Maafkan Aku Vilen | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Maafkan Aku Vilen Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:29 Rating: 4,5

Maafkan Aku Vilen

TAK sempat aku mengucapkan selamat ulang tahun dan selamat “Hari Valentine” kepada kembaranku tersayang, Vilen. Dia terlanjur menghembuskan napas terakhirnya di saat aku belum datang ke rumah sakit. Aku sangat menyesal. Di saat-saat terakhirnya aku tidak ada di sampingnya. Ya, sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Semoga Vilen diterima di sisiNya.

Lagi sedih-sedih begitu, tahu-tahu sebuah suara cempreng mengagetkanku. 

“Valen, ada telepon dari temanmu!” itu suara bibiku yang sudah bekerja di rumahku selama tiga tahun.

“Iya, bi.”

Kuangkat telepon itu dan ternyata Sylvi temanku yang menelepon.

“Gue ikut berduka cita ya, atas meninggalnya Vilen.”

“Iya, makasih ya ….”

“Besok lo sekolah kan?”

“Gue usahain deh, masuk sekolah!”

“Tapi lo baik-baik aja kan?”

“Ya, begitu deh.”

“Sorry ya, kemarin gue nggak sempat ikut ke pemakaman Vilen.”

“Nggak apa-apa kok.”

“Oh, ya Met Ultah dan Met Valentine ya!”

“Thank’s.”

“Ya, udah deh. See you tomorrow.”

“Bye …!”

Baru aja aku menutup telepon, terdengar bunyi di handphone-ku.

“Valen, gue ngucapin turut berduka cita atas Vilen and Met Ultah. Salam manis dari Anggie.”

Begitulah bunyi pesan yang diterima oleh HP-ku. Rasanya baru 2 hari nggak masuk sekolah, aku udah kangen banget sama temen-temenku. Eh, kecuali 1 orang, ia adalah Aji. Aku masih sebel saja dengannya, walaupun ia dan keluarganya telah meminta maaf atas kejadian itu. Kejadian yang menyebabkan kematian Vilen. Kalau saja Vilen tidak dijemput naik motor, oleh Aji. Kalau saja truk itu tidak menabrak motor Aji. Kalau saja hari itu tidak sedang hujan. Tapi kenapa aku mesti sebel sama Aji? Sebagai saudara kembarnya, aku tahu bahwa sebenarnya Vilen sangat menginginkan naik motor dibonceng Aji, walaupun itu hanya sesaat. Di surga sana, Vilen pasti melarangku untuk membenci Aji. Tahun-tahun lalu kami merayakan ulang tahun kami, sekaligus merayakan Valentine dengan penuh sukacita. Tapi kali ini Vilen telah meninggalkan aku untuk selamanya. Akupun tidak dapat merayakan ulang tahun dan hari Valentine dengan Vilen. 

*
Hari-hari telah berlalu, semenjak kematian kembaranku Vilen. Tak terasa aku dapat melupakan kematian Vilen. Kesibukan di sekolah dan di luar sekolah membuat aku tidak lagi memikirkan dan bersedih atas kematian Vilen.

“Eh, Valen class meeting nanti, lo mau kan jadi tim basket putri,” suara Aji tiba-tiba mengagetkanku dari belakang. 

“Hah … tim basket, gue …? Gue kan nggak bisa main.”

“No problem, yang penting loe mau nggak? Nanti gue latih deh bareng yang lain. Please dong Valen, kita kekurangan orang nih.”

“Kapan latihannya?”

“Gimana kalau Kamis depan?”

“Ok deh, kalau kalah nggak apa-apa ya?”

“Nggak apa-apa.”

Kamisnya, aku dan temen-temen dilatih sama Aji. Semenjak aku menerima tawarannya, aku dan Aji jadi semakin sering bertemu. Lama-lama akupun akrab dengannya. Aku mulai mengaguminya! Ketika Aji dengan lincah mendribel bola basket, aku memperhatikannya dengan seksama. Lama-lama perasanku mulai berubah, aku menyukai Aji! Dulu sebelum meninggal, Vilen pernah berkata kepadaku bahwa dia menyukai Aji dan aku tidak boleh ikutan naksir karena sangat menyayanginya.
Aku jadi bingung. Kedekatanku dengan Aji belakangan ini membuatku sering merasa bersalah pada Vilen. Dia milik Vilen, dan aku sudah berjanji tidak akan ikut menyukainya. 

Tapi aku sungguh menyukai Aji. Dan membuang perasaan suka tidaklah mudah.

Sampai suatu saat Anggie bertanya padaku.

“Valen, lo mau nggak jadi ceweknya Aji?”

“Kok, lo nanyanya gitu sih?”

“Aji yang nyuruh gue, dia suka lo.”

“Jangan bohong, ah!”

“Suer deh, gue nggak bohong. Baca aja suratnya nih!”

“Surat dari Aji?”

“Iya … paling nggak habis class meeting, lo kasih jawaban, ya?”

“Kenapa dia nggak tanya langsung ke gue?”

“Waktu gue tanya, Aji bilang nggak kenapa-kenapa.”

“Nggak kenapa-kenapa gimana?”

“Ya, gue mana tau, dia malu kali! Udah terima aja Len, bukannya dari dulu lo emang suka sama Aji?”

“Ngaco lo, yang suka tuh Vilen, bukan gue!”

“Oh Vilen toh. Ah, sama aja lah, nggak ada bedanya. Kalo Vilen suka, lo pasti suka juga kan?”

“Aduh … lo kok ngomongnya tambah aneh sih? Yang suka tuh Vilen, bukan gue. Gue nggak suka kok!”

“Bener nih, loe bener-bener nggak suka sama Aji? Lo yakin sama ucapan loe?”

“Ya, gue yakin!”

Sampai malam aku berpikir keras. Apakah Vilen akan memaafkanku bila aku menyukai Aji? Anggie benar, aku emang bohong sama diriku sendiri. Aku emang suka sama Aji.

Kubuka buku diaryku dan mulai menulis, Vilen, kuharap kamu bisa mengerti, bersamanya aku merasa bahagia. 

Maafkan aku.

Setelah menutup buku diary, aku pergi tidur, berharap mimpi bertemu Vilen.***


Rujukan
[1] Disalin dari karya Fransiska Ludiasari L. 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Gadis" edisi 22 Maret – 1 April 2002

0 Response to "Maafkan Aku Vilen"