Ikut Nabi Zakaria | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ikut Nabi Zakaria Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:00 Rating: 4,5

Ikut Nabi Zakaria

DALAM kehidupan rumah tangga, Salim merasa Kadir lebih sukses karena dikaruniai empat anak, setelah menikah sepuluh tahun. Sedang dirinya sendiri setelah menikah delapan tahun belum juga punya anak. Tapi Salim tidak pernah menyalahkan siapa-siapa apalagi menyalahkan Allah. Salim tetap berdoa kepada Allah. Seperti yang dilakukan Nabi Zakaria tidak pernah putus asa berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak walau usianya sudah sangat lanjut. Dalam pikiran Salim kalau Nabi Zakaria yang sudah amat udzur tidak pernah berhenti berdoa kepada Allah, agar dikaruniai anak, ia yang jauh lebih muda, tidak selayaknya putus asa dan berhenti berdoa. 

Siang itu Salim menyambut kedatangan Kadir dengan suka cita. Mata Kadir agak terbelalak ketika mendengar rencana Salim. 

”Serius kamu, Lim?!” 

”Serius banget Dir. Salamah juga setuju rencana itu.” 

”Ya tentu saja isteri kamu setuju karena merasa dirinya mandul.” 

”Selamah tidak mandul, begitu kata dokter.” 

”Tidak mandul bagaimana, wong kalian sudah menikah delapan tahun, tak sebiji anakpun yang nongol.” 

”Itulah Dir, aku ingin menyantuni 2 anak yatim dengan mengangkat mereka sebagai anak.” 

”Mereka itu anak orang lain lho Lim. Mereka bukan darah dagingmu. Pikirkan bahwa mereka itu tetap orang lain bagimu dan bagi Salamah. Mereka tidak punya kewajiban moral untuk berbakti kepada kalian.” 

”Kami akan mendidik mereka seperti anak kandung agar mereka juga merasa sebagai anak kandung kami. Aku dan Salamah akan menyayanginya layaknya anak kandung.” 

”Bagaimana bisa Lim, wong bukan darah daging kamu dan Salamah kok bisa seperti layaknya anak kandung. Sudahlah urungkan saja niat kalian. Terutama kamu Lim, kamu harus punya anak kandung.” 

”Caranya, Dir?” 

”Cari isteri muda. Kalau kamu yakin kamu tidak mandul, pasti Salamah yang mandul.” 

”Dir, alangkah tragisnya nasib perempuan karena tidak bisa memberikan anak lalu dicerai atau dimadu. Dengan mengangkat anak itulah jalan yang terbaik bagiku dan Salamah.” 

”Jangan salahkan aku kalau dua anak angkat kalian nanti tidak berbakti kepada kalian. Jangan salahkan aku kalau mereka jadi anak durhaka..”

”Semua itu tergantung cara mendidiknya. Aku akan didik mereka seperti Luqmanul Hakim mendidik anak kandungnya. Aku suka baca surat Luqman ayat 12 sampai ayat 18 yang menceritakan bagaimana Luqman mendidik anaknya.” 

”Apa bisa kamu seperti Luqman?” 

”Tentu aku tetap Salim, artinya aku bukan Luqmanul Hakim. Tapi dengan niat sungguh-sungguh aku akan berusaha mendidik anak-anak angkatku seperti Luqman mendidik anak kandungnya. 

Dan memang benar Salim mendidik 2 anak angkatnya yang sudah yatim itu seperti Luqman mendidik anak kandungnya. Pertama: jangan menyekutukan Allah. Kedua: bersyukurlah kepada Allah atas nikmatNya. Ketiga: berbaktilah kepada kedua orang tua. Keempat: mendirikan salat. Kelima: mengajak kepada kebaikan dan menganjurkan untuk menjauhi kemungkaran,. Keenam: selalu bersabar atas segala yang menimpa.. Ketujuh: Jangan berpaling dari manusia atau sombong. Tujuh hal itulah yang ditanamkan Salim dan Salamah kepada 2 anak angkatnya, Burhan dan Muslih. 

***
BELASAN tahun berlalu. Suatu malam Salim dan Salamah sedang duduk santai di ruang depan. Dari masjid di dekat rumah terdengar kumandang takbir yang sungguh syahdu. Setelah satu bulan puasa telah datang hari bahagia Idul Fitri. Salim dan Salamah harap-harap cemas, menunggu dua anak angkat mereka yang kemarin menelpon bahwa mereka akan pulang sehari sebelum salat Id. Tiba-tiba dari luar terdengar kegaduhan suara anak-anak. 

”Hei anak-anak salim sama Mbah Kakung dan Mbah Putri.”, teriak orang tua mereka. Dan anak-anak itu berlarian ke arah Salim dan Salamah. Mereka dengan gaduhnya berebut menyalami dan menciumi tangan kakek dan neneknya. 

”Mbah Kakung kok gak takbiran ke masjid?” 

”Kan nunggu kalian dulu.” Wajah Salim dan Salamah ceria dan hatinya sangat bahagia. 

”Mbah Uti, Mbah Uti sudah bikin ketupat?” 

”Ya sudah dong”. 

”Mbah Uti nanti minta ketupatnya ya?” 

”Kan ketupat dibikin Mbah Uti untuk kalian semua.” 

”Ada opor ayamnya Mbah Uti?"

”Ada dong. Masak ketupat tidak ada opor ayamnya?” 

”Horee, nanti kita makan ketupat dan opor ayam. Buatan Mbah Uti.” 

Dua anak angkat Salim Burhan dengan isterinya dan Muslih dengan isterinya menggandeng Salim dan Salamah masuk ke dalam rumah. Sikap mereka semuanya bukan seperti anak angkat. ”Terima kasih ya Allah” kata Salim dalam hati. ”Ya Allah matur nuwun”bisik hati Salamah. Malam itu Salim dan Salamah sama sekali tidak merasa bahwa mereka tidak punya anak. Dan tidak terbesit sedikitpun di dalam hati mereka, bahwa 2 anak angkatnya itu adalah anak angkat. Dalam diri Salim dan Salamah tidak pernah merasa punya anak angkat. Yang ada adalah anak kandung sekalipun lahir dari rahim orang lain. Tibatiba bibir Salim bergerak-gerak menghafal surat Luqman ayat 12 sampai 18. 

”Bulan depan bapak dan ibu umrah ya?” 

”Umrah?” ”Iya Pak, iya Bu,” kata Fatonah isteri Burhan.” 

”Bapak dan ibu, biar lebih tenang rumah ini akan kami bangun mulai minggu depan,” kata Ifah isteri Muslih.” 

***
DAN seminggu kemudian Burhan sekeluarga dan Muslih sekeluarga kembali kota masing-masing karena cuti mereka sudah habis. Salim tersentak ketika seorang lakilaki tua turun dari ojek. Betapa kaget Salim karena yang datang itu adalah Kadir. Tubuhnya kurus lunglai. Salim cepat berteriak memanggil Salamah. Perempuan itu muncul di pintu depan. Kadir memeluk Salim dan menangis sesengguhkan.

”Lim kamu benar, anak kandung tidak selalu menjadi anugerah tapi juga bisa menjadi adzab. Semua tergantung bagaimana cara mendidiknya. Lim, anak-anaku Lim, anak-anakku! Hartaku, Lim, hartaku, semuanya habis jadi rebutan anak-anakku. Aku tidak punya apa-apa lagi Lim.” 

Salim memeluk sahabatnya itu erat-erat. 

”Dir ingat kamu masih punya aku sahabatmu” 

Saat itu juga Salamah memaafkan Kadir yang pernah membujuk suaminya untuk kawin lagi. Tiba-tiba suasana menjadi hening sekali. Yang terdengar hanya suara takbir mengagungkan Asma Allah. ” 

Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil; hamdu” - g 

Achmad Munif, mantan jurnalis, cerpenis, novelis, pernah mengajar mata kuliah ”Penulisan Naskah Fiksi” di Fakultas Dakwah jurusan KPI UIN ”Sunan Kalijaga” mengajar ”Dasar-Dasar Penulisan Artikel Ilmiah Populer” di STPMD ”APMD” dan mengajar jurnalistik di Institut Dakwah Masjid Syuhada (IDMS) Yogyakarta. Novelnya yang sudah terbit ”Perempuan Yogya”, ”Merpati Biru”, ”Sang Penindas,” ”Lipstick”, ”Kasidah Lereng Bukit”. ”Kasidah Sunyi”, ”Tikungan”, ”Sang Primadona”, ”Terbanglah Merpati”, ”Bibir Merah”. Kumpulan cerpennya ”Tanda-Tanda Kebesaran Allah”, ”Perempuan di Bawah Gerimis” dan ”Kehormatan Ibu”

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Munif
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 3 Juli 2016


0 Response to "Ikut Nabi Zakaria"