Cerita Kota di Atas Awan - Balada Orang Pinggiran - Retak Telapak Kaki Mamak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cerita Kota di Atas Awan - Balada Orang Pinggiran - Retak Telapak Kaki Mamak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:38 Rating: 4,5

Cerita Kota di Atas Awan - Balada Orang Pinggiran - Retak Telapak Kaki Mamak

Cerita Kota di Atas Awan 

dari atas awan
dengan susunan kota
yang megah dan tersenyum masam
masih aku dengar keluh kesahnya

Orang-orang begitu sennag mengutuk
kota sendiri. Mereka yang mengenakan
baju-baju kemeja dan dasi kupu-kupu.
Tetapi ada juga orang yang merasa sedih
melihat mereka yang serba mengutuk-
kutuk apapun, dialah orang yang menyambung
hidup dengan menikmati kota ini dengan 
saling bersenandung dengan awan dan langitnya.

Aku masih mendengar keluh kesah kota itu.
Para tikus berkemeja katun menikmati
dunia penuh dosa, tukang-tukang mengemis pekerjaan
yang mereka pun belum tahu apa kerjaannya.

Orang-orang yang tak mampu aku sbeut namanya
satu per satu, misalkan saja: Ardy,
seseorang yang masih berdendang dengan awan dan langit,
saat kotanya sendiri penuh akan caci maki dan...

cukuplah, Ardy. Cukup! Bawa teman-temanmu
menuju keamanan kota. Jangan melawan
kodrat kota yang penuh suka-suka.
Ingat! Di atas sini, aku akan terus memantaumu.

Kota Sastra | 2016

Balada Orang Pinggiran

di pinggiran jalan yang macet
para pengemis berbaris
wanita-wanita setan
memberhentikan mobil sedan

jalan ini begitu ramai
dipenuhi asap kendaraan
wanita-wanita setan
memberhentikan mobil sedan
mobil yang dilunasi
dengan hasil korupsi

di jalan yang terlaknat ini
kutanam ludah
di belokan lampu merah
anak-anak pengemis
meringis
menahan tangis

sebab, uang mereka habis
di makan koruptor
yang membayarkannya
pada mobil sedan
untuk menjemput
wanita-wanita setan.

Gubuk Sastra | 2015

Retak Telapak Kaki Mamak

adalah, ketika musim kering dan hujan bermukim
sempat kau tuturkan alkisah
kemarau panjang menuliskan sejarah
ketika, sandal jepitmu berwarna merah
menjelma lautan darah.

pada telapakmu yang kemarau
keringat terus saja menetes
sampai sawah yang kau injak
menghitam berpupuk cemas.

angin berpuing-puing memilih
menjalin semangat yang semakin dingin
hingga telapak kakimu berkeriput
bak retak yang kian melaut.

mulutmu berbisa rengek di telingaku
minta sandal jepit yang baru
agar tak rusak ditelan waktu

kau tengadah, kepada langit yang tak basah, kau berdesah
kau rela tubuh tuamu menahan segala ruah desah

"nak, kelak janganlah dosa kau peranak - pinak
jadilah orang yang tegak,
jangan seperti mamak, hidup dengan merangkak.
menghadapi hari-hari yang harus mamak tapak,
meski dengan telapak kaki mulai retak".

pada aretak di telapak kaki mamak
kelak mamak akan bertanya-tanya,
mungkinkah, masih ada surga di dalam sana?

Gubuk Sastra | 2015


Muhammad de Putra, siswa kelas VIII SMPN Slak Hulu, Kampar. Puisi-puisi telah tersebar di pelbagai media massa di Indonesia. Berdomisili di Pekanbaru.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad de Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 10 Juli 2016

0 Response to "Cerita Kota di Atas Awan - Balada Orang Pinggiran - Retak Telapak Kaki Mamak"