Getik Ikan Bethik - Getting Ikan Keting - Sekat Ikan Sepat - Seser Ikan Bader - Lekuk Ikan Kutuk - Pepaya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Getik Ikan Bethik - Getting Ikan Keting - Sekat Ikan Sepat - Seser Ikan Bader - Lekuk Ikan Kutuk - Pepaya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:24 Rating: 4,5

Getik Ikan Bethik - Getting Ikan Keting - Sekat Ikan Sepat - Seser Ikan Bader - Lekuk Ikan Kutuk - Pepaya

Getik Ikan Bethik

                     di kali jambe

mataku genangan mata air tawar
sirahku kuncung mekar merengkuh luar latar

sisikku mantel silap penyamar pandang
punggungku pun hijau ganggang pengecoh

senar para penjoran. getik manggar,
getik pelepah gedang, getik batang merang

getik apung kiambang, getik kangkung lanjaran
getik lumut akar poh bapang, sebab lagakku

acap tak tertakar. luput jerat, luput pikat
mana pinggang, mana pusar

terus mengumpan, urang rebon, cacing uker,
kepal nasi liwet, yuyu mbes, paha kodok,

jangkrik upo, kroto rangrang, terus mengumpan
sampai matamu mulur ke pangkal, ke sarang

sampai gelagar jadi goyang, pingkalmu menanjak
aku mengelak, rengkuhmu pun kian sesak, kian gelak

Jambe, 2014-2016

Getting Ikan Keting

dengan tuba berburu kau sudahi seteru
mengakhiriku dengan wulu wiru

menyembul dari balik sebongkah batu
betapa para penepuk sorak itu kian rindu

umpan yang diulurnya, jauh melewati
gerumbul pokok waru itu lindap dalam kecapku

menancap ke lubang dalamku
kian lalu kian seru membelit arus

dan geliat gempalku membekuk siasatmu
memperdaya kail dan senar

menekuri buih dan pecahan kayu
sungguh kau karib-seteru sejauh sendang

yang lagi tak dapat kau temu
karena hulu makin mengasingkanku

langit-langit makin meninggi, aku terjebak
ke dasar gelap jurang, dan perusuh itu datang

membawa pengap dan kepul asap
yang tak dapat diterka arah geraknya

selain melambungkanku ke udara
menghamburkanku kembali ke tanah

Sumokali, 2016

Sekat Ikan Sepat

                       sumur kebun cak wakiyi

dengan tubuh jorong, pun moncong runcingku
dengan duri kecil, pun kelihaianku

kelit-serong,

menyusup ke hulu rimbun, menghela setiap kutuk
dan reruntuk, menyusur lumpur, mengurai jalur

hampir terkubur,

bagaimana pun kami gandrung menata bilah keruh
mengukur maut ke tiap lengkung

sumur,

mengamini riwayat pun menakar umur
menafsir jarak pun mengintai cebur

bila terang,

bila bersua akan tersungkur
sungguh aku tak ingin kau mengakhriku,

seperti kembang apung terkental-kentul
di bibir sumur

bila

Sudo Kidul, 2014-2016

Seser Ikan Bader

                              dam sumokali

lambungku limbung terpiuh para penikung
mulutku megap terseruak gelungan ombak

gumpil retak akar semak tercebur  ke pinggir kolam,
keruh kian menjebakku dalam gejolak

duh gusti, seberang kian rupa gendam tak tertawar
langgam renangku mercusuar padam dalam remang

hinggar setinggi kuduk, lambai ditampik-ciut
sorak-sorai para penepuk, aku kian surut

duh gusti, telah kuselam lubuk sunyi agar aku
seteguh arus kali, telah kukerah sirip nyali

pun kemilau sisikku menyamar birahi
tapi gontai dayungku kian terhuyung,

haluanku serupa baling-baling tertekuk lumpur
aku meluncur, aku melucut, pun terkubur dalam arung

Sumokali, 2014-2016

Lekuk Ikan Kutuk

                         kolam paklik majid

lamatkan langkah, tungkai merendah
dalam kubangan sepanjang hentak bergelungan

tak beda benar antara lumpur dan rupanya yang legam
pun sisik lumut dan lendir siripnya yang kambang

ke rindang semak, ke bonggol akar gayam
lihailah ia merupa alur peranakan ular

kujur badannya tak juga nampak,
meski genang telah menghilir ke seberang

tapi rogohlah semata dengan jemari tenang
rasakan denyut yang berdentang dikeruh endapan

meski serangga berdengung membikin gatal pinggang
kian gesitkan lengan bila ada yang melintas serampangan

seperti menguncupkan dua telapak tangan, menukik ibu jari menggenggam
kencangkan lekat ikat, tolak lesat ke arah rumpun, rerumputan

Sidodadi, 2014

Pepaya

adakah aku sekantung peria yang iri akan kucir pahitnya
sedang dagingku kuning-jingga manga madu penatarsewu

sukacita ataukah duka terlara saat pemanjat itu merengkuhku,
melepasku dari buhulnya

seperti nasib yang akan mempertemukan kembali
saat-saat lumat dan senyap di rongga lidah

duhai tuan, bujang ataukah duda sudi merayuku,
ketimbang tinggal dalam keranjang saudagar

mending tuan membawaku serta ke meja jamuan
aku yang kian matang dalam timbangan, timanglah tuan!

sebelum penebang menabuh gendang sumbang
di pedukuhan, dan serak penawar kian kerontang di pematang

akan kuingat saat itu tuan, setelah subuh usai
ketika pengiris itu menanggalkan tudungku

memisahkan siasat-pahitku di atas talenan sajian
kemudian menumbangkanku dalam penggorengan

atau di atas talam bergambar mawar buram,
aku menyilang manis dalam hidangan

bukankan aku mula, dari sebulir getir belahan buah
kemudian tergelincir ke lekuk Tanah

Sumokali, 2014-2016


Ferdi Afrar lahir di Surabaya, 9 April 1983. Ia kini tinggal dan bekerja di Sumokali, Sidoarjo, Jawa Timur. Buku puisinya bertajuk Nanas Kerang Ungu (akan terbit)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ferdi Afrar
[2] Pernah tersiar di surat kabar ""Kompas" edisi Sabtu 30 Juli 2016 

0 Response to "Getik Ikan Bethik - Getting Ikan Keting - Sekat Ikan Sepat - Seser Ikan Bader - Lekuk Ikan Kutuk - Pepaya"