Kaca Kristal - Kopi - Hujan Pertama | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kaca Kristal - Kopi - Hujan Pertama Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Kaca Kristal - Kopi - Hujan Pertama

Kaca Kristal 

Dan inilah yang terjadi: 

Mimpi menjelma cahaya dalam air 
yang mengeruh 
sebab seseorang telah mengubal 
dasar yang semula tenang.

Harapan menjadi pecahan kaca 
kristal 
yang tertebar 
berkilau, memendar 
cemerlang 
namun menggoreskan luka 
saat kita menyusurinya 
memijaknya.

Saat itulah kita seperti tidur, 
senantiasa tertidur 
dan ketika terbangun 
kita tak tahu kota apa 
yang terhampar: 
rerumah dengan pintu tertutup 
berhimpitan 
wajah-wajah datar 
tanpa mata tanpa telinga 
berlalu-lalang 
toko-toko terbuka 
tanpa barang dagangan 
akanan memudar, 
mengabur dari pandangan.

Lalu kita kembali tidur, selalu 
tidur 
dan ketika terbangun 
kita tak tahu 
apakah waktu
masih seperti yang dulu:
sebuah jembatan yang
menghubungkan
dua daratan tak bertuan,
dua pulau yang lama
sangat lama
terkoyak kemarau panjang.

Kita tak tahu
apakah waktu akan kembali
menjadi seperti dulu:
bongkahan es yang mencair
perlahan
menjelma genangan demi
genangan
selalu memberi kesegaran.

Kopi 

Hitam seperti malam
ah, betapa sering terdengar.

Pahit seperti kematian
ini juga kerap dituliskan.

Manis seperti cinta
betapa lazim diucapkan orang.

Panas seperti neraka
sejak kecil kau telah
mendengarnya.

Telah lama, dia mengerdil
dalam baju usangnya.
Begitu sering dia menanggung
malu
karena celana yang buluk
dan berdebu.

Kini, dia ingin
muncul dengan jubah lain
dengan cadar,
tudung atau kerudung,
yang belum pernah dia kenakan
sebelumnya.

Ingin dia kembali cantik
dan menarik
dengan pakaian baru
dengan dandanan
yang membuat parasnya
semakin ayu
agar aku dan kau,
juga mereka,
bisa mengaguminya lagi
seolah melihatnya
untuk pertama kali
seperti dulu
sebelum waktu dan
matahari
membuatnya kembali kusam
dan kuyu.

Hujan Pertama 

Keheningan terpapar begitu luas
dan panjang.

Di luar,
pekarangan rumah menjelma
halaman,
sebuah buku purba
entah siapa
penulisnya.

Dan rerintik hujan itu,
rintik-rintik hujan pertama,
menjelma kata-kata
jajaran kata yang tumpah
dari langit.

Frasa demi frasa pun terbentuk
kalimat demi kalimat tersusun
paragraf demi paragraf berjajar
di tanah,
hamparan yang kini basah.
Dan kilat, petir
juga guruh dan guntur
menjelma tanda baca:
koma, titik, titik-koma,
tanda seru,
tanda tanya.

Dan kau, aku
juga mereka
hanya bisa bertanya
apakah cerita yang sedang
dikisahkan,
di sana?


Achmad Faqih Mahfudz lahir di Buleleng, Bali, 14 Maret 1987.Masa kanak dan masa remajanya dihikmati di beberapa pesantren di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Yogyakarta. Alumnus Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Faqih Mahfudz
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 10 Juli 2016

0 Response to "Kaca Kristal - Kopi - Hujan Pertama"