Dendam Pulang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dendam Pulang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:21 Rating: 4,5

Dendam Pulang

MASNAWI semakin menggebu untuk pulang kampung. Bukan rindu yang menyebabkan dia ingin segera pulang, tapi dendam dan amarah yang menyulut pikrannya. 

Setelah mendengar kabar, bahwa ibunya kembali dituduh nyantet. Dadanya gemetar. Seketika Masnawi ingat keluarga Saleh yang menuduh ibunya, menyantet saudara Saleh beberapa tahun lalu. Mereka ingin melabrak rumah Masnawi dan mengancam akan membunuh ibunya yang saat itu stres atas tuduhan dan tekanan yang bertubi-tubi. 

"Jika kamu disuruh pulang. Itu berarti kita harus perang." Begitu wasiat Hamin, kakaknya dua tahun lalu. Masnawi heran kenapa keluarga Saleh melakukan itu, padahal mereka terikat hubungan darah dari nenek buyutnya. 

Pasalnya, beberapa detik sebelum meninggal, saudara Saleh menyebut nama ibu Masnawi. Karena itu mereka menuduh ibu Masnawi penyebab kematian saudaranya. 

Saudara Saleh sangat dekat dengan ibu Masnawi, seperti saudara kandung. Kemana-mana bareng. Siang malam mereka bertukar pikiran, baik mengenai pekerjaan saat menjadi TKI di Arab Saudi sampai masalah suaminya yang diam-diam mempunyai simpanan. 

"Bagaimana caranya agar suamiku tidak berpaling dari pangkuanku, Mbak?" Suatu malam tanpa segaja Masnawi mendengar percakapan ibunya dengan saudara Saleh. Hanya saja percakapan selanjutnya terdengar samar dan tak jelas karena ibunya tidak mau ada yang mendengar. 

Masnawi masih ingat tangisan ibunya saat menerima tuntutan keluarga Saleh sumpah pocong. Bagi ibu Masnawi, sumpah pocong hanya akan memperburuk image orang yang meninggal. Jauh di lubuk hati Ibu Masnawi tidak ingin melakukannya. Dia mau, karena desakan dan, demi membuktikan tidak bersalah

Sehari setelah sumpah pocong, kuburan saudara Saleh tiba-tiba ambruk, seperti sumpah yang dilontarkan Ibu Masnawi. Bukannya menyadari ada yang keliru dengan tuduhannya. Mereka malah semakin marah. Hingga sekarang, tidak ada satupun keluarga Saleh yang mau datang atau sekadar basa-basi menyapa. 

"Mereka sekarang melakukan serangan lewat dalam. Semalam, ibu kena santet. Kaki ibu terluka parah." Kata Hamin lewat telpon. 

Sebenarnya sudah lama keluarga Saleh melancarkan serangan. "Bahkan setiap malam. Tapi baru kali ini Ibu teledor. Ibu dipangserep agar tidur. Beruntung ibu bisa menahannya tapi santet yang berisi jarum itu terlanjur masuk ke kakinya." Terang Hamin sambil menahan isak. 

"Keluarga Saleh tidak bisa dimaafkan!" Amarah Masnawi semakin berkobar. Seluruh tubuhnya gemetar. 

Dia harus mengontrol emosi untuk seminggu kedepan karena ujian semester. Tentu saja dia tidak ingin kerja keras ibunya terbuang sia-sia karena ulah keluarga Saleh. "Astaufirullah." Masnawi menghela nafas panjang. Selain ujian, dia juga tidak ingin puasanya batal gara-gara emosi yang tidak terkontrol. Setiap hari dia mengelus dada dan istifar tak terhitung jumlahnya.

***
Setelah selesai ujian, Masnawi langsung berkemas, pulang. Di atas bus, pikirannya semakin risau. Tuduhan-tuduhan keluarga Saleh memenuhi pikirannya sepanjang jalan. 

Kaki Masnawi gemetar ketika mobil L300 yang ditumpangi sampai di kampungnya. Tubuhnya kaku saat melewati rumah Saleh sebelum sampai ke rumahnya. Masnawi menunduk sambil menahan debar. Dia berharap keluarga Saleh melihat kedatangannya dan meminta maaf, terlebih pada ibunya. 

"Ingin rasanya melempar boom.’ Batin Masnawi siang itu, tepat di rumah Saleh yang sepi. 

"Patek celleng!" umpatnya kemudian sambil membayangkan rumah Saleh hancur berkepingkeping. Dia meremas-remas tangan dan menggemertakkan gigi. 

Dendam semakin membakar hati Masnawi ketika dia melihat Ibunya terbaring tak berdaya. Di tempat tidur, ibunya tersenyum melihat anak satu-satunya yang punya keinginan kuliah di kampungnya datang. Dia terlihat bangga dengan anaknya yang terlihat bersih dan tampak percaya diri sekarang. Sayang, perjuangannya untuk kuliah tak dimiliki oleh tetangga dan saudara yang lain. Mereka lebih memilih menjadi TKI daripada kuliah. 

***
Pagi itu, takbir berkumandang dari toa-toa masjid yang tak jauh dari rumah Masnawi. Di luar suara anak-anak riuh merayakan hari raya. 

Sejak pulang Masnawi jarang ke luar rumah. Sesekali dia memantau rumah Saleh dari balik jendela. Amarahnya mengendapngendap setiap kali ada salah satu keluarga Saleh keluar, apalagi mendengar tawa Saleh yang lepas tanpa beban. Berdegub hatinya tak beraturan. Dia sudah siap untuk melakukan apapun, termasuk membunuhnya. 

"Luka harus dibawa dengan luka." Batin Masnawi sambil memandang luka kaki ibunya.

‘Semua ini gara-gara keluarga Saleh.’ Serunya sambil meremasremas tangan sendiri sambil mencium tangan ibunya yang tidur menyamping. Dia menjadi tenang saat tangan ibunya mengelus-elus kepalanya. 

***
Setelah shalat Ied, seperti biasa anak-anak yang lebih muda dengan pakaian baru mendatangi rumah sanak saudara dan tetangga terdekat. Biasanya mereka membawa dan yang berisi jajan lebaran. Tuan rumah mengisi rantang dengan jajan miliknya. Aktivitas itu berlangsung hingga siang. Baru setelah sore dilanjutkan lagi, biasanya kunjungan sore dilakukan untuk saudara jauh sambil ziarah kubur. 

Sore itu, saat ziarah ke makam neneknya, hati Masnawi bergetar penuh emosi mendengar suara Saleh dari jauh. Hati Masnawi berdegub tak beraturan mendengar derap langkah kaki Saleh yang berhenti di kuburan saudaranya tak jauh dari kuburan nenek Masnawi. 

Setelah selesai berdoa dan menabur pandan, Masnawi buruburu pulang. Dadanya berdebar sekencang kakinya melangkah. 

Malam itu sehabis magrib debar dada Masnawi kembali terpompa ketika mendapati tiga saudara Saleh masuk ke dalam rumahnya. Masnawi yang berada di rumah tetangga sontak lari dengan perasan tak karuan. 

Tepat di depan pintu kamar ibunya, Masnawi berhenti seketika dengan celurit digenggaman. Tiga saudara Saleh kaget melihatnya berdiri tegap sambil menghunus pandang. Tangan Masnawi yang gemetar perlahan lemas saat mendapati Saleh menangis sambil mencium tangan ibunya. 

Lamat-lamat dari hati Masnawi terdengar kumandang takbir bersahutan diikuti tangis dan penyesalan. 

Jejak Imaji 2016 

Patek celleng (anjing betina). Sebuah umpatan bahasa Madura. 

Sule Subaweh, nama pena dari Suliman, berasal dari Pamekasan (Madura), saat ini aktif menulis di media massa, baik puisi, cerpen dan artikel. Cerpennya pernah dimuat di koran lokal dan nasional. Sekarang bekerja di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Aktif di Komunitas Jejak Imaji. Tinggal di Yogyarkata.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sule Subaweh
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 17 Juli 2016


0 Response to "Dendam Pulang"