Blind Valentine | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Blind Valentine Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:50 Rating: 4,5

Blind Valentine

“Morin, kamu mau nggak aku kenalin sama Dennis, sepupuku,” kata Nina.

“Oh, boleh,” sahut Morin, pasrah.

“Oke, kalau begitu, gimana kalau kita ketemuan Sabtu sore di Buzz Café?” tanya Nina, sambil menaikkan alisnya dan menyungging senyum.

“Sip!” sahut Morin, sambil mengacungkan jempol, tanda setuju. 


Yeah, another blind date …. Morin membatin dalam hati. Kalau blind date kali ini nanti jadi, berarti sudah kesembilan kalinya Morin menjalani blind date alias kencan buta, kencan dengan seseorang yang belum pernah dikenalnya, dan baru bertemu untuk pertama kalinya dalam acara nge-blind date itu.

Hampir semua teman Morin pernah jadi mak comblang blind date-nya, mulai dari Izny, Wina, Grace, Tiara, Hanny, Agnes, dan Sita. Mereka memperkenalkannya dengan cowok yang beragam, ada yang keturunan Sunda, Jawa, Tionghoa, Padang, dan bahkan India!

Blind date yang kedelapan agak berbeda. Kali ini Morin nge-blind date tanpa bantuan mak comblang dengan Hendrik, cowok Belanda bermata biru, yang dikenalnya gara-gara chatting di internet. Setelah beberapa bulan chatting, Hendrik, yang anak ekspatriat di Kemang itu, akhirnya ngajak Morin nge-date.

Yang bikin Morin sedih dan heran, nggak satupun cowok blind date-nya itu yang ngajak “jadian”. Morin mengira-ngira sendiri apa kira-kira yang jadi penyebabnya. Morin yakin alasannya bukan karena dia terlalu picky, tapi kayaknya cowok-cowok itu yang nggak begitu tertarik dengan dirinya. 

Buktinya, mereka jarang menelponnya setelah acara blind date itu. Kalaupun ada, paling cuma tahan dua minggu, dan setelah itu … goodbye! Karena itu Morin nggak begitu antusias lagi dengan urusan blind date. Soalnya Morin sudah agak sering melakukannya, dan dia sudah “hapal” ending-nya.

Makanya ketika Nina mengajaknya nge-blind date dengan sepupunya yang bernama Dennis itu, Morin pasrah saja. Soalnya nggak enak juga nolak tawaran Nina, teman sekelasnya, yang sudah berulang kali mengajaknya untuk berkenalan dengan Dennis, tapi selama ini selalu ditolaknya.

Morin menghela napas. Ya, dia memang tidak punya alasan untuk menolak tawaran Nina. Lagipula dia memang belum punya pacar. Dan siapa tahu blind date kali ini berbeda dibanding sebelumnya. Siapa tahu juga Dennis memenuhi kriteria cowok idamannya, yang sehat, baik, cakep, dan pintar.

Lagipula sebentar lagi, kan, Valentine. Alangkah senangnya kalau Valentine kali ini Morin sudah punya cowok. Mmm, pasti romantis … ada candle light dinner, bunga mawar, cokelat, boneka teddy bear, cium di kening …. Plak! Morin menepuk pipinya, membuyarkan lamunannya sendiri. 

***
Morin tidak habis mengerti. Barusan malam ini, setelah acara nge-date-nya usai, Dennis bahkan tidak meminta nomor handphone-nya. Itu artinya, Dennis sama sekali tidak tertarik dengan dirinya! Blind date kesembilan ini ternyata jauh lebih buruk dibanding blind date-blind date sebelumnya!

Morin merebahkan dirinya di tempat tidur. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamarnya yang berlukiskan dua cupid, yang terbang di antara bintang-bintang. Cupid, apa yang salah dengan diriku, Kenapa aku belum juga punya pacar? Morin membatin dalam hati, dengan perasaan sedih.

Tanpa sadar, air mata mengalir di pelipisnya. Morin segera bangkit menuju meja rias, mengambil tisu dan menghapus air matanya. Lihat, aku menarik. Tapi kenapa aku belum juga punya pacar? Kali ini pertanyaan Morin tidak lagi ditujukan pada cupid, tapi pada refleksi dirinya sendiri di cermin.

Krriiiinggggg!

Morin tersentak kaget. Ah, siapa pula yang menelpon malam-malam begini. Hhh, nomor tak dikenal! sungut Morin dalam hati, begitu melihat nomor yang tampak pada layar handphone-nya. Tapi rasa penasaran memaksa Morin menerima telepon itu.

“Halo?” sapa Morin, hati-hati.

“Hai, Morin. Ini Dennis,” kata suara tenor di seberang sana.

Oh! Morin merasa kerongkongannya seperti tercekat.

“Maaf, kalau saya menelponmu malam-malam begini,” kata Denis. “Tapi saya pengen banget ngelanjutin obrolan seru kita di café tadi. Begitu sampai di rumah, saya baru sadar kalau saya belum mencatat nomor ha-pe-mu. Akhirnya saya tanya Nina. Now I feel stupid.”

“Hey, nggak apa-apa, kok,” sahut Morin, buru-buru.

Morin nggak nyangka kalau Dennis ternyata tertarik dengan ceritanya soal keinginannya untuk wild adventure ke Mesir, untuk melihat piramida, Sphinx, hieroglyphics*, Luxor, dan Sungai Nil. Ternyata Dennis juga punya keinginan yang sama. Tanpa terasa sudah tiga jam lebih Morin ngobrol dengan Dennis.

“Wah, sudah tengah malam, you must sleep now,” kata Dennis.

“Oh, yeah, you too,” sahut Morin.

“Tapi, tunggu! Saya punya satu permintaan buat kamu. Morin, would you be my valentine?” tanya Dennis, mesra.

Deg! Morin benar-benar terkejut dan hampir nggak percaya dengan ucapan Dennis barusan. Senyumnya langsung mengembang. Dipandanginya dua cupid di langit-langit kamarnya. Ouw, thanks cupid, I finally find my valentine …. Morin membatin dalam hatinya dengan perasaan amat bahagia.

“Yes, Dennis. I would.”


Keterangan:
Hieroglyphics: Relief tulisan Mesir kuno di dinding batu

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jessie
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Gadis" edisi April 2002

0 Response to "Blind Valentine"