Bertanya kepada Mayat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bertanya kepada Mayat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:27 Rating: 4,5

Bertanya kepada Mayat

SETELAH melewati persawahan dan sedikit hutan karet, Kamto berhasil mencapai rumah Haji Toha. Azan isya baru saja berlalu ketika ia dipersilakan duduk. Saat diajak salaman Haji Toha, hati Kamto bergetar. Baru sekarang ia berjumpa dengan orang yang kata emaknya punya ilmu bisa bercakapcakap dengan mayat. 

“Saya anak Pak Sukri,î kata Kamto. ìSaya disuruh Emak kasih tahu Pak Haji kalau bapak saya meninggal siang tadi.” 

“Innalillahi wainna ilaihi roíjiun! Sakit apa bapakmu?” 

Kamto menjelaskan bahwa ayahnya meninggal mendadak, diduga sakit jantung. Haji Toha mengangguk-angguk dengan ekspresi sedih. 

“Emak nyuruh saya menjemput Pak Haji Toha sebelum jenazah Bapak dikubur. Kata Emak, ada hal yang akan diminta dari Pak Haji.” 

Haji Toha paham. Pasti soal ilmu itu, pikirnya. Tapi ilmu itu sudah lama ia buang. Ia tak mau lagi mengamalkannya. Dan kini ia sendiri tak yakin apakah ilmu itu masih bertuah. 

Berkali-kali sudah ia menolak permintaan serupa. Semua mantra sengaja ia lupakan meski sebenarnya masih terapung dalam ingatan. Tapi sekarang apakah ia harus menolak? Sukri adalah sahabatnya tatkala sama-sama berguru pada Abusujak semasa mereka remaja. Sukri jugalah yang mendorongnya agar mau mempelajari ilmu itu setelah semua murid lain ogah-ogahan. 

Abusujak yang sudah tua itu ingin menurunkan semua ilmunya. Murid-muridnya berebut melakoni semua persyaratan demi ilmu yang ingin dikuasai, tapi tak satu pun murid mau mempelajari ilmu bercakapcakap dengan mayat itu. 

“Aku minta ada satu orang saja yang mau menerima ilmu itu,” kata Abusujak. 

Dan murid itu bernama Toha. Sukrilah yang mendorong Toha agar mau melakoninya. Sukri sendiri memilih mempelajari ilmu pelet alias ilmu penakluk hati perempuan. 

Pada gilirannya, Toha menawarkan ilmu itu pada kedua anak lelakinya. Tapi mereka menolak, menganggap ilmu itu tak banyak bermanfaat. Mereka lebih tertarik pada bidang bisnis, dan terbukti cukup sukses di dunia itu. 

“Aku sudah lama sekali membuang ilmu itu,” kata Toha dengan ekspresi wajah menyesal. “Tapi malam ini aku akan melayat sebagai penghormatan terakhir pada bapakmu.” 

Hati Toha teriris melihat istri Sukri bersimbah airmata, memohon dan meratap. Toha berdalih macam-macam, tapi istri Sukri tak mau peduli. 

“Selama ini yang kuajak bicara bukan roh orang yang meninggal, tapi jin yang mengetahui perkara dhahir almarhum semasa hidup,” dalihnya. 

“Apakah itu roh suamiku atau bukan, tidak soal. Yang penting bisa memberitahu di mana sertifikat rumah kami, Kang. Saya akan jual rumah ini untuk anak-anak. Makin cepat makin baik, supaya di alam sana perjalanan Kang Sukri lancar.” 

Toha tercekat. Tenggorokannya terasa kering, bahkan sulit untuk sekadar menelan ludah. Ia terbungkam. Dan itu ditafsirkan istri Sukri sebagai sikap menyetujui permintaannya. 

Atas seruan emaknya, Kamto dan beberapa pelayat memindahkan mayat Sukri ke dalam kamar. Jenazah ditelentangkan dengan alas tikar pandan di atas dinginnya lantai ubin. Di sebelah kiri jenazah itulah Toha akan merebahkan tubuhnya dengan posisi sejajar tanpa boleh dilihat siapa pun. 

Toha memasuki kamar dengan gundah. Ia merasa terkurung dalam suasana ganjil. Bau air mawar dan wewangian tradisional bercampur-baur menyuguhkan suasana kematian yang membuatnya sedikit merinding. 

Tiba-tiba Toha diserang rasa mual yang bergulunggulung dalam perutnya. Mendadak ia mau muntah. Ia berupaya sekuat tenaga mencegah isi perutnya yang ingin keluar. Bau aneh tadi membuyarkan konsentrasinya dalam mengingat-ingat mantra yang sudah terlalu lama tak lagi diucapkan. Dengan hati-hati Toha membaringkan tubuh di sisi jenazah. Terbata-bata ia melafalkan kata demi kata mantra yang sudah nyaris ia lupakan. 

“Assalamuíalakum, Sukri,” bisik Toha di dekat telinga mayat Sukri. “Kamu masih mengingat aku, bukan? Tolong jawab pertanyaanku!” 

Tak ada jawaban apa pun. 

Ia kembali mengucapkan pertanyaan yang sama dengan lebih mendekatkan mulutnya ke kuping mayat Sukri. Tetap tak ada jawaban. Jasad Sukri yang mulai kaku itu tetap saja dingin membeku. Toha menambah pertanyaannya lagi mengenai di mana disimpan sertifikat rumah itu. Ia memelas, menghiba-hiba. Berulang kali ia ulangi pertanyaannya sampai akhirnya ia menyadari akan ketololannya sendiri. 

Toha berdiri dan menangis. Ada rasa sedih mengoyak hatinya karena gagal membantu mengatasi kesulitan keluarga Sukri. Tapi sekaligus ia merasa berhasil telah membuktikan bahwa ilmu itu sudah tidak lagi dimiliki. 

Istri dan ketiga anak Sukri kecewa ketika Toha menyatakan upayanya sia-sia. Lebih tujuh kali Toha memohon maaf. 

Saat kali pertama ayam berkokok, Toha tiba di rumah. Ia duduk termenung di ruang tamu menunggu azan subuh, sampai akhirnya tersentak oleh deru mobil yang datang. Ia kenal pemilik mobil itu adalah Sodik, sulungnya yang tinggal di kota. Tapi ia heran buat apa Sodik datang di rumahnya sepagi ini. 

Toha membuka pintu dan melihat Sodik berdiri di teras. 

“Kamu?” 

“Om Sukri meninggal.” 

“Ya! Bapak baru saja dari sana.” 

“Saya ke sini hanya ingin menyerahkan ini,” kata Sodik sambil menyodorkan sebuah map. 

“Apa ini?” 

“Sertifikat rumah Om Sukri.” 

Toha tertegun. Ia tak mengerti bagaimana sertifikat itu bisa berada di tangan sulungnya. Dan ia nyaris tak percaya saat Sodik menjelaskan bahwa surat penting itu sudah lama di tangannya sebagai agunan utang Sukri. 

“Sudah 4 tahun kok,” kata Sodik. “Waktu anak gadis Om Sukri mengalami kecelakaan, Om Sukri perlu biaya besar buat menyelamatkan nyawa anaknya.” 

“Jangan ngawur! Sukri tidak punya anak perempuan.” 

“Siapa bilang? Jangankan Bapak, istri dan anak-anak Om Sukri sendiri tak pernah tahu.” 

“Jadi?” 

“Om Sukri punya keluarga yang lain. Itulah kenapa saya minta tolong Bapak untuk menjelaskan kepada mereka. Saya tidak sanggup!” 

Toha ternganga. Ia baru memahami dan memaklumi tentang ilmu apa yang pernah dipelajari Sukri kala mereka berguru pada Abusujak. -k


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nadjib Kartapati Z
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 24 Juli 2016

0 Response to "Bertanya kepada Mayat"