Ziarah Sunyi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ziarah Sunyi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:09 Rating: 4,5

Ziarah Sunyi

KESUNYIAN itu seperti menertawakanku; menyoraki kekalahanku. Kesunyian itu tidak pernah mampus dikoyak waktu; mendekam dalam keabadian yang fana. Kesunyian itu kini malah menggumpal, menjadi sosok gagah yang menghantamkan seluruh kenangannya kepadaku. Kesunyian yang berhasil menyodorkan sebuah daftar ingatan pilu di masa lampau; menghidangkannya dalam satu selebrasi penuh kesedihan. 

Kesunyian itulah yang kini kembali menghadapanku pada sepetak rumah penuh kenangan ini. Berat hati melongok ke dalam. Terlalu banyak tawaran pahit; tawaran yang seakan menjelma menjadi realitas yang harus aku telan bulat-bulat; mengulumnya, sampai kenyang atau mabuk dibuat. Namun kedatanganku hari ini memang untuk kesunyian dan kenangan itu; mengingat peristiwa durja belasan tahun lalu; mendatangi sebuah petilasan tua tak berwujud dengan bangkai kenangan yang telah lama terkubur di dalamnya. 

Aku masuk ke dalam rumah. Terdapat dua buah kursi yang tidak kalah tua tertimbun debu. Posisi kursi itu masih sama ketika aku tinggalkan dahulu. Bedanya, kursi itu kini sudah koyak-moyak. Entah karena nasib renta digerogoti waktu, atau ikut menjadi korban pada kekacauan pada malam itu. Ahh, aku tidak sanggup mengingatnya... 

Namun, ada dorong gaib yang membuatku duduk sejenak di bangku itu; membiarkan sepasang mataku berkeliaran seperti bocah yang berlarian. Tiba-tiba, tanpa pernah aku sangka terdengar kembali tawa kedua anakku yang berlarian di taman, sedangkan suamiku yang menyukai tanamanmemekik meminta tolong diambilkan gunting kebun untuk merapikan bunga-bunga.

Mendadak dadaku sesak. Aku merasakan ada sebuah kesunyian yang memadati dadaku. Dan bayangan pembantai itu, kembali terngiang jelas: 

Rumah terbakar. Tangisan penuh ratap. Aku tidak menyangka pemandangan mengerikan yang hanya ada di televisi itu akan merenggut juga kedua anak dan suamiku. Aku ingat: di awal bulan Mei 1998, sore hari sepulang dari Kelenteng untuk sembahyang, sekelompok orang datang ke rumah. Mereka berteriak-teriak memanggil suamiku. Mereka menyebut-nyebut garis keturunan kami yang tak pernah aku mengerti mengapa selalu dipermasalahkan.  

”Keluar kau, Cina!” Orang-orang datang mengusung amarah. ”Setan keparat!” 

Aku dan kedua anakku ketakutan mendengar kegaduhan itu. Kami meringkuk di dalam kamar. Suamiku mencoba menenangkan dan mengatakan: semua baik-baik saja. Namun sebongkah batu melayang masuk, dan disusul segerombol orang yang menyeret kami. Mereka menghajar suamiku. Orang-orang itu juga menerjang anak-anakku. Mereka pun akhirnya membunuh anak-anakku serta menggorok leher suamiku. 

”Dasar penjajah!” 

Aku benar-benar tidak mengerti: Apa hubungan antara leluhur kamiseorang Tionghoa-dengan partai yang dianggap sesat itu? Orang-orang itu membawaku ke sebuah tempat. Mereka menginjak-injak: memperkosaku. Hanya keajaiban semata yang menolongku; keajaiban yang juga merupakan kutukan. Karena setelah itu aku harus hidup seorang diri. Hanya kesunyian semata adalah teman; kawan meratap sembari menunggu keadaan membaik di akhir tahun 1998. Saat rezim Orde Baru benar-benar tumbang. 

Angin seketika berdesir. Sepoy lembut itu menggugurkan beberapa helai daun yang menyamak lebat halaman. Tubuhku begidik dibuatnya. Keringat dingin merinai. Tanpa sadar, airmataku pun terjatuh. 

***
Pelan-pelan, aku masuk ke dalam rumah. Masih dapat aku rasakan sebuah kehidupan dalam kesunyian yang menangkupi isi rumah. Dalam gelap, beberapa kali aku melihat kelebat bayang-bayang. Mereka, anakanak dan suamiku, mungkin masih hidup di dalam rumah yang telah setengah hancur ini. 

Aku melangkah menuju dapur. Ruangan itu kini menjadi lembab. Ada juga aroma darah yang masih mengawang tertiup angin. Sejenak, aku duduk di salah satu bangku. Masih terdapat tiga piring yang dahulu rencananya akan kami gunakan untuk makan malam bersama. 

”Apakah kalian masih menungguku untuk melanjutkan makan malam yang tertunda itu?" Ucapku lirih. 

Sembari menekur di antara keremangan sinar rembulan yang menelisik melalui kaca-kaca yang pecah, aku memandangi satu persatu piring di meja. Dahulu anak-anakku sering berebut makanan, sedangkan suamiku akan mengingatkan mereka untuk saling berbagi. 

”Hari ini aku pulang untuk kalian,” kataku lagi. ”Kita kembali berkumpul.” 

Malam semakin sunyi. Suara serangga mengalun dalam irama yang ganjil. Kunang-kunang pun mulai bermunculan. Mula-mula hanya satu. Kemudian disusul yang lainnya. Hingga menjadi ratusan. Kunang-kunang itu juga melingkari tepi meja. 

”Kalian datang,” kataku. ”Kita kembali berkumpul.” 

Sekali lagi aku mendengar pekik tawa anak-anakku. Juga gerutu suara suamiku yang mengingatkan agar anak-anakku tidak saling berebut. Tidak sampai di situ saja. Sendok dan piring yang semula beku dan tidak bergerak, kini mulai melayang-layang sendiri. Benda-benda itu seperti digerakkan sosok-sosok gaib. Terdengar juga suara penuh tuntutan dari anak-anakku. 

”Buatkan aku nasi goreng!” 

”Aku sayur bening saja!” 

”Nasi goreng!” 

”Sudah! Sudah! Biarkan ibu kalian memutuskan!”

Aku tersenyum melihat sendok dan garpu yang melayang-layang itu. Aku juga bahagia mendengar kembali suara-suara anak-anak dan suamiku. Mereka benar-benar belum mati. Mereka tetap hidup; walau mungkin kini jazad mereka sudah membusuk dan tinggal tulang-belulang. - g  

Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa seIndonesia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015). Cerpennya telah tersiar di berbagai media. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 5 Juni 2016


0 Response to "Ziarah Sunyi"