Malam Minggu di Jalan Braga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Malam Minggu di Jalan Braga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:22 Rating: 4,5

Malam Minggu di Jalan Braga

Hembus angin rantau bawa dedaunan
kering tak berdaya ke jalanan. Bulan
di kamar malam, ketawa di hasrat dendam.

Aku dan kekasihku berjalan-jalan
di trotoar Braga yang renta dirundung kalut;
Jinakkan racun kangen yang khusyuk berkelindan

di badan, di dalam asmara yang sungkan,
dalam debar angin, baris pepohonan;
kadang perih, menikam, kadang kedinginan.

"Seperti di Eropa ya?" ujarnya
setelah pandangannya bergerak merayap
keliling dengan mata yang daun akasia

perahu. Jalan membentang warna merkuri,
harimau-harimau dikurung sorot lampu,
menjinakkan kebekuan di bangku-bangku.

Lukisan-lukisan ingin bercerita, tapi
jarang yang ingin mendengar. Cerita
tumbuh di meja-meja bar bertaplakkan

degup jantung laki-laki kesepian
di pojok bar, ditawari seorang wanita
penjual rokok untuk membeli rokok

Orang-orang terus berjalan-berlintas-
lintasan, menyerahkan kecut diri
kepada malam yang terang benderang.

Kami masih menyusuri jalan ini,
menyiram bunga yang hampir layu di sini,
di dada, kemudian membuka pintu-

pintu kesayangan yang tak kunjung rapuh,
dalam rasa kecut ini. Beberapa
mulut toko menganga seperti bibir

Rolling Stones. Berusaha menenggelamkan
suara kami. Berbahagia dalam sengal,
mungkin itulah moto saat ini.

Kami memindahkan malam ke dalam
video di telepon genggam. Menjebak
masa lalu butuh alat, tapi kami tak

hanya menangkap diri kami sendiri.
Kami juga memindahkan jalan ini
ke dalam beberapa jepretan foto

di kamera telepon genggam. Mungkin tak
semua wajah menyiratkan kehangatan
yang tak hendak runtuh. Orang-orang itu,

dibalut pakaian slogan 'anti mapan.'
pengamen, pelukis-pelukis yang menunggu
sesuatu, tapi yang ditunggu tak kunjung

datang. Ada bayangan surga tapi
tak mampu diraihnya. Belaian angin
di rambutnya, sebatang rokok obati

dingin atau pelukan atau percakapan.
Seseorang di seberang sana tak henti-
hentinya menyemburkan asap rokok,

seakan-akan dapat menumpas malam.
Kami duduk di bangku yang disediakan
Kota untuk penghujung. Ia bertanya

dengan nada datar, "Sepertinya kota
hendak memisahkan kita
dengan diri kita?"

aku diam saja. Seorang pengamaen
menghampiri, dengan gaya rambut
anti kemapanan. Pandangan

matanya berat-keruh, bersikeras
melawan kantuk. Ia menyanyikan lagu
sebuah band terkenal dari luar negeri.

"Time of Your Life."

2015


Agit Yogi Subandi, lahir di Prabumulih (Sumatera Selatan), 11 Juli 1985. Saat ini sedang menyelesaikan pendidikan magister hukum di Universitas Padjajaran. Bergiat di Komunitas Berkat Yakin (KoBER) Lampung.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Agit Yogi Subandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 3 Juli 2016



0 Response to "Malam Minggu di Jalan Braga"