Masjid Saka Tunggal - Sekali Pandang - Sepeninggal Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Masjid Saka Tunggal - Sekali Pandang - Sepeninggal Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:36 Rating: 4,5

Masjid Saka Tunggal - Sekali Pandang - Sepeninggal Ibu

Masjid Saka Tunggal

masjid satu pilar
di tengahnya empat sayap
seperti totem tergambar
bawah tiang kaca pelapis senyap

ada tahun pendirian prasasti

abad 12 sebelum wali sanga
di tanah yang disucikan agama kuna
sebuah batu menhir tegak meraja
di hutan dengan ratusan kera

empat sayap penopang yang
menempel di saka empat kiblat dan lima lurus
empat mata angin dan satu pusat tak terputus

manusia dikelilingi
api, angin, air, dan bumi
bahwa hidup haruslah seimbang

yang hidup mestinya seperti alif
jangan bengkok
yang bengkok bukanlah manusia
empat penjuru

mata memandang
hati berdendang
lagu
‘jangan terlalu banyak air
kalau tak ingin tenggelam
jangan banyak angin
bila tak tahan masuk angin
jangan bermain api
jika takut terbakar
jangan terlalu memuja bumi
jika tak ingin terjatuh’

empat kiblat dan lima lurus
sufiyah, amarah, lawwmah, muthmainnah
bertarunglah jiwajiwa manusia
hingga hidup hanyalah alif
Cikakak, Wangon, 4 januari 2016

Sekali Pandang

gadis yang
dulu di senja berjumpa
menunggu giliran berwudlu
di sebuah surau kecil itu

pandang mata beradu
udara gagu
detak jantung hampir membeku
dua alis mata bertemu

sekali pandang itu
kau aku tidak kembali ke rumah ibu
tersebab betapa tergodanya kita
pada indahnya bianglala
Yogyakarta, 20 desember 2015

Sepeninggal Ibu

kusapa perempuan di jalannya
tidak sebagai kemarin : mata
bunga biru kehijauan
lengkung alis rembulan limabelasan
mancung hidung mancung dada membusung
pinggang menari dipegang kendali
kuda betina dipacu di padang gelanggang

kusapa perempuan sebagai matahari
terbit ke esok hari : cahaya
menembus jendela kamar
pandang ke cakrawala dengan sabar
harapan dan doadoa yang
tidak berkesudahan

memang indah tubuh
tetapi megah ruh
akan tiada henti menari
hingga megatruh

sekalipun matahari terasa senja di jalannya
matahari toh akan tenggelam di hari rabu
seperti lingsirnya nenekmoyangku : di jalanku
kusapa setiap perempuan sebagai ibu
Yogyakarta, 2 januari 2016


Abdul Wachid B.S, lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Dosen IAIN Purwokerto, sedang studi Program Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UNS. Buku-buku karyanya Buku puisi, Rumah Cahaya (1995), Ijinkan Aku Mencintaimu (2002), Tunjammu Kekasih (2003). Beribu Rindu Kekasihku (2004), Yang (2011). Kepayang (2012), Hyang (2014). ❑ - c

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Abdul Wachid B.S
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 17 Juli 2016

0 Response to "Masjid Saka Tunggal - Sekali Pandang - Sepeninggal Ibu"