Bermain Bola - Hari Penghabisan Letnan Dan - The Cracked Eggs | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bermain Bola - Hari Penghabisan Letnan Dan - The Cracked Eggs Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:30 Rating: 4,5

Bermain Bola - Hari Penghabisan Letnan Dan - The Cracked Eggs

Bermain Bola

Sejak Foresst Gump mengenal Gendon
siswa asal Jawa di sekolah itu
ia tahu bedanya suling dan harmonika.
Dari Gendon pula Foresst Gump tahu
bahwa football bukan bal-balan.

Dengan dengkul tebal dan badan gempal
Foresst memang tak jago menggiring
maupun menggoreng bola.

Seperti kerbau mabuk
Forrest Gump menabrak dan menginjak apa saja
termasuk para gelandang
kubu penyerang
bagian bek
sang kiper
dan jaring gawang

Ia tabrak pula hakim garis
wasit yang sengit meniup semprit
dan tembok-tembok
di mana iklan dan polisi dipasang.

Sambil mengangkat dua jempol
Gendon menyebut Forrest GUmp
sebagai pendekar bal-balan.

Forrest GUmp mengangguk bangga
dan Gendon teringat kerbau kakeknya
yang dulu dipermainkan lalat-lalat
saat berkubang.

(2016)

Hari Penghabisan Letnan Dan

Di pondok pelacuran itu
ia isap cerutu buntu.

Di pondok pelacuran itu
ia sesap candu keluh.

Di pondok pelacuran itu
ia cecap bir terakhir

lalu bernyanyi-nyanyi ia
tentang buntung kakinya
tentang buntung nasibnya
tentang tititnya yang layu
sejak dirajam serpihan bom jahanam itu.

Ingin menari-nari ia
dengan buntung kakinya
menginjak-injak takdir
menginjak-injak gedung pemerintah
menginjak-injak markas tentara
lalu berteriak-serak
seperti Louis Amstrong

yang gelap melolong
memanggil tuhan
memanggil setan
memanggil perempuan.

Tidak, si Letnan tak hendak memanggil perempuan
sebab di pangkuannya
perempuan muda tengah mengejang
dengan dada terbuka
dengan birahi terbata-bata.

Di lantai tujuh pondok pelacuran itu
sekonyong-konyong ia melihat Forrest Gump
seperti jin semprul
menyembul dan melambai dari jendela.

Ke sana Letnan Dan menerjunkan diri
dan badannya yang remuk
tergilas mobil patroli.

(2016)


The Cracked Eggs

Tirai panggung dibuka:

dalam siluet remang
sebutir telur berangsur retak
menetaskan kunang-kunang

menetaskan kunang-kunang.

Tidak, tidak, itu bukan kunang-kunang
mereka adalah tujuh pemuda gondrong
kurus dan korengan

ditambah seorang pemudi
ringkih dan berantakan.

Mereka berjingkrak serempak
menyanyikan lagu-lagu perjuangan

menyanyikan lagu-lagu kenangan
menyanyikan lagu-lagu kekalahan
menyanyikan lagu-lagu penghabisan
menyanyikan lagu-lagu semprul untuk tuhan.

Mereka meraung dan mencakar-cakar

sampai habis malam
sampai habis segala pisuhan
sampai berlepasan semua pakaian.

Sehelai kutang dilambai-lambaikan

dan hadirin bersuit dan bertepuk tangan.

(2016)






A Muttaqin lahir di Gresik dan tinggal di Surabaya. Buku puisinya adalah Pembuangan Phoenix (2010) dan Tetralogi Kerucut (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu, 16 Juli 2016

0 Response to "Bermain Bola - Hari Penghabisan Letnan Dan - The Cracked Eggs"