Balkon Fajar - Hari Kesembilan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Balkon Fajar - Hari Kesembilan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:00 Rating: 4,5

Balkon Fajar - Hari Kesembilan

Balkon Fajar

Sinar masuk melewati jaring-jaring ranting
lalu memelukmu di balkon. Waktu masih fajar
di Ahad penuh burung bernyanyi.

"Terpana aku di balkon."

Lalu kau menghadirkan keringat pertama
lewat kenangan. Kau melakukannya
sebelum fajar ingin diulang sebagai kesegaran.

Matamu langsung menohok
ketika daun kuning itu rontok,
membuat bulu romamu melambai.

"Aku ingat ilham, aku menerima sinyal."

Kau tertegun ketika suasana di balkon,
seperti anak kecil berlari mengejar layangan
terputus di langit.

"Impianku terbalas di balkon."

"Tapi Ahad menenteramkan gejolakku."

Suara lirihmu menenggelamkan
pendengaran sendiri. Hampir goyah, tapi sinar
semakin memelukmu di balkon.

"Fajar, fajar, kenapa memoriku meluap
ketika masa tua meraung di balkon."

Sinar pelan-pelan tak bisa masuk melewati
jaring-jaring ranting. Waktu fajar sudah habis.

Burung bernyanyi pergi.

Di balkon sekejap jadi asing bagimu,
kecuali kau kembali pada Ahad nanti.

"Memoriku belum terlepas semua."

Surakarta, 2016


Hari Kesembilan

Sedap mana kelenjar di hidung sapi itu
dengan tangismu setelah mendengar seucap
penyerahan buat pemilik pedang.

Bising genta memantuli dinding kamarmu.

Wahai kau yang mengantar
orang-orang mati, bisakah tandukmu
merunduk daripada membulat setengah?

Lumer juga kelenjar
di hidung sapi itu. Menetes tak karuan
dan dihisap lantai
untuk dirembeskan ke dinding kamarmu.

Lembab akhirnya memelukmu dan jamur
tumbuh menutupi luka garingmu.

Pada hari kesembilan, seorang mengetuk pintu
kamarmu. Tapi tak pernah
kau buka. Tak pernah kau jawab suara
memanggil namamu.

Pergilah kau yang mengantar
orang-orang mati. Tangisku
membatu. Tentu aku sudah berpaling darimu.

Masih pada hari kesembilan. Seorang
mengetuk pintu kamarmu lagi. Seorang juga
tak curiga mendengar
bising genta di dalam kamarmu.

Surabaya, 2015

Aji Ramadhan lahir di Gresik, Jawa Timur, 22 Februari 1994. Kini ia belajar di Desain Interior, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Buku-buku puisinya adalah Sang Perajut Sayap (2011) dan Sepatu Kundang (2012). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aji Ramadhan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 16 - 17 Juli 2016

0 Response to "Balkon Fajar - Hari Kesembilan"