Johan Putih | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Johan Putih Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:53 Rating: 4,5

Johan Putih

NOV, lihat cowok itu deh!

“Yang mana?

“Itu, yang lagi jongkok di depan pintu kelas.”

“Emangnya kenapa?”

“Orangnya keren banget deh. Menurut informasi yang gue denger sih, namanya Johan, doi kelas 3 SMK, and belum punya pacar.”

“Ah, nggak juga. Masih cakepan Johan gue ....”

Novi terlihat tidak begitu tertarik dengan cowok itu. Padahal menurutku dia cowok terkeren di sekolah ini. Matanya dan rambutnya berwarna coklat, tubuhnya tinggi dan tidak terlalu kurus, kulitnya putih bersih dan berpakaian sangat rapi. Novi juga punya pacar yang bernama Johan. Tapi Johannya Novi berkulit hitam. Untuk membedakannya, kami menyebut mereka dengan sebutan “Johan-hitam” dan “Johan-putih”.

“Ga, gue udah putus sama Johan-hitam!”

“Hah!?! Yang bener lo? Tapi ... kenapa?”

“Dia yang minta putus. Katanya sih gue sama dia udah nggak cocok lagi. Gimana dong, Ga?”

“Ya udah, lo jangan bersedih. Abis mau diapain lagi, masa mau dipaksain juga? Gue cuma bisa bilang kalau gue ikut sedih atas putusnya lo berdua. Gini aja deh, mendingan sekarang gue bantuin lo nyari inceran baru, OK?”

“Yah, bolehlah. Tapi jangan sekarang, soalnya gue masih sedih.”

Untuk menghilangkan kesedihan Novi, setiap hari kami selalu pergi bersama, kadang ke mall atau sesekali makan di suatu tempat. Sampai suatu hari, kami bertemu Swara, teman semasa SMP waktu jalan-jalan di mall dan dia sedang bersama ... Johan Putih!

“Swara, kenalin gue sama temen-temen lo dong!” pintaku.

“Boleh.”

Kami mulai bersalaman dan saling memberitahukan nama masing-masing. Sampai akhirnya tiba saatnya aku bersalaman dengan Johan-putih, ketika tanganku mulai menyentuh tangannya, jantungku berdegup keras.

“Johan.”

“Mega.”

“Terus, yang ini namanya Novi,” ujar Swara agar tidak dicuekin.

Semenjak perkenalan itu, kami menjadi semakin akrab dengan Johan-putih. Tentu saja itu membuatku semakin menaruh harapan padanya.

Suatu malam Minggu, Novi ke rumahku, bawa kabar gembira.

“Malam Minggu ini Johan-putih ngajakin kita pergi!”

“Ke mana?”

“Nggak tahu, katanya sih rahasia.”

“Kayaknya gue nggak bisa deh ... soalnya gue mau nemenin nyokap ke rumah saudara gue,” jawabku sedikit menyesal. “Gimana kalo lain kali?”

“Yah, nggak bisa. Katanya harus malam ini!”

Dengan sangat terpaksa, aku akhirnya nggak ikutan pergi. “Nggak apa-apa lah. Lo pergi aja sama dia. Gue kan bisa lain kali.”

“OK deh, selamat nemenin nyokap!”

“Yoi.”

Aku sudah hampir tertidur, ketika malam itu telepon di rumahku berdering.

“Halo,” sapaku.

“Halo, bisa bicara dengan Mega?”

“Ya, ini gue. Siapa nih?”

“Novi.”

“Kenapa, Nov?”

“Nggak, gue cuma pengen ngasih kabar buat lo, sekalian gue pengen bilang terima kasih karena lo udah bantu gue menemukan seseorang yang spesial buat gue.”

“Maksud lo apa sih? Gue jadi bingung.”

“Gue baru aja jadian sama Johan-putih!!!”

Novi terdengar germbira. Aku melongo. Kantukku mendadak hilang.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mega Silvia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Gadis" edisi 23 April - 2 Mei 2002

0 Response to "Johan Putih"