Lebaran Tahun ini Lebih Lebaran dari Lebaran | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lebaran Tahun ini Lebih Lebaran dari Lebaran Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:42 Rating: 4,5

Lebaran Tahun ini Lebih Lebaran dari Lebaran

Jatinegara. 2016.

Sudah sepuluh Lebaran, hidupnya beraroma drama. Lebaran lalu ibunya tersambar petir. Hangus, legam, jadi arang sudah. Lebaran dua tahun sebelumnya, hadiah MP3 player yang diberikan pada istrinya, mengundang maut. Earphone yang disumpal ke telinga meniadakan segala suara, hanya lagu yang ada. Sambil mengunyah gorengan, istrinya bernyanyi-nyanyi riang melintasi rel kereta api tanpa tengok kanan kiri. Habislah dia dimakan kereta, lumat dengan sisa yang berantakan. Lebaran sebelumnya lagi, ia kalah bertaruh, pulang tanpa apa-apa. Rumahnya sudah dipasang di atas meja judi. Selesai. Ya meskipun untuk kebuntungan yang ini, semua orang menganggap murni kesalahannya. Ngapain coba malam takbiran berjudi besar-besaran begitu?

Yadi, nama manusia yang kesialannya tak tertandingi itu. Ia tidak mengerti mengapa badai sial selalu datang saat Lebaran. Jika sudah sepuluh kali berturut-turut, maka sudah layak disebut SELALU. Kan? Bulan puasa ini, perasaannya makin kacau dari sahur ke sahur. Seluruh tubuhnya seperti bersiap, apalagi yang akan ia alami pada 1 Syawal depan. Bila melihat hidupnya hari ini, rasanya Dewa Sial akan kesulitan menemukan celah. Apalagi yang tersisa dari Yadi? Orangtua tak punya, istri tiada, sudah lima bulan dipecat dari pekerjaannya karena tertangkap tangan mencuri, kamar kontrakan sudah menunggak empat bulan (untung ibu pemilik rumah mudah iba, atau mungkin sedikit jatuh cinta pada Yadi yang berpotongan rambut bak bintang Korea). Barangkali hanya wajah lumayan yang membuatnya tidak terlalu babak-belur.

Biar begitu, tahun ini ia bertekad menjadikan Lebaran dengan drama indah tak terkatakan. Bagaimana caranya, ia hanya bisa melamun menatap langit-langit.

Gegerkalong Hilir. 1974.

Dari jalan Setiabudi ke arah Ledeng, lurus saja, lalu belok kiri masuk Gegerkalong Hilir. Jalan perlahan, nanti di sebelah kanan ada gang Sarbini, namanya. Masuk saja. Rasanya sih jauh ke dalam, ya. Kita akan melewati rerimbunan pohon bambu yang menaungi beberapa kuburan di sebelah kanan. Lurus lagi, jalannya agak menanjak. Rumah-rumah ada di sebelah kiri.

Semakin jauh dan menanjak kita berjalan, maka kita akan melewati atap-atap rumah orang. Nah, setelah dua atau tiga kali tanjakan, di sebelah kiri ada rumah mungil berjendela banyak yang ada halaman rumputnya dipenuhi bunga warna-warni. Di situlah Anna tinggal. Pagar kawatnya hampir tak pernah dikunci. Jadi kita bisa langsung masuk setelah mengucapkan salam. Sebaiknya tidak bertamu setelah pukul lima sore, karena penghuni rumah biasanya sudah menutup pintu dan jendela.
Anna, masih berusia 3,5 tahun. Tinggal berdua saja dengan ibunya yang sedang hamil besar. Ayahnya bekerja di Jakarta, pulang tiap hari Minggu dini hari dan kembali ke Jakarta selepas subuh pada hari Senin. Begitu terus, bertahun-tahun. Meski tinggal dengan ibunya, Anna memiliki ikatan yang amat kuat dengan ayahnya. Tiap Bapak, begitu Anna memanggil, harus kembali ke Jakarta, ia merengek, “Sarung Bapak buat aku!” Itu artinya, sarung yang dipakai tadi malam. Tidak boleh dicuci. Tidak boleh bau sabun. Harus bau Bapak.

Akhir minggu adalah waktu yang paling ia tunggu. Anna akan gelisah luar biasa. Ingin mandi cepat-cepat, bersiap menyambut pujaan hatinya. Padahal, ayahnya baru akan tiba di depan pintu rumah mereka pada pukul satu dini hari. Ketika tidurnya sedang di puncak lelap. 

Keindahan ini terguncang pada Lebaran pertamanya. Ketika pertama kalinya demam Lebaran ia pahami. O baju baru. O bersih-bersih rumah. O kue-kue enak bertebaran di SEMUA meja! Ooo ... meriah sekali. Tiga hari sebelum Lebaran, semestinya ayah pulang. Anna bersiap hendak memamerkan baju baru pemberian ibunya. Baju ditata rapi di atas tempat tidur. Senyumnya lebar sekali. Perutnya terasa geli setiap kali teringat kejutan untuk ayahnya.

Malam datang, berganti pagi. Lalu jadi siang, dan kembali malam. Anna marah pada ibunya. “Mana Bapak? Mana Bapak?! Mana Bapaaaaak!!!” Tengah malam, orang-orang berdatangan ke rumah. Ramai. Hey, apakah Lebaran dimajukan? Mana Bapak? Semestinya Bapak segera tiba untuk merayakannya. Ibunya menangis tak sudah-sudah sambil memangku adik bayi.

Dua hari setelah itu, dengan susah payah ibunya menjelaskan bahwa ayahnya tidak akan pernah datang lagi. “Bapak duluan pulang ke surga, sayang”. Sejak itu, Anna benci surga yang dianggap sudah merebut ayahnya. Sejak itu, Anna membenci Lebaran. Membenci baju baru. Membenci kue-kue kering. Membenci lap-lap perabot, beres-beres rumah pada bulan puasa.

Cilegon. 1989

Usia Yadi 20 tahun ketika memutuskan pergi dari rumah orangtuanya, bekerja di pabrik botol di Cilegon. Di sanalah ia menghadapi supervisor yang menekan, gaji jauh dari cukup, tinggal berdesak-desakan di kamar sempit bersama teman-temannya. Bila tidak begitu, mana cukup uangnya untuk sedikit bersenang-senang? Janganlah bicara memberi pada orangtua. Habis.

Atas nama usia muda, Yadi bersenang-senang setiap datang bayaran mingguan. Tanpa tabungan, tanpa sisa. Ketika Lebaran tiba, ia hanya bisa termangu tak bisa pulang, berkawan sunyi di kamar kontrakan yang ditinggalkan penghuni. Kemudian ia belajar bahwa untuk bisa menikmati Lebaran yang meriah, ia harus punya uang. Pelajaran menabung pertamanya datang dari tetangga kamar kontrakannya, Anna. Hanya Anna yang tersisa ketika semua orang mudik Lebaran. Anna tidak pernah pulang kampung. Tiap ditanya, ia hanya menjawab, “Nggak punya kampung”. Dari Anna-lah Yadi mengerti bahwa menyisihkan sedikit-dua dikit tidak akan terasa. “Nanti tahu-tahu duitnya banyak, Yad,” nasihat Anna.

Sunter. 2016.

“Kamu nggak mau ketemu Ibu?”

“Mau. Tapi nanti kalau sudah nggak Lebaran.”

“Ibu ingin Lebaran sama kamu, Na.”

“Aku nggak mau Lebaran.”

“Mau sampai kapan kamu memusuhi Lebaran?”

“Sampai Bapak hidup lagi. Nggak mungkin, kan?”

Dan ibunya menyimpan isak yang dalam begitu telepon genggam dimatikan. Keputusannya pindah ke Jakarta selepas kematian suaminya, lumayan meredakan pedih. Ia tinggalkan semua kenangan pahit itu di Bandung. Anna yang baru masuk SD, memulai semuanya dari awal.

Anna yang tumbuh menjadi perempuan keras. Anna yang memilih bekerja habis-habisan pada malam takbiran dan Lebaran. Ia hanya akan menemui ibunya selewat Lebaran.

Anna tak hanya memusuhi Lebaran. Ia pun memusuhi cinta. Beberapa kali pria datang padanya. Sebagai teman, Anna amatlah menyenangkan. Tapi begitu ada pria yang mulai menaruh hati, Anna mendadak berubah menjadi batu. Lelaki adalah ayahnya. Hanya ayahnyalah yang layak menempati hatinya. Rasa bencinya menumpuk makin tinggi setiap kali ada lelaki yang masuk untuk mengajaknya hidup bersama.

Rasa dendamnya pada kehilangan terus menggembung. Dadanya sesak. Ia perlu udara segar.

Bangku Trotoir Jalan Sudirman. 2016.

Yadi sangat sangat sangat berharap Lebaran kali ini istimewa. Ia percaya, tidak ada orang yang sial tanpa habis. Dan ia juga percaya, manusia diberi cobaan yang sesuai kemampuannya. Yadi yakin, kemampuannya sudah tamat. Sehingga ia membutuhkan belas kasihan dari Sang Pemilik Hidup.

Yadi pun tahu, menatap langit-langit kamar kontrakan yang belum dibayar empat bulan itu, tidak akan menyelesaikan persoalan. Ia harus keluar. Paling tidak, kalau mau melamun lagi, tidak di kotak kamarnya. 

Dan tibalah ia di pinggir jalan Sudirman. Tubuh lunglainya dihempaskan di bangku trotoir. Meluruskan kaki, menatap mobil-mobil yang lalu lalang. Jam buka puasa sudah berlalu dua jam yang lalu. Perutnya lapar tapi uang terakhirnya sudah habis untuk ongkos kendaraan umum.

“Satu-satunya yang tersisa dariku hanya harga diri,” gumamnya.

“Bagus masih punya harga diri,” suara di sebelahnya menyahut. Pelan. Seperti bicara pada diri sendiri. Orang asing yang ikut campur urusan orang lain, gerutu Yadi dalam hati.

Di sebelahnya duduk seorang perempuan dengan penampakan seperti laki-laki cantik. Rambut sebahu tak disisir, bercelana jeans, mengenakan jaket kulit imitasi berwarna hitam, dengan sandal jepit. Dan Yadi memekik ketika menyadari siapa perempuan tukang ikut campur urusan orang itu, “Anna! Anna!”

“Nggak  usah teriak,” desisnya tanpa menengok sama sekali.

“Hey! Kamu apa kabar? Kok, kayak hantu, tahu-tahu ada di sini?”

“Aku sudah lihat kamu tadi. Ngelamun, ngomong sendiri kayak orang gila. Kenapa kamu? Stres?”

“Aku takut sama Lebaran, Na.”

Anna berpaling cepat, memandang ke arah Yadi, “Kenapa? Nggak punya duit lagi? Pelajaran menabung nguap ke mana, Yad? Ck.”

“Ceritanya panjang. Aku nganggur udah lima bulan. Utang numpuk. Semua orang yang ada di dekatku mati semua tiap Lebaran. Jadi kamu jangan dekat-dekat. Bisa mati nanti.”

“Nggak takut. Aku juga males ketemu Lebaran.”

“Kenapa?”

Anna hanya mengedikkan bahu dengan mata lurus ke depan.

“Apa kamu takut sesuatu?”

Hening.

“Aku mengalami sial sepuluh kali Lebaran berturut-turut. Tapi aku nggak takut sama Lebaran. Aku cuma takut sial lagi. Tapi kalau dikasih sial lagi, ya sudahlah. Terserah Tuhan saja.”

“Bapakku dikubur pas Lebaran. Itu Lebaran pertamaku.”

“Oh. Ng ... tapi, kalau aku siap menerima sial apa pun pada Lebaran nanti, mestinya kamu siap tidak menghukum siapa pun, termasuk dirimu sendiri, atas nama Lebaran.”

“Maksudmu?”

“Tidak semua rasa sakit itu harus dijalani terus pedihnya.”

Anna terkesiap. Amarahnya perlahan mengempis. Kendor. Bunyi petasan sayup terdengar dari kejauhan. Lebaran tinggal menghitung hari. “Kamu Lebaran sama aku aja.”

“Hah?” tanya Yadi memandang Anna dengan mata terbelalak.

“Kita nyerah aja sama Lebaran. Kalau nanti sial ya sial. Kalau nanti ada yang hilang ya hilang. Tapi aku nggak mau lari lagi dari Lebaran. Aku kangen bapakku dengan menelantarkan ibuku. Nggak adil. Temani aku. Mau?

Yadi tersenyum. Ini adalah Lebaran paling ajaib. Ini adalah Lebaran yang lebih Lebaran dari Lebaran yang ia kenal.

Ia tak punya apa-apa. Tapi ia punya semua. Karena ia punya Lebaran.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Candra Widanarko
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1480/XXIX 4 - 10 Juli 2016

0 Response to "Lebaran Tahun ini Lebih Lebaran dari Lebaran"