Buntalan Mikail | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Buntalan Mikail Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Buntalan Mikail

MIKAIL melipat mendung, kemudian memasukkannya dalam buntalan bawaannya. Ia hendak beranjak, namun memergokiku yang sedang menatapnya tidak percaya. Seketika aku sadar telah berada pada tempat yang salah.

"Hai! Kau yang mencuri dari buntalanku?"

Aku harus cepat-cepat menghilang dari tempat ini. Aku berbalik dan mulai berlari, memutar otak, berpikir tentang tempat yang harus dituju.

"Jangan lari! Kau!" ujarnya penuh amarah.

Langkah kakiku menjadi sangat berat.

Terdengar suara benda jatuh, mungkin itu sebuah papan iklan yang berada di pinggir jalan tepat di belakangku. Hati ini menjadi bergejolak. Aku melirik sebuah gang semprit yang berada di sebelah kiri, tapi kakiku benar-benar sudah terpaku pada bumi. Aku belum pernah bertemu malaikat sebelumnya. Kini dia menuduhku telah mencuri dari buntalannya. Tampaknya aku butuh pengacara.


TERLIHAT jelas kesedihan di wajah Mikail ketika ia duduk berselonjor kaki di trotoar. Berbagai kendaraan dan para pejalan kaki terus berlalu lalang, dan mereka tak sedikit pun menoleh ke arah kami. Di kota ini kau hanya perlu memedulikan diri sendiri.

Terdengar klakson keras dari sebuah mobil sedan yang sepertinya sedang sangat terburu-buru. Di depannya seorang lelaki beruban turun dari mobil berwarna gelap. Ia berjongkok melihat ban depannya yang kempes, kemudian memaki dengan keras. Mobil-mobil di belakangnya mulai berbaris berderet sambil membunyikan klakson sahut-menyahut. Lelaki beruban itu menunjuk-nunjuk ke arah ban yang kempes. Sementara di sebelah kanan mobil-mobil juga merayap lambat, membuat mobil sedan itu tidak punya ruang untuk mendahului mobil yang sedang mogok.

"Kamu yakin tidak mencuri dari buntalanku?" Mikail kembali menanyakan hal yang sama.

"Aku hanya seorang musafir di kota ini. Kenapa aku harus mencuri dari buntalan seorang malaiakt?" aku balik bertanya.

Kulihat air muka Mikail berubah-ubah. Dan itu bukan milik manusia. Andaikan yang berlalu-lalang sedikit saja memperhatikan gurat di wajahnya, mereka akan langsung menyadari ada malaikat di sini.

"Jadi siapa yang telah mengambil dari buntalanku?"

"Kamu telah kehilangan sesuatu yang sangat penting?"

"Aku kehilangan ratusan hujan setiap harinya."

"Jadi itu alasanmu melipat mendung tadi?"

Yang terdengar hanya deru mobil dan rentetan klakson.

"Kupikir kamu seperti anak kecil saja, Mikail."

Mikail menatap ke arahku. Aku ingin mencabut perkataanku sendiri.

"Maksudmu?"

Lelaki beruban itu mencoba memasang dongkrak ke as ban depan yang kempes. Pengemudi sedan di belakangnya turun dari mobil, kemudian merapal berbagai jenis caci maki. Kedongkolan terlihat jelas di parasnya. Lalu ia mengambil telepon genggamnya dari saku kemeja putih berkerah merah dan lis yang sama di lengan dan bahu.

"Kota ini sudah lama menderita kemarau. Lihat tanaman di pinggir jalan itu! Dengarkan tangisnya. Tidakkah kamu sedikit iba? Tak seharusnya kamu melipat mendung tadi." Akhirnya kuputuskan berlaku jujur.

Mikail menunduk, kupikir ia memahami ucapanku tadi.

"Masalahnya tidak semudah itu, anak muda. Akibat pencurian hujan, terjadi ketidakseimbangan dalam buntalanku. Aku khawatir kalau ini terus berlanjut, maka atmosfer menjadi semakin timpang. Dan...."

Paras Mikail terlihat aneh.

"Dan?" tanyaku tidak sabaran.

"Bisa jadi hujan badai akan meluluhlantakkan kota. Atau malah kemarau akan tejradi dalam waktu yang sangat lama. Hingga bahkan kaktus pun mati."

"Tidak bisakah kamu mengatasi masalah itu?"

Mikail menggeleng.

Aku tercekat. Ini akan sangat mengerikan.

"Kupikir kita harus segera menemukan pencuri hujan itu."

Lelaki beruban itu menyeret ban serep dari bagasi mobilnya. Pengemudi di belakangnya terlihat marah-marah di telepon. Sepertinya ia kehilangan satu kesempatan berharga. Tangan sebelah kirinya membetulkan kerah kemeja. Dan tiba-tiba aku menyadari satu penting. Tentang pencuri dari buntalan Mikail.

"Mikail, sepertinya aku menemukan pencuri itu!"

Manusia pemarah yang suka berkumpul di jalan tidak layak didekati. 


"YAKIN kita sudah berada pada koordinat yang tepat?" tanya seorang lelaki berseragam pada pilot helikopter yang mereka tumpangi.

Sang pilot mengangguk. "Sekarang giliranmu, Bung."

Lelaki berseragam itu menekan katup pembuka corong pembuangan. 1.000 kg urea, CaCl2, dan sodium klorida terbang keluar menuju awan kumulus yang sedang berkembang. Proses pembuatan hujan pun mulai.

"Selesai. Kita pulang sekarang," ujar lelaki berseragam itu. "Aku harus menghadiri acara ulang tahun anakku. Kenapa pula aku harus menggantikan tugas Rustam hari ini? Seharusnya aku sudah pulang dari tadi."

"Sabar, Bung. Sebentar lagi kau akan bertemu anakmu. Anggap saja hujan yang turun nanti sebagai hadiah ulang tahun untuk anakmu."

Pilot membawa helikopter itu menuju ke pangkalan. Di belakang mereka, awan tadi mulai menghitam.

Terdengar suara petir menyambar.

"Kamu yakin kita tidak membuat kesalahan tadi?" ujar pilot sambil melihat ke belakang.

"Bukannya kau yang memastikan titik koordinatnya?"

Lelaki di belakangnya malah nalik bertanya. "Tapi seharusnya tidak seekstrem ini," lanjut lelaki itu lagi sambil melihat ke belakang.

Tergambar jelas kecemasan di paras keduanya.


"KATAKAN! Katakan siapa dia, anak muda?" Tangan Mikail mengguncang-guncang bahuku dengan keras.

"Sakit! Lepaskan! Jangan sembarang memakai tenaga malaikat." Tulang bahuku seakan retak akibat cengkeramannya.

Dia melepaskan bahuku tanpa rasa bersalah.

"Kupikir ini hanya kesalahpahaman saja," ujarku seraya mengusap-usap bahuku yang masih sakit.

"Jangan bercanda, anak muda."

Lelaki beruban itu mengembalikan dongkrak ke bagasi mobil, pertanda masalahnya sudah selesai. Pengemudi berseragam di belakangnya kembali duduk di kemudi. Tampangnya sudah tidak sekusut tadi lagi.

"Masalah ini sangat rumit, Mikail. Kupikir kamu tidak akan mengerti."

"Katakan saja. Jangan mempermainkan aku, anak muda."

"Namaku Orin," aku memperkenalkan diri seraya berpikir bagaimana caranya menjelaskan masalah ini pada Mikail.

Mobil lelaki beruban itu sudah mulai meninggalkan tempat. Begitu pun dengan mobil sedan di belakangnya.

"Kamu pernah mendengar istilah bayi tabung, Mikail?" tanyaku kemudian. Dan detik itu pula, aku menyesal telah berpikir tidak membutuhkan pengacara. Kilat dan petir kecil menyambar-nyambar buntalan yang disandang  Mikail.

Citra seragam pengemudi sedan tadi muncul di kepalaku. Hanya dengan menyebut satu kata, masalhku selesai. Mikail pasti akan melepaskanku. Namun apakah ini bijak? Bagaimana aku bisa hidup setelah itu?"

Mikail menatap langit, kemudian berteriak sekencang-kencangnya. Aku mendangar suara papan iklan jatuh dan kemudian, suara tiang listrik roboh. Dan langit berubah lebih gelap. Badai telah mengamuk. Petir itu speerti menyambar-nyambar buntalan yang dibawa Mikail. AKu mencoba bertiarap di trotoar.

"Mikail! Ini apa?" aku berteriak mencari perhatian sang malaikat.

"Ada yang kembali mencuri dari buntalanku," ujarnya berang.

"Dan kamu ingin menghukum semua orang?" tanyaku di antara bunyi benda-benda jatuh dan petir yang menggila. Hanya hujan tak kunjung turun.

Dari jauh aku melihat sebuah titik hitam dikejar sebuah pusaran. Titik itu semakin jelas membentuk sebuah capung besi baja. Pusaran itu menelan apa pun yang dilakuinya.

Helikopter itu berlomba dengan badai di belakangnya.

"Mikail, kupikir kamu harus menolong mereka." Aku berpaling ke tempat malaikat itu berdiri. Kosong, tak ada siapa-siapa di sana.

Dan sebuah papan iklan jatuh di sebelah kiriku.

Ida Fitri bekerja sebagai penyuluh kesehatan masyarakat di Aceh Timur.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ida Fitri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 22 - 23 Juli 2016

0 Response to "Buntalan Mikail"