Berburu Manusia | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Berburu Manusia Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:20 Rating: 4,5

Berburu Manusia

MONO Kobo terbangun oleh rintik hujan yang longsor dari atas dahan pohon. Hari ini, dan mungkin sepanjang tahun, udara yang mencapai 30 derajat membaur bersama hujan. Virus dan bakteri yang mematikan menyebar bersama dengung nyamuk dan desing lalat-lalat, membuat ratusan ribu manusia yang menempati hutan ini roboh satu per satu.
SEPULUH tahun yang lalu ketika Mono Kono baru saja merayakan pesta perkawinan anak tertuanya, 55.000 manusia yang berasal dari hutan menyerbu masuk ke dalam kota; menerjang dan membunuh semua orang yang teerlihat, mendobrak pintu-pintu rumah, dan meruntuhkan gedung-gedung pencakar langit. Polisi meringkuk takut di dalam goriong-gorong, tak pernah menyangka bahwa orang-orang hutan itu ternyata lebih cepat dari peluru.

"Berburu orang kota!"

Ribuan penduduk kota tergeletak mati, tak peduli dari paling kaya sampai yang gembel sekalipun; dibiarkan membusuk dan terkapar di mana-mana. Sedang yang selamat memutuskan untuk mengungsi ke hutan, satu-satunya tempat yang mereka anggap aman. Kini posisi telah berganti; orang hutan menjadi orang kota dan sebaliknya.

**
"AMBIL tombak itu, Bapak!"

Mono Kobo tersentak dari lamunannya. Separuh nyawanya belum lagi kembali ke raga; memaksanya melongo dengan tatapan mencari-cari.

"Tombak di depan itu, Bapa!

Seorang lelaki muda berlari ke arahnya mengambil tombak yang tergeletak dan langsung menghunjamkannya ke suatu arah. Mereka berdua membisu sunyi. Menerka-nerka suara yang bakal menyusul. Angin bersiul  mengejek. Ya, hanya suara angin.

"Mereka?"

"Bukan," jawab lelaki muda itu sambil menjatuhkan pantatnya di atas tumpukan daun kering.

"Lantas?"

"Babi hutan."

Mono Kobo mendesah dalam. Ia memperhatikan lelaki muda itu secara seksama.

"Ke amna tombakmu?"

Lelaki muda itu melirik sendu ke arah Mono Kono. Rambutnya yang ikal panjang etrurai menutupi setengah wajahnya yang pucat.

"Semingu yang lalu, rumahku dibakar, Bapa. Ibu dan Bapak digantung di pohon, sedang adik-adikku dimasukkan ke dalam kerangkeng. Kebetulan, waktu itu, aku sedang berak di sungai, jadi aku selamat." Lelaki itu mulai terisak, tetapi ia memaksa untuk meneruskan. "Aku mengikuti rombongan yang membawa adik-adikku itu, tetapi aku tersesat. Aku kelaparan hingga ketika aku melihat babi hutan itu."

"Sudah tidak makan berapa hari kau?"

Lelaki itu tak menjawab. Mono Kobo memeluk lehernya, menularkan sejentik simpatik. Walaupun sebenarnya Mono Kobo tahu, hal seperti itu sudah lumrah terjadi di dunia yang kacau ini. Sudah terlalu banyak air mata yang tertumpah dia-sia. Percuma jika hendak disesalkan. Segera ia teringat kepada kedua anak dan istrinya yang menunggu di rumah.

" Di mana kampungmu?"

Lelaki muda itu menunjuk ke suatu arah, sedang tatapannya tertumbuk ke tanah.

"Mereka semakin rakus. Tak ada puasnya dalam berburu," ucap Mono Kobo sambil berdiri. "Aku dengar mereka menyerang perkampungan di pesisir. Banyak yang ditangkap. Sedang yang mati tak terhitung."

Lelaki muda itu tak juga menanggapi. Pikirannya masih melayang menggapai-gapai kenangan yang menggumpal di atas kepalanya. Dalam mata batin, ia menyaksikan pertunjukan sirkusnyang dulu sering ia lihat di pasar malam, di tengah kota. Namun, kali ini, yang ada di dalam kerangkeng bukanlah harimau atau gajah, melainkan adik-adiknya.

"Kampungku tak jauh dari sini. Mari ikut aku. Istriku memasak ayam hutan," ajak Mono Koobo membuyarkan lamunan si lelaki muda.

**
KEJADIAN itu berlangsung secepat kilat. Mono Kono terkapar di atas semak, dengan tombak dan perlawanan yang telah patah. Ia merasakan dadanya begitu sesak, sepertinya tulang rusuknya sudah remuk. Menggerakkan kepala pun ia sudah tak sanggup. Dari ekor matanya, ia melihat si lelaki muda tertelungkup di atas batu cadas. Badannya sempat kejang-kejang , tetapi sebentar kemudian sudah tak bergerak-gerak lagi. Sedang kepalanya merekah seperti buah delima.

"Bunuh?"

"Biarkan saja. Biar dia jadi makanan anjing. Biar tahu rasa!"

"Aku ingin mereka jadi makanan ayam saja. Biar tahu bagaimana rasanya dimakan apa yang selama ini mereka makan."

Mono Kobo bergidik mendengar percakapan orang-orang yang berdiri tak jauh dari tempatnya terkapar. Ia kenal betul dengan riman tubuh mereka, yang hampir tak bisa dibedakan antara yang satu dengan yang lainnya: gemuk dan kukuh, berleher besar, dilengkapi dengan lengan yang panjang dan kuat. Seluruh tubuh mereka dipenuhi dengan bulu-bulu berwarna merah. Namun, kini mereka tampak lebih beradab. Semuanya mengenakan baju dan celana, bahkan ada yang mengenakan topi baseball, tidak seperti kedatangan mereka sepuluh tahun yang lalu.

Berikutnya Mono Kobo diikat pada sebilah bambu panjang, lantas digotong dengan posisi terbalik oleh dua orang pemburu. Sekali-kali, darah segar kehitaman melompat dari dalam mulutnya. Ia sempat pingsan, lantas bangun sebentar, lalu pingsan lagi.

Mono Kobo tersadar oleh asap yang masuk ke dalam hidungnya. ia membuka kedua matanya dengan malas. Namun, secepat itu pula ia terlonjak kaget ketika menyaksikan istrinya yang sedang meraung-raung seperti orang gila. Rambutnya terurai acak-acakan. Sebilah bambu di tangan kanan, sedang anaknya yang terkecil tampak terkulai di punggungnya. Para pemburu mengelilinginya sambil terkekeh-kekeh seperti mendapat mainan baru. Mono Kobo coba berontak dari ikatannya, yang malah membuat darah segar kembali muncrat dari mulutnya. Tak jauh dari rumahnya yang tampak dilahap oleh api, anak perempuan etrtuanya tersungkur di antara tumpukan mayat. Tubuhnya yang putih tergenang oleh darah.

"Jangan! Jangan! Tolong!" Mono Kobo menjerit sekuat tenaga. Kembali ia coba menggerakkan tubuh, dengan rasa kesal yang memuncak karena aketidakberdayaan. hasilnya, ia kembali memuntahkan segumpal darah segar.

Sejenak, semua mata para pemburu beralih ke arahnya. Mereka menyeringai lantas tertawa terbahak-bahak. Salah seorang dari mereka menusuk-nusukkan ujung senapan ke arah bokong istrinya, seperti menggoda. Sang istri terus berputar-putar menghindari, tak henti-hentinya ia menyumpah, juga memohon ampunan. Namun, para pemburu tak peduli. Bukankah sudah adatnya, jika para pemburu tak pernah peduli teriakan minta ampun dari binatang buruannya?

Mono Kobo yakin ia terus berteriak, Namun, istrinya dan para pemburu itu sudah tak dapat mendengarnya lagi. Ia tersadar, sepertinya sekarang ia hanya mampu berteriak di dalam kepalanya sendiri. Pupuslah sudah harapannya. Ia diam dan merelakan segalanya, bersama air mata yang menggelinding jatuh di pipinya. Sementara suara-suara di sekitarnya berangsur-angsur mengecil. Semakin kecil. Hanya menyisakan desau angin yang teramat samar. Lantas hilang sama sekali. Sunyi.

**
MONO Kobo tersentak oleh guyuran air yang menghantam wajahnya. Sontak ia menegakkan punggung dan terbatuk-batuk dengan ribut. Matanya merah, tengkuknya dingin. Jemarinya menggapai-gapai udara.

"Kau jatuh ke jurang. Untungnya tidak dalam."

Mono Kobo menatap si pembicara dengan heran. Ia bangkit dan berjalan sambil memegangi rusuknya yang terasa ngilu. Langkahnya gontai, tak tahu hendak ke mana. Dari arah berlawanan, ia melihat serombongan pemburu bersenapan yang sedang menggotong sebuah kandang kayu yang cukup besar. Di dalamnya, duduk diam seekor monyet besar berbulu merah. Monyet itu menatap ke arahnya dengan tatapan memelas, mengiba, dan seperti ingin menyampaikan suatu pesan.

"Anaknya jatuh ke jurang!" teriak sebuah suara yang tertinggal di belakang rombongan.

"Oi, Mono Kobo!"

Mono Kobo berjalan lunglai menghampiri rombongan yang menatapnya dengan heran. Namun, ketika hendak meraih tangan si monyet yang terjulur ke luar kandang, ia terdorong hingga jatuh ke atas genangan air. Di situ, ia melihat pantulan wajah seekor orangutan yang sedang menangis.***

Tengku Ariy Dipantara. Lahir di Malaka, 25 Maret 1988. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatra Utara. Sekarang tinggal di Kota Medan.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tengku Ariy Dipantara
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 31 Juli 2016




0 Response to "Berburu Manusia "