Melati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Melati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:36 Rating: 4,5

Melati

AKU sama sekali tidak lupa dengannya, meski ia telah berubah total. Biarpun rambutnya jauh lebih panjang dari yang kukenal dulu. Kulitnya juga jauh lebih bersih, lebih kuning dibandingkan dengan dua tahun yang lalu. Ia lebih gemuk, atau tepatnya lebih berisi. Padahal dulu ia tergolong kurus. Dua tahun telah membuatnya sangat banyak berubah. Cuma satu yang tidak berubah: sosok matanya.

Ya, sorot matanya masih sorot mata yang dimilikinya dulu. Mata yang bening dan bulat itu tetap bercahaya. Dan dari sepasang mata indah itu masih terpancar keriangan. Belakangan baru kusadari, itulah sorot mata optimisme. Rasa percaya diri yang besar. Sorot mata yang bisa menguasai segalanya. 

Rasanya memang bentuk dan sorot matanya yang membuatku cepat mengenalinya. Celakanya justru ia yang sebentar agak lupa denganku, meski aku merasa perubahan diriku jauh lebih minim dibandingkan dengan perubahan yang ia miliki sekarang. 

“Mel!” jeritku keras-keras, tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarku. 

Sesaat Melati berdiri dengan mata menyipit, menatapku dengan wajah penuh tanda tanya. Tapi sebentar kemudian ia sudah menubruk dan memelukku erat-erat. Gerakannya membuat ia sempat menyenggol rak dan menjatuhkan beberapa buah pasta gigi. Tapi ia tak peduli, aku juga tidak. Kami terus berpelukan erat untuk beberapa saat lamanya.

“Kamu hilang ke mana?” tanyaku tanpa melepas dan mengendorkan pelukan.

“Aku masih di sini. Di kota ini.”

“Bohong!” aku mendorong tubuhnya.

Melati tertawa kecil lalu memunguti pasta gigi yang terjatuh dan menaruhnya lagi di rak. “Aku sengaja menghindari kamu. Hahaha ....”

“Jahat kamu!”

“Kita harus saling berdebat atau saling menyalahkan?”

“Ya, harus! Karena kamu yang ngilang!” kataku gemas.

“Kalo gitu, kita harus selesaikan dengan cara kita dahulu.”

Aku berpikir sebentar untuk menangkap arti ucapannya.

“Dengan makan!” kata Melati sebelum aku menemukan jawaban.

Dengan makan. Ya, dulu-dulu, semasa di SMP, kami kerap bertengkar kecil-kecilan, lalu berdamai dengan cara makan bersama. Aku atau Melati yang traktir.

“Sekarang giliran siapa?” tanyaku.

“Lupa! Hahaha ... kamu ingat?”

Dua tahun berpisah. Siapa yang ingat?

“Biar aku aja yang traktir kamu. Kebetulan aku masih ada sisa uang belanja,” kata Melati.

Kulirik troli di samping Melati. Begitu penuh sesak dengan belanjaan. Berapa ratus ribu yang ia belanjakan?

*
Melati benar-benar telah banyak berubah. Teman sebangku yang dulu kukenal selalu ke sekolah dengan uang saku pas-pasan, bahkan sering menunggak uang SPP, mendadak mentraktirku dengan gila-gilaan. Ia tak cuma mengajakku ke resto yang cukup mewah, tetapi juga memesan begitu banyak makanan yang harganya agak sulit kuperhitungkan.

Ia makan dengan santai, sambil sesekali membicarakan kenangan masa SMP yang konyol dan lucu-lucu.

Sementara aku makan sambil berpikir: ke mana saja kami selama dua tahun ini? Ke mana perginya persahabatan erat nan manis semasa SMP itu? Begitu lulus SMP, aku kehilangan kontak dengan Melati. Yang kuingat, kedua orang tuanya pindah dari rumah kontrakan itu. Dan begitu saja persahabatan itu berakhir. Kehidupan kota besar, dengan segala dinamikanya, mungkin membuat orang (termasuk aku dan Melati) merasa tak perlu mengejar sahabat yang hilang. Di kota metropolitan seperti ini, ada banyak urusan yang jauh lebih penting daripada mencari-cara alamat teman yang pindah rumah. 

Alangkah  menyedihkannya. 

“Seharusnya kamu yang menghubungi aku, Mel. Keluargamu yang pindah. Kamu yang membuat perubahan.” Kalimatku lebih bermaksud membela diri.

Kulihat ada sedikit kesedihan di wajah cantik Melati.

“Kehidupan berjalan terus, Yanti.”

“Ya. Dan kamu amat banyak berubah.”

“Kamu nggak?”

“Nggak sebanyak kamu.”

Melati tercenung. “Sekolahmu gimana? Lancar-lancar aja kan? Kamu di mana?”

“SMU 26. Sekolahan yang paling dekat dari rumah. Kamu?”

Melati tertawa kecil. “Aku nggak sekolah lagi.”

“Bohong!” 

“Nggak percaya?”

“Kamu banyak menyimpan surprais. Kamu sekolah di luar negeri?”

“Anak pegawai rendahan nerusin SMU di luar negeri? Bercanda kamu! Hahaha ... kamu mau menghinaku, Yanti?”

Aku menggeleng.

“Aku nggak nerusin SMU, Yan. Sempat menjalani kelas satu, nggak sampai setahun lalu ke luar.”
Cahaya sedih di mata Melati membuatku percaya ia tidak tengah berbohong. Adakah karena masalah biaya? Kulirik belanjaan yang segunung di dekat kakinya. Kuhitung dalam hati berapa rupiah yang harus Melati bayar untuk semua yang tersaji di atas meja kami. Kalau dijumlahkan mungkin bisa untuk biaya sekolah satu tahun!

“Hei!” Tepukan Melati membuyarkan lamunanku. “Dua tahun kita nggak ketemu, buat apa bersedih-sedih? Yan, kamu ingat? Kamu dulu mengenalku sebagai tukang paksa. Kali ini gimana kalo kupaksa lagi kamu untuk datang ke rumahku? Ayolah, kamu jangan menolak. Udah dua tahun aku nggak pernah maksa kamu. Kali ini aja. Aku nggak mau dengar alasan penolakanmu. Ayolah, cuma setengah jam dari sini. Nanti aku antar kamu pulang. Kamu kemari naik apa? Bis kota kayak dulu?”

“Ya.”

Tanpa menunggu persetujuanku, Melati berjalan ke kasir, mengeluarkan dua lembar ratusan ribu untuk makanan dan minuman kami, lalu kembali menghampiriku yang masih berdiri terlongong.
“Kamu tadi beli apa?”

Kuperlihatkan tas plastik kecil berisi satu kemasan bedak bayi.

“Hahaha ... seleramu masih sama kayak dulu. Udah gede, tapi masih kayak bayi.”

Aku tak tersinggung dengan ledekannya. Soal ejek-mengejek, dari dulu Melati jagonya.

“Sekarang kamu bantu tantemu membawa belanjaan ini, ya?”

Dan kami berbagi. Kubawakan sebagian belanjaan Melati yang begitu banyak.

Aku mengikuti saja langkah Melati menuju tempat parkir dan sekali lagi aku dibuat terperangah manakala ia merogoh saku jinsnya, memijit tombol remote control dan membuka sebuah mobil BMW.

Mobil seperti milik orang kaya di sinetron.

“Naiklah!” seru Melati ketika aku masih berdiri terpana.

Di dalam mobil yang sejuk dan nyaman, di samping Melati yang menyetir sambil bersenandung mengikuti irama lagu yang diputar di stereo set mobilnya, sejuta pertanyaan menyerang kepalaku.
Anak seorang pegawai rendahan. Uang saku pas-pasan, sering menunggak uang SPP ....
Kini ... belanjaan segunung, sekali makan dua ratus ribu, mobil mewah .... Apalagi nanti?

Aku sudah tidak begitu terkejut lagi, manakala mobil Melati berhenti persis di depan pintu pagar sebuah rumah di sebuah kawasan perumahan elite. Sekali ia membunyikan klakson, seorang laki-laki tua tergopoh-gopoh membukakan pintu dengan sikap sangat hormat. Pasti pembantunya. Mungkin tukang kebun, jika menilik dari betapa rimbunnya halaman rumah itu dengan aneka tanaman hias.

Rumah itu tidak tergolong besar, namun sangat asri dan mewah. Halamannya cukup luas, dengan garasi di samping kanan teras rumah.

Turun dari mobil, Melati menarik tanganku kuat-kuat. Mengajakku masuk rumah.

“Ibu masih menerima jahitan, Mel?”

Ketika kulihat senyum Melati, aku baru menyadari betapa bodohnya pertanyaanku.

“Ayah dan ibu tinggal di kampung, Yan. Juga ketiga adikku.”

“Jadi?” tanyaku dengan muka bodoh.

“Inilah rumahku. Hahaha ... kamu makin heran, kan?”

Bukan heran lagi. Aku merasa tengah bermimpi. Dua tahun telah membuat kehidupan Melati menjadi ajaib.

Melati menghilang dari ruang tamu, membiarkan aku duduk terpaku di atas sofa kulit asli nan lembut dan empuk. Udara AC yang dingin membuatku semakin nyaman menyandarkan diri sambil memejamkan mata. Jika ini mimpi, biarlah berlangsung hingga pagi hari, batinku berharap.

“Surprais!”

Aku membuka mata dan terbelalak, melihat Melati telah berdiri di depanku. Ia telah berganti pakaian, dengan mengenakan celana pendek dan kaus ketat ngatung yang mempertontonkan pusarnya. Tapi bukan itu yang membuatku terpana, melainkan apa yang ada di tangannya. Apa yang ia angsurkan padaku.

Dengan gugup aku menerima bayi montok itu. Bayi putih yang memiliki wajah sebulat wajah Melati. Matanya mengerjap-ngerjap sebentar, lalu mulutnya bersuara tak jelas. Suara khas bayi.

“Umurnya hampir sembilan bulan.”

Aku mencium wanginya bayi itu.

Aroma yang menggemaskan.

Membuat ketagihan.

“Anakmu?” kutatap bayi itu dan Melati bergantian. Mereka memiliki kemiripan wajah yang amat sangat.

Melati mengangguk mantap. Kudekap bayi itu sebentar, kuciumi lagi sebelum aku angsurkan ke Melati. Melati menggelitik hidung bayi itu dengan hidung mancungnya, hingga si bayi kegelian dan tertawa. Mesranya. 

“Namanya Cindy.”

“Cantik sekali. Secantik kamu,” pujiku tulus.

Melati menghela napas panjang. Aku tahu, ia tengah menghimpun kekuatan untuk berkisah.

“Inilah yang terjadi dua tahun ini, Yanti. Kehidupanku berubah total, sesaat setelah kita berpisah. Kamu bisa terus sekolah hingga hari ini, sementara kebodohan membuatku harus menyudahi SMU-ku di bulan keempat. Aku hamil, Yan. Danny, ayah bayi ini, juga tak lulus SMU karena harus menikahiku. Untunglah ia bisa mengelola perusahaan ayahnya sendiri.”

Melati terus bercerita, sementara aku hanya menjadi pendengar yang tak ingin berkomentar. Intinya, Melati tak harus sengsara, karena orang tua Danny kaya raya, dengan selusin perusahaan yang bonafid. Untungnya pula, meski masih muda, Danny bukanlah tipe cowok yang tidak bertanggung jawab. Dan mereka rela menikah di usia dini.

Cindy mendadak menangis. Rupanya ia pipis. Melati berteriak memanggil nama seseorang. Sebentar kemudian seorang perempuan berpakaian mirip perawat datang dan mengambil alih Cindy dari pangkuan Melati.

“Susu dan mobilnya masih di mobil, Mbak. Suruh Bik Ijah untuk nurunin semua belanjaan. Tadi pagi vitaminnya nggak lupa, kan?

Baby sitter itu menjawab dengan senyuman.

“Urus Cindy, ya? Ini saya ada temen. Temen sekolah dulu. Kita lagi kangen-kangenan ....”

Baby sitter itu mengangguk dan membawa Cindy ke dalam. 

Aku menonton semua adegan itu. Sepertinya kehidupan Melati sangatlah menyenangkan. Begitu sempurna.

“Mel ...” kataku agak pelan. “Ada yang ingin aku tanyakan padamu ....”

“Tanya aja, Yan, mulai sekarang kita temenan lagi, kan? Kamu boleh kemari kapan aja. Aku ibu rumah tangga yang lebih banyak diam di rumah. Waktuku banyak kosongnya, sementara Danny sangat sibuk dan sering mengurus ini-itu di luar kota. Hm, kapan-kapan kamu harus kenalan sama Danny. Ia ayah yang baik, suami yang baik. Teman yang baik. Aku sangat mencintainya.”

“Ia yang membuatmu ngelupain aku, kan?”

“Sebenarnya aku merasa malu sama kamu. Kamu paham keadaanku, Yan?”

“Boleh aku bertanya, Mel?”

“Kamu nggak boleh begitu. Bilang aja terus-terang, seperti dulu-dulu!”

“Apakah kamu menyesal?”

Melati tercekat. Mungkin ia sama sekali tidak menyangka aku akan bertanya seperti itu.
“Menyesal?” ulang Melati.

Lama ia tak menjawab pertanyaanku. Lama pandangan matanya menerawang. Kemudian ia menggeleng. Menggeleng kuat-kuat.

“Waktu berjalan ke depan, Yanti. Seandainya waktu bisa diputar balik, tentu aja aku ingin mengulang lembaran hidupku mulai dari kelulusan kita dulu, atau dari jauh hari sebelumnya. Melewati masa remaja secara utuh seperti kamu ....”

“Itu berarti kamu menyesal?” desakku.

Sekali lagi Melati menggeleng. “Aku menyadari akan putaran waktu, Yan. Sadar akan nasib dan takdir. Jika Tuhan telah menggariskan seperti ini, apakah kita masih bisa memilih?”

“Jika ... jika,” aku sedikit ragu, “jika keadaan nggak sebaik ini, apakah kamu menyesal?”

Melati menggeleng berkali-kali. “Aku mensyukuri cinta Danny. Heh! Awas ya, nanti kamu bisa jatuh cinta pada suamiku jika udah kenal.”

Aku tidak tertawa mendengar canda Melati.

“Hidup ini, Yanti ... hidup ini adalah rahmat yang harus dipelihara dan dicintai. Hidup ini adalah perjalanan yang harus diselesaikan. 

“Hidup ini adalah lagu yang harus dinyanyikan. Hidup ini adalah cinta yang harus dinikmati ....”

Kutatap matanya, dan diam-diam aku merasa bersyukur manakala kulihat sinar matanya. Di usianya yang masih begitu muda, Melati benar-benar telah tumbuh dewasa.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Donatus A Nugroho
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Gadis" edisi 23 April - 2 Mei 2002

0 Response to "Melati"