Lelaki Itu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lelaki Itu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:45 Rating: 4,5

Lelaki Itu

PAGI ini sungguh sangat bergairah. Sejak Subuh tadi, begitu mata Caca terbuka dari tidur lelapnya, ia merasa segar. Kini ia sudah berada di ruang kantor, penuh semangat mengerjakan tugas-tugasnya yang tertunda kemarin. Ia segera menyelesaikan sampai tuntas, agar minggu depan ia bisa cuti. Refreshing. Tiket menuju Bali sudah di tangannya. Ia akan menghabiskan seminggu berdua bersama kekasihnya. 

Kekasih. Menyebut istilah itu, Caca tersenyum sendiri. Kekasih yang sampai detik ini belum ia ceritakan kepada siapa pun. Bahkan, kepada sahabatnya sendiri. Kekasih misterius. Bukan tak ingin membagikan kebahagiaan kepada sahabatnya, namun …. Saatnya nanti pasti tiba. Entah apa reaksi sahabatnya mendengar ia sudah memiliki kekasih diam-diam. 

“Heh, pagi-pagi senyum-senyum sendiri kayak abis menang lotre,” tiba-tiba saja Iren, sahabatnya, sudah duduk manis di depan meja kerjanya. Caca makin memamerkan senyum manisnya.

“Hei … kamu seperti lebih dari menang lotre. Kamu … kamu tengah jatuh cinta ya?” tebak Iren

Caca tak ingin melepas senyumnya. Matanya mengerling.

“Ca … sungguhkah? Ooooh aku ikut bahagia untuk itu. Tapi, huh … kenapa juga tidak cerita? Aku terlewat untuk berita bahagia ini?” Iren merajuk.

“Iiih kamu, deh, langsung ngambek begitu. Aku aja belum bilang kalau tebakanmu benar, kan?” kilah Caca, makin membuat Iren penasaran. Caca kembali menatap layar laptopnya. 

“Ca …” Iren mendekatkan mukanya ke arah Caca. “Kamu tidak bisa membohongiku …. Semburat pipimu yang tiba-tiba merah jambu begini, dan itu belum pernah terjadi denganmu, Ca. Siapa?”

Caca kali ini tak bisa mengelak. “Tebakanmu seratus persen.”

“Siapa?” Tak ingin kau kenalkan padaku? Maen rahasia …” desak Iren.

Caca hampir saja membuka suara ketika tiba-tiba telepon di mejanya berdering. Menyelamatkannya.

Iren kembali ke mejanya dengan sebuah kode ibu jari dan jari telunjuk membentuk bidikan. “Nanti malam, kita makan malam dan cerita ya ….” Ia pun berlalu kembali ke meja kerjanya.

***
Caca asyik mengaduk-aduk ice lemon tea yang tinggal separuh gelas. Iren menatapnya lekat.

“Kamu yakin, Ca?”

“Kami saling sayang,” Caca bersuara lirih. Ia tak berani menatap mata Iren, sahabatnya sejak kecil yang sudah seperti saudara kandung. Selama ini Iren menjadi tempatnya bercerita apa saja. Namun, yang satu itu, entahlah kenapa Caca cukup lama merahasiakannya.

“Kenapa harus sama dia, Ca?” desak Iren.

“Memangnya aku bisa memilih kepada siapa aku jatuh cinta?” lirih namun nadanya agak meninggi. “Kamu tahu aku selama ini tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun, Ren. Namun, dengannya aku merasa nyaman. Merasakan tenteram yang sangat. Aku merasa terlindungi.”

Caca mengangkat dagunya. Matanya menatap Iren, lekat. 

“Dia lebih dari kekasih. Sosoknya yang teduh seperti sosok Papa yang kurindukan. Kamu tahu, aku tak pernah mengenal Papa.”

Tentu saja Iren tahu betul. Ia sangat mengenal luar dalam keluarga Caca seperti ia mengenal keluarganya sendiri. Caca dilahirkan sebagai anak tunggal. Belum genap tiga tahun papanya meninggal karena kecelakaan. Sejak itu, Tante Mieske, ibu Caca membesarkan putri tunggalnya ini sendirian. 

Iren dan Caca tumbuh bersama, sejak kecil. Iren adalah sosok yang mudah jatuh cinta. Lihat cowok ganteng di sekolah saja, ia bisa langsung memacarinya. Entah sudah berapa banyak pria yang ia sebut pacar. Semuanya dilalui dengan keriangan remaja. Bahkan, tak pernah ada cerita sedih karena harus bubar. Enggak asyik lagi. Sudah enggak cocok. Bosan. Semudah itu ia melewatinya. Sosoknya yang periang memang tak pernah memberi ruang pada hidupnya untuk bersedih.

Caca kebalikannya. Ia tak pernah tertarik dengan para lelaki yang selama ini banyak mendekatinya. Selalu saja ia punya alasan. “Aku ingin fokus belajar.” Caca memang bintang sekolah. Selalu saja menjadi juara dalam banyak bidang. Bahkan, saat kuliah, ketika mereka tinggal di satu kamar kos, tak pernah sekalipun Caca tertarik dengan lelaki. Beberapa kali Iren mendesaknya untuk cerita, selalu jawabannya, “Belum ada yang sreg di hati. Nanti kalau ada yang bikin aku berdesir pun, pasti langsung kuajak ke pelaminan,” begitu selalu kelakar Caca mengelak dari perbincangan soal lelaki. 

Hingga sekarang, Iren senang akhirnya Caca jatuh cinta. Namun ….

“Dia bukan lelaki merdeka, Ca. Dia punya istri dan anak. Bahkan, anaknya sudah remaja, lo, Ca.” Iren berkata cukup hati-hati agar Caca tidak tersakiti. Ia paham sahabatnya ini sangat sensitif.

“Aku mencintainya, tulus. Begitu pun dia.”

Iren menghela napas. Ditatapnya Caca yang kembali mengaduk-aduk minumannya.

Kembali hening.

“Ca … boleh aku tahu mengapa kamu tidak ingin menceritakan ini sejak awal? Kamu sudah menjalin hubungan serius ini satu tahun. Dan aku tidak pernah tahu, tidak pernah juga melihat ada tanda-tanda yang berubah darimu. Mengapa kamu merahasiakannya bila itu adalah kebahagiaanmu?”
“Aku belum ingin bercerita saja, Ren.”

“Yakin hanya menunda?”

Caca mengangguk.

“Bukan lantaran sesungguhnya kamu tahu bahwa hubungan ini bukan hubungan baik. Kamu merahasiakan karena kamu tidak ingin orang lain tahu yang tengah kamu jalani bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan. Kamu tahu persis bahwa hati kecilmu sebetulnya tak ingin ini terjadi. Tapi, kamu sedang dinaungi cinta. Seolah-olah, cinta bisa membenarkan apa yang sedang kamu jalani ….”

“Maksudmu?” sergah Caca.

“Kamu tahu, tak ada wanita yang ingin dikhianati oleh kekasihnya. Perselingkuhan suaminya denganmu pasti akan menyakitkan buat istrinya. Kamu tega, Ca.”

“Kami saling jatuh cinta, Ca. Bukan berselingkuh ….” Mata Caca membundar, marah.

“Kalau bukan berselingkuh, mengapa harus sembunyi-sembunyi … Kamu tidak ingin ketahuan dan kemudian istrinya tersakiti. Kamu tahu, kamu sudah merusak rumah tangga orang lain, Ca. Atau malah kamu ketakutan bila kemudian lelaki itu tidak memilihmu tetapi kembali ke istrinya, bukan?”

“Iren ….” Mata Caca berkaca-kacak. Sekali hentakan, ia bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Iren. 

Iren tak ingin mengejarnya. Ia biarkan sahabatnya berlalu. Iren percaya Caca sangat dewasa untuk mau memikirkan apa yang diucapkannya. 

Sesungguhnya Iren sangat sedih karena Caca melakukan hal yang justru dibenci oleh wanita mana pun. Merusak rumah tangga orang. Iren sungguh tak bisa paham ….

***
Caca duduk di sudut ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah atas kepedihan hatinya. Ia sendiri sulit memahami mengapa tiba-tiba harus ada rasa pedih yang mengiris-iris hatinya.

Ia mulai menggoyang-goyangkan tekukan lututnya ke kiri-ke kanan tanpa melepas pelukan tangan di atas lututnya. Masih terdengar jelas.

Dia bukan lelaki merdeka, Ca.

Sejak bertemu, Mas Amril tak pernah berdusta. Ia menceritakan statusnya dengan gamblang. Ia adalah suami dan ayah dua anak yang tengah beranjak remaja. 

Caca suka pada mata teduh lelaki itu. Mereka mengobrol dengan sangat renyah. Ringan dan berat mewarnai bobot obrolan mereka berdua. Namun tetap saja mendatangkan kebahagiaan bagi keduanya. 

Caca harus mengakui, ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Mas Amril adalah sosok lelaki yang diinginkannya. Pada lelaki seperti inilah Caca rela berpasrah diri, menyerahkan kasih sayang dan perhatian setulus hati.

“Apakah aku tidak boleh mencintai lelaki yang tidak merdeka? Salah? Cinta itu bisa salah?” Air mata Caca menetes di kedua pipinya. Tangannya tak pernah lepas memeluk kedua lututnya.

Kamu tengah merusak rumah tangga orang. Yang kalian lakukan adalah perselingkuhan.

Tuduhan keji sahabatnya sungguhlah membuat hatinya tercabik-cabik. Bagaimana bisa ia yang mengenal dirinya sejak kecil harus punya prasangka sedemikian rupa. Apakah tuduhannya benar? Ah, Caca teringat bagaimana kencan-kencan dia dan Mas Amril yang selalu dilakukan sembunyi-sembunyi, di tempat yang bukan favorit, datang sendiri-sendiri, pulang pun sendiri-sendiri. Tak boleh ada foto kemesraan yang diposting di sosmed. Semua chat harus di-delete. Nomor Caca disave dengan menggunakan nama lelaki di phone book Mas Amril.

“Kamu boleh bertanya kabar anak-anakku, tetapi jangan bicarakan soal istriku.”

“Mengapa?” tanya Caca polos.

“Mas kehilangan gairah bersamamu bila nama istri disinggung ….”

Dhaaaarrr ….

“Kamu ketakutan bila kemudian lelaki itu tidak memilihmu tetapi kembali ke istrinya, bukan?”

Suatu hari Caca menyusul Mas Amril yang sedang bertugas ke Dubai. Kali ini agak menyenangkan karena Caca bisa berjalan berdua menikmati kemegahan Dubai. Tidak seperti ketika ia menyusul ke Makassar. Ia hanya menjadi “tahanan kamar” karena tak bisa keluar dari kamar hotel. Bahkan, breakfast pun dilakukannya di kamar. Entah mengapa kali ini Caca baru merasakan perihnya. Padahal ketika hari-hari mereka lalui di sebuah kamar hotel di Makassar hanyalah hasrat cinta yang menggebu-gebu. 

“Mas tidak ingin mengantarku sampai depan pintu?” rajuk Caca ketika mereka tiba di depan rumah Caca sepulang dari Dubai.

“Kita sudah menghabiskan waktu bahagia di Dubai. Jangan dirusak di sini. Tetanggamu nanti melotot dan melaporkan kita he he he …. Sebaiknya nanti kita cari rumah yang agak terpencil dengan tetangga yang tidak perlu kiri-kanan.”

“Kita akan segera menikah kah?” buru Caca.

“Begini saja kita sudah bahagia, bukan?”

Pyaaaaarrr ….

Rasa perih itu makin mengiris-iris seluruh tubuh Caca tanpa jeda. Tak ada satu inci pun yang dilewatkan. Semua memberikan perih yang amat sangat. 

Pelukan tangan Caca pada kedua lututnya makin ketat. Goyangannya makin kencang.

Air mata itu tak lagi mengalir. Mengering bersama rasa marah yang tiba-tiba menguasai emosinya. Ya, Caca marah pada dirinya. Selama ini dia sudah membuang waktunya untuk sesuatu yang sia-sia. Bahkan ia sudah merendahkan dirinya sendiri. Atas nama cinta …. Huh … bullshit. Cinta mana yang tengah dibela ketika ia merusak sebuah tatanan kehidupan yang telah dibangun bertahun lamanya.

***
Pagi sekali Caca terbangun. Dia selalu ingin datang lebih pagi ke kantor.

“Selamat ulang tahun ….” Caca kaget ketika kakinya baru saja menginjak lantai ruang kantornya. Ulang tahun? Aku ulang tahun? Oh ya ampun sampai lupa kalau hari ini ulang tahun dirinya. Teman-teman yang baik di kantornya rupanya hari ini khusus menyiapkan kejutan untuknya. Caca meniup lilin berbentuk angka 26 miliknya dengan kebahagiaan yang membuncah.

“Wuiiih yang habis liburan seminggu segar luar biasaaaa ….” Satu per satu teman-teman sekantornya menyalami dan menciuminya.

Caca merasakan ada kebahagiaan lain miliknya. Dia bukan perempuan kesepian. Dia punya banyak teman yang penuh kasih sayang, dia punya pekerjaan bagus, dan tentu saja dia punya … Iren.

Caca mendekati Iren dan memeluknya ketat. “Terima kasih, Ren.”

Iren pasti tahu Caca sudah membuat keputusan: tak akan ada lagi Mas Amril. Tak akan lagi ia mengulangi kesalahan sama. Dia tahu, dia tak akan pernah ingin menyakiti perempuan mana pun. Juga tidak ibunya, perempuan hebat yang membesarkan dirinya sendirian. Dan dia tidak ingin menyakiti dirinya sendiri. Ia terlalu berharga untuk disakiti.
Kebahagiaan itu menanti dirinya. Cinta itu pasti ada. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rai
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1480/XXIX

0 Response to "Lelaki Itu"