Surat Terakhir Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Surat Terakhir Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:22 Rating: 4,5

Surat Terakhir Ibu

"RADHAN, berhentilah menangis! Tiada lagi yang perlu ditangisi," pinta Lili yang kian lama kesalnya membuncah.

Radhan, begitu Ramadhan kecil dipanggil yang terus saja menangis. Ia lari ke pojok rumah, duduk. Ditarik kuat oleh Lili pun tak sanggup. Radhan melawan dengan tangisan yang lebih kencang. Lili lelah. Ia biarkan Radhan menangis sendiri di sana. 

"Nanti juga letih, berhenti sendiri," pikir Lili yang sebenar-bearnya tak lagi berhasrat meredakan Radhan.

Benar saja. Adik kecilnya itu berhenti meraung tiba-tiba. Sepertinya karena lelah terisak-isak seharian. Ia sampai tertidur sendiri karena letihnya. Manakala ia terlelap, Lili menggendongnya, dibaringkannya di tempat tidur yang memang satu-satunya di rumah itu.

Tapi, itu justru tindakan yang salah. Tidurnya jadi terusik karena digendong. Membuatnya terbangun, lalu Radhan kembali sigap berlari ke pojok rumah untuk melanjutkan tangisannya lagi.

Lili gusar dibuatnya. Kedua tangannya dilemaskan ke bawah. Badannya juga agak terbungkuk. Diangkat dagunya menengadah. "Huuhh..." Ia mengeluh melihat perangai adiknya itu.

Bu Rahmi, ibu mereka, hanya tersenyum penuh kelucuan melihat tingkah anak lelaki kecilnya. Saat Lili mulai mengadu pada ibunya, saat itu pula Bu Rahmi tahu bujukan yang tepat pada Radhan.

Diusap lembut kepalanya, ia mulai terisak. Digendongnya Radhan, ia tersedu. Dipangkunya di kursi samping meja lapuk yang juga buatan Pak Mur, ayah mereka, yang lebih dahulu tiada, ia mengusap air matanya sendiri.

Diambil oleh ibunya buku cerita tanpa gambar tapi menyenangkan untuk dibacakan, ia tersenyum Bu rahmi mulai mendongengkan satu per satu kalimat dari cerita Kancil Si Cerdik itu. Radhan tertawa terpingkal. Sisipan gelitik dari ibunya menambah ceria tawa bocah lelaki itu.

"Ibu. Lain kali ibu saja yang mengurus Radhan. Biar Lili yang ke dapur," celetuk Lili.

Bu Rahmi hanya tersenyum. Memang sudah jadi kekhasannya memberi senyum kala ia berbicara dengan setiap orang.

Untuk anak lelaki kecilnya itu, sepertinya memang berkat tersendiri. Tingkahnya yang lucu memberi kehangatan barubagi keluarga kecil Radhan. Layaknya anak-anak lain, ia lebih senang bermain ketimbang belajar. Ia bahkan perajuk. Bila Lili tak mau menyuapinya kala lapar, alamat kerepotan ia untuk menghentikan tangis adiknya. Menghentikan tangis Radhan.

Radhan agak sulit bicara. Mengeja namanya sendiri dengan baik adalah kerumitan masa kecil tersendiri baginya. Tapi, biarpun tak terlalu jelas, Bu rahmi dan Lili masih tahu apa yang ia maksud.

"Radhan. Radhan," begitu ia mengeja walau sudah diajari berulang-ulang cara menyebutkan namanya dengan benar.

Bu Rahmi tak mempermasalahkannya. Malah, ia mendengar lucu kala Ramadhan melafazkan namanya seperti itu. Hanya Lili yang gusar, khawatir orang-orang berpikir ia tak bisa mengajari adiknya berbicara lancar.

Seperti halnya Minah, Sum, dan Opi, Lili juga ingin punya adik yang lucu, penurut, bahkan mudah diajari. Terbilang Radhan bukanlah anak yang demikian. Apalagi, Radhan bukanlah anak perempuan seperti adik-adik dari kawan sepermainannya. Ada kadang Lili berpikir mengapa harus diberi radhan.

"Pinta adik baru saja pada Ibu," pikirnya suatu ketika.

Tapi, tidak, Lili tahu ibunya tak menikah lagi sepeninggal ayah mereka. Toh, Lili hanya bercanda dengan itu. Apalagi, sebenarnya ia menyayangi Radhan sebagaimana ibunya. Perasaan seorang kakak yang menerima tulus keadaan adiknya.

"Benar kata Ibu, Radhan lucu," ujarnya begitu saja.

Saat Radhan telah tenang tak lagi menangis, Bu Rahmi segera meminta Lili cepat mengambilkan nasi buatnya. Lili mengedipkan kedua mata pada ibunya sembari bercanda. Kadang bila Radhan melihat itu, ia pancing kesal Lili sembari mencibir sindir. Radhan lebih sennag menggoda Lili agar kesal padanya. Bu Rahmi tahu itu. Lili pun juga tahu.

***
Sudah masuk tahun kedua sejak Ramadhan ke perantauan. Jauhnya tanah kampung halaman semakin terasa bila ia teringat akan rumah, ibunya, dan Lili kakaknya. Namun, apa daya, ia mesti memilih meneruskan kerjanya.

Ia tak ingin kembali ke kampung, memilih ikan yang bagus, menutup, dan memikul kotak-kotak pendingin dan mengikatnya dengan rafia seperti orang-oranng kebanyakan. Atau bekerja duduk di kantor-kantor sipil, mencatat nama-nama warga, memilih akta. Ia tidak mau. Ia lebih memilih merintis usaha perabot di pesisir tanah perantauan.

"Toh, sama-sama pesisir," pikirnya.

Bila rindunya tiba, paling tidak ia bisa membaca kembali surat-surat kiriman ibunya yang selalu datang tiap pekan. Sudah banyak yang terkumpul. Selembar tiap minggunya, kadang lebih. Ia juga selalu membalasnya. Ramadhan kerap mengirimnya beserta beberapa cendera amta khas tanah rantau. Maklum, hasil perabot yang ia terima tak serta-merta semuanya dipakai membelikan bingkisan untuk ibunya. Tanggungan hidupnya cukup besar di sana.

Sekali, ia membelikan ibunya baju kuring. Kebaya untuk Lili. Ada pula sepotong kemeja pria yang aduhai bagusnya. Putih dengan beberapa motif di pinggiran lengan dan kerah serta kancing. Dibungkusnya dengan bingkisan corak batik. terkesan megah.

Saat ditanya oleh ibunya untuk siapa melalui surat balasannya, Ramadhan menjawab kemeja itu miliknya. Itu sebagai janji ia akan pulang pada pengujung bulan puasa kali ini. Janji bahwa ia akan berpuasa dan membuat hajatan hari lahirnya di rumah bersama Bu Rahmi dan Lili. Sekali ini ia ingin berlebaran di kampung, bukan lagi di perantauan.

Pernah sekali terlambat balasan surat dari kampung datang padanya. Mingu lalu, tepat sepekan sejak bulan puasa tiba. Meski begitu, ia hanya berpikir bila ibunya mungkin saja disibukkan dengan memasak takjil, berbuka bersama di suatu kampung. Ia hanya percaya, mungkin saja pekan esok akan ada surat lagi seperti biasa. Itu pun bila ibunya dna Lili tak sibuk mengacau rendang di kancah besar bersama ibu-ibu lain, khas helat masyarakat saat bulan puasa.

Praduganya begitu saja. Ia hanya sabar menungu, sembari meneruskan kerjanya. Mana tahu surat sampai terlambat sebab jalan putus atau semacamnya.

Benar saja. Pagi tadi tukang surat yang ramah itu kembali mengetuk pintunya dengan irama yang sedemikian rupa berulang-ulang,

"Tuk..., tuk, tuk..., tuk..."

Melihat itu Ramadhan menjadi senang. Bukan pada irama ketukan tukang surat saja, melainkan juga dengan apa yang menyertainya. Surat dari ibunya.

Ia bolak-balik lembaran surat tersebut. Semua tampak wajar. Hanya saja, terlihat sedikit bercak tetesan air yang sudah mengering di beberapa sudut kertasnya. Ia berpikir mungkin ibunya menangis haru kala mendapat kiriman baju-baju itu. Atau, menuliskan lembar surat itu di meja lapuk peninggalan ayahnnya yang biasa mereka pakai. Mungkin ibunya menulis kala hujan, jadi kertasnya terkena air tirisan. Ramadhan hanya mengira-ngira.

Belum ia baca. Ia lipat lagi, ditaruhnya elok-elok di atas dipan. Surat itu akan ia baca lepas petang nanti. Lebih tenang. Ramadhan lebih memilih untuk membacanya seusai mengatam pesanan perabot yang menumpuk.

Ia ingin menyegerakan segala macam pesanan sebelum penghujung puasa tiba. Ia ingin lekas pulang sebentar ke rumah ibunya dan Lili berada. Ia ingin segera berkumpul dengan keluarga. Ia ingin segera kembali.

***
Untuk kali ini, Lili berat menulis lembaran surat pada Ramadhan, adiknya. Apalagi, sejak bingkisan berisi kekainan itu sampai. Termasuk kemeja putih Ramadhan ada di dalamnya. Ramadhan hendak memakainya di Lebaran esok.

Bergetar tangan Lili memegang pena, mengukir tinta ke atas kertas. Tak sanggup lagi ia menipu Ramadhan. Ditulisnya:

"Adikku Ramadhan. Assalamualaikum. Semoga dikau dalam keadaan nan sehat lagi baik. Bagaimana kerjamu? Apakah lancar saja? Bila sulit, ceritakanlah. Paling tidak, rumahmu ini masih menjadi tempat untuk bercerita. Radhan, adikku. Ada satu hal yang tak lagi bisa rummahmu ini dustai. Tiada lagi bisa merahasiakan ini darimu.

Ibu sudah tiada. Bahkan, Ibu sudah meniup napas terakhirnya sejak bulan lalu. Maaf bila Kakak tiada memberitahukanmu. Tak rela melihatmu tergesa pulang. Kakak tahu dikau pun sedang payah di sana.

Radhan, adikku. Maaf bila Kakak yang selama ini menggantikan surat balasan Ibu untukmu. Menulis seolah-olah memang Ibu masih ada untuk menyampaikan kesenangan hatinya padamu. Semoga dikau memaafkan. Kakak ini yang sudah berdusta cukup rapi.

Dari kakakmu, Lili.

Usai Lili menulis, dibacanya ulang apa yang ia sampaikan dalam surat itu. Lili menangis. Meneteskan beberapa butir air mata yang jatuh tepat di atas suratnya. Memberi beberapa tanda air di surat yang hendak dikirimkan pada adiknya, Ramadhan.

Pekanbaru, 23 Januari 2016  

Novaldi Herman. Penulis merupakan alumnus Hubungan Internasional Universitas Riau. Memiliki minat dalam kajian sosial dan politik. Beberapa cerpennya meraih posisi puncak dalam beberapa perlombaan tingkat nasional serta diterbitkan di media massa.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Novaldi Herman
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 19 Juni 2016


1 Response to "Surat Terakhir Ibu"

Dodi Syahputra said...

Tetap humanis dan menulis.