Tembang Perempuan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tembang Perempuan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:50 Rating: 4,5

Tembang Perempuan

SUMILAH selalu percaya, ke mana pun suaminya bepergian, di dadanyalah tempat untuk pulang. Tempat terakhir yang menyediakan rasa aman dan mengusir segala kesah yang mengusik hati dan pikiran.

Seperti hari ini. Ia di dapur memasak sendirian sambil mendendangkan tembang "lir-ilir tandure woh sumilir, tak ijo royo-royo, tak senggoh penganten anyar." Dan berusaha meyakinkan hati bahwa suaminya tentu masih ingat jalan rumah, masih ingat istrinya yang selama ini masih rela diajak hidup susah.

Ia memasak tanpa beban, karena memang seperti itulah kata suaminya. Istri yang baik adalah perempuan yang selalu bersikap tenang. Selalu meniadakan  kesedihan dan memasang muka yang paling indah di dunia.

Sumilah mendendangkan tembang dengan berulang-ulang karena tidak hafal lirik selanjutnya. Tetapi ia tetap berwajah bahagia atas ketidakhafalannya. Sambil meniup tungku dan mengaduk air di teko. Sambil memegang sotil dan menuang minyak kelapa untuk menggoreng tempe dengan tepung tipis-tipis. Tembang tetap dilantunkan berulang seolah hal itulah lambang kebahagiaan. Karena Sumilah pernah mendengar cerita dari orang tua, tanda orang senang adalah menembang.

Tetapi, setelah agak lama, kalau dalam hitungan waktu kira-kira setengah jam kurang dua menit, di penghujung pekerjaannya itu, Sumilah teringat pesan suaminya lewat telepon tetangga kemarin sore. Nanti, jam dua belas siang ada tamu yang akan berkunjung ke rumahnya. Tamu istimewa. Malaikat Izrail.

Setahu Sumilah, malaikat Izrail adalah makhluk favorit orang yang sudah tidak mementingkan dunia dan seluruh hidupnnya digunakan untuk membela agama Tuhannya sekaligus makhluk paling dibenci dan dijauhi orang yang kerap kali melakukan dosa. Sumilah juga tidak lupa, bahwa malaikat itu disuruh menunggu saja sebentar karena suaminya akan segera pulang jika jam sudah tepat pukul dua belas siang.

Maka dengan segenap jiwa dan segenap uang dalam dompetnya, Sumilah berangkat  ke pasar naik onthel tua seusia kemerdekaan Indonesia. Ia tidak mau malaikat nanti kecewa atas perlakuannya dengan membiarkan mulut makhluk suci itu mengecap masakan yang lauknya cuma tempe goreng dengan tepung tipis-tipis. Ia rela uangnya habis. Ia rela ber-pakewuh lagi meski menguras tenaga. Demi membahagiakan makhluk yang pasti sengaja diutus Tuhan untuk bertamu ke rumahnya dan membahagiakan pikirannya sendiri yang percaya bahwa suaminya berarti termasuk orang pembela agama yang akan masuk surga. Dan Sumilah pernah mendengar ucapan seorang kiai di suatu pengajian, dalam acara Mauludan bila lelaki masuk surga, maka istrinya akan diajak juga. Ia ingin masuk surga yang katanya akan membuat semua perempuan kelihatan cantik, muda, dan menggoda.

Sepulang dari pasar, sambil menenteng sekresek daging sapi, Sumilah menengok jam dinding lusuh penuh debu di atas pintu kamar tidurnya. Ia mendesah. Ah, syukurlah. Masih jam sepuluh lebih setengah. Waktu yang cukup untuk mencuci, memotong, dan memasak daging sapi sambil meracik bumbu-bumbunya.

Waktu berlalu. Sumilah selesai memasak daging itu dan menyiapkannya di ruang tamu tepat waktu. Beberapa menit lagi jarum jam akan menunjuk angka dua belas, sehingga masih cukup buat perempuan itu cuci muka lantas melihat bayangannya di cermin, sambil berharap malaikat itu datang tidak mempedulikan bentuk rumah dan bentuk penghuninya.

"Assalamualaikum."

Mendengar suara itu Sumilah spontan menjawab "Waalaikumsalam" dan mempersilakan pemilik suara itu duduk di kursi yang telah disiapkan.

"Maaf, aku sedang buru-buru. Suamimu ada?"

"Anda Malaikat Izrail?" Sumilah bertanya dengan nada yang datar dan ramah.

"Iya. Suamimu ada?" Malaikat itu mengulangi pertanyaannya.

"Sebentar lagi akan pulang. Tunggu sebentar di sini sambil makan-makan. Sudah kusiapkan masakan untuk Anda."

"Hmm. Kelihatannya lezat. Ah, tetapi malaikat sepertiku tidak ditakdirkan punya nafsu makan." 

Di sinilah Sumilah baru ingat sesuatu hal. Malaikat tak butuh makan. Malaikat diciptakan Tuhan tanpa diberi nafsu. Ia akhirnya menyesal. Tetapi, perempuan solehah tak boleh memperlihatkan wajah susah.

"Oh, iya. Tunggu saja di sini. Sebentar lagi pasti suamiku akan pulang."

Mendengar ucapan itu, si malaikat heran.

"Kenapa kamu malah senang? Padahal setiap kali aku datang, biasanya wajah orang akan ketakutan. Apa kamu sudah tahu kalau aku akan membawa nyawa suamimu dan kamu akan merestuinya karena dengan itu kamu bahagia? Apa jangan-jangan kau akan bersu..." Sebelum melanjutkan ucaoannya malaikat itu sadar, bahwa malaikat seharusnya tidak punya prasangka.

"Bukan itu. Aku percaya suamiku adalah yang terbaik di dunia dan pasti masuk surga. Dan setelah itu, ia akan mengajakku ke sana."

Mendengar perkataan itu, malaikat geleng-geleng kepala dan memilih diam untuk menetralisir rasa heran. Malaikat itu bersedia menunggu. Ia melihat makanan yang ada di meja, sungguh kasihan perempuan ini, batinnya, susah payah masak untukku tapi aku tak punya nafsu.

Ternyata, sampai lelah ia menunggu dan perempuan itu hampir putus asa. Langit sudah menampakkan senja. Kedua makhluk yang berbeda itu tak ada yang tahu kalau ada peristiwa di kota nan jauh di sana. Kota yang sama sekali tak pernah dibayangkan keduanya. Seseorang telah melakukan bunuh diri di dekat hotel beberapa jam yang lalu dengan bom.

"Mungkin perintah Tuhan bukan nyawa suamimu yang akan aku bawa dan mungkin aku salah paham. Aku mohon pamit." Malaikat itu buru-buru. Seolah di langit sedang ada rapat dadakan dan mengharuskan hadirin datang tepat waktu.

Karena ucapan malaikat itu, Sumilah jatuh pingsan. Entah kenapa. Memang sebuah cerita fiksi sulit sekali ditemukan alasan-alasan yang tepat. Dan hari-hari selanjutnya Sumilah selalu bertanya, salah apa suaminya hingga pada diri malaikat terjadi salah paham atas pencabutan nyawa yang diperintahkan Tuhan.

Kini, Sumilah memang masih tetap menembang. Tetapi kali ini dengan tangis yang memilukan.  (k)


Daruz Armedian: lahir di Tuban. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Daruz Armedian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 5 Juni 2016


0 Response to "Tembang Perempuan"