Di Tanggo Rajo - Arah Ke Tebo - Menuju Maninjau - Lembah Harau - Sindangkerta - Goa Hijau Penuh Kaligrafi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Tanggo Rajo - Arah Ke Tebo - Menuju Maninjau - Lembah Harau - Sindangkerta - Goa Hijau Penuh Kaligrafi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Di Tanggo Rajo - Arah Ke Tebo - Menuju Maninjau - Lembah Harau - Sindangkerta - Goa Hijau Penuh Kaligrafi

Di Tanggo Rajo

Riak air seperti pecahan Kristal di tengah keremangan
Dan senja menyusunnya dalam komposisi yang seimbang
Sebuah lukisan cahaya tercipt-a di atas permukaan sungai
Deretan warung melatarinya dengan titik-titik lampu

Musik malam terdengar dari desah angin dan gesekan perdu
Perahu-perahu melintas membawa lentik ingatanku padamu
Sendiri aku di bawah langit yang bertatahkan sedikit bintang
Masih awal musim kemarau, di mana gerimis masih kadang turun

Keheningan menetes seperti detik dan menit yang basah
Bintik-bintik embun terasa mengurapi kulit dan rambutku
Segera kukenakan jaket, kusulut rokok dan pelan-pelan

Kupanggil namamu. Batanghari terus mengalirkan waktu
Dan kenangan memanjang dengan jejaknya yang dalam
Takjub aku menatap langit yang belum sepenuhnya hitam

2014

Arah Ke Tebo

Di balik keremangan senja tinggal matamu
Yang masih kutandai sebagai titik cahaya
Alun ombak terus bergerak menyeret perahu
Yang ujung lunasnya semakin rapuh tergerus air

Aku tidak bertanya pada pokok-pokok beringin
Juga pada sulur-sulurnya sepanjang tebing
Biarlah mengikuti saja ke mana sunyi akan melaju
Kegelapan malam merupakan paras lain dari waktu

Di balik setiap pengembaraan mungkin rindu
Yang masih bisa kupegang sebagai petunjuk jalan
Kuala dan muara tak pernah membuatku merasa tiba

Biarlah perahu yang kukayuh mengalir entah ke mana
Dan kata-kataku tenggelam di palung tak bernama
Hanya matamu yang masih kuyakini sebagai dermaga

2014

Menuju Maninjau

Di mana kausimpan riak
Ketika ketenangan penuh di hatimu
Di mana kautanam gelombang
Ketika kabut turun mengurapimu

Ke mana kaukirim isyarat
Ketika kebisuan menjadi jarak
Ke mana kaulepaskan rindu
Ketika tak ada alamat yang dituju

Aku menuruni lembah berliku-liku
Melewati kelokan dan tikungan tajam
Menujumu. Aku ingin membasuh kalbu

Di sini aku terkenang seseorang
Yang nubuat-nubuatnya lama tersimpan
Di lubukumu. Aku ingin membaca waktu.

2014


Lembah Harau

Di seberang doa keheningan masih terdengar
Hempasan angin pada dinding bukit
Memantul kembali menjadi suara
Yang gemanya membumbung ke udara

Keheningan berbisik pada sulur-sulur pohon
Yang berjuntaian dari atas tebing karang
Air mancur kemudian mempertegas bisikan itu
Bahwa sesuatu yang terjatuh akan memantul kembali

Lalu nubuat apa yang bisa digali dari lubuk sunyi
Dari palung sepi? Tangan waktu telah menatah lembah ini
Menjadi hamparan nisan yang berhiaskan kaligrafi

Dan yang bernama keheningan
Adalah suar ayang mengendap di seberang doa
Namun gemanya bersahutan di angkasa

2014

 Sindangkerta

Debur ombak yang terus mengucapkan rindu
Tak cukup kuterjemahkan lewat pelukan singkat
Ketika perahu-perahu nelayan lenyap ditelan ufuk
Malam menyempurnakan keremangan dalam kabut

Yang memilukan tentu hasrat yang tertahan di udara
Seperti seekor burung usiran yang tak mungkin kembali
Melayang-layang sebelum akhirnya jatuh dan tersungkur
Tanpa terasa aku telah kehilangan semua jejakmu di bumi

Betapa berliku jalan yang kutempuh untuk melupakan
Sebab pantai demi pantai tak pernah membuatku sampai
Langkah selalu terantuk pada tebing atau jurang itu juga

Jungjunan, ketika aku mencoba mengenangmu lagi
Ketika pelan-pelan mengucapkan namamu sekali lagi
Aku seakan mengalami sekarat panjang ribuan kali

2015

Goa Hijau Penuh Kaligrafi

Lelehan keringatmu telah menjadi lautan
Kembali aku berenang dan kerasukan
Dalam panjangnya ciuman. Dadamu
Gelombang yang penuh lekukan
Selalu menyediakan ruang
Bagi lahirnya kata-kata

Kudengar deru ombak
Pantai tinggal sehamparan pasir
Dan sungai hanya perpanjangan garis
Yang menguap di udara. Aku berenang lagi
Tanpa gerakan yang menakjubkan
Tanpa membalikkan badan
Tanpa memutar tangan
Tanpa menyelam. Kususuri punggungmu
Juga pinggulmu yang curam
Diam-diam senja menyarungkan pisaunya
Ke tengah-tengah malam

Aku berenang
Aku minum
Aku bermimpi menjadi sufi
Sebuah goa hijau penuh kaligrafi
Pelan-pelan kumasuki. Pohon-pohon bakau
Menjadi rambut dan janggutku
Sedang terumbu karang
Yang mekar di selangkanganmu
Masih juga menyisakan ruang
Bagi kata-kata. Aku terus berenang
Dan semakin kerasukan

2013

Acep Zamzam Noor kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat. Sehari-harinya bergiat di Sanggar Sastra Tasik dan Komunitas Azan. Buku-buku puisinya mutakhirnya adalah Bagian dari Kegembiraan (2013) dan Like Death Approaching and Other Poems (dalam terjemahan Inggris dan Jerman, 2015).


 Rujukan:
[1] Disalin dari karya Acep Zamzam Noor
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan, 23 - 24 Juli 2016


0 Response to "Di Tanggo Rajo - Arah Ke Tebo - Menuju Maninjau - Lembah Harau - Sindangkerta - Goa Hijau Penuh Kaligrafi "