Lelaki di Bawah Pohon Turi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lelaki di Bawah Pohon Turi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:26 Rating: 4,5

Lelaki di Bawah Pohon Turi

LELAKI itu bersandar di bawah pohon turi. Di sampingnya, kendi berisi air putih, singkong bakar yang tinggal sepotong di atas daun talas layu. Sebuah cangkul dengan gagang kokoh tergeletak tak jauh darinya. Tulang-tulang dadanya menonjol, keringat bercucuran, rambutnya lepek. Berkali-kali ia menarik napas berat sambil memandangi tanaman cabe yang terhampar di hadapannya.

"Panennya si Darmin langsung dibelikan motor baru."

"Tukijo beli mobil bekasnya Pak Lurah."

"Katiran sudah mulai beli pasir, mau mbangun rumah."

Masih jelas suara-suara itu. Di ladang, di perempatan jalan, di tempat-tempat mencuci umum, juga di truk-truk pengangkut orang-orang yang hendak ke pasar. Berita panas itu dengan cepat menyebar ke seluruh kampung. Membuat orang-orang tersulut tekadnya. Inilah saatnya petani harus mengubah nasib. Dari wong cilik, menjadi wong nduwe.

Dan berbondong-bondonglah para petani mulai membersihkan ladang mereka. Tidak ada lagi rasa sayang menghabisi singkong yang per kilonya hanya seharga logam bergambar bunga melati. Membabat jagung-jagung yang membuat jempol bengkak saat memipilnya untuk dijual. Bahkan harga kedelai yang katanya menjanjikan tak cukup membuat air liur mereka menetes.

Ayam-ayam, kambing-kambing dan sapi-sapi dikeluarkan dari kandang, dibawa ke pasar untuk dijadikan uang. Emas-emas yang tersimpan rapi dalam kantong di bawah tikar tempat tidur juga ikut melayang. Semuanya menjadi wujud yang sama. Benih cabe, polybag, plastik-plastik penutup, mulsa, aneka pupuk dan obat semprot serta ratusan batang lanjaran dari kayu.

"Harga terus naik!"

Tak ada yang lebih menarik dibicarakan selain cabe! Petani mana yang tidak ngiler setiap kali mendnegar harga cabe semakin melambung? Dari yang biasanya Rp 3 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, Rp 20 ribu, sampai Rp 50 ribu. Bahkan Ro 90 ribu.

"Edan."

Pun bagi lelaki itu, lelaki yang kini bersandar di bawah pohon turi. Kalau saja...

***
"JANGAN dijual kambingnya, Pak. Kita kan sudah sepakat, itu satu-satunya persiapan untuk khitan Jalu, empat bulan lagi." Begitu ucap istrinya, suatu malam.

"Jangan jadi kuno, Bu. Yang lain berani maju, masa kita tidak?"

"Tapi Jalu sudah ngotot minta sunat liburan sekolah nanti?"

"Empat bulan waktu yang cukup untuk umuir cabe, Bu."

Lalu, benar-benarlah lepas satu-satunya kambing di kandnag mereka. Kambing yang dibeli dari uang hasil mburuh tanam padi. Rp 1,1 juta. Masih kurang Rp 900 ribu lagi untuk modal awal menanam cabe-cabe menggiurkan itu.

"Aku tidak setuju kita utang segitu banyak, Pak. Uang dari mana untuk mengembalikan?"

"Orang takut itu ndak akan bisa maju, Bu. Setuju atau tidak, aku akan tetap mencari tambahan untuk modal."

Begitulah, dengan tekad yang kuat dan perasaan membuncah, ia merasa telah dapat mengalahkan ketakutannya untuk maju. Sekarang, atau tidak untuk selamanya, batinnya. Entah mendapatkan kata-kata dari mana.

Esoknya ia bangun bersama suara ayam jantan. Dengan cepat kaki telanjangnya menyusuri jalan setapak menuju ladang. Menjebol singkong-singkong, mencabut beberapa tanaman jahe, mencangkuli bongkahan-bongkahan tanah, menggemburkan dan membuatnya menjadi rata.

Pagi-pagi berikutnya --seperti petani-petani lain di kampungnya-- ia merawat tanaman cabenya dengan penuh kasih sayang. Mengawasi perkembangannya: ngocor, menyemprot obat, memberi pupuksesuai usia, juga menaruh lanjaran-lanjaran penyokong cabe agar tidak ambruk.

Lelaki itu, yang kini mengipasi badannya dengan caping yang sudah tidak berbingkai, kembali mengembuskan napas berat. Ia pandangi hamparan pohon cabe di hadapannya. Apa yang salah? Bukankah hidup harus berusaha? Gumamnya dalam hati.

Lahir dan besar di kampung itu, lalu menjadi petani, baginya bukan pilihan. Tapi seperti sebuah keharusan yang harus dijalani. Tak ada yang diwariskan kedua orangtuanya selain keterampilan mencangkul dan menanam. Seperti kebanyakan orang-orang di kampungnya.

Dulu, ia dan orang-orang di kampungnya, pernah menjuakkan harapan, saat musim-musim kaos dibagi gratis dan bendera warna-warni dikibarkan di tiang-tiang. Saat beberapa orang bicara dari aats panggung, menjanjikan akan didirikannya pasar induk di kecamatan yang kelak bisa menampung apa saja hasil bumi. Pasar yang menjadi tempat pesta para petani, sehingga tak ada lagi permainan harga oleh tengkulak dari kota.

Namun hingga kini, bertahun-tahun kemudian, kabar itu hanya seperti ikan asin yang aromanya menyengat saat dibakar, lalu akan menghilang begitu saja setelah dingin.

Bulan belum berputar penuh, tapi harga cabe semakin jatuh. Para petani mulai gaduh, gundah, gemetar, sambil sebisanya terus mengibur diri. Terus memupuk keyakinan, bahwa seturun-turunnya harga, tak akan sampai merugikan mereka.

Lelaki itu, yang masih bersandar di pohon turi, mengusap wajahnya.

"Kalau sudah begini, lalu apa yang harus kita lakukan, Pak?"

Susah payah ia menelan ludah. Pertanyaan istrinya semalam seperti duri dadap yang menancap di gendang telinganya.

"Ingat! Jangan sekali-kali kau berniat bunuh diri seperti Parji!" bisik istrinya.

Ya, Parji adalah puncak kenyataan paling menakutkan dari cabe. Ia salah satu orang yang paling percaya bahwa cabe bisa mengubah nasibnya. Parji berani utang dua ekor sapi, dan menyewa berpetak-petak ladang sebagai modal.

"Tinggal mengalikan saja ta hasilnya, dan keuntungan sudah bisa dihitung." Begitu kata Parji. Hingga ia pun memberanikan diri mencoba. Melepas seekor kambingnya dan mencari tambahan dengan berutang.

Namun sebulan kemudian harga cabe yang semula Rp 40 ribu, sudah merosot ke Rp 30 ribu, Rp 24 ribu, Rp 19 ribu, Rp 15 ribu. Dan minggu lalu, saat cabe-cabe masih sangat hijau, harga semakin jatuh ke Rp 7 ribu, ekmudian Rp 3 ribu.

Lelaki itu ingat. Bagaimana Parji menjerit seperti orang kesetanan. Berlari ke ladang. Membabat cabe-cabenya. Kemudian penduduk menemukannya gantung diri di pohon randu. NYawanya sudah tak bisa diselamatkan. Sementara istri Parji yang semula berkali-kali pingsan, kini hanya tertawa-tawa sambil menyebut utang-utang suaminya.

"Kalau saja...." Lelaki itu bergumam.

Ya, kalau saja dulu ia menuruti kata-kata istrinya. Tak perlu menjual kambing yang hanya  satu-satunya harta simpanan mereka. Tak perlu berutang yang semakin menambah beban. Dan tak perlu  membabat semua tanaman ladang yang masih bisa untuk dimakan.

Lalu dengan keadaan seperti ini, pada siapa ia dan para petani lainnya mengadukan nasib mereka? Nyatanya wong cilik tetaplah wong cilik. Hanya seperti anak kecil yang bola matanya naik ke atas dan ke bawah ketika melihat orang dewasa bermain yoyo.

"Aku jadi sunat kan, Mak?" Pertanyaan Jalu tadi pag masih terngiang jelas.

"Tanya saja sama Bapakmu!" jawabnya sambil melirik tajam. Tak harus dikasih tahu ia mengerti makna lirikan itu.

Lagi, lelaki itu menganjur napas panjang. Diraihnya kendi berisi air, lalu diteguknya pelan. Siapa sesungguhnya yang menaikturunkan harga? Tanyanya dalam hati. Semilir angin membuatnya harus kembali menyandarkan badannya ke pohon turi.

Semalam, lelaki itu telah menghitung, mengira-ngira berapa uang yang akan didapat jika ia menjual cabenya sekarang. Masih hijau, masih terlalu murah. Namun menunggu seminggu lagi juga tak ada jaminan harga bisa naik, bahkan bisa-bisa tambah merosot. Sementara cabenya sekarang saja sudah kelihatan kurang segar.

Sehelai daun turi jatuh di kepalanya. Andai saja ia tak pernah mendengar bahwa ada kehidupan setelah mati. Andai saja ia tak pernah mendengarbahwa semua yang dilakukan di dunia dimintai pertanggungjawaban. Andai saja tak ada Sayekti, wanita yang telah lima belas tahun menemani hidupnya. Andai saja tak ada Jalu, anak semata wayang yang dititipkan Tuhan di tahun ke sembilan pernikahan mereka. Mungkin, lelaki itu tak perlu berpikir dua kali mengikuti langkah Parji. ❑ (k)

Eni Wulansari.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eni Wulansari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 17 Juli 2016

0 Response to "Lelaki di Bawah Pohon Turi"