Voucher Surga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Voucher Surga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:36 Rating: 4,5

Voucher Surga

KIOS pulsa yang kudatangi, banyak orang mengantre. Mereka menunggu giliran membeli isi ulang pulsa atau voucher nomor baru. 

"Sudah lama antrenya, Mas?" Aku bertanya kepada seorang pemuda yang berdiri di depanku. Ia menengok ke belakang. Lalu menjawab, "Ada dua jam." Aku terhenyak.

"Sudah dua jam antre tapi masih belum juga bisa beli pulsa." Aku geleng-geleng kepala, tak habis pikir. Lalu bagaimana denganku yang baru datang? Aku tak mau membayangkannya.

Aku datang ke kios pulsa ini untuk membeli pulsa modemku yang tiba-tiba saja habis. Kegiatan menulisku menjadi tertunda. Aku tak tahu kenapa pulsanya bisa cepat habis? Barangkali karena kebiasaanku yang sering mengunduh film atau musik. Terus terang, aku menyesalinya sekarang.

Tapi tak kusangka di kiod pulsa, aku harus lama menunggu. Sudah lima jam, aku mengantre. Kulihat antrean tak juga bergerak. Para pengantre lainnya tak tampak marah. Mereka tenang. Sebagian malah saling melempar canda gurau, mengisi waktu di antrean.

"Tidak capek mengatre, mas?" Aku kembali bertanya kepada pemuda yang mengantre di depanku.

"Tidak," jawabnya singkat sambil menengok ke belakang.

"Kenapa mau nunggu lama, MAs?" tanyaku lagi. Ia membalikkan badannya. Lalu kembali menatapku lekat-lekat.

"Karena kios ini jual voucher surga," jawabnya. Aku kaget karena baru pertama kali mendengarnya.

"Apa itu voucher surga?" Aku kembali bertanya.

"Kalau kamu bisa beli voucher itu, kamu dapat jaminan masuk surga," jawabnya. Aku jelas tak percaya. Lalu kulangkahkan kaki, pergi dari situ.

"Anak muda, kamu mau pergi ke mana?" panggil seseorang dari arah belakang setelah aku berjalan beberapa langkah. Aku lalu menengok. Tampak kulihat seorang pak tua berambut dan berjanggut putih, memakai pakaian serba putih melambaikan tangannya kepadaku. Aku segera  mendekat.

"Bapak siapa?" tanyaku.

"Ikutkah bersamaku," kata orang tua itu tak menggubris pertanyaanku, sambil langsung menggandeng tanganku.

"Kita mau ke mana, Pak Tua?" tanyaku heran. Ia hanya tersenyum.

Bersamanya aku melewati orang-orang yang sedang mengantre di depan kios pulsa. Mereka acuh tak acuh melihatku. Tampak begitu serius menunggu gilirannya.

Aku dan pak tua sampai di dalam kios pulsa.

"Kita sudah sampai," kata pak tua sambil mengambilkan satu kursi kosong.

"Duduklah," perintahnya. Aku menurut. Duduk di kursi.

"Akan kuberi tahu tentang voucher istimewa ini," jelas pak tua itu sambil menunjukkan sebauh voucher berwarna putih bersih.

"Voucher istimewa ini juga bisa buat pulsa modemmu tak akan habis-habis," terangnya lagi.

Aku heran dari mana ia mengetahui aku datang ke kios pulsa untuk membeli pulsa modemku.

"Tak perlu heran, aku tahu apa yang ada di hati dan pikiranmu," ujarnya membuatku kagum.

"Sekarang belilah, mumpung aku kasih diskon limapuluh persen," perintahnya. Aku mengangguk. Lalu membuka dompet dan menyerahkan uang RP 25 ribu. Pak tua itu mengangguk-angguk lantas memberikan vouchernya kepadaku.

"Tapi ada syarat dan ketentuannya."

"Apa saja itu?" tanyaku.

"Kamu harus pergi dari tempat tinggalmu lalu ikut bersamaku."

Aku terhenyak kaget. Lalu mengangguk pelan.

Aku lantas pamit pulang. Kucium tangan pak tua sebelum aku meninggalkan kios pulsanya. Lalu bergegas pulang ke rummah dengan hati yang mantap.

Tiba di kamar kos, aku memasukkan semua pakaianku ke dalam sebuah koper besar. Tak lupa laptop dan modem juga ikut aku masukkan.

"Saya akan pergi lama, Bu. Mohon jangan dicari," pamitku kepada ibu kos yang tampak bingung.

Aku lalu meninggalkan kos yang sudah kutinggali selama lima bulan. Menuju ke tempat pak tua tinggal, di kios pulsa.

"Ke aman Pak Tua itu?" gumamku setelah melihat kios pulsa yang sekarang hanya tinggal puing-puing.

"Maaf, Pak Tua yang tinggal di kios ini ke aman ya?" tanyaku kepada seorang warga yang sedang membersihkan puing-puingnya.

"Mungkin sekarang ada di surga, Mas," jawabnya asal-asalan.

"Maksudnya sudah meninggal?" tanyaku tak percaya. Warga itu hanya mengangkat kedua bahunya.

"Pak Tua, kamu curang! Buat apa kamu beri aku voucher surga tapi malam pergi duluan ke surga." Aku berteriak sekencangnya. Lamat-lamat kudengar seorang warga lain berkata, "Masih muda tapi terlalu suka berkhayal jadinya gila sendiri."

Aku pun baru menyadari ternyata surga bukan tempat yang sepertinya ditakdirkan untukku. Walaupun di sana, tak ada yang akan menganggapku gila. Yogyakarta, 2016 


Herumawan Prasetyo Adhie, Pringgokusuman GT II/537 A RT 24 RW 06 Yogyakarta 55272


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan PA
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 5 Juni 2016

0 Response to "Voucher Surga"