Akulah Kata-Kata - Rindu kian Berjalan Kepadamu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Akulah Kata-Kata - Rindu kian Berjalan Kepadamu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:12 Rating: 4,5

Akulah Kata-Kata - Rindu kian Berjalan Kepadamu

Akulah Kata-Kata 

Akulah kata-kata yang terberai
dari semula kau ucapkan
Aku tersesat di belantara ruang dan waktu
bersama hari-hari yang kian berdarah
juga malam-malam yang terus bernanah

Di jalan penuh lubang yang kulalui
matahari makin terlihat kusam
namun sesekali masih tercium wangi kampung
tempat seseorang dulu
menggembalakan domba-dombanya ke tengah padang
juga lembah di sekitar bukit tak berpohon

Jangan tanya kenapa aku tak lekas pulang
sedang peta yang kumiliki
kini hanya berupa goresan-goresan hitam
dengan sobekan-sobekan parah di dalamnya

Akulah kata-kata yang terberai
yang sedang mencari rangkaiannya
pada pohon-pohon yang menumbuhkan sejarah
pada bebatuan yang mengokohkan rindu
pada genangan air yang menyimpan lagu
hingga ke sudut-sudut ruang dan waktu
yang menyimpan wajahmu

Aku ingin menyatukannya
lewat satu kata
yang membuat alam semesta ini
mengungkap muasalnya sendiri-sendiri;

Ilahi ya Ilahi

Allah!

Kebumen, 19 Juni 2016 

Rindu kian Berjalan Kepadamu 

Seperti air hujan yang mudah menguap
cintaku, rinduku juga gampang menguap
tapi kemana ia menuju
adalah pertanyaan-pertanyaan
yang selalu melahirkan debur berkepanjangan
melebihi birahi gelombang di lautan

Telah lama kita menjalin cinta
tanpa puisi dan seikat bunga

Dalam kesetiaan yang tak bisa ditakar
kau kerap datang ke bilik-bilik hatiku
membawakan apa saja
yang menurutmu aku pantas mendapatkannya
Tapi kenapa kita tak saling bertatap wajah
melihat ke dalam masing-masing mata kita
menyelami apa saja yang ada
termasuk jarak
yang kutahu kini semakin renggang saja

Aku tahu
engkau bagiku teramat dekat
namun selalu saja kucari-cari
dalam seribu putaran langkah penuh penat

Oh, betapa rapuhnya jemari
betapa rapuhnya langkah kaki

Aku ingin seperti dulu lagi
lekat bersatu dan tak terbagi
hingga aku mampu memahami
bahwa sebutan aku dan engkau
tak pernah nyata selain bayang-bayang

Kebumen, 2016 

Salman Rusydie Anwar, lahir di Sumenep 1981. Saat ini bergiat sebagai kurator Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Beberapa karya puisinya dibukukan dalam antologi bersama, antara lain Herbarium (2007) dan Antariksa Dada (2006).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Salman Rusydie Anwar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 3 Juli 2016

0 Response to "Akulah Kata-Kata - Rindu kian Berjalan Kepadamu "