Doa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Doa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:38 Rating: 4,5

Doa

Aku menunggu kabar. Bukan dari keluarga, melainkan dari orang yang tak begitu kukenal. Sebab, ia pernah meminta adoa padaku, tidak karena sebuah kebetulan, tapi kesengajaan.

Bagaimana mungkin kulupakan saat itu, saat sebuah peristiwa mati suri yang menimpaku terasa bertuah di kampung ini. Dan seolah mampu mengubah mimpi abadi menjadi kenyataan yang sempurna: setiap orang, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, datang berduyun-duyun kepadaku untuk mendengar doa yang bergema dari bibirku.

Sebab mereka meyakini doaku selalu meyakini kesempurnaan dari keinginan dan harapan. Seperti keyakinan mereka bahwa orang yang pernah mati suri sepertiku pernah bertemu dengan Tuhan secara langsung. Oleh karenanya, doaku pun menurut mereka akan lebih cepat didengar, diterima, dan dikabulkan Tuhan, tidak seperti doa-doa mereka.

Lalu, kau tidak lupa, setelah apa yang mereka inginkan menjadi nyata, mereka akan berkata, "Lihat, sehabis orang yang pernah mati suri itu mendoakanku, kini keinginanku terkabul!"

Suara-suara itu bagiku terdengar seperti gergaji mesin yang saling berlomba merobohkan pohon. Tapi, karena merasa ada suatu kewajiban yang harus kuberikan pada orang yang meminta, maka aku merasa harus tetap berdoa.

Dan atas nama uang yang terlebih dahulu telah mereka selipkan di kedua tanganku, di saku pakaianku, membuat mulutku cepat merapal doa sebagai balasan. Tapi, karena kebosanan pula aku akhirnya bersembunyi.

Orang terakhir yang kutemui, yang pandai memohon dalam hidup yang dipenuhi kemalasan, yang bersandiwara seolah percaya Tuhan yang akan mengabulkan keinginannya, bukan aku yang pernah mati suri. Padahal kulihat, jauh di dalam hatinya, kudapati ia diam-diam tak percaya kuasa Tuhan.

***
Orang-orang tidak tahu bahwa aku yang pernah mati suri mulai benci dan muak. Orang-orang tak ingat bahwa aku juga manusia sama seperti mereka. Untuk nafsu mereka, aku telah membenamkan hidupku sendiri ke dalam lumpur yang digenangi keserakahan dan kenyang oleh suapan uang yang dijejalkan ke perutku. Hanya karena nafsu, orang-orang senang akan kehadiranku.

Inilah saatnya aku menjauh.

Dan kalau hari ini seseorang kembali meminta doaku, tak lain aku benar-benar akan mendoakan yang sebaliknya. Meski tak sepenuhnya nuraniku setuju dengan perbuatanku, sebagian hatiku senang.

Berhari-hari aku terlepas dari kewajiban mendoakan orang.

"Tenanglah, mungkin orang-orang sudah tidak memerlukan doamu," kata istriku. Untuk sementara aku meemrcayainya. Karena memang hanya sementara ketentraman dapat kurasakan.

***
Seseorang dalam wajah ketakutan memelukku  dan memohon padaku agar aku mendoakannya.

Orang itu memintaku untuk berdoa agar ia tetap sehat dan panjang umur seolah ia berada di dekat kematian. Dan ia menangis sampai matanya bengkak serupa perut kucing yang bunting.

Kemudian ia memohon berkali-kali. Kematian menjadi alasannya untuk datang padaku. Dan ia sungguh percaya bahwa akulah yang mengendalikan hidup-matinya.

"Sudahlah. Mungkin saja doaku yang seolah terkabul itu hanyalah kebetulan."

Demikianlah, aku menyuruhnya pergi.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya, "Aku ingin kau berdoa!"

Aku hanya berdiam diri.

"Dengarlah," kataku, "Jangan mencariku untuk mewujudkan keinginanmu."

"Apakah uang yang kuberikan apdamu masih kurang?" tanyanya.

Orang itu merogoh saki baju dan menyiapkan berlembar uang. Seakan doa bisa dibeli dengan uang dan kekayaan.

"Aku tak bisa," kataku kemudian.

Dan seperti dituntut untuk memberikan lebih, orang itu justru melepaskan kalung emas yang melilit lehernya.

Maka, disodorkanlah kalung emas itu padaku. Sementara, aku semakin muak mendengarnya meratap-ratap di hadapanku. Melupakan bahwa aku hanya manusia. Akhirnya, kumaki-maki orang itu, tapi hanya dalam hati.

Aku pergi dari hadapannya.

Wajahnya kini memerah dan ia berdiri di hadapanku lagi. Kini dengan memaki-maki. Lalu pergi.

Kalau saja orang itu masih ada di hadapanku, ia pasti mendengar aku berdoa agar ia segera mati dengan menderita. Doaku terus kurapal. Bagai api yang menjalar membakar hutan.

***
Walau orang yang kudoakan mati itu tak pernah mendengar doaku, kesadaranku tak berhenti gemetar dihantui bayangan dari doaku yang tampak nyata.

Seperti kecoak, bayangan itu terus saja merayap lalu terbang memburuku ketika aku berusaha berlari menghindar.

"Kematian ditentukan oleh Tuhan," bisikku, "Seperti dulu, jika belum saatnya aku mati, maka aku hanya mati sejenak dan hidup kembali. Mengapa aku harus takut kalau orang yang kudoakan mati itu benar-benar akan mati?"

Tapi, aku masih dipenuhi bayangan bahwa orang yang kudoakan itu benar-benar mati.

Seseorang dengan wajah ketakutan yang memohon-mohon agar aku mendoakannya panjang umur itu setiap malam selalu datang di mimpiku. Dan kata-kataku untuk menenangkan diri selalu tak berguna setiap kali rasa cemas itu mendekat.

Lalu aku mencari tahu keadaan orang yang kudoakan mati itu. Tapi, seakan ia telah benar-benar mati. Seseorang mengatakan bahwa orang yang kucari sedang pergi ke kota lain dengan tiba-tiba. Mungkin setelah tak berhasil meminta doa dariku, pikirku.

***
Dan ketika hari-hari beterbangan serupa sekawanan burung, hingga matahari memasuki bulan baru, rasa reash itu tetap tak mau pergi. Kecuali terus saja mengunjungiku dan menampakkan bayang-bayang kematian orang itu.

Entah mengapa aku terus menunggu kabar dari orang yang tak begitu kukenal. Maka, setiap pagi sampai langit mengalirkan bintang, lalu makhluk malam menemukan kehidupan, aku tetap menunggu. Hampir setiap hari, aku meninggalkan rumah lalu pergi mencari tahu keadaan orang itu.

Begitulah tampaknya, orang itu lenyap. Benar-benar lenyap!

***
Kali ini, seorang perempuan duduk di hadapanku. Aku tahu, perempuan itu menggunakan cincin emasnya sebagai uang muka atas doa yang akan kuberikan padanya. Aku dipaksa untuk menerimanya. Ini memalukan karena perempuan di hadapanku ini dan orang-orang lain tetap saja memintaku mendoakan dengan imbalan kekayaan untukku. Tapi, aku tak mau terbawa emosi untuk kembali mengutuk orang yang meminta doa dariku.

Pun ketika orang-orang masih memberiku imbalan dengan meminta doa, dengan mudah kekayaan itu kutolak, dan kukatakan bahwa aku tetap akan mendoakan tanpa imbalan apa pun.

Mudah-mudahan mereka tidak tahu bahwa diam-diam aku tak sekalipun mendoakan mereka.

Mereka yang keinginannya terwujud akhirnya akan datang kembali dan menceritakan keberhasilan mereka. Mendengar  cerita mereka, aku gembira,  bukan karena keinginan mereka terwujud, melainkan karena telah kubuktikan pada diriku sendiri bahwa kehadiranku sama sekali tak berpengaruh pada keinginan mereka. Entah keajaiban apa yang membuat keinginan mereka etrwujud. Begitulah, aku terbebas dan mereka bahagia.

***
Ini bukan kebetulan kalau pada akhirnya orang yang pernah kudoakan mati ternyata masih hidup, bahkan menemuiku kembali.

"He, lihat aku sehat!" katanya.

Aku bersorak dalam hati.

"Dari mana, tampaknya tidak pernah terlihat?" tanyaku.

"Sepertinya kau tahu kalau aku baru saja pergi jauh?" ia balas bertanya, tapi tak kujawab.

"Masih ingat saat aku mencacimu?" tanyaku lagi, "Tampaknya kau tetap mendoakanku berumur panjang sehabis kucaci dan kutinggalkan waktu itu."

Orang itu tentu saja salah. Seandainya ia tahu yang sebenarnya kudoakan adalah agar ia cepat mati dengan menderita, tak mungkin ia memandangku sambil tersenyum-senyum.

"Bagaimanapun doamu telah menyelamatkanku dari kanker yang mungkin akan membuatku mati saat itu. Aku baru saja pulang dari berobat berbulan-bulan."

"O ya?"

"Ya."

Ajaib.

Setelah pertemuan itu, sesekali ia masih muncul di hadapanku. Ya, ia tetap meminta doaku. Meski saat ini orang-orang yang datang padaku lebih sering mengatakan bahwa doaku sudah tidak manjur karena banyak keinginan mereka tidak terkabul, orang yang pernah kudoakan mati itu tetap datang. Ia tetap meminta-minta agar aku mendoakannya ini-itu. Setelah ia pergi, aku akan kembali menunggu kabar.

Jadi, bila kaudengar kabar bahwa keinginannya terwujud, sebenarnya ia sama sekali tak tahu bahwa sekali pun aku pernah mendoakannya. 

Kulonprogo, 2016

Kristin Fourina, lahir di Yogyakarta, 13 November 1987. Alumnus Sastra Indonesia UNY. Beberapa kali memenangi lomba menulis cerpen. Cerpennya banyak tayang di media massa dan dimuat beberapa buku antologi bersama, salah satunya Bayang-bayang (Garudhawaca, 2012). Kini menetap di Kulonprogo, Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kristin Fourina
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 31 Juli 2016


0 Response to "Doa"