Darojat dan Istrinya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Darojat dan Istrinya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:06 Rating: 4,5

Darojat dan Istrinya

DAROJAT benar-benar tidak tahu mengapa akhirnya dia menikah dengan Driani. Driani juga benar-benar tidak tahu mengapa akhirnya dia menikah dengan Darojat. Memang, sebelum menikah, kadang-kadang mereka merasa sama-sama senang, kadang-kadang merasa sama-sama membenci, dan kadang-kadang saling tidak peduli sama sekali. Tidak jarang pula Darojat menganggap Driani kotor dan menjijikkan, demikian pula anggapan Driani terhadap Darojat.

Darojat ganteng dan pandai, dan karena itu, jangan heran manakala dia berhasil menjadi dokter spesialis penyakit dalam terkemuka. Pasiennya banyak, dan semua pasien merasa senang dirawat oleh Darojat, dan Darojat bertindak dengan sangat profesional, termasuk dalam menarik biaya dari pasien-pasiennya. Kalau penghasilannya dikumpulkan dan dibelikan emas, bisa dipastikan, dalam waktu singkat dia mampu dengan mudah mengumpulkan berbatang-batang emas antam.

Driani cantik dan pandai, dan karena itu, jangan heran manakala dia berhasil mendapatkan kedudukan tinggi di sebuah perusahaan internasional eskpor hasil tambang. Perusahaan tempat dia bekerja dengan cepat mengeruk emas, perak, tembaga, dan perunggu di sekian banyak kawasan, dan sesudah itu meninggalkan kawasan itu dalam keadaan rusak. Jangan heran, manakala gaji Driani juga sangat tinggi.

Pertemuan pertama kali terjadi ketika kebetulan mereka terbang bersama-sama ke Abu Dhabi, salah satu kota industri besar di Timur Tengah. Darojat terbang dengan biaya perusahaan obato-batan, untuk konferensi para dok ter spesialis penyakit dalam, dan Driani terbang untuk urusan ekspansi dengan perusahaan-perusahaan lain dalam usaha perhotelan di berbagai daerah wisata dunia, antara lain di Bahama.

Selama enam jam penerbangan, mereka sempat saling melirik, mengadakan percakapan pendek-pendek, dan kadang-kadang ditambah dengan saling pegang tangan. Selebihnya mereka lebih banyak diam. Darojat sibuk membuka-buka tabletnya, mencari informasi baru mengenai obat-obatan, dan Driani sibuk membuka tabletnya yang penuh dengan angka, tabel, dan banyak gambar panah.

Di luar pengetahuan Driani, Darojat sempat membuka gambar-gambar cabul, dan di luar pengetahuan Darojat, Driani juga sempat membuka-buka gambar yang sama sekali tidak pantas ditonton oleh siapa pun.

Ketika berpisah di Abu Dhabi, masing-masing mereka agak yakin, tapi tidak benar-benar yakin, bahwa mereka saling jatuh cinta. Darojat merasa ada gejala aneh dan berbahaya pada Driani, dan insting Driani samar-samar menyatakan, ada gejala aneh dan berbahaya pada Darojat. Andaikata nanti mereka menikah, demikianlah kata hati dua orang itu secara samar-samar, mungkin gejala inilah yang akan memperkuat persatuan mereka.

Ketika mereka keluar dari bandara, matahari sudah tenggelam di balik kaki langit. Darojat dijemput oleh mobil perusahaan obat-obatan, dan Driani di jemput oleh mobil perusahaan perhotelan. Di dalam mobil, Darojat berpikir, jangan-jangan dia tertarik pada Driani, dan Driani juga berpikir jangan-jangan dia tertarik pada Darojat.

Begitu masuk di kamar hotel, Darojat meneliti tubuhnya inci demi inci, untuk meyakinkan diri sendiri, seandainya dia tertarik pada Driani, apakah tubuhnya cukup menarik bagi Driani. Pada saat bersamaan, Driani juga meneliti tubuhnya inci demi inci, sampai lama sekali, dan akhirnya me ngeluh: “Tubuh saya terlalu jelek. Darojat tidak mungkin tertarik pada saya.”

Sebelum tidur, dua orang ini diam-diam sempat membuka-buka video mesum sambil membayangkan, yang bermain dalam video adalah Driani dan Darojat sendiri.

Lebih kurang tiga bulan setelah mereka berada di Surabaya kembali, masing-masing terperanjat ketika mereka bertemu lagi dalam sebuah pesta Hari Kemerdekaan Amerika di taman belakang kantor Konsulat Jenderal Amerika. Masing-masing gemetar, dan tidak mampu mengucapkan apa pun juga. Barulah setelah acara bersulang untuk kesejahteraan rakyat Amerika disusul dengan bersulang untuk kesejahteraan rakyat Indonesia, mereka bercakap-cakap, mula-mula kaku, lama kelamaan lancar. Dan malam itu juga mereka berjanji akan bertemu lagi untuk makan di restoran di Jalan HR Muhammad, lalu berjalan-jalan, disambung nonton bioskop.

Sesuai dengan perjanjian, pada waktu yang hampir bersamaan mereka tiba di restoran, lalu diantarkan oleh pelayan ber ajah manis ke meja makan. Begitu duduk, Driani membuka tasnya, mengambil laptopnya, lalu menyalakannya.

“Pemerintah brengsek,” kata Driani, dengan nada kesal.

“Peraturan berganti-ganti terus,” sambungnya dengan nada anjing menggonggong kelaparan. “Rumit! Rumit! Rumit,” dan matanya tetap menatap layar laptop.

Setelah tertegun beberapa saat, Darojat bertanya: “Mau pesan apa?”

“Kamu mau pesan apa?” Darojat mengulangi pertanyaannya.

“Mosok kamu tidak tahu saya sibuk?” jawab Driani dengan menguap.

“Kurang tidur! Pemerintah brengsek!” nadanya seperti anjing menggonggong, sambil beberapa kali menguap.

Pelayan menunggu dengan sikap sigap dan hormat, dan tetap menunggu. Darojat memberi isyarat kepada pelayan untuk pergi, dan datang kembali apabila nanti dipanggil.

Pelayan pun pergi.

Setelah menunggu agak lama, Darojat bertanya: “Driani, apakah kamu mencintai saya?”

Dia sendiri bingung, dan menyesal kok tanpa berpikir panjang dia mengucapkan kalimat sinting itu.

Tanpa diduga, Driani memandang Darojat dengan mata menyala-nyala, disulut oleh kemarahan.

“Darojat! Kamu punya hati apa tidak? Kamu punya perasaan atau tidak?”

Cara bicara Driani mirip anjing menggonggong yang siap menyerbu musuhnya.

Mata menyala-nyala itu dalam waktu singkat meredup, kemudian keluarlah air matanya, perlahan-lahan membasahi pipinya.

Lalu, dengan tergesa-gesa Driani menutup laptopnya, pergi, tanpa mau dicegah.

Karena itu, ketika akhirnya mereka menikah, masing-masing mereka benar-benar tidak tahu mengapa mereka bisa menikah.

Seperti biasa, kelanjutan menikah, sebagaimana yang diajarkan oleh semua agama, adalah mempunyai anak. Kewajiban manusia, tidak lain dan tidak bukan, adalah melahirkan generasi baru yang hebat dan cemerlang. Karena itulah, semua agama memberi tuntunan kepada semua suami istri, berupa doa-doa untuk kebahagiaan dan kebesaran anak-anak mereka.

Ketika Darojat menyatakan keinginannya untuk mempunyai anak, Driani menunjukkan sikap kesal, dan ketika Driani menginginkan anak, Darojat tetap diam, seolah-olah Driani tidak pernah mengatakan apa-apa.

Kadang-kadang pula mereka berdebat keras apa sebaiknya punya anak atau tidak. Kalau perdebatan mereka terbentur jalan buntu, mereka menggantungkan diri pada suara tokek.

“Tokek…” Darojat bilang “punya anak,” sedangkan Driani bilang “tidak punya anak.” Dan setiap kali tokek bersuara untuk kesekian kalinya, pasti suara tokek makin mengecil dan makin mengecil, makin meredup dan makin meredup. Secara serempak Darojat dan Driani menyimpulkan bahwa kesimpulan dari suara tokek tidak bisa dipercaya.

Bukan hanya itu. Kalau Driani ingin tidur satu tempat tidur dengan Darojat, Darojat menolak, demikian pula sebaliknya. Alasan mereka kadang-kadang ngawur, kadang-kadang asal-asalan, kadang-kadang masuk akal.

Akhirnya mereka memutuskan, sebelum tidur mereka harus membersihkan tubuh dulu, lalu memakai parfum. Dengan demikian, kata mereka, mereka akan saling tertarik. Tetapi, tidak jarang bau parfum justru menimbulkan perasaan mual. Kalau Darojat muntah karena mual, Driani benar-benar merasa dihina, demikian pula apabila Driani muntah karena mual. Dan kalau kedua-duanya muntah, itulah pertanda bahwa mereka tidak menghendaki satu sama lain.

Dan akhirnya, tepat pada waktu bersamaan, samar-samar di dalam hati, mereka ingin punya anak. Apakah mereka benar-benar ingin mempunyai anak, mereka tidak begitu yakin. Driani sering pulang malam, nglembur di kantor, dan pulang membawa laptopnya untuk dibukanya lagi. Darojat, demi ke manusiaan, demikianlah kata dia, harus menyempatkan banyak waktu, bahkan terlalu banyak, untuk memikirkan kesehatan begitu banyak pasiennya. Dan sering, ketika sedang berhadapan dengan pasien, pikirannya berkelebat ingin punya uang lebih banyak. Tarif dinaikkan, dan pasien tetap datang. Bahkan ada yang bangga, makin mahal tarifnya, percaya bahwa dokternya makin bagus, apalagi kalau obatnya juga mahal-mahal.

Darojat tahu betul, harga pepaya pada penjual pepaya di pinggir jalan sangat murah. Kalau pepaya yang sama masuk ke plaza menjadi mahal, dan kalau masuk di hotel bintang lima harganya bisa berlipat-lipat lebih mahal. Dan dia bukan penjual pepaya di pinggir jalan, bukan pula di plaza, tapi di hotel internasional paling mahal.

Entah mengapa, pada suatu hari salah seorang dari mereka, entah Darojat entah Driani, berkata: “Bagaimana kalau kita punya anak, ya?”

“Untuk apa?”

“Tentu saja untuk main-main.”

Tanpa sadar mereka tertawa terbahak-bahak, dan akhirnya mereka memang punya anak. Setelah punya anak, ternyata mereka kecewa, dan bertanya kepada diri sendiri: “Untuk apa punya anak?”

Karena bayi sudah telanjur lahir dengan kelamin laki-laki, mau tidak mau bayi harus diberi nama. Dengan kesepakatan bulat, bayi diberi nama Triman, dan makna Triman tidak lain adalah menerima segala sesuatunya dengan ikhlas dan puas. Andaikata Triman kelak menjadi pengemis, pasti Triman ikhlas menjadi pengemis, dan puas akan kedudukannya sebagai pengemis. Andaikata kelak Triman menjadi pencopet, Triman juga pasti akan ikhlas menjadi pencopet, dan puas dengan kedudukannya sebagai pencopet. Dalam pikiran masing-masing suami istri ini ada banyak “andaikata,” dan “andaikata” ini selalu mengarah ke yang buruk-buruk, misalnya tukang tadah barang curian, tukang becak yang tidak laku, atau gelandangan yang kepalanya pecah berantakan digilas mobil. Tidak ada satu pun “andaikata” yang indah bagi Triman, misalnya duta besar, menteri perdagangan, gubernur, atau lain-lain yang derajatnya terhormat.

Ternyata, mempunyai anak membawa penyesalan. Darojat dan Driani merasa ada sesuatu yang menjijikkan pada Triman. Bukan, bukan sesuatu, tapi Triman sendiri adalah makhluk yang menjijikkan. Driani harus mengurangi beban pekerjaan di kantornya, dan ini sangat dia sesali. Darojat, supaya tampak sebagai ayah yang bertanggung jawab, agak mengabaikan pasien-pasiennya.

Maka lahirlah kesepakatan, meskipun di rumah sudah ada tiga pelayan, tiga orang suster harus dipanggil, dibayar khusus untuk merawat Triman, bergiliran, masing-masing delapan jam sehari.

Dasar Darojat dan Driani, mereka menganggap tiga suster ini mau bekerja hanya karena mengincar upah, dan kalau ada kesempatan mencuri, pasti akan mencuri. Ternyata semua suster itu baik, merawat Triman dengan bersungguh-sungguh, tapi Darojat dan Driani tetap curiga, dan karena itu, kadang-kadang Driani diantar oleh Darojat menggeledah suster-suster itu dengan mata dan kata-kata menuduh.

Pada suatu hari, ketika sedang di geledah untuk kesekian kalinya dalam dua bulan, suster Ruhani berkata: “Tuhan serbatahu. Kalau saya mati dan pernah mencuri, nerakalah tempat saya.” Karena Driani dan Darojat tampak tersentak, suster Ruhani menyambung: “Sebaliknya, mereka yang menuduh saya mencuri, tempatnya pastilah neraka.”

Driani dan Darojat bergidik, dan tidak berani lagi menembak mata suster Ruhani.

Ternyata, ketika Driani dan Darojat menggeledah suster Setiani dan suster Al Amini, jawaban mereka sama, meskipun kata-kata mereka berbeda.

Keinginan untuk memecat tiga suster itu terpaksa diurungkan.

Setelah Triman berumur dua tahun, Darojat dan Driani teringat kembali percakapan mereka dahulu, “punya anak untuk main-main”.

Karena itulah, Darojat dan Driani suka melemparkan Triman kuat-kuat ke atas, lalu Darojat dan Driani berebut untuk menangkapnya, lalu dilemparkan lagi kuat-kuat ke atas, dan mereka berebut lagi untuk menangkapnya. Beberapa kali lemparan mereka sangat kuat, sampai-sampai batok kepala bayi itu hampir menghantam plafon. Dan setiap kali batok kepala bayi itu hampir menghantam plafon, Darojat dan Driani tertawa terbahak-bahak. Bukan hanya itu. Dalam hati, tanpa dikatakan kepada Driani, Darojat benar-benar ingin batok kepala bayi itu menabrak plafon sampai plafonnya ambrol, demikian juga keinginan Driani, dan juga tidak pernah dikatakan kepada Darojat.

Triman sendiri sering diam, pertanda pasrah, sering pula menangis kuat-kuat, sering pula tersenyum-senyum. Kalau kebetulan Triman mengangis kuat-kuat, Darojat dan Driani adu cepat membekap mulut Triman sampai Triman hampir kehabisan napas.

Terceritalah, pada suatu malam Darojat dan Driani menonton televisi, acara rekonstruksi kematian bayi di sebuah daerah yang sangat kotor dan menjijikkan. Ayah bayi adalah tukang becak yang jarang laku, istri tidak mempunyai pekerjaan tetap, mengontrak sebuah kamar yang lebih buruk daripada kandang babi. Kamar sangat sempit, kalau mereka masuk harus membongkok, plafonnya lebih rendah daripada tubuh mereka, dan tempat tidurnya hanya cukup untuk mereka berdua, itu pun kalau mereka mau tidur miring. Begitu mereka terlentang, salah satu, atau kedua-duanya, pasti jatuh. Kalau mereka jatuh, pasti rumah reyot yang mempunyai banyak kamar untuk disewakan itu terguncang-guncang, dan pastilah tetangga mereka akan berteriak-teriak memaki. Tercerita pulalah mereka punya bayi, dan ketika mereka sedang tidur, bayi mereka terhimpit tubuh mereka, dan melayanglah nyawa bayi itu.

Melihat adegan itu Darojat merasa Driani menjadi sangat bersemangat, dan Driani juga merasa Darojat menjadi sangat bersemangat. Selama mereka melihat adegan rekonstruksi, wajah Darojat dan Driani memancarkan kebahagiaan yang luar biasa besar.

Darojat teringat, salah satu kesukaannya ketika kecil adalah main bola, dan Driani teringat, salah satu kesukaannya ketika masih kecil adalah menonton voley. Diam-diam Darojat berkata kepada dirinya sendiri, alangkah bagusnya apabila Triman diperlakukan sebagai bola, disepak ke sana-kemari, dan diam-diam Driani juga berkata kepada dirinya sendiri, alangkah puas hatinya andaikata Triman diperlakukan sebagai bola voley, dipukul ke sana-ke mari. Baik Darojat maupun Driani menutup mulut rapat-rapat, tidak sudi mengatakan pikiran mereka mengenai Triman.

Ditendang ke sana-ke mari? Dipukul ke sana-ke mari? Kalau cacat kan ketahuan.

Tanpa pernah mengaku satu sama lain, pada waktu Darojat tidak ada, Driani membekap mulut dan hidung Triman pada waktu tidur, demikian pula Darojat ketika Driani tidak ada. Setelah Triman betul-betul berkelejatan hampir kehabisan napas, barulah bekapan itu dibuka kembali. Untung, Triman tidak sampai terbangun.

Pada suatu hari, seperti biasa sebelum berangkat kerja, Darojat membaca-baca dua koran, yaitu koran Suara Informasi dan koran Berita Berkata, demikian pula Driani. Karena enggan berbagi, Darojat berlangganan dua koran itu sendiri dan membayar harga langganannya sendiri, Driani juga berlangganan dua koran yang sama, dan membayar harga langganannya sendiri pula.

Setiap hari, dua koran itu pasti meringkas berita-berita penting masa lampau, misalnya tanggal penyerbuan pasukan Sekutu ke Normandia pada waktu Perang Dunia II, awal Perang Korea pada tahun 1950-an, film pertama Charlie Chaplain, dan juga peristiwa-peristiwa penting masa lampau di dalam negeri.

Pagi itu, kebetulan koran Suara Informasi memuat secara ringkas kilas balik Arie Hanggara, dan keesokan harinya, koran Berita Berkata memuat peristiwa sama dari sudut pandang berbeda. Arie Hanggara, anak berusia tujuh tahun, meninggal pada tanggal 8 November 1984 akibat siksaan keji ayah dan ibunya sendiri. Berju-tajuta hujatan dan kutukan menyerbu ayah dan ibu Arie Hanggara, sebelum akhirnya dua orang tua biadab itu dilemparkan ke penjara.

Tanpa diketahui oleh Darojat, Driani bergidik, demikian pula Darojat, tanpa diketahui Driani. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, sudah beberapa kali suster ganti, ada yang menikah dan pindah mengikuti suami, ada yang meninggal, ada yang pulang kampung merawat orang tuanya, tapi untunglah semua suster pengganti berhati mulia. Sebelum meninggalkan Triman, suster lama selalu berpesan kepada suster pengganti untuk benar-benar merawat Triman dengan baik, “seorang anak cerdas, baik hati, suka menolong, dan tidak pernah dikehendaki oleh kedua orang tuanya.”

Setelah tiba waktunya Triman masuk Taman Kanak-Kanak, dan suster-susternya menganjurkan agar Triman di masukkan ke Taman Kanak-Kanak. Dengan berbagai alasan yang terasa dibuat-buat, Darojat dan Driani menolak.

Dan setelah suster-suster itu mendesak lagi, dengan tegas Driani, dengan ditemani Darojat, berkata: “Sekolah Taman Kanak-Kanak kan hanya untuk main-main. Untuk apa saya membayar kamu?”

Kemudian, datanglah waktunya bagi Triman masuk ke SD. Mau tidak mau, Driani dengan diantar Darojat memasukkan ke SD, bukan SD yang baik, tapi SD swasta yang terkenal brengsek. Bukan hanya tiga suster yang protes, tapi juga tiga pembantu rumah tangga. Driani, dengan didukung oleh Darojat ngotot, karena Triman bodoh, tidak ada gunanya menyekolahkan dia ke SD yang baik.

Pada hari pertama Triman masuk, ada pemandangan lucu tapi juga mengharukan. Topi Triman terlalu besar, demikian juga baju, celana, sepatu, dan tas Triman. Karena semua serba kebesaran, ketika angin bertiup agak kencang topi Triman terpelanting, dan ketika Triman akan mengejarnya, beberapa kali dia jatuh bangun karena sepatunya sering lepas. Semua guru dan teman-temannya tertawa mengejek.

Hari kedua sama, demikian juga hari ketiga, dan ejekan guru dan teman-temannya makin menjadi-jadi.

Terpaksalah tiga suster dan tiga pembantu rumah bersepakat untuk menegur Driani: “Ibu sangat terpandang, demikian pula Bapak. Semua orang tahu, Ananda Triman jadi olok-olok. Apakah Ibu tidak malu? Apakah Bapak tidak kehilangan muka?”

Awalnya Driani berpegang teguh pada pendiriannya: “Anak seumur Triman kan cepat besar. Nanti kalau sudah kelas tiga, topinya, bajunya, celananya, sepatunya, tasnya, kan sudah pas. Kalian harus melihat masa depan, dong.”

Setelah diam sejenak, suster Ruhani, atas nama semua suster dan pembantu rumah tangga berkata: “Maaf, semua orang sudah tahu kelakuan Ibu dan Bapak. Kalau Ananda Triman tetap diperlakukan demikian, kami semua akan keluar dengan baik-baik, dan bersedia merawat Ananda Triman dengan baik-baik pula. Ananda Triman harus diselamatkan dari rumah ini.”

Driani terkesiap. Dan setelah Darojat diberi tahu oleh Driani, Darojat sedikit pucat. Keesokan harinya Driani dan Darojat memutuskan semua suster dan pembantu rumah tangga harus tetap bekerja, gaji dinaikkan, dan Triman akan diperlakukan dengan baik.

Setelah lulus SD tanpa ditolong oleh orang tuanya Triman mencari SMP yang baik dan mendaftar sendiri. Demikian juga ketika dia masuk ke SMA, dan demikian pula ketika dia melanjutkan kuliah. Mengenai biaya Triman tidak perlu khawatir, karena ayah dan ibunya sanggup memberinya uang berapa pun, setiap saat. Dan Triman tidak pernah minta yang berlebih-lebihan.

Setelah menjadi mahasiswa, Triman bersahabat dengan seorang dosen baru dan masih sangat muda, Darmono. Karena gagap, sukar berbicara, pada bulan pertama Darmono jadi ejekan semua mahasiswa, kecuali Triman. Pada bulan kedua mahasiswa merasa kasihan kepada Darmono. Dan pada bulan ketiga, ketika mahasiswa sadar bahwa Darmono baik hati dan memberi kuliah dengan sungguh-sungguh, mahasiswa mulai kagum. Persoalan apa pun yang dihadapi mahasiswa, pasti Darmono berusaha menyelesaikannya dengan baik.

Darmono merasa, Triman berbeda dengan teman-temannya, dan karena dari waktu ke waktu Darmono juga melihat perubahan pada Triman. Dalam hati Darmono bersumpah untuk memperlakukan Triman dengan cara khusus.

Dengan cara sopan dan tidak langsung dia bertanya kepada Triman, apa sebetulnya yang telah terjadi pada dirinya. Akhirnya Triman mengaku, pada waktu bermain-main dulu, ketika dia masih kecil, dia terjatuh dari sepeda, dan kepalanya membentur aspal. Sekarang dia sering merasa kepalanya seperti dipukuli dan ditusuk-tusuk dengan benda tajam yang amat panas.

Darmono tahu Triman berbohong, dan berusaha, dengan cara halus, untuk membongkar pengakuan Triman. Beberapa kali Darmono minta Triman untuk menginap di tempat tinggalnya, sebuah bekas garasi dengan pekarangan luas, di pinggir jalan besar. Dan Darmono sering bercerita mengenai kesukaannya, yaitu membeli sepeda motor besar yang sudah tua dan rusak, lalu memperbaikinya sampai sepeda motor itu bisa berlari kencang. Triman sendiri sudah menyaksikan kelebihan Darmono, dan sudah pula diajak Darmono untuk dibonceng keliling kota. Tapi, begitu sepeda motor bergerak, Triman berteriak-teriak, kepalanya seperti dipalu bertubi-tubi.

Pada suatu malam Darmono tertimpa mimpi buruk: Triman meninggal, dengan meninggalkan pesan, supaya dalam iring-iringan mengantarkan jenazah Triman nanti, Darmono bergerak perlahan-lahan paling depan, mengendarai sepeda motor besar dengan sikap gagah. Jangan lupa, Darmono harus memakai pakaian ke besaran sebagai jagoan sepeda motor besar.

Seminggu kemudian Triman meninggal, dan Darmono dengan suka rela memimpin iring-iringan pengantar jenazah ke makam. Darmono juga tidak lupa pakaian kebesarannya.

Iring-iringan pun mulai bergerak, dan Darmono bergerak paling depan, sepeda motornya menderu-deru dengan gagah. Di luar perkiraan, ternyata sepeda motor besar Darmono beberapa kali mogok. Darmono harus beberapa kali turun naik sepeda motor untuk memperbaiki mesinnya. Iring-iringan pun berjalan tersendat-sendat. Beberapa orang mengeluh, beberapa orang merasa kasihan, beberapa orang memaki-maki Darmono, beberapa di antaranya dengan kata-kata kotor. Ada juga yang bersorak-sorak dengan nada sangat girang setiap kali Darmono harus turun dan setiap kali Darmono harus naik lagi.

Menjelang jam 11.30 malam pintu rumah Darmono digedor-gedor dengan sangat kasar oleh tiga orang berbadan kekar dan berwajah algojo. Darmono digelandang ke mobil, lalu mobil dilarikan dengan kencang ke rumah Darojat dan Driani. Darmono ketakutan, tubuhnya menggigil, dan dia tahu wajahnya pasti pucat seperti mayat.

Dugaan Darmono betul, dia akan dimaki-maki oleh Darojat dan Driani.

Dengan mata galak Darojat berkata: “Saya baru datang untuk melayani pasien-pasien saya. Meskipun saya baru kehilangan anak, satu-satunya anak, demi kemanusiaan, saya tidak tega meninggalkan mereka yang memerlukan pertolongan saya.”

Driani menimpali: “Saya juga baru datang sibuk bekerja di kantor. Demi menunjang usaha pemerintah untuk meningkatkan ekspor, saya harus kerja keras. Mengapa kamu tadi mengacau pemakaman anak kami? Satu-satunya anak kami. Harapan masa depan kami dan seluruh bangsa. Dia cerdas, kalau tidak meninggal, pasti dia akan jadi orang penting.”

Begitu Driani berhenti menggonggong, Darojat cepat menyambung: “Triman mengaku, selama bersahabat dengan kamu, kepalanya sering kamu bentur-benturkan ke dinding.”

Darmono tidak tahu mengapa sekonyong-konyong dia tenang. Dan dia juga tidak tahu mengapa dia bisa berbohong: “Seluruh dunia tahu kamu dokter macam apa.”

Darmono juga heran, mengapa sekonyong-konyong dia tidak gagap.

Darmono berbohong lagi: “Wahai perempuan jalang, seluruh dunia tahu dokter bejat ini punya banyak perempuan simpanan. Kamu tidak tahu, kan? Dia tahu Triman tahu. Makanya kepala Triman dibentur-benturkan tembok. Untuk tutup mulut.”

Darmono langsung menyerang Driani dengan kebohongannya: “Wahai, dokter yang terhormat, ketahuilah, istri kamu ini perempuan jalang. Laki-laki simpanannya banyak. Triman tahu, dan kamu tidak tahu. Untuk menutup mulut Triman, perempuan jalang ini membentur-benturkan kepala Triman ke tembok.”

Dengan tenang pula, Darmono menyambung kebohongannya: “Polisi juga sudah tahu, kok.”

Darmono melangkah perlahan-lahan keluar rumah, dan siap berbohong kepada tiga algojo yang selalu mengawasi gerak-geriknya.***


Budi Darma, sastrawan, guru besar Universitas Negeri Surabaya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Darma 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 17 Juli 2016


0 Response to "Darojat dan Istrinya"