Lapar - Pulang kepada malam, Pulang kepada laut - Nyala lampion di sepasang mata | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lapar - Pulang kepada malam, Pulang kepada laut - Nyala lampion di sepasang mata Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:34 Rating: 4,5

Lapar - Pulang kepada malam, Pulang kepada laut - Nyala lampion di sepasang mata

Lapar 

Nun, tak akan pernah sampai batin ini selain ketika
bening matamu kunikmati dalam sendiri. laparlah
yang membikin kita merasa masih menjadi manusia.
dan suatu ketika, kau akan bertanya perihal burung-
burung di langit yang berlayaran ketika mega
mendung menitikkan hujan. sementara, suaranya yang
bersiul-siul di dadamu telah membikin sepi di mataku.

ada api yang menjilati udara di sini, di lambung ini
sementara detik-detik bertanggalan di jendela.
“kau dengarkah tiktak nya?“

kehilangan adalah hal yang sederhana, Nun. maka
berbahagialah. seperti sore yang mengajarkan kita
berkemas. sementara rel-rel kereta telah menuntun
sepatu kita kepada cemas.

“adakah suatu sore nanti, dapat kubenarkan letak
syal yang berjuntaian di lehermu. dan sepotong api,
kutitipkan pada ranum dadamu. lalu kupandangi
kau, lama sekali.“

marilah tetap merasa lapar seperti ini, Nun. kita
semakin menjadi manusia karenanya. dan aku
menjadi ingat, bahwa aku pernah mengasihimu; yang
diam-diam menyalakan lentera, di kepalaku

Yogyakarta, Mei 2016 


Pulang kepada malam,
Pulang kepada laut 

pulanglah kepada malam, Nun
ketika langit di kaca jendela memuram
bulan yang lindap itu mencair
sebuah perahu dari tulang belulangku berlayaran di
langit itu

“kau tahu kapan Tuhan mencipta cahaya?“
bisikmu saat dingin dermaga menekan dada

marilah pulang kepada malam, Nun
saat burung-burung origami beterbangan di laut
yang murung
kapal-kapal pun turut pulang
pada sebuah dermaga, dengan tiang-tiang lampu
yang nyalanya malas menggapai bayang;

“di laut yang mana aku akan tenggelam?“
bisikmu terasa benar menekan dada
ketika bulan jatuh di kaca jendela
langit yang jauh, membisik tiada
angin menampikmu
sebagai suara
di dermaga
yang tak pernah sampai
yang tak pernah pulang

Yogyakarta, 2016 

Nyala lampion di sepasang mata 

seperti nasib yang tak akan pernah kita miliki, Nun
lampion-lampion yang bermalam-malam kita
nyalakan
dikibas kering angin baratan
lantas segalanya kembali, kepada;
padam

dan sebuah pintu yang semalaman kau buka
telah membawa ribuan burung-burung yang tua
dan dari kelepaknya yang satu dua
berderit-derit cericit seperti derit jendela
semacam suara saat aku mengingatmu, Nun

mereka-mereka yang memasuki dada;
matanya seperti lampion yang hampir padam
seperti matamu, sebuah mercu yang terus
mengintaiku

“kemarilah, Nun. engkau yang jauh
yang pernah melipatku di muram subuh“

Yogyakarta, 2013-2016




Galih Pandu Adi. Penyair, lahir 1 Agustus 1987, di kota kecil Lasem­Rembang, Jawa Tengah. Karya-karyanya pernah dimuat di media massa, juga terkumpul dalam beberapa antologi puisi dan cerpen bersama penulis lain. Buku kumpulan puisi berjudul Rel Kereta dan Bangku Tunggu yang Memucat (2012).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Galih Pandu Adi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu 3 Juli 2016

0 Response to "Lapar - Pulang kepada malam, Pulang kepada laut - Nyala lampion di sepasang mata "