Dalam Cahaya Temaram | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dalam Cahaya Temaram Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:58 Rating: 4,5

Dalam Cahaya Temaram

KORIDOR SMA 3 mulai senyap. Har melangkah gontai. DI benaknya masih terngiang-ngiang kata-kata Pak Tugiman sebelum dirinya meninggalkan kelas XII Sos 1.

"Har, minggu depan ujian nasional. Sampaikan sama Bapakmu, tunggakan SPP segera dilunasi."

"Kalau belum lunas, artinya saya batal ikut UNAS Pak?"

"Bisa jadi. Kalaupun boleh ikut, kamu harus antre kartu sementara. Bapak sih berharap semua siswa SMA 3fokus mengerjakan soal-soal saja. Tidak ada yang berdesakan mengambil kartu sementara."

Angin siang menjelang sore bertiup sepoi. Har mendengus kesal ketika mendapati tulisan di dinding perpustakaan "SETIAP WARGA BERHAK MENDAPATKAN PENDIDIKAN."

"Mas Har.... tunggu!"

Har menghentikan langkah. Seorang gadis berjilbab melangkah dengan tergesa-gesa. Nia, sepupunya yang duduk di kelas X.

"Kok mukanya kusut gitu, Mas? Ada amsalah?" tanya Nia setelah langkah mereka agak berjajar. Har menjawab dengan anggukan kepala.

"Ayolah cerita. Siapa tahu Nia bisa ngebantu."

"Masalahku apalagi kalau bukan soal SPP menunggak," curhat Har akhirnya.

"Apa perlu Nia minta bantuan Ayah. Minggu depan Mas Har UNAS kan?" Nia meminta persetujuan. Har menggelengkan kepala.

"Kamu dan Lik Sarpan sudah membantu kami. Lik Sarpan yang ngasih uang waktu daftar ulang saat Bapak kebingungan cari uang untuk daftar ulang masuk SMA 3. Hampir setahun ini aku juga nebeng matic kamu."

"Mas Har, kita kan saudara. Guna saudara kan saling membantu satu sama lain."

"Pokoknya aku ndak mau ngerepotin kamu dan Lik Sarpan lagi. Titik," tegas Har. Nia mengulurkan kontak motor maticnya.

***
MAGHRIB hampir datang. Har sedang sibuk memasukkan dan menata kerupuk-kerupuk mie ke dalam plastik besar berwarna bening.

"Belum pulang Har?" tanya Lik Yanto pemilik pabrik kerupuk mie tempat Har bekerja sepulang skeolah.

"Sebentar lagi Lik. Mmmm... Lik, minggu depan Har ujian nasional. Mungkin Har selama seminggu tidka masuk kerja."

"Padahal pemesan kerupuk sedang banyak-banyaknya Har. Tapi karena ujian, Lik kasih izin. Belajar yang rajin dan tekun ya! Jangan lupa berdoa."

"Lik...."

"Hmmm..."

"Har mau pinjam uang buat melunasi SPP. Ada Lik?"

"Har.... Har.... Kamu kan tahu kemarin Lik habis nyetok tepung tapioka. Kalaupun sisa, kan buat gajian kamu dan karyawan lain."

"Tapi Lik...."

"Har, utangmu masih banyak. Tapi karena kamu butuh uang, gajian kamu minggu ini tidak Lik potong. Bagaimana?" Lik Yanto memberi jalan tengah. Mau tak mau Har menganggukkan kepala sebelum akhirnya berpamitan pulang.

Har sampai di rumahnya bertepatan kumandang azan dari Musala Nurhidayah.

"Baru pulang Har?" tanya Pak Karso, ayahnya.

"Inggih Pak," jawab har singkat.

"Har kamu gajian?" tanya Pak Karso sembari memakai peci hitam, bersiap-siap menuju musala. Har menganggukkan kepala.

"Bapak pinjam RP 30 ribu ada?"

"Ngapunten Pak, uang Har nantinya buat bayar tunggakan SPP. Itupun belum lunas."

"Yo wis, buat bayar SPP dulu. Maafkan Bapak ya Har! Harusnya kamu dan Ed tugasnya belajar dan sekolah saja. Kalian malah bekerja sepulang sekolah. Bapak memang bukan Bapak yang baik."

"Bapak nggak boleh ngomong seperti itu. Smeenjak ibu meninggal. Bapak bekerja keras menjadi Ayah sekaligus Ibu buat kami."

***
MENTARI pagi yang seharusnya hangat dan segar terasa begitu terik dan menyengat bagi Har dan murid-murid kelas XII yang berdesakan demi mendapatkan kartu sementara agar bisa ikut ujian. Sementara itu, teman-temannya yang berasal dari kalangan berada atengah asyik membaca dan mengerjakan soal demi soal yang ada di kertas ujian.

Har menarik napas lega setelah kartu sementara yang didapatnya dengan susah payah  berhasil dalam genggaman. Har berlari menuju ruang ujian setelah berkali-kali mengucap syukur.

Begitu sampai di kelas, setelah menyapa guru penjaga, Har menuju bangkunya.

***
MAGHRIB belum tiba. Lampu di rumah Har belum menyala. Ya, rumah Har memang belum pasang listrik sendiri, tapi menyalur di rumah Mak Saedah yang rumahnya berada di belakang rumah mereka.

"Pak tumben kok Mak Saedah belum nyalain lampu? Bakda Maghrib kan Har harus belajar."

"Sabar ya Har, sementara slauran listrik di rumah ini diputus. Kalau sudah bayar baru disambung lagi.

"Tapi pak, Mas Har kan besok ujian. Kasihan kan?" sela Ed yang sudah memakai sarung, baju koko dan peci.

"Tadi Bapak juga sudah ngomong agar jangan diputus dulu. Maafkan Bapak ya Har, Ed. Bapak memang orangtua yang tak berguna."

Suasana hening. Ed dan Har menyesal telah membuat bapaknya sedih.

"Pak, Ed, daripada bengong, mending kita cari di mana lampu-lampu teplok. Ed, sebelum ke musala, tolong belikan minyak tanah di toko SARI. Seingatku di sana ada minyak tanah. Uangnya ada di saku seragam Mas Har."

"Beres Bos."

***
MALAM ini rumah Har nampak lenggang. Selain cahayanya yang temaram, Ed sedang ke rumah Bas sahabatnya. Pak Karso sedang ke rumah Bu Gendi, hendak mengambil upah buruh macul selama tiga hari. Hanya Har yang sedang berjibaku dengan tumpukan buku catatan dan buku paket pelajaran.

"Dalam cahaya temaram." Har berujar berkali-kali dalam hati. Har berjanji belajar sebaik mungkin. Berusaha sekuat mungkin agar esok dirinya dan keluarganya hidup lebih baik. Dalam cahaya temaram, Har tak putus berdoa kepada Allah agar besok diberi kemudahan mengerjakan soal-soal ujian. 

Sutono Adiwerna, Jalan Pertanian no 15 Harjosari Kidul RT 16/04 Adiwerna, Tegal.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sutono Adiwerna


[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu 24 Juli 2016

0 Response to "Dalam Cahaya Temaram"