Silbi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Silbi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:12 Rating: 4,5

Silbi

The King is dead
long live the King!
Sang Raja telah mampus
hidup Sang Raja yang baru!

MEREKA BILANG, MEMANG SEDARI KECIL AKU SUDAH PENDENDAM. TENTANG INI, TANTE SELMA PUNYA CERITA. Peristiwanya terjadi ketika aku berumur enam tahun. Pernah aku tiga hari tidak mau bicara pada siapa pun karena dipukul Andre, teman sekelas yang berbadan jauh lebih besar. Diam-diam kubiarkan kuku tanganku tumbuh tidak dipotong. Tiga bulan kemudian, semua orang sudah lupa akan peristiwa itu. Juga teman sekelas yang memukulku itu. Tapi tiga bulan itulah waktu yang kuperlukan untuk melengkapi diriku untuk membalas dendam. Suatu hari, kutunggu Andre di semak-semak di jalan memotong antara sekolah dan rumahnya. Ketika lewat, dengan teriakan, kusergap Andre. Kugunakan kesepuluh kuku tanganku untuk merobek-robek apa pun yang bisa kujangkau di badannya. Karena tak tahu apa yang menyerangnya tiba-tiba, Andre tak bisa melawan dan berteriak-teriak panik. Lepas dari cengkeramanku Andre lari sambil terus berteriak ke rumahnya dengan muka berdarah dan pakaian robek-robek. Sejak itu, walau termasuk yang bertubuh kecil di kelasku, aku jadi disegani. Ada beberapa lagi ceritera serupa tentangku yang kudengar dari ibu atau tante-tante yang lain.

Tapi kali ini bukan lagi masalah reputasi atau pembawaan. Kukira, siapa pun bila diperlukan sepertiku tentu akan memberikan reaksi yang sama. Dora isteriku, dan ketiga anakku, Ivan Ambar, dan Amira adalah segalanya bagiku. Siapa pun yang berani sampai mengganggu mereka sudah selayaknya menerima balasan lebih dari setimpal dariku. 

Cerita ini bisa dimulai pada saat aku berkenalan dengan Mijor Nates di Sinner’s Club. Bar ini memang sering kukunjungi selepas kerja karena letaknya yang strategis. Banyak pula kenalan yang punya kebiasaan nongkrong selepas kerja di tempat ini.

Suatu sore aku duduk sendiri. Walau bar sudah setengah penuh, tetapi tidak seorang pun kawan dan kenalan yang terlihat. Sambil menimang gelas yang setengah penuh, kuperhatikan penyanyi wanita yang dengan gaya seadanya menyanyi diiringi piano. Pada akhir sebuah lagu, seorang laki-laki naik ke panggung untuk menyumbang lagu. “Disaster!” pikirku. Maklumlah, para penyumbang lagu seperti ini biasanya menyanyi dengan nada dan suara tidak karuan. Piano mulai masuk dan si laki-laki mulai tarik suara. Lagunya Love is a Many Splendored Things, sebuah lagu lama yang biasanya dinyanyikan Nat King Cole. Aku pun terkejut karena suaranya yang lembut tetapi lantang. Benar-benar seorang profesional. 

Lagu-lagu Nat King Cole memang terlalu tua untuk generasiku, tetapi lagu-lagu ini memang selalu berada di kepala. Ibuku sering menyanyikannya di kamar mandi, sambil bersolek dan sebagainya, ketika aku kecil. Mungkin, karena memang ingin mendengarkan lagu-lagu ini, atau mungkin pula karena ingin menantang, kutulis nama lagu Nat King Cole yang lain di secarik kertas. Kuberikan kertas itu pada bartender untuk disampaikan pada si penyanyi. Lagu pertama selesai diakhiri dengan gemuruh tepuk tangan. Kemudian dinyanyikannya lagu permintaanku, Around the World. Pada saat si penyanyi menyanyikan lagu ketiga, juga dari Nat King Cole, Unforgettable, seisi bar sudah menyadari adanya tantangan dari pendengar ini. Suara tepuk tangan pun makin gemuruh diikuti ketegangan menunggu lagu berikutnya. Pada ujung lagu ketujuh, When I Fall in Love, ketegangan dipatahkan dengan datangnya si penyanyi wanita yang langsung mengambil alih mikrofon.

Sambil tersenyum lebar, diikuti tepuk tangan gemuruh, si penyanyi datang ke mejaku. 

“Mijor Nates,” dia menyebut namanya sambil menjabat tanganku dan dengan tatapan mata tertuju. Jabatan tangannya keras tegas dan hangat. Aku memang selalu risi bersalaman dengan tangan-tangan yang seolah menyentuh tanganku. Apalagi dengan mata menerawang. 

“Mayor Nantes?” aku cari ketegasan. Seorang mayor dengan nama berbau Perancis? Aneh juga nama ini di telingaku. Dia mengulang kembali namanya dan sekalian menanyakan namaku. 

“Silbi, cuma Silbi tanpa embel-embel,” jawabku sekalian memberikan penjelasan.

“Selby Campbell?” kukira benar-benar bertanya, tapi rupanya Nates cuma menirukan pertanyaan tadi. Aku pun meledak tertawa, diikuti bahaknya yang lebih keras. Memang aku pun dahulu sering bertanya-tanya tentang namaku ini. Pernah kutanyakan pada ayah tentang namaku ini. Beliau cuma bilang bahwa pada suatu hari aku akan mengerti bahwa namaku ini cuma berhubungan dengan tujuan hidupku.

Sejak itu kami jadi berkawan. Sore-sore selepas kerja kami berdua sering ngobrol di Sinner’s Club. Kami baru pulang bila sudah saatnya makan malam di rumah, dan sebaliknya. Yang menarik pada dirinya adalah sikapnya yang easy going, tetapi tegas dalam gerakannya. Pengetahuannya cukup luas dan mendalam. 

Suatu kali, aku mencoba minta pendapatnya tentang masalah pelik yang kuhadapi di kantor. Saat itu aku menghadapi beberapa senior manager yang menganggapku sebagai ancaman. Nates memberiku beberapa saran untuk menghadapinya dan juga beberapa hal yang perlu disarankan pada atasanku. Semua usulnya kulaksanakan. Hasilnya di luar dugaanku. Hambatan para senior manager tadi bisa teratasi. Juga saran-saranku ternyata dinilai luar biasa oleh atasan. Sejak itu aku dianggap boy wonder di kantor dan masuk dalam golongan fast track.

Kuceritakan pada Nates semua ini. Dia tersenyum.

“Silbi, aku kawanmu. Itu jangan dilupakan. Jangan segan-segan kau bertanya bila ada masalah. Perjalananmu masih jauh.”

Sejak itu aku menganggap Nates bukan saja seorang kawan. Nates bagiku menjadi seorang mentor. Mentor yang akan dapat mengantarku ke puncak karier.

***
Bila Anda pikir nama Nates cukup aneh, tunggu sampai lihat orangnya. Nates tidak pernah menyebutkan berapa usianya. Perkiraanku paling tidak dia sepuluh tahun lebih tua dariku. Atau dua puluh tahun lebih tua. Tiga puluh, mungkin juga lebih. Tidak mudah menerka usianya, cuma di balik keperkasaannya aku merasakan “bau tua” pada dirinya. “Bau tua” atau “bau tanah” kata sementara orang adalah ekspresi untuk orang-orang tua yang hampir mendekati liang lahatnya. Tetapi di balik bau tuanya, Nates tinggi tegap. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter, membuatnya tampak seperti berdarah Indo. Nates bertulang besar dengan muka persegi seperti orang Batak. Kulit kuning langsat dan mata sipit seperti orang Cina. Rambut keriting tebal seperti orang Ambon. “Aku warga dunia asli, suatu saat di masa mendatang, semua warga dunia akan seperti aku karena perkawinan silang,” demikian jawabnya suatu kali aku bertanya tentang asal-usul atau sukunya.

***
Pertama kali aku diperkenalkan pada Ygga istri Nates, darahku tersirap. Belum pernah kulihat sebelumnya wanita secantik Ygga. Bukan saja cantik, tetapi lebih dari itu. Dia adalah manusia sempurna. Ygga adalah wanita penggoda dari segala zaman. Ygga adalah Ken Dedes. Ygga adalah Cleopatra. Ygga adalah Salome. Ygga adalah Boleyn. Semuanya dalam suatu makhluk sekaligus. Kejelitaan Ygga membuat usianya tidak ada artinya lagi. Berbeda dengan Nates, Ygga tidak “berbau tua”. Mereka tidak mempunya anak. Nates bilang, Ygga karena kesehatannya tidak boleh melahirkan. Dari pembicaraan di meja makan kala pertama aku diundang ke rumah mereka, aku merasa ada sesuatu pada Ygga. Dalam diri wanita misterius ini, aku merasa ada sesuatu besar yang tersembunyi. Tetapi kemudian perasaan ini kupendam, ini pasti cuma demam biasaku bila bertemu wanita sejelita Ygga.

Satu hal lagi yang kuperhatikan pada saat aku pertama diundang makan malam di rumah Nates. Pada saat aku datang, terdengar suara musik klasik dengan volume besar memenuhi ruang duduk dari sound system. Musik yang cuma terdengar sekilas ini, karena dihentikan pada saat aku masuk, sangat memukau. Dalam beberapa saat terdengar musik ini, terasa seakan aku terperangkap dalam pusaran musik ini. Setiap detik makin jauh tenggelam. Pada saat dimatikan, terasa aku keluar dari pusaran air. Aku masih ingat sampai-sampai menarik napas panjang karena lega.

“Bang Nates, musik apa yang kau mainkan tadi?” tanyaku ketika kami tengah ngopi sehabis makan malam.

“Yang mana? Oh, ketika aku baru masuk tadi? Concerto No. 2 in G Minor oleh Vivaldi, bagian ketiga Presto.”

Kemudian setiap kali aku datang ke rumahnya, selalu kudengar cuplikan musik ini, yang cuma dua setengah menit diputar berulang-ulang. Kadang-kadang musik ini dipasang dengan volume besar, tetapi sering pula dipasang perlahan sebagai latar belakang saja. Lama-lama aku pun tertarik pada cuplikan lagi ini. Suatu ketika pada hari ulang tahunku, aku menerima hadiah dari Nates sebuah compact disc rekaman musik gubahan Vivaldi ini. Dan aku pun mendengarnya, pagi-pagi, di mobil dalam perjalanan ke kantor, perjalanan pulang dari kantor, sore dan malam. Aku tenggelam dalam musik ini.

“Awas lho, Bang, orang yang keranjingan musik klasik atau opera itu banyak yang sadis. Ingat enggak itu film Sleeping With the Enemy yang pembunuhnya keranjingan Bizet. Juga itu filmnya Marlon Brando tentang peran Vietnam di mana pembunuh sadisnya keranjingan Beethoven,” Dora isteriku pernah memperingatkan aku pada keranjinganku yang baru ini.

“Ya, dan masih ingat Clockwork Orange?” aku menambah. “Tapi itu kan semua cuma film. Kalau kegemaran jenis musik ini merupakan suatu indikasi, justru malah ini menunjukkan kepekaan dan intelektual yang bersangkutan.”

“Tahukah kau apa LSD itu?” suatu kali pernah Nates bertanya padaku. Aku masih ingat benar sore itu di Sinner’s Club. Bajuku masih setengah basah. Tadi aku harus berlari di tengah hujan antara parkir mobil dan pintu bar.

“Tak banyak, cuma bahwa LSD adalah salah satu drug yang cukup populer di kalangan kampus pada tahun enam puluhan,” aku mencoba membohong. Sebenarnya aku tahu benar LSD ini. Semasa di kampus di Amerika Serikat tahun enam puluhan dulu, aku bersama beberapa kawan sempat membuat LSD di laboratorium kimia dasar. Kami waktu itu sedang bereksperimen dengan apa saja yang sebelumnya diharamkan. Waktu itu, hidup ini bagai tak ada horizon lagi. Tapi pecobaan membuat LSD secara diam-diam ini jadi berantakan. Tiga orang dari kami yang mencoba LSD hasil buatan sendiri ini kena musibah. Harvey Silver jadi buta. Marcus Mapondo kehilangan kemampuan konsentrasi sama sekali sampai harus dipulangkan ke negara asalnya. Romeo de Silva diringkus polisi di supermarket karena tiba-tiba mengamuk membunuh dua wanita. Diam-diam kelompok kami bubar setelah masing-masing bersumpah untuk tidak membuka rahasia apa yang sebenarnya terjadi.
“Bang Nates, kenapa kok tiba-tiba saja tertarik pada LSD?” aku memancing. Nates diam saja, bagai tidak mendengar diikuti dengan gelegar di langit. Di jalan, mobil bergegas berdesakan sudah mulai menyalakan lampu. Malam datang bagai ada tabir gelap yang tiba-tiba diturunkan. Tiga laki-laki dan seorang wanita muncul di pintu bar dengan pakaian basah, menggosok-gosok sol sepatu di keset. Mereka terus saja bicara dengan serius sambil menuju pojok yang kosong. Mungkin ada gosip baru yang menarik di kota ini. Sejenak aku khawatir, jangan-jangan Nates tahu tentang eksperimenku dulu itu dan coba-coba memancing. Mungkin dia dari interpol.

“Silbi, aku kebosanan,” Nates memecah keheningan. “Aku tak usah kerja keras, hidupku lebih dari cukup. Isteriku wanita sempurna. Hidupku serasa datar. Apakah aku harus kebosanan menunggu mati? LSD mungkin yang bisa mengurangi kebosananku.”

“Tobat, Bang Nates! Lalu, karena itu kau mau menyerempet-nyerempet bahaya dengan LSD. Tahukan kamu sebenarnya bahaya LSD? Kalau kau sudah begitu kebosanan, mengapa tidak cari jalan lain saja? Coba saja yang lain untuk memerangi kebosananmu. Cari perempuan lain yang jelek, perempuan sinting atau semacamnya.” Aku sendiri jadi kaget dengan kalimat terakhirku ini. Mungkinkah ini karena bawah sadarku menginginkan Ygga bebas agar aku bisa mendekatinya. Kulihat ada segaris senyum samar di bibir Nates.

“Bung, pribadiku bukan setengah-setengah. Karena itu aku sukses. Dan bila aku cari bahaya untuk menghilangkan kebosanan, aku tak suka bahaya yang setengah-setengah,” kini senyumnya jadi penuh. Sekali lagi, ketegasan pribadinya menaklukkan aku.

Mungkin karena aku takut kehilangan kawan, mungkin karena pribadiku sudah ditaklukkan Nates, aku ceritakan padanya semua pengalamanku dengan LSD. Semunya, tak ada lagi yang tersisa. Aku sudah melanggar sumpah bersama kawan-kawan sekampus dahulu. Apa jadinya bila benar-benar Nates seorang anggota Interpol yang sedang memancing-mancing pengakuan?

“Nah, Nates, kini kau sudah tahu semuanya. Aku harap kau tidak demikian nekatnya tetap mencoba LSD,” suaraku jadi parau tanganku rasa terkuras. Tapi Nates tidak juga merubah pendirian. Kelemahanku lagi, atau mungkin juga kekuatannya, membuat aku memberikan kursus kilat lengkap membuat LSD sore itu juga. Memang bahaya LSD adalah bukan saja karena akibat yang mungkin terjadi pada pemakaiannya, tetapi karena mudahnya dibuat. Dengan bekal peralatan kimia sederhana, beberapa bahan kimia dan pengetahuan dasar saja, LSD bisa dibuat. 

***
Malam itu kulihat Nates jalan agak terhuyung-huyung waktu kami berpisah di lapangan parkir bar. Kasihan Nates, terlalu banyak minum karena kebosanan. Aku menawarkan untuk mengantar ke rumah, tetapi dia menolak.

“Hati-hati bawa mobil!” pesanku. Lalu kami pun berpisah.

***
Kesibukan pekerjaan, anak-anak sakit, undangan perkawinan dan sebagainya membuat aku tidak sempat nongkrong di Sinner’s Club untuk beberapa waktu. Sore itu sekitar jam empat sore, tiga minggu berlalu sejak pertemuanku terakhir dengan Nates, Ygga meneleponku di kantor. Nada suaranya membuatku khawatir. 

“Silbi, kau tahu di mana Nates sekarang?”

“Sudah tiga minggu kami tidak bertemu. Ada apa?”

“Sejak tiga minggu ini memang dia jadi pendiam. Nates sibuk di kamar belakang yang selalu dikunci. Dia tampaknya sibuk dengan semacam eksperimen kimia. Sejam yang lalu dia keluar dari kamar belakang. Tanpa alasan dia marah-marah. Malah sampai mengamuk membanting barang-barang di rumah. Seluruh rumah jadi berantakan. Aku ditamparnya beberapa kali. Dia tak pernah menyakitiku sebelumnya. Kemudian keluar, mengendarai mobilnya sambil mengutuk-ngutuk dan menyebut namamu,” kini suaranya jadi mulai tenang. Ada nada pasrah pada suaranya. 

Aku pun jadi bingung. Pasti Nates baru mencoba LSD yang dibuatnya sendiri. Sialan, setelah dua puluh tahun, aku mengulangi lagi dosa yang sama. Kini seorang kawan lagi jadi korban. Aku dan kelemahan pribadiku. 

“Silbi, aku takut,” suara Ygga jelita mengiba ini membuat kejantananku bangkit.

“Ygga, tinggallah di rumah dan tenang. Minta seorang tetangga untuk menemanimu. Akan kucari Nates. Aku yakin, aku tahu di mana dia sekarang.”

Segera mobilku kupacu ke Sinner’s Club, tetapi Nates tidak ada di sana. Marto, bartender yang kukenal baik selama ini mengatakan bahwa Nates pun sudah agak lama tidak muncul di sana. Satu lagi kemungkinan, Nates berada di rumahku kini.

***
Biasanya bila aku sempat pulang cepat, kesibukan orang rumah bisa terlihat dari luar. Pintu depan biasanya terbuka lebar. Paling tidak pasti terdengar gelegar musik rock metal dari kamar Ambar, anakku yang kedua. Dari luar, kini pintu yang tertutup membuat jantungku berdebar cepat. Ketika pintu depan kubuka dengan kunci yang selalu kubawa, kulihat seluruh ruang tamu berantakan. Sampai kini pun, aku masih mampu mengingat sampai hal-hal yang paling kecil pun apa yang kulihat selanjutnya. Empat tubuh manusia tergeletak di lantai tergenang darah. Tubuh isteri dan ketiga anakku tergeletak mandi darah. Darah, darah, darah di mana-mana. Darah di kursi ysng terbalik, darah di lantai, bahkan darah di atap. Bau anyir menusuk hidungku. Di dinding sebelah kiri kubaca tulisan besar, grafiti merah cokelat dari darah orang-orang yang kucintai, berbunyi “THE KING IS DEAD, LONG LIVE THE KING!”. Aku berjalan perlahan terhuyung. Kupaksa diriku untuk tidak pingsan. Masih ada satu lagi yang kucari di sini. Di mana Nates?

Di pojok belakang ruang tamu, tertutup oleh bayang-bayang senja, kulihat Nates duduk kejang menggumamkan kata-kata yang tidak kumengerti. Suaranya terdengar seperti doa.

“Nates!” kuguncang tubuhnya tetapi dia tetap bergumam dengan mata tertutup. Reaksiku berikutnya adalah berjalan menuju telepon. Aku harus telepon polisi sekarang. Tetapi tiba-tiba aku berhenti. Kurasa bulu kudukku berdiri dingin. Bulu kudukku berdiri seperti ini memang selalu terjadi pada diriku bila sedang marah menahan dendam. Cuma kali ini, terasa dinginnya luar biasa. Belum pernah aku merasakan sedingin ini sebelumnya. Aku berbalik kembali menuju kursi Nates duduk. Kukosongkan semua isi sakunya, dompet, beberapa kartu nama, uang recehan dan kantong plastik kecil. Kubuka kantong plastik. Isinya endapan seperti lumpur kuning cokelat dengan bau menyengat. Inilah LSD mentah pangkal bencana! Kulakukan hal-hal berikutnya serasa aku sebuah robot. Dengan jariku kukorek lumpur kuning cokelat ini, kubuka mulut Nates yang masih terus saja bergumam dan kumasukkan lumpur ini secara paksa ke mulutnya, kerongkongannya. Dia batuk-batuk sebentar, tetapi kemudian meneruskan gumamannya. Kemudian isi sakunya kukembalikan seperti semula. Juga kantong plasik kecil yang berisi sisa-sisa LSD mentah. 

Masih ada kursi yang utuh di ruang tamu di sebelah kanan. Kini aku duduk tenang dan sebentar-sebentar melihat jam. Satu jam menunggu. Kiranya cukup untuk membuat penyelamatan Nates terlambat. Kini walaupun isi perut Nates dipompa keluar, dia tetap akan mati karena overdosis LSD. Aku berjalan kembali menuju kursi Nates duduk. Gumamannya sudah berhenti sepuluh menit yang lalu. Detak jantungnya berhenti. Nates sudah mati. Kutatap wajahnya yang tersenyum dengan mata terbuka lebar, baru sadar aku. 

Selama ini di seluruh ruang terdengar musik keparat Concerto No. 2 in G major-nya Vivaldi. Dipasang dengan volume besar, musik ini main berulang-ulang. Kuangkat Compact Disc player di meja, kubanting ke lantai. Sepi, dan bau anyir makin menguat. Baru kutelepon polisi. 

***
Peristiwa ini terjadi lebih dua tahun yang lalu. Bila Anda kebetulan membaca koran waktu itu tentang pembantaian berlatar belakang LSD, kejadian yang baru kuceritakan itulah latar belakangnya. Bulan-bulan pertama memang sulit menghadapinya. Aku minta cuti panjang dan cuma bisa termangu sendiri di kamar hotel. Tidak berani aku kembali ke rumahku sendiri. Dengan susah payah akhirnya bisa juga rumahku terjual pada sebuah perusahaan asing. 

Suatu minggu siang, ketika sedang memandang taman di seberang hotel dari jendela kamar hotelku, aku jadi teringat Ygga. Ygga jelita yang sekarang janda. Kuhabiskan sisa minggu siang di tempat tidur berfantasi tentang Ygga. Esoknya kuberanikan diriku untuk menelepon Ygga. Mulanya pembicaraan tersendat, tetapi kemudian terjadi lancar. Pertemuan pertama di La Belle Coffee Shop, disusul dengan pertemuan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya sampai kami tidak dapat lagi berpisah. Aku coba berhati-hati, mungkin kami berdua cuma sama-sama kesepian, tetapi akhirnya kami menikah juga, dan tinggal di rumah Ygga. Tentu saja setelah semua sisa-sisa keberadaan Nates dihilangkan dari rumah itu.

Hampir setahun kami sudah menikah. Ygga memang wanita luar biasa. Sebagai isteri, sebagai kawan, Ygga tidak mungkin ada tandingannya. Perlahan aku bisa melupakan kejadian yang lalu. Malah kini merasa sangat bahagia. Belum pernah aku sebahagia ini. Bagaimana Ygga sebagai seorang ibu?

Hampir setiap hari-hari Sabtu dan Minggu, Ygga kuajak ke Gunung Kemuning untuk menikmati weekend. Kami mempunyai sebuah villa di sana. Ygga memang menyukai udara Gunung Kemuning. Apalagi pohon cemara dan kabut yang selalu menyelimuti Gunung Kemuning di pagi dan sore hari. Berjam-jam Ygga bisa duduk diam merenungi kabut yang menyelimuti hutan cemara. Bila dia sedang ayik begini, kubiarkan dia dengan lamunannya sendiri. 

Suatu Sabtu siang, ketika kami sedang duduk-duduk bersama memandang hutan cemara di bawah dari villa kami, aku membawa pembicaraan tentang kerinduanku menimang anak. Anakku dan anak Ygga. 

Ygga tersenyum dan bertanya, “Silbi, mampukah kau mencintaiku sampai empat ribu tahun?”

“Aku heran kau masih belum yakin pada cintaku, tetapi apa maksudmu dengan empat ribu tahun itu? Aku akan tetap mencintaimu selama hidup.”

Wajah Ygga menjadi sungguh-sungguh kini. “Silbi, kini memang sudah saatnya kau mengetahui semuanya. Kau mungkin tidak percaya ini, tetapi biarkan dahulu aku selesai bercerita. Bila sudah selesai, boleh kau nanti bertanya.”

Ygga menarik napas panjang dan mulai, “Semua yang terjadi dahulu itu, sedari pertemuanmu dengan Nates yang pertama sampai perkawinan kita ini, semuanya sudah direncanakan terlebih dahulu.”
Aku jadi bengong, mengharapkan Ygga tertawa terbahak, tetapi itu tidak terjadi. Wajah Ygga malah lebih bersungguh-sungguh kini.

“Kau tahu nama lengkap Nates kan, Mijor Nates. Namanya kalau dibaca dari belakang berbunyi SETAN ROJIM. Memang dialah si Setan. Usianya sudah hampir empat ribu tahun. Cuma sampai setua itulah semua setan bisa bertugas. Dia malah merasa tua, pekerjaannya semakin lambat. Oleh karena itulah akhir-akhir ini dunia semakin aman dan damai. Perhatikan saja berita-berita di koran. Senjata nuklir mulai dimusnahkan. Para diktator kejam mulai berjatuhan. Angka-angka kejahatan mulai menurun. Kerjanya sudah semakin kendor. Dia melihatmu sebagai penggantinya yang ideal. Makanya semuanya diatur, pertemuannya denganmu, tentang LSD, pembunuhan keluargamu dan lain-lain. Pesan-pesannya padamu disampaikan melalui bawah sadarmu setiap kali kau mendengar compact disc pemberiannya.”

“Tetapi, mengapa keluargaku perlu dibunuh?”

“Dua hal, pertama syarat pergantian generasi adalah calon setan yang baru harus membunuh setan yang lama. Hal ini dimungkinkan karena sifatmu yang pendendam. Nates yakin dia hanya bisa dibunuh olehmu bila keluargamu dihabisi olehnya secara kejam. Kedua karena kau sebagai setan akan membutuhkan aku. Aku harus menjadi kawan hidupmu.”

“Ygga, siapa kau sebenarnya?”

“Saya kira kau perlu mengenalku benar-benar kini. Kita akan hidup bersama sebagai suami isteri untuk empat ribu tahun mendatang. Dua belas generasi setan yang lalu, setan yang bertugas bernama Lucifer. Lucifer jatuh cinta padaku. Aku adalah manusia biasa, isteri raja Manoorah pada waktu pertama bertemu Lucifer. Sebelumnya dia adalah salah satu penasehat suamiku yang dikenal sebagai Reficul. Lucifer membuka rahasia tentang dirinya dan mengungkapkan cintanya padaku. Kemudian dia melamarku. Aku tidak berkeberatan tetapi dengan syarat. Syarat pertama adalah dia bisa membuatku tetap bisa hidup sampai hari kiamat. Syarat kedua dia bisa membuatku tetap cantik dan menarik selama hidup. Dia menyetujuinya. Ketika Lucifer mati, aku menjadi kawan hidup penggantinya. Dan sejak itu aku menjadi isteri setan dari generasi satu ke generasi berikutnya sampai kiamat nanti.

Aku tak tahu lagi harus berbuat apa, cuma menarik napas dalam-dalam. 

“Ygga, satu pertanyaan lagi, mengapa aku yang dipilihnya? Kalau cuma mencari laki-laki pendendam, dunia ini penuh dengan laki-laki pendendam.Mengapa aku yang dipilihnya?”

“Karena kau memang dilahirkan untuk menggantikan Mijor Nates. Sibli, belum sadarkah kau, namamu bila dibaca dari belakang berbunyi IBLIS?”

Denpasar, 1 Januari 1992


Nabiel Makarim. Lahir di Solo, 1945. Kepandaiannya menulis, disebutnya hanya sebagai hobi. Hobi lainnya, yang juga dilakukan dengan serius, antara lain: renang, yudo, menyelam, menulis analisis, sajak, mendengarkan musik dan membaca. 
Ia pernah bekerja di yayasan Lembaga Konsumen Broadmedows Health Department, Mount Isa Mines, PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung. Kini ia menjabat sebagai Deputi Pengendalian Pencemaran, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL).


Nabiel, yang sekarang tinggal di Jakarta, pernah mengecap pendidikan di Swinburne College of Technology, Australia (Teknik Kimia), Harvard University, AS, hingga berhasil menggaet gelar Master in Public Administration (International Trade), dan MIT, AS, hingga meraih gelar Master of Science in Management (International Business). (Matra, Juni 1992)


***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nabiel Makarim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi Juni 1992


0 Response to "Silbi"