Enam Simetri Jennifer Lee - Tafsir Poselen David Leach - Tiga Tafsir Bejana Porselen - Sirah Tembikar - Puja Raku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Enam Simetri Jennifer Lee - Tafsir Poselen David Leach - Tiga Tafsir Bejana Porselen - Sirah Tembikar - Puja Raku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:51 Rating: 4,5

Enam Simetri Jennifer Lee - Tafsir Poselen David Leach - Tiga Tafsir Bejana Porselen - Sirah Tembikar - Puja Raku

Enam Simetri Jennifer Lee

1
Gema ombak pada cawan
Atau sebutir bunga, di sini
Sebutir pasir adalah semesta

2
Ruang kosong dari cahaya
Purnama, solipsis tanpa bentuk
Tiga aster di luar jendela -
Seluruh sabda dlaam warna amber

3
Seakan padam cahaya
Perempuan itu kembali bergegas
Meletakkan sepasang matanya

Di rumput halaman, seperti nonsens
Ia mencium warna bawang pada tangga
Marmer dan merawa harum kamper
Dari sedih yang absen, sebelum malam

Seekor balam meminjam sepasang matanya
Kembali ke pucuk pohon, dan itu cukup

4
Saba - berkah bagi
Segala yang fana -

Segala yang karam
Segala yang hilang
Segala yang padam
Tanpa jalan pulang

Odysseus, tidurlah!

5
Tanpa umpama dan ilusi bunga-bunga
Seluruh simetri adalah sebuah korosi
Hingga ras asakit matang menjelang pagi

6
Jennifer Lee punya enam
Ayat pada keramik
Digosok, seluruh waktu
Adalah sebutir pasir - di sini
Kefanaan tak punya kata akhir

Tafsir Poselen David Leach

1
Bisu, dingin, dan hujan -
Kau menyebutnya keheningan,
Mereka menyebutnya air mata.

2
Mereka tak bisa melihat
Cacat pada cawan pirusmu.
Dan kau hanya tertawa,
Menyebut kurva mulus itu
Sebagai dusta paling purna.

3
Tahan napas -
Retak-retak itu
Adalah jiwamu.

4
Ini memang bukan pilar
Di kuil Yunani, bukan
Dinding istana Persepolis;
Tetapi, kulit halus satu
Firman, sebelum disalibkan.

5
Di hadapan cawan ini -
Seluruh dosa hanyalah konvensi

Tiga Tafsir Bejana Porselen

1
Ini bukan soal tiga pon jerami, barangkali
Cuma cahaya tiga lampion, atau mirip senyum
Peramal tao dengan sebotol arak di bahunya
Lalu pergi: jalan itu, kerikil itu - ia melangkah
Lurus, pelan - sesekali bayangannya bisa menoleh

2
Tiga koi merah bersisik perak di kepala
Berkilat di kolom dekat kuil; jembatan itu lama
Ditinggalkan - hanya sesekali gema genta
Dicuil jadi sarapan bangau lukisan - mereka
Sebut itu gugus awan: jembatan Joshu yang lain

3
Koko telanjang dada di bawah bulan petik
Kecapi - tatkala sesulur angin putih memeluk
Ujung telunjuk Juzhi pada touchscreen - mungkin
Kita pas berpisah frekwensi di ruang sama
Begini saja mestinya sudah cukup jadi jalan pulang

Sirah Tembikar

kau teko hitam
jangan diam, bangkit
tuangkan hatimu

cahaya matahari                                                               pikiran tsukigata
meniti lengkung ruang                                                               cawan salju terbakar
di cawan hayashi                                                                akhir cakrawala

kau cawan mentah 
mana tungku hidupmu?
masuk berpijarlah

pada cawan teh                                                               angkasa dini hari
        memandang jiwa api                                                               menatap bola matamu
pulang ke tanah                                                               inti cawan sasaki

di cangkir kosong
selapis-selapis tanah
mencecap samadi

Puja Raku

Kulantunkan puja
Kepada angin
Yang berhembus
Di luar halaman
Menyentuh sehelai
Rambut dan daun
Dan rumput
Sekira halimun
Dipeluk cahaya
Pagi yang lembut
Kulantunkan puja
Kepada angin
Yang berhembus
Di dalam dirimu
Menyatukan yang
Terpisah, melepaskan
Yang terikat, di sini
Di sana, di mana-mana
Semoga hanya cinta
Yang mengalasi
Tidurmu, semoga
Hanya senyum yang
Menghantarkan
Kesedihan kembali
Bersulih, luruh
Sebagai benih dan
Tumbuh perlahan
Sebagai kemuning
Menebarkan harum
Terhening di sudut
Halaman rumahmu
Serupa hatimu, semoga
Kesehatan kembali
Menjelma gumpalan awan
Meneduhkan cuaca terik
Di hamapran rasa sakit
Tulang-tulang dan kulit
Dan air matamu
Kulantunkan puja
Kepada angin
Yang berhembus
Di luar dan di dalam
Dirimu, semoga
Semua kata melepaskan
Bebannya, smeoga
Semua makhluk berbahagia




Ahmad Yulden Erwin lahir di Bandar Lampung, 15 Juli 1972. Buku kumpulan puisinya adalah Perawi Tanpa Rumah (2013) dan Sabda Ruang ( 2015).


Rujukan:
[1] Disalin dari Ahmad Yulden Erwin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 23 Juli 2016

0 Response to "Enam Simetri Jennifer Lee - Tafsir Poselen David Leach - Tiga Tafsir Bejana Porselen - Sirah Tembikar - Puja Raku"