkan kapan tepatnya malam itu datang. Mereka hanya mampu menunjukkan sejumlah tanda kehadirannya. Meskipun begitu, lanjut orang-orang yang ditanyainya, Rasulullah memberi satu petunjuk penting bahwa malam itu hadir pada bilangan ganjil ketika ramadan memasuki sepuluh hari terakhir. 

Petunjuk itu dari tahun ke tahun menjadi pedoman bagi Makbul untuk menemukan seribu bulan dalam sebuah malam. Termasuk tahun ini, ketika beberapa jam lagi Ramadan akan masuk pada malam kedua puluh satu. 

Apakah malam nanti bulan akan berjumlah seribu? 

Sudah hampir tiga puluh tiga ramadan Makbul menanti. Tapi, tak sekalipun disaksikannya malam dengan seribu bulan. 

Pencariannya dimulai karena sebuah peristiwa yang dialaminya saat berumur sembilan tahun. Saat ia baru akan mengkhatamkan quran untuk pertama kalinya di bawah bimbingan Kiai Dalil di suatu bakda ashar. 

Di antara barisan surat-surat terakhir dalam juz ëamma, matanya terpaku pada surat Al-Qodar. Hatinya berdegup kencang tak keruan ketika hendak memulai bismillah untuk membaca surat itu. Napasnya sedikit demi sedikit tersendat ketika lidahnya akan membaca alif kasrah pembukanya. 

Kiai Dalil heran melihat muridnya terlihat gugup hingga bercucur keringat. 

“Kenapa, Bul?” 

Makbul tak sanggup menjawab. Ia tak jadi melanjutkan bacaannya, bahkan alif kasrah pembukanya pun tak sempat dilafalkannya. Terlalu berat. 

“Tenangkan hatimu dulu, Bul...”

Sementara teman-teman mengajinya mulai meninggalkan musala, tinggal Makbul yang berusaha melaksanakan nasihat guru ngajinya. Ia mengambil napas dengan lebih teratur dan mulai membaca surat itu. Perlahan-lahan dibacainya harokat demi harokat. Air matanya menetes di sejumlah huruf. Isaknya mengakhiri setiap ayat. Pipinya berair sepanjang surat. Lembaran mushafnya jadi basah. Kiai Dalil turut menangis. 

Di luar, petir menggelegar, melubangi mendung dan mengguyurkan hujan deras yang menyembunyikan tangis mereka. 

Semenjak itu, setiap membaca atau mendengar surat Al-Qodar mata Makbul selalu berair. Padahal, ia tak mengerti makna ayat-ayatnya. Bahkan, bacaannya juga belum lancar dan fasih. 

Kiai Dalil lalu menerangkan makna surat itu dan terutama tentang lailatul qodar. 

“Jika kamu beruntung mendapati malam itu, kamu akan melihat malam yang terang benderang dengan seribu bulan yang memancarkan cahaya surga dengan keteduhan yang berasal dari Allah SWT. Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan dan keberuntungan semacam itu. Hanya Allah yang berhak memberi penglihatan dan pengalaman itu kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa.” 

“Apakah Kiai Dalil pernah melihatnya, pernah mengalami malam lailatul qodar?” tanya Makbul. Kiai Dalil mengiyakan dengan lebih merincikan tanda-tanda kehadiran lailatul qodar. 

“Angin bertiup sejuk dan lembut. Tiap dahan pepohonan menggemeretakkan tasbih yang ditingkapi suara tasbih dari makhluk-makhluk lain. Suarasuara keagungan dan kesucian memuji Tuhan dilantunkan dengan rempak. Perputaran bumi pun mampu dirasakan. Langit jelas terang. Wajah bulan memancar dengan jernih. Tak ada bandingannya dengan lampu mega watt buatan manusia. Cahaya seribu bulan yang terang tak memanaskan, tetapi justru membuat teduh. Madhangi ning ora manasi, kata orang Jawa. Siapa pun yang beruntung menda patinya, ia tidak akan melewatkan malam itu untuk tidur. Malam itu penuh kemuliaan hingga datang fajar. 

Pada malam itu turun malaikat-malaikat, termasuk Jibril, dengan izin Allah untuk mengatur dan memudahkan segala urusan. Sangking banyaknya malaikat yang turun pada malam itu, dunia pun terasa sesak. Namun, sesak ini bukan yang memalaskan. Sesak ini seperti kita bersesakan di depan kabah ketika ribuan manusia bertawaf. Penuh gairah ibadah.” 

“Kira-kira malam tanggal berapakah Kiai Dalil menyaksikan peristiwa agung itu?” 

Kiai Dalil tak menemukan jawaban pertanyaan susulan Makbul itu. Lupa, demikian jawaban singkat Kiai Dalil. Jawaban yang sama juga diberikan ketika Makbul bertanya kapan tepatnya Kiai Dalil menyaksikan peristiwa itu, apakah tahun lalu, dua tahun lalu, lima tahun lalu, atau kapan? Atau malah setiap tahun? 

Meskipun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Kiai Dalil, Makbul yakin bahwa memang ada malam dengan seribu bulan. Ia pun percaya bahwa Allah dengan rapat menyimpan rahasianya hingga menghilangkan sedikit ingatan Kiai Dalil. Bahkan, menjelang ramadan di umur Makbul yang kesepuluh, Kiai Dalil justru wafat sebelum mampu mengingat dan menjelaskan dengan terang kapan tepatnya kehadiran malam lailatul qodar. 

Allah memang suka bermisteri, kata Makbul dalam hatinya, dan Allah mencintai orang-orang yang mampu memecahkan misteri-misteri itu. Ia yakin, ia akan mampu memecahkan misteri kapan tepatnya malam seribu bulan itu hadir. 

Sudah hampir tiga puluh tiga bulan Ramadan, sejak kematian Kiai Dalil, ia selalu bertanya kepada orangorang; apakah kamu pernah melihat malam dengan seribu bulan di langit? Ia takut dirinya khilaf dalam suatu malam sehingga tak sempat mengalaminya. Sebagian orang yang sabar menerangkan bahwa Makbul salah tafsir terhadap kata bulan yang sesungguhnya merujuk ke bulan dalam kalender, bukan bulan di langit. Namun, sebagian lain yang bosan mendapatkan pertanyaan itu menganggapnya gila. 

Makbul tak peduli dikatakan gila. Setiap orang yang datang ke masjid di desanya akan ia ajak salaman dan ia tanya: apakah kamu pernah melihat malam dengan seribu bulan di langit? Tak peduli orang-orang yang ditanyainya adalah orang yang sama. Tak peduli apakah itu ditanyakan pada bulan puasa atau bukan. Baginya, setiap hari selalu dalam bulan puasa, dan setiap malam adalah malam kedua puluh satu ramadan. Maka, setiap malam, di halaman masjid desanya ia akan menggelar sajadah dan menatap langit sepanjang malam dengan sebuah pertanyaan: apakah bulan telah berjumlah seribu? -k

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Asef Saeful Anwar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 26 Juni 2016

0 Response to "Seribu Bulan di Langit"