Bireng | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bireng Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:56 Rating: 4,5

Bireng

KARENA dalam undang-undang maupun dalam aturan adat tidak ada sanksi khusus untuk orang yang lebih memikirkan dirinya sendiri ketimbang orang lain, maka para warga sepakat memberikan hukuman yang mereka buat sendiri. Yang terkonyol dari hal ini adalah. Bireng tak peduli sama sekali dengan hukuman para warga itu. Saya sebagai saksi dari semua ini, sebagai pihak yang netral, merasa fenomena ini sangat lucu.

Saya bersikap netral karena saya kebingungan menentukan siapa yang salah dalam kasus ini. Menentukan siapa yang salah antara Bireng (yang jelas bukan nama aslinya, dan tentang kenapa ia dipanggil begini, akan saya ceritakan nanti) yang dicap sebagai orang yang selalu memikirkan diri sendiri ketimbang orang lain, dengan para warga yang merasa dirugikan karena sikapnya itu, sesuatu yang paling rumit yang pernah saya pikirkan selama hidup saya.

Awal kedatangannya di desa kami, kira-kira tiga tahun lalu, Bireng langsung membeli tanah di ujung selatan desa. tanah itu tidak terlalu luas, cukup untuk rumah sederhananya berdiri. Kala itu, para warga dengan sangat tulus membantu Bireng membuat rumah. Dari sejak penggalian fondasi sampai rumah yang merupakan satu-satunya rumah permanen waktu itu rampung, Bireng selalu dibantu para warga. Tak satu pun dari mereka tahu kalau suatu saat nanti mereka akan mengutuk diri sendiri karena telah ikut membantu proses pembangunan rumah itu.

Baru kemudian, setelah Bireng mulai terlihat boroknya, setidaknya begitu menurut para warga, mereka tidak lagi menunjukkan keramah-tamahan kepada Bireng. Dan mereka mengumpat sepuas hati di belakang Bireng sampai seluruh kekesalan mereka terlampiaskan.

Bireng adalah lelaki yang bertubuh tinggi dan besar. Rambutnya keriting dan terlihat seperti menempel di kulit kepalanya. BOla matanya agak menjorok ke dalam. Otot bisepnya bahkan tanpa dikunci pun terlihat seperti ada bongkahan batu terpendam di dalamnya. Secara keseluruhan, ia kurang lebih seperti raksasa.

Selain tubuhnya yang tinggi besar, ia adalah lelaki yang memiliki kecepatan jalan di luar nalar pikiran. Biasanya orang yang bertubuh kecil saja yang memilii kelincahan untuk menggerakkan kedua tungkainya. Tetapi setelah bertemu dengan dia, baru kutahu, ternyata orang sebesar dia dapat melangkah dengan begitu cepat dan mantap.

Satu lagi kelebihannya yang membuat saya meragukan apakah dia manusia atau tidak, ia sama sekali tidak pernah terlihat lelah, seberat apapun benda yang menekan pundaknya dan sesering apapun ia bolak-balik untuk mengangkut apapun. Sungguh, tenaganya seperti gabungan tenaga seribu kuda.

Sampai di sini mungkin pembaca kebingungan,  tindakan selalu memikirkan diri sendiri seperti apa yang telah dilakukan orang bertubuh kekar seperti Bireng. Mungkin, baiknya saya akan menceritakan dari latar belakang desa tempat tinggal kami.

Desa kami terletak paling selatan di Kabupaten. Desa yang bertengger di puncak bukit. Rumah-rumah berdiri di kiri dan kanan punggung bukit, seperti selembar kain yang disampirkan ke punggung kuda.

Penghasilan utama desa kami adalah kelapa. Hampir di seluruh kebun dapat  ditemui pohon kelapa menjulang tinggi dengan berbagai ukuran. Menurut kebiasaan di desa kami, di setiap kebun tidak dikhususkan satu jenis tanaman, di sela-sela pohon kelapa dapat ditemui pohon jambu mente, pisang, dan juga pohon cokelat. Beberapa juga memanfaatkan tanahnya untuk menanam singkong, jagung, dan kacang tanah.

Seluruh hasil tanah ini selalu membutuhkan tenaga untuk memetik maupun mengangkutnya. Karena itu, peerjjaan utama oara warga di desa kami adalah buruh. Setiap hari ada saja yang dikerjakan warga. Entah mengangkut buah kelapa, janur kelapa, pisang, atau mencabut singkong.

Semula, tidak ada satu pun masalah yang dialami para warga. Tidak ada yang mendapatkan bagian terlalu banyak juga yang tidak kebagian sama sekali. Semua samma rata dan karena itu kehidupan para warga seperti terlihat sangat harmonis. Pergi pagi pulang sore dan mendapatkan uang sekadarnya, yang terpenting tidak lapar besok pagi. Siapa yang menduga keharmonisan ini akhirnya terusik juga pada akhirnya. Dan siapa juga yang bisa menebak kalau ketidakharmonisan itu disebabkan seorang pendatang yang awal kedatangannya disambut dengan sangat baik oleh mereka.

Sejak kedatangan Bireng, sebagian besar pekerjaan seperti telah menjadi miliknya. Jika warga mengangkut kelapa menggunakan potongan bambu yang kurang lebih hanya sedepa dan tentu hanya mampu mengangkut sekitar 30-an butir kelapa, Bireng hadir dengan polongan bambu panjang, dan dengan kondisi yang telah saya jelaskan tadi, ia mampu mengangkat butir kelapa dua kali lebih banyak dari yang lain. Dan seperti tidak merasakan ellah sedikit pun, ia telah balik ke tempat semula sebelum para warga sampai di tempat pengumpulan kelapa. Hal ini berlaku juga untuk pekerjaan yang lain.

Jika saya berada di posisi Bireng mungkin saya akan melakukan hal yang sama. Dengan kemampuan yang saya miliki, maka apa salahnya saya memanfaatkannya dengan maksimal. Akan menjadi hal yang sangat tidak bisa diterima juga apabila saya mampu mengangkut kepala 60 butir, lantas serta merta saya hanya mengangkut 30 butir hanya karena orang lain. Sementara saya sangat membutuhkan uang.

Tapi jika saya di posisi warga, saya juga akan melakukan persis apa yang mereka lakukan. Sebagai penduduk asli, tidak mungkin saya akan membiarkan oranng asing begitu saja menguasai desa saya, dan merelakan diri saya kalah tanpa ada sedikit pun perlawanan, ya sekalipun itu karena kesalahan saya sendiri.

Inilah yang menyebabkan saya memilih menjadi orang netral. Karena saya tidak benar-benar mengerti keadaan mereka. Saya bukan pendatang yang memiliki tenaga kuda, juga bukan warga yang hidup dari buruh. Saya anak dari salah seorang warga yang memiliki kebun paling luas di desa ini, karenanya saya tidak perlu susah. Saya menulis kisah ini untuk mengabarkan kepada pembaca apakaha da kisah semacam ini di belahan dunia selain di desa saya.

Ada suara orang memanggil saya di luar . Itu ibu, pasti ada hal penting. Saya akan melanjutkan kisah ini. Sepertinya ada satu pertanyaan yang belum terjawab. Siapa nama asli Bireng dan kenapa dia dipanggil Bireng.

Setahuku, nama asli Bireng adalah Mungko. Nama yang aneh menurutku. Tapi lama-kelamaan nama ini menjadi biasa bahkan sebuah nama yang bagus. Awalnya, para warga dengan senang hati memanggil dia dengan nama aslinya. Tentu sebelum para warga tahu kalau dia adalah orang serakah, setidaknya begitu penilaian warga padanya. Geli juga mengatakan Mungko adalah orang serakah.

Setelah Mungko menguasai hampir sleuruh pekerjaan, salah seorang menyebutnya Bireng. Yang kemudian diikuti warga lain, sampai akhirnya menjadi kesepakatan umum. Mungko sendiri tidak masalah dipanggil Bireng, mungkin karena dia tidak tahu apa maksudnya, atau dia tidak tahu maksudnya tapi dia mengira itu karena wara kulitnya.

Ya, Bireng di desa kami artinya hitam. Tapi ada kesalahan di sini, para warga memanggil Mungko dengan Bireng bukan karena warna kulinya yang hitam, tapi karena lagi-lagi menurut warga, Mungko adalah manusia memiliki tabiat yang buruk yang hitam. Saya kira, semuanya telah dijelaskan. Ada banyak hal yang harus saya kabarkan tapi ibu sepertinya benar-benar hendak menyampaikan perkara penting.

Kalian tahu kenapa ibu saya memanggil dengan begitu histeris, terus terang ini pertama kalinya ibu begitu. Ternyata, di rumah Bireng, sedang terjadi keributan besar.

Seperti yang kukatakan di awal, karena tidak ada sanksi untuk sifat mementingkan diri sendiri, para warga akhirnya memutuskan untuk memberikan hukuman yang mereka buat sendiri. Para warga mengabaikan Bireng dengan harapan Bireng merasa benar-benar sendirian di dunia ini. Tetapi ternyata itu tidak berhasil, meskipun para warga telah berusaha sekiat tenaga untuk mengabaikan Bireng, tidak mengajaknya bicara, seolah-olah keberadaannya tidak ada di desa itu, ternyata Bireng baik-baik saja. Sikap Bireng yang baik-baik saja ini dianggap oleh para warga sebagai pengabaian terhadap mereka.

Bireng yang mengabaikan para warga membuat para warga panas. Tidak terima diabaikan oleh orang asing, para warga akhirnya mendatangi rumah Bireng beramai-ramai. Mereka menuntut supaya Bireng tidak menggunakan tenaga sepenuhnya. Ia boleh ikut bekerja kalau ia menggunakan setengah dari tenaganya, agar sama dengan mereka. Kalau tidak, mereka menuntut supaya Bireng meninggalkan desa ini.

Sampai di sini saya masih netral, karena saya merasa tidak berkepentingan apa-apa dengan mereka. Jika Bireng pergi atau tetap tinggal, saya tetap menjadi anak orang yang memiliki kebun paling luas di desa ini. Saya hanya perlu menulis kisah ini, agar ditahu orang lain. ❑ (k)


Arianto Adipurwanto, lahir di Selebung, 1 November 1993. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Belajar  di Departemen Sastra Komunitas Akarpohon.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arianto Adipurwanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 17 Juli 2016



0 Response to "Bireng"