Banjir | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Banjir Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:46 Rating: 4,5

Banjir

ARIN menggeser duduknya agak ke sebelah kanan untuk menjaga keseimbangan. Soalnya kano terasa agak oleng. Debit air tampaknya bertambah tinggi. Gerakannya pun terasa lebih keras. Arin memeriksa tali pengikat kano. Ikatan itu masih tampak kuat.

Arin melirik jam tangan, waktu menunjukkan pukul 17.50. Sudah sore. Sebentar lagi malam akan datang. Arin tak dapat membayangkan, bagaimana suasana perkampungan ini pada waktu malam? Air makin menggila, dingin, gelap, hii ....

Arin mengedarkan pandangannya. Sunyi. Tak ada sepotong pun manusia dilihatnya. Yang ada hanya rumah-rumah terbuat dari kayu, tiang-tiang yang hanya tinggal setengahnya, selebihnya adalah air ... air ... dan air. Banjir!

Arin geli membayangkan dirinya sendirian berada di atas kano. Ya, seumur hidup baru kali ini ia merasakan naik kano. Rasanya nikmat-nikmat geli, gerinjilan.

Tapi ngomong-ngomong ke mana cowok-cowok itu? Arin mulai cemas. Tiba-tiba Arin mendengar air berkecipak. Kepala Choki muncul di ujung gang. 

“Bang Choki ... kok lama amat sih?”

Choki merayap menaiki kano.

“Ampun ... gang ini ternyata panjang banget. Rumah-rumah makin padat. Penghuninya kebanyakan nggak mau ngungsi. Padahal air sudah segini,” kata Choki, tangannya menunjukkan batas leher.

“O ya?”

“Untuk mencapai titik sasaran kita harus berenang.”

“Wah.”

“Tapi aku puas. Aku senang. Kerjaan kita tidak sia-sia. Kamu tahu Rin, aku barusan mendatangi sebuah rumah. Penghuninya seorang wanita dengan empat orang anak yang masih kecil-kecil. Mereka bertahan di atas dipan yang diikatkan hampir di langit-langit rumah. Mereka menggigil menahan dingin dan kelaparan. Begitu tahu aku membawa rangsum, mereka langsung melahapnya. Anak yang paling kecil malah berteriak histeris saking girangnya.”

“Aduh kasihan amat ....”

“Tapi aku sudah lapor sama Pak Burhan. Sebentar nanti Pak Burhan akan mengevakuasi mereka.”

“Ngomong-ngomong pakaian kamu basah semua tuh. Nanti kamu malah sakit.”

“Tenang aja. Aku pernah kok mengalami hal yang lebih buruk dari ini.”

“Eh, yang lain pada ke mana? Kok lama banget sih?”

“Sudah kubilang, medannya berat. Anak-anak agak kesulitan mencapai titik sasaran. Terutama itu, airnya sangat dalam. Jujur saja, aku beruntung menemukan titik yang paling dekat. Jadi bisa kembali cepat.”

Arin mengedarkan pandangnya. Tapi di mana-mana ia hanya melihat air. Air kotor!

“Rin, kamu yakin semua makanan sudah diturunkan?”

“Sudah. Yang dibawa Bang Chivoet adalah bungkusan yang terakhir.”

“Kalau begitu, untuk sementara tugas kita selesai. Tinggal nunggu anak-anak. Setelah itu kita balik. Kamu capek??”

“Lumayan.”

Choki mengeluarkan bungkusan permen di saku jaketnya. Disodorkan pada Arin. Arin mengambil satu. Choki kemudian duduk di pinggiran kano di hadapan Arin.

Choki adalah seorang mahasiswa fakultas arsitektur semester empat pada sebuah perguruan tinggi swasta. Hari ini dia sedang melakukan kegiatan kerja bakti sosial, membagi-bagikan makanan kepada warga masyarakat yang sedang mengalami musibah banjir.

Ada seorang donatur kaya yang tidak mau disebut namanya, mendrop uang sebesar 600 juta kepada universitas. Sang donatur berkeinginan membantu meringankan beban masyarakat dengan membagi-bagikan makanan. Tapi ia ingin mahasiswa yang melakukan pekerjaan itu.

Pihak universitas kemudian melimpahkan tugas tersebut kepada senat mahasiswa. Senat kemudian membentuk panitia. Langsung kerja. Panitia mendirikan beberapa dapur umum, lalu menjalin kerja sama dengan pihak kepolisian, Tim SAR, serta beberapa pihak lain--terutama yang dapat membantu meminjamkan peralatan seperti lampu senter, pelampung, perahu karet, dan lain sebagainya. Peralatan seperti itu mutlak dibutuhkan mengingat medannya yang berat. Sang donatur menyarankan bantuan diberikan pada masyarakat yang tinggal di tempat terpencil seperti di Desa Cabangbungin, wilayah pesisir Bekasi ini.

Arin belum mahasiswa. Ia baru kelas dua SMU. Kehadirannya dalam misi ini hanya sekadar relawan. Sekolah Arin letaknya kebetulan dekat dengan universitas itu. Sebenarnya Arin tidak sendirian. Masih ada sekitar 20 orang temannya yang ikut bergabung. Kebanyakan dari mereka bertugas di dapur umum. Memasukkan bungkusan nasi ke dalam kantung plastik, kemudian memberi label, berapa banyak bungkusan nasi dalam sebuah kantung plastik.

Cuma Arin anaknya memang serba pengin tahu. Pada suatu kesempatan Arin bilang pada Choki bahwa ia ingin turun langsung ke lapangan. Choki tidak keberatan. Choki menyuruh Arin menaiki perahu karet bersama sekitar delapan orang mahasiswa. Hal ini sebenarnya agak kurang lazim. Tapi siapa berani membantah perintah Choki? Choki adalah ketua kelompok pecinta alam di universitas itu.

Dan memang kenyataan. Di lapangan Arin tak bisa melakukan apa-apa. Daerah yang mereka datangi merupakan perkampungan kumuh. Rumah-rumah hanya terbuat dari kayu dengan dinding bilik bambu. Di sana memang ada banyak gang. Tapi sempit. Kano tak bisa masuk. Perahu karet ini hanya bisa menunggu di mulut gang. Untuk mendatangi rumah demi rumah anak-anak terpaksa harus turun, nyemplung, kalau perlu berenang. Berenangnya juga harus dengan satu tangan. Sebab tangan yang lain digunakan untuk memegang plastik yang tak boleh kemasukkan air. Dalam hati Arin mengakui, pekerjaan ini memang hanya layak untuk cowok.

Suasana masih sunyi. Hujan mulai turun lagi. Perkampungan kumuh itu tampak makin gelap.

“Aku heran,” kata Choki memecah kesunyatan. “Sudah tahu air makin tinggi, listrik mati, dingin, makanan tidak ada, tapi mereka masih juga pengin bertahan di rumah.”

“Begini,” kata Arin, “tadi aku ketemu bapak-bapak. Itu rumahnya. Aku juga bilang begitu. Dia bilang di sini banyak orang yang tega memanfaatkan kesempatan dalam kesusahan. Pencuri. Lagi pula, mau ngungsi ke mana--wong di daerah ini semuanya kebanjiran. Aku pikir benar juga.”

Choki tertawa.

Arin celingukan. Matanya memeriksa lorong-lorong gang, tempat dari mana teman-teman Choki tadi pergi.

“Kok lama sih? Bang Choki yakin mereka baik-baik saja?”

“Jangan khawatir. Mereka adalah tenaga yang sudah terlatih. Tunggu aja. Paling sebentar lagi."

Arin memiringkan tubuhnya karena kano berguncang cukup keras. Aliran air terasa makin deras.

“Hari ini aku baru lihat bahwa air, hanya sekadar air, ternyata bisa mendatangkan bencana yang serius,” kata Arin. “Coba lihat. Rumah-rumah roboh. Sawah rusak. Listrik mati. Orang kelaparan. Kedinginan. Belum nanti ... wabah penyakit menyerang. Ngeri juga ya?”

Choki mengangguk.

“Kalau Bang Choki sendiri gimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Kesan Bang Choki. Perasaan Bang Choki melihat ini semua.”

“Ah entahlah. Tapi rasanya aku punya kesan yang agak berbeda.”

“Beda bagaimana?”

“Ya, setiap melihat banjir, aku malah melihat banyak manfaat. Banyak berkah.”

“Bang Choki tak pernah mengalami sendiri sih ....”

“Justru! Waktu kecil, aku tinggal di daerah yang menjadi langganan banjir. Setiap ada hujan, rumahku pasti kebanjiran. Dan hatiku senang. Bagaimana tidak, bila banjir, tiba-tiba saja aku boleh tidak sekolah. Bapak ibuku yang selalu bepergian, tiba-tiba tinggal di rumah. Kakak-kakakku juga. Kami bisa kumpul. Makan bersama. Seharian kerjaku hanya main. Main air. Berenang. Padahal berenang adalah kesukaanku.”

“Itu waktu kecil,” Arin memotong.

“Tidak. Sekarang juga. Dari banjir ini aku banyak melihat hal positif. Misalnya, pemerintah harus tegas, harus tidak main-main lagi menghadapi orang-orang yang suka menebangi hutan. Sebab siapa pun tahu hutanlah yang berfungsi menahan air di dataran tinggi. Banjir juga mengingatkan orang untuk tidak tinggal di tempat sembarangan seperti bantaran sungai. Sebab bantaran sungai memang dibikin untuk air, bukan buat manusia. Peristiwa banjir seharusnya merupakan peringatan buat para pejabat dan aparat untuk benar-benar bekerja menata lingkungan. Banjir juga bisa menyadarkan para pemimpin dan orang-orang kaya, bahwa di tengah kehidupan mereka yang serba mewah ternyata masih banyak saudara-saudaranya yang hidup dalam kemelaratan.”

Arin terbengong-bengong.

“Mungkin contoh-contoh itu terlalu rumit buat kamu. Terlalu abstrak. Sekarang begini saja, aku ambil contoh yang sederhana. Aku tanya, karena apa kok bisa-bisanya kita duduk berduaan di atas kano seperti sekarang ini?”

Arin menggigit bibir bawahnya.

“Karena banjir kan?”

Arin tersenyum.

“Terus, kamu masih ingat kan bagaimana sampai kita bisa berkenalan?”

Arin tersenyum. Lebih lebar. Wajahnya bersemu malu.

Ya, Arin masih ingat itu. Waktu itu sekitar tiga pekan lalu. Hujan pertama turun sangat lebat dan lama. Dan waktu ia bubaran dari kelasnya, ia mendapati anak-anak masih bergerombol di depan sekolahan. Arin kemudian tahu bahwa sungai yang melintas di jalan depan sekolahan Arin meluap dan mengakibatkan jalan raya banjir lebih dari tiga puluh senti.

Lalu-lintas pun menjadi lumpuh. Kendaraan-kendaran kecil seperti sedan tak banyak yang berani melintasi jalan itu. Jemputan Arin pasti tidak akan datang.

Arin dan beberapa murid lain yang harus melewati jalan tersebut menjadi bingung. Angkot selalu penuh sesak. Bus bahkan sampai miring saking banyaknya muatan. Orang-orang banyak yang menggunakan gerobak dorong untuk dapat menyeberangi banjir. Arin ogah. Malu. Tapi bagaimana ia harus pulang?

Di dekat pintu gerbang sekolah ada beberapa tukang ojek mangkal, di antara mereka banyak yang berani melintasi jalan itu. Teman-teman Arin banyak yang menggunakannya. Kalau teman-temannya bisa kenapa Arin tidak? Sebelumnya Arin memang belum pernah naik ojek. Tapi sesuatu harus ada yang pertama. 

“Ojek, sini,” Arin berteriak dan menggapai pada seorang tukang ojek yang sedang nangkring di atas sepeda motornya. Orang itu mendekat.

Arin pun ‘berlayar’ mengarungi banjir dengan sepeda motor. Semula Arin hanya minta diantarkan ke jalanan kering. Tapi tukang ojek mengusulkan untuk terus mengantar Arin hingga ke rumahnya. Arin setuju.

Setelah sampai Arin menyerahkan selembar uang lima ribuan. Tukang ojek mengembalikan dua ribu.
“Besok Non sekolah?” tanya tukang ojek.

“Ya iya-lah. Belum ada pengumuman libur tuh. Kenapa memang?”

“Kalau masih banjir, saya menunggu di tempat tadi. Boleh?”

Arin mengangkat alis. Itu bukan gagasan yang buruk. Ongkos ojek ternyata tidak semahal yang ia duga sebelumnya. Cuma tiga ribu. Tukang ojeknya juga rada keren sih.

“Boleh!” kata Arin akhirnya.

Keesokan harinya air masih belum surut. Arin naik ojek lagi. Ojek yang kemarin. Pada hari ketiga dan keempat air masih juga belum surut. Malah makin tinggi. Arin naik ojek itu lagi. Langganan ni yee. Mama dan Papa yang diceritakan soal ojek itu senang dan setuju.

“Kalau perlu untuk seterusnya aja. Mang Engkos kan jadi kurang pekerjaannya,” kata Papa.

Pada hari kelima Arin naik ojek itu lagi. Kali ini perjalanan kurang mulus. Motor ojek itu mengalami gangguan. Mesinnya mati--pas di tengah-tengah genangan air. Tukang ojek menyelahnya berpuluh-puluh kali. Tapi motor tidak mau kunjung hidup. Akhirnya ia menyerah.

“Maaf Non, karburatornya mungkin kemasukan air. Nggak mungkin bisa hidup. Non cari ojek lain aja.”

Arin bingung. Arin lalu membuka sepatu, dan turun ke banjir.

“Maaf ya Non!” tukang ojek menuntun sepeda motornya.

“Mau bilang apa,” kata Arin dalam hati.

Arin celingukan, mencari-cari kalau-kalau ada angkot, bus, atau ojek kosong. Semuanya tak ada.
Tiba-tiba Arin mendengar suara byuurr .... Arin melihat tukang ojek itu terjatuh. Mungkin menginjak lubang. Tubuhnya seperti tenggelam tertindih motor. Dengan gerakan reflek Arin berlari ke sana. Ia membantu orang itu keluar dari himpitan motor.

Orang itu kelihatan malu. Setelah mengucapkan terima kasih ia berjalan lagi menuntun motornya. Arin membantu mendorong.

“Ndak usah Non. Saya tidak apa-apa kok. Nanti si Non malah kotor.”

Tapi Arin terus mendorong. “Nggak apa-apa. Tanggung,” kata Arin.

Tiba-tiba Arin merasa dirinya egois. Empat hari ia ditolong orang itu pulang sekolah. Masak ketika motornya mogok ia nggak peduli? Dengan ini ia ingin memperbaiki kesalahannya.

Tukang ojek memperbaiki motornya di jalan yang kering. Arin menunggui sembari duduk pada sebuah bangku panjang. Arin minum teh botol dingin. Pada kesempatan itu mereka terlibat obrolan. Dan dari obrolan itu kemudian terungkap bahwa Choki bukanlah tukang ojek sungguhan. Ia mahasiswa di sekolah tinggi yang letaknya tak jauh dari sekolahan Arin.

“Waktu itu aku juga lagi bingung, jalan-tidak-jalan-tidak-jalan ....”

“Kok kamu mau aja sih dipanggil ojek?” kata Arin.

“Aduh Non, cowok normal mana sih yang tidak mau ditumpangi cewek secantik kamu. Kalau tidak bodoh pasti gila,” kata Choki dengan wajah jenaka.

Arin tersipu. Baru kali ini Arin melihat dengan lebih jelas wajah cowok yang memboncengnya. Lumayan keren. Seharusnya Arin tahu bahwa wajah seperti itu terlalu cakep untuk seorang tukang ojek.

“Terus kok kamu mau dibayar?”

“Aku pikir itu gagasan yang cerdik. Coba kalau kutolak, berani taruhan, pasti kamu nggak bakalan mau lagi naik motorku. Iya kan?”

Arin menggigit bibirnya.

“Tapi mestinya kamu curiga, kalau naik ojek beneran, tidak mungkin boleh segitu. Paling kurang kamu harus bayar enam ribu. Coba aja.”

Setelah motor hidup Arin diantar ke rumahnya. Dan itulah terakhir kalinya Arin naik ojek. Ojek palsu. Dan cerita tentang mereka sepertinya berakhir sampai suatu hari Choki dan beberapa temannya datang ke sekolah Arin. Choki pertama bicara dengan Kepala Sekolah. Tujuannya minta bantuan agar Kepala Sekolah mengerahkan muridnya untuk terlibat dalam kegiatan bakti sosial yang diadakan universitas itu. 

Arin senang menerima ajakan Choki. Ia pun mendaftarkan diri sebagai salah seorang relawan. Begitulah ceritanya kenapa Arin dan Choki bisa ketemuan lagi, bahkan sampai naik kano bersama.
Kano masih terus bergoyang. Gerimis masih. Cuaca sudah berangsur gelap. Lamunan Arin buyar oleh suara langkah orang menyibak air. Delapan mahasiswa itu muncul dari tempat yang sama secara bersamaan. Suara mereka terdengar gaduh.

“Lama amat sih?” kata Arin spontan.

“Medannya bo ... berat beeng. Tapi aku hepi dengan kerjaan ini,” kata Ridwan.

“Lain kali bergeraklah lebih cepat,” kata Choki. “Kasihan Arin. Dia cemas memikirkan kalian.”

“Sebenarnya kita selesai dari tadi kok,” kata Alvin menahan senyum. “Kami sengaja bertahan di situ. Siapa tahu kalian pengin lebih lama menikmati suasana romantis ini. Ini kesempatan langka lho. Kalian belum tentu menemukan suasana seperti ini sekali dalam seratus tahun.”

“Jangan macam-macam. Ayo cepat naik. Adik, mainkan dayungnya!” Choki memberi perintah.

Kano mulai bergerak. Suasana kampung sudah benar-benar gelap. Tapi untung gelap. Kalau tidak, orang akan melihat wajah Arin yang bersemu merah. Entah karena malu, entah karena bahagia.***    

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herna Soe
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Gadis" edisi 22 Maret - 1 April 2002

0 Response to "Banjir"