Keliru | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Keliru Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:26 Rating: 4,5

Keliru

ENTAH apa yang berbeda dariku, semua orang bertanya mengapa aku tak terlihat seperti biasanya: anak cerewet di sekolah. Keadaan itu berbalik setelah ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku.

"Mama lihat kamu kurang bersemangat akhir-akhir ini, ada masalah di sekolah?" tanya mama. 

Aku menggelengkan kepala. Sepertinya perasaan ini sulit sekali kusembunyikan. Hingga tanganku terkena pisau saat sedang mengupas bawang. Kejadian ini membuat mama semakin khawatir. Sop jagung yang kubikin ini membuatku teringan Sarah. Sering kami memasak sop jagung bersama-sama. Rupanya yang ada di benakku sama seperti yang ada di benak mama.

"Nak, Sarah kok lama tidak main ke rumah?"

Pertanyaan mama membuatku sering kepikiran. Apa yang harus kujawab ketika mama kembali menanyakan Sarah.

Sarah sahabatku sejak awal masuk SMA. Sejak pisah kelas, membuat hubungan kami renggang. Aku tak tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Sedih rasanya ketika aku membuka galeri handphone yang banyak terisi foto-fotoku bersama Sarah. Apa mungkin Sarah sudah asyik dengan teman barunya. Atau karena aku pernah mengecewakan ketika tak bisa datang ke acara ulangtahunnya tiga bulan lalu?

Hujan deras membuatku semakin terhanyut dalam pikiran itu. Mendung langit sore seakan menggambarkan perasaanku saat ini.

***
JARUM jam terus berputar. Semakin cepat saja waktuku kembali ke sekolah. Lagi-lagi aku harus bertemu Sarah. Malas rasanya. Aku memang jahat. Tapi ini caraku agar bisa melupakan itu. Aku tahu hal itu tak pantas kulakukan. Biarlah semua mengalir seperti hujan deras ekmarin sore. Duduk santai di kursi bawah pohon sudah menjadi kebiasaan anak-anak saat jam istirahat. Tampak dari ujung utara Sarah bersama dua teman barunya berjalan kembali ke kelas. Mereka pasti lewat depanku, pikirku. Sudah rencanaku sengaja tak menyapanya, aku harap ia duluan yang menyapaku. Semakin dekat arah mereka berjalan, tak seperti yang kuharapkan. Hatiku seketika hancur berkeping-keping. Tak ada sapaan tak ada senyuman. Itu yang terjadi di antara kami.

"Mer, kamu kemarin nggak ikut Sarah jalan-jalan ke Mal?" tanya Marisa dengan wajah polos sambil asyik melihat-lihat postingan di Instagram. "Memang Sarah jalan-jalan ke Mal ya?"

Marisa menunjukkan foto Sarah bersama teman barunya dari postingan Instagram. Membuatku semakin parah. Rasa kesal, kecewa menjadi satu dalam dada. Hingga akhirnya dada tak mampu lagi menahan amarah. Air mata menetes pelan beriringan.

Di kelas....

"Mer kamu sekarang beda kelas ya dengan Sarah?" tanya seorang guru yang tak tahu yang terjadi di antara kami.

Sialan, kenapa setiap orang pasti menyinggung. Aku selalu terbata-bata ketika menjawab pertanyaan soal Sarah. Semoga saja orang-oranng tak curiga nadaku yang seperti itu. Kalaupun mereka curiga, entah jawaban apa lagi yang bisa kukatakan. Makin lama hubungan pertemananku dengan Sarah semakin tak jelas.

***
SINAR matahari pagi menyapaku. Membuatku bergegas berangkat ke sekolah dengan wajah bersinar. Hari ini ulangtahunku.

"Selamat ulangtahun kami ucapkan, selamat panjang umur kita kan doakan, selamat sejahtera sehat sentosa, selamat panjang umur dan bahagia...."

Aku mendengar teman-teman menyanyikan lagu itu ketika memasuki kelas. Terharu dan senang rasanya, ternyata teman-teman mengingat hari lahirku, hingga aku tak bisa mengucapkan kata-kata. Ketikakeluar kelas dan berpapasan teman lain, mereka juga memberi ucapan selamat kepadaku. Sungguh gembira. Hanya sekadar ucapan selamat sudah cukup membuatku bahagia. Sorenya, di rumah, telepon berdering. Tak ada orang di rumah membuatku harus mengangkat telepon itu.

"Halo Merry, ini Mama Sarah."

"Iya Tante, ada apa?"

"Tante mau ngasih tahu, Sarah sekarang dirawat di rumah sakit, tifusnya kambuh. Oh iya, selamat ulang tahun ya Merry, ini pesan dari Sarah. Sarah minta maaf, dia nggak sempat buka handphone karena keadaannya cukup lemas."

Kabar itu membuatku trenyuh. Ternyata ia sedang sakit bukan karena lupa hari ulang tahunku.

Esoknya membesuk Sarah. Banyak hal yang kami bicarakan, membuatku terdorong bertanya mengenai hubungan kami belakangan ini. Ternyata terjadi kesalahpahaman di antara kami. Aku menganggap Sarah sudah nyaman dengan teman barunya, Sarah pun menganggap aku marah padanya, sehingga di antara kami menjadi canggung.

Kami pun saling meminta maaf. Saling berpelukan. 

Laudita Frida Amellia, SMAN 1 Jetis Bantul. Tinggal di Jalan Samas Kalijurang Srigading Sanden Bantul.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Laudita Frida Amellia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 17 Juli 2016

0 Response to "Keliru"