Jam Bundar Untuk Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jam Bundar Untuk Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:04 Rating: 4,5

Jam Bundar Untuk Ibu

“Buatkan aku jam yang angkanya hanya sampai enam,” pinta Sri ke Anwar, si pembuat jam. Pembuat jam yang baru dikenalnya itu pun mengerutkan dahi.

Sri mempertegas maksudnya. “Angka jamnya hanya satu sampai enam, angka lainnya simpan saja.”

“Mana ada jam begitu,” tegas Anwar setengah keki karena Sri seperti tidak memercayai daya tangkapnya.

“Kau bikin jadi ada. Aku bayar seharga jam yang angkanya komplet,” jawab Sri sambil menunjuk label harga yang tertera pada salah satu jam bundar. Di jam itu tertulis Rp 150.000.

Mendengar Sri sanggup membayar seharga jam normal, Anwar mencium aroma anaknya mengenakan seragam sekolah baru. “Mau diambil kapan?”

“Besok. Di jam seperti sekarang.”

***
Esoknya Sri datang di waktu yang sama. Napasnya tarik-menarik. Tanpa banyak instruksi, Anwar menyerahkan kotak transparan yang tengahnya bolong kepada Sri. Sesuai permintaan, jam bundar hanya ada angka satu sampai enam.

Empat lembar uang lima puluh ribuan pun berpindah tangan, dari Sri ke Anwar. “Wah ini kebanyakan,” ucap Anwar.

“Tak apa. Aku tahu, kau pasti pusing bikinnya.”

Transaksi selesai, Sri mendekap kuat jam bundar itu sambil bergegas menuju halte bus Trans Jakarta yang berjarak dua ratus meter dari toko Anwar. Setelah melalui dua belas halte, ia turun lalu lanjut berjalan kaki sejauh 500 meter.

Sepanjang jalan ia memikirkan bagaimana meyakinkan ibunya kalau jam itu tidak rusak. Tapi semakin pendek jarak menuju tempat tujuan, Sri tetap tidak menemukan alasan masuk akal tentang jam yang angkanya hanya satu sampai enam itu.

Sri lenggang kangkung ketika petugas keamanan yang sudah hafal dengan wajahnya itu membolehkannya masuk meski sudah lewat jam besuk. Orang berikutnya yang ditemui adalah suster jaga. “Kau jalan kaki lagi? Hapus dulu keringatmu sebelum masuk kamar.”

Sri menurut. Ia menaruh kotak transparan berisi jam bundar itu di meja yang berdiri di depan suster jaga. Suster mengamati kotak transparan itu. “Kok, angka jamnya cuma enam?”

“Iya ibu yang minta,” jawab Sri sambil menghapus keringat.

“Eh iya, dokter psikiater bilang, obat ibu perlu ditambah.”

Sri menghentikan tangannya yang sedang menyapu pipi dengan bedak tabur. Matanya tegas menatap kertas resep yang disodorkan. “Obatnya mahal kalau beli di sini?”

Si suster hanya mengangguk. Sri menarik napas, merampas kertas itu dan melipatnya. “Aku beli di luar saja, besok aku antar ke sini.”

“Obatnya hanya diminum sebelum tidur,” suster jaga coba menenangkannya. “Sudah cantik, sana temui ibumu.

Langkah Sri selalu berat tiap kali mendekati kamar nomor tiga itu. Pintu kamar ibarat kotak televisi yang menayangkan adegan ibu memukuli telinganya sendiri. 

Sampai di depan kamar, ibu Sri tengah duduk di kursi plastik putih yang menghadap tembok kosong. Ada bekas lingkaran di tembok, di situlah jam dinding bundar biasanya menempel.

“Ibu, Sri pulang.”

Ibu menghampiri suara Sri dengan senyuman lebar. “Ya ampun Sri, ibu belum masak apa-apa ini.”

“Sri sudah makan, Bu.” Sri lalu meletakkan kotak transparan di kasur.

“Itu apa?” tanya ibu Sri sambil duduk di samping kotak transparan.

Sri ikut duduk di samping kanan ibunya lalu mengambil kotak transparan itu. “Ini, jam. Ibu, kan, kemarin minta.”

“Ah apa iya?” tanya ibu Sri tak yakin.

“Iya. Jam ini dibuat khusus untuk ibu.” Dengan semangat, Sri mengeluarkan jam bundar itu dari kotaknya.

Melihat angka di jam hanya sampai enam, kedua alis ibu Sri terangkat dan matanya bertanya.

“Ibu, kan, kemarin bilang, angkanya sampai enam saja biar lebih cepat bertemu pagi.”

“Tapi, kan, jam itu sampai dua belas. Nanti ibu tidak tahu kapan bapak pulang.” Suara ibu Sri bergetar.

Sri memegang lembut tangan kanan ibunya. Ia hafal betul, kalau kepanikan mulai menunjukkan gelagat, maka ibu akan kembali memukuli telinganya. “Jamnya sama, kok, Bu.”

“Tapi bapak selalu pulang jam 7, Sri,” nada suara ibu Sri semakin rapuh. Kepalanya celingak-celinguk. Keringat dingin pun mulai terasa di telapak tangannya yang mencengkeram kuat tangan Sri.
“Tenang, ibu. Bapak tidak akan datang. Ia tidak tahu kita di sini.”

Tidak berhasil, ibu Sri semakin panik. “Tapi bapak pulang jam tujuh, Sri. Ini sudah jam 3.” Tangan gemetarnya menunjuk jarum pendek jam bundar yang mengarah ke angka tiga dan jarum panjang ke angka lima.

“Iya. Tapi jam ini tidak ada angka tujuhnya. Jadi, bapak tidak bisa datang.”

“Tapi Sri ... ibu takut. Nanti bapak bilang ibu bodoh. Ibu pasti dipukuli.”

Perkataan itu ibarat sandi untuk kotak hitam dalam otak Sri. Adegan tangan runcing dari tubuh kurus kerempeng mulai berloncatan di kepalanya. Si tubuh kurus kerempeng itu adalah bapaknya.

Kotak hitam kemudian memutar rekaman suara bapaknya yang selalu melengking menembus telinga dan merobek nyali. “Perempuan bangsat, sudah tahu aku pulang jam tujuh, tapi masakanmu hanya begini? Makanan ini tak bergizi. Kau mau aku mati lemas ya!”

“Sudah jam tujuh ini, aku harus berangkat kerja. Nyetrika celana saja lama. Otakmu sebesar kacang! Perempuan tolol dasar!”

Setiap hari Sri membujuk ibunya untuk kabur, tapi hanya mata yang menciut dan berkilatanlah jawaban. Semakin hari, garis wajah ibu Sri semakin takut. Dan wajah takut itu berganti panik tiap kali jam bundar di dinding mengarah ke angka tiga.

Angka itu seolah memberi perintah pada napasnya untuk membanjiri seluruh pembuluh darah dengan rasa takut. Rasa takut itu jadi oli pekat yang menutup seluruh ruas parunya.

Sri memupuk selembar keberanian setiap hari. Keberanian untuk melumpuhkan keperkasaan bapaknya. Ia berlatih dengan tekun melontarkan peluru dari pistol angin agar mencapai sasaran hanya dalam sekali tembak. Waktu yang terulur pun membebaskan Sri untuk memilih momennya. 

“Kamu ini memang perempuan kotor. Kemaluanku sampai bisulan karena kau. Jangan-jangan si Sri itu bukan anakku ya? Dia pasti hasil hubungan kotormu di luaran sana, kan?”

Makian itulah yang membakar keberanian Sri. Dan di jalan yang biasa dilalui bapaknya, Sri mengamati tubuh kerempeng itu dari balik pohon besar. Tepat ketika langkah kaki bapaknya melambat sambil menyalakan rokok, Sri memerintahkan peluru bundar melesat kencang.

Peluru itu seperti punya dendam yang sama. Ia menyasar kemaluan dengan bisul besar itu. Si peluru kecil memecah nanah bisul jadi simpul saraf rasa sakit yang merontokkan seluruh kejantanannya. Bapak Sri melolong minta tolong.

Lolongan kesakitan itulah yang melebarkan sayap keberanian Sri untuk lari ke rumah dan membawa kabur ibunya. Ia ingin ibunya tak perlu lagi mencengkeram kedua telinganya mana kala jarum jam menuju angka lima. “Sri ... Sri .... Matikan suara itu. Bicaranya kasar sekali.”

Dan semakin jarum jam mendekati angka tujuh, ibu Sri semakin kehilangan dirinya. Otaknya seperti berkabut dan ketakutan memberi perintah. 

Namun di pusaran kebingungannya, ibu Sri selalu menghampirinya. Sambil menangkap keberanian yang tersisa, ia merengkuh kedua tangan Sri. “Pergilah ke kamar dan tutup telingamu dengan tanganmu, agar tak ada dendam yang menusuk kepalamu.

Air mata Sri bergulir senyap sambil menyayat tajam kedua pipinya. Ia ingin menelungkupkan kedua tangannya di kedua telinga ibunya. Tapi keberaniannya belum terkumpul ketika itu. “Ibu ...” ucap Sri menggantung.

Dengan tatapan kosong, ibu Sri menjawab, “Andai jam di dinding itu hanya sampai angka enam, hidup kita pasti bahagia, Sri.” ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Priska Siagian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1480/XXIX 4 - 10 Juli 2016

0 Response to "Jam Bundar Untuk Ibu"