Forbidden City, Beijing: di Bawah Gerimis Salju - Kuala Lumpur: Senja Hari - Seoul: Pada Waktu Dini Hari - Pada Sebuah Cermin - Ikan dalam Secangkir Air | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Forbidden City, Beijing: di Bawah Gerimis Salju - Kuala Lumpur: Senja Hari - Seoul: Pada Waktu Dini Hari - Pada Sebuah Cermin - Ikan dalam Secangkir Air Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:00 Rating: 4,5

Forbidden City, Beijing: di Bawah Gerimis Salju - Kuala Lumpur: Senja Hari - Seoul: Pada Waktu Dini Hari - Pada Sebuah Cermin - Ikan dalam Secangkir Air

Forbidden City, Beijing: di Bawah Gerimis Salju

Tak ada lagi Puyi, lama dalam tidur panjang: tak berbunyi
Gemerincing pedang, keriuhan langkah berderap: kai-
sar dengan wajah
Pucat bagaikan boneka, menyusuri sungai dari selir-selir kaisa

Di mana senyap berbaring para kaisar: pintu gerbang
merah yang berderit
Dijaga para prajurit: kesetiaan pada kebesaran masa silam
Kita mencari nama-nama yang pernah dibaca dalam ki-
tab aksara China

Tak terbaca: di mana garis Qing memanjang dalam silsilah dinasti
Keluarg ayang berhenti karena revolusi, ideologi yang
menjadi penjara
Orang-orang terus bergegas, tak peduli musim yang membawa

Gerimis salju, kau takjub dan mengigil di dalam tubuh
yang berkabut
Di mana kita? Jejak langkah yang tersisa tak tercatat di
tembok sejarah.

2014-2015


Kuala Lumpur: Senja Hari

Dua menara: tak memisahkan ruang kita. Di mana
kita menyantap ikan bakar, di pinggiran trotoar
lampu jalan berkejab. Kita msaih berbagi kalimat

Yang tak tercatat dalam kitab harian. Masih adakah
langit yang luas untuk burung-burung yang kehilangan
sayap di kota yang semakin malam

"Mungkin ada yang bernyanyi diam-diam
di antara jalan-jalan yang menyisakan debu dan sisa gerimis
di pojok dinding hotel, jendela masih terbuka."

Kita tertawa. Dua menara seperti sedang menggeliat bercumbu
mencium kelam keremangan waktu: gambar yang penuh
dengan bayang-bayang, samar, tak jelas mengapa

Kita duduk bermuka-muka. Menghadap barat dan timur
menghirup kopi, dan asap pembakaran menguap
serasa kegelisahan yang bergayut, di wajah yang semakin tua

Dua menara: karena musim kita harus bertemu.

2014-2015



Seoul: Pada Waktu Dini Hari

Pukul 2 dini hari: Seoul, the land of Qi. Malam yang pucat
Kota berbau wiski, menyebar di tepi pintu-pintu hotel
Orang-orang yang bergegas, meninggalkan catatan di saku baju
Di trotoar toko, orang-orang menggelepar: mabuk, tak tahu nama

Alamat pulang, entah di mana tersimpan: gambar-gam-
bar masih
Tersisa ketika kau membaca, orang-orang yang berseliweran
Seperti berjalan-jalan dengan tergesa dan putus asa

Pukul 2 dini hari: Seoul yang lelah, bergantung cahaya bulan
Lampu kristal yang memancar, perempuan di ruang malam
Menggeraikan rambut, dengan wajah seperti kaca. Ha-
rum parfum
Menggeliat di sepanjang jalan, tak mengenal siapa diri yang tersesat

Pintu hotel dan lob: temaram di antara sofa menunggu
Kau mengetuk pelahan waktu: mungkin ada yang di dalam
Membaca kota-kota yang dirindu. Kembali ke masa silam.

November 2014-2015


Pada Sebuah Cermin

(1)
cermin yang pecah, di bawah cahaya
menjadikan wajah pucat tak terbaca
airmata yang bermataair dari kelopak bunga
yang tumbuh dan mekar semerbak cinta

cermin yang retak, di balik bayang-bayang
menjadikan tubuh lusuh tak terbilang
jejak langkah yang menghampir pandang
yang mengalirkan napas zikir panjang

cermin yang bercahaya di dalam senyap hati
wajah gemetar menghitung hari-hari

cermin yang menjadi bayang-bayang kenangan
tubuh menjelmakan mawar harum di telapak tangan.

(2)
Cermin yang membuka
bayang-bayang memintas kerinduan ingin
Ketika rambutmu terurai
jadi musim yang mengalirkan angin

Ke hilir-hilir waktu. Dan kau
hanya mengurai napas membaca
Hari-hari yang berangkat dari kekekalan hati
menghampir jarak

perjalanan jejak-jejak langkah
yang kembali menggapai masa silam.

(3)
Pada cermin yang membelah:
kau tak mencemaskan bayang-bayang
yang bergelinjang dan mengikut cahaya
dari sela-sela tubuhmu yang berjalan, hanya

tak mengerti mengapa ia tak serupa:
dengan wajah dalam tubuh yang lusuh
yang menggigil dan bertanya-tanya siapa
yang menjaga jejak-jejak langkah di atas air

yang bening sampai menghampir pada dinding
ruang meremang, semburat cahaya yang hening.

Maret 2016

Ikan dalam Secangkir Air

Ikan-ikan berenang dalam secangkir air, yang dingin
Sebelum kau meminum riaknya
Ikan-ikan berloncatan dalam secangkir air, yang ingin
Sebelum kau meneguk deburnya

Ikan-ikan gelisah berputar dalam arus laut
Dan akuarium
Di gelombang air yang harum
Dirasakan kedalaman karang dan lumut

Setelah itu: kau ingin minum secangkir air
Ikan-ikan tinggal dalam lorong kerongkongan
Menjaga napas melalui udara, mengalir
Yang keluar dari tubuhmu. Kesunyian

Maret 2016




Irawan Sandhya Wiraatmaja, kelahiran Jakarta 21 Juni. Korrie Layun Rampan memasukkan penyair ini ke dalam Angkatan 2000. Sajak-sajaknya terkumpul dalam antologi bersama Sketsa Sastra Indonesia, Pendopo, Forum Penyair Muda Jakarta, Puisi Indonesia (1997), dan Angkatan 2000 (Gramedia, 2000). Kumpulan puisi tunggalmya Anggur, Apel dan Pisau Itu (2016), Dan Kota-Kota Pun (2016), serta Serpihan Esai Sastra dan Sosial Politik, Teror di Antara Dua Ideologi (2016). Sekarang menjabat kepala Arsip Nasional Republika Indonesia (ANRI).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irawan Sandhya Wiraatmaja
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 3 Juli 2016

0 Response to "Forbidden City, Beijing: di Bawah Gerimis Salju - Kuala Lumpur: Senja Hari - Seoul: Pada Waktu Dini Hari - Pada Sebuah Cermin - Ikan dalam Secangkir Air"