Membenci Surat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Membenci Surat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:07 Rating: 4,5

Membenci Surat

SURAT, entah bagaimana aku bisa membencinya. Barangkali karena membuat aku teringat cerota ibu mengapa ayah memberiku nama Surat Man. Dua puluh lima tahun lalu, ketika aku baru dilahirkan di rumah sakit, ayah tak sengaja melihat ada sepucuk surat tersembul dari dalam tas kresek besar berisi baju ganti ibu di atas meja.

Lalu ayah membaca isinya. Ternyata itu surat dari mantan pacar ibu yang tak sengaja ikut terbawa saat ayah membawakan baju ganti ibu. Ayah marah besar. Ibu berusaha menjelaskan namun ayah tetap tak percaya.

Ayah lantas memberiku nama Surat Man untuk mengingatkan ia akan secarik surat yang membuat perasaannya hancur berkeping-keping. Dan membuat ayah memutuskan berpisah dari ibu saat itu juga.

Ibu selalu menceritakan kisah perpisahannya dengan ayah, karena ketika kecil aku sering bertanya, "Di mana Ayah, Bu?" Dan kenapa aku diberi nama Surat Man?"

Dari kisah ibu itu, aku kian membenci surat yang jadi penyebab berpisahnya kedua orangtuaku. Seiring berjalannya waktu, aku melebarkan sayap kebencianku pada semua surat di dunia. Bagiku, surat itu tak ada artinya. Hanya mengotori lingkungan dengan sisa limbah kertasnya. Belum lagi betapa banyak pohon yang harus ditebang untuk membuat kertas surat.

Walaupun begitu, aku sadari surat sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidupku. Baik namaku maupun pekerjaanku. Ya, aku memang bekerja sebagai tukang pos. Pekerjaan janggal bagiku yang membenci surat.

Terkadang, aku juga memikirkannya.

"Aku membenci surat tapi kerjaku mengantarkan surat." Aku benar-benar heran sendiri. Sempat pula terpikir olehku untuk membuang semua surat yang aku bawa ke selokan atau tempat sampah. Namun hati kecilku tak sependapat.

"Jangan kau nodai pekerjaan paling amanah sedunia ini. Kau tak perlu tahu apa isi suratnya, bisa saja itu menjelekkanmu, tapi kau harus tetap antarkan ke alamat tertera." Aku membenarkan pendapat hati kecilku.

Bukan tanpa sebab, aku memilih pekerjaan tukang pos. Lima tahun lalu, satu-satunya lowongan pekerjaan di kota yang sesuai tingkat pendidikanku hanyalah sebagai tukang pos. Tak punya lain dan sedang butuh uang , aku pun mendaftar dan tak kuduga ternyata diterima.

Meskipun sudah diterima, aku masih mencari pekerjaan lain. Yang menjauhkanku dari benda bernama surat. Seperti cleaning service atau buruh bangunan. Namun ketika aku mengutarakannya pada ibu lewat telepon di sela kesibukan pekerjaanku, ibu tampak tak senang mendengarnya.

"Pekerjaanmu sekarang itu rezeki dari Tuhan. Harusnya kamu bersyukur karena masih banyak orang nganggur," Ibu menasihatiku di ujung telepon.

"Iya, Bu." Aku menjawab singkat. Kututup teleponnya lalu kembali meneruskan pekerjaanku sebagai tukang pos.

***
"KE kanan, lurus terus. Nanti ada rumah dengan pagar warna hijau, itu dia rumahnya." Tukang becak yang aku mintai tolong menunjukkan alamat rumah si penerima surat.

"Terima kasih, Pak," kataku berterima kasih lalu melanjutkan perjalanan.

Sampai di rumah si penerima surat, aku memencet bel. Tak lama, si pemilik rumah keluar, Aku memberikan suratnya.

"Terima kasih, Mas." Lalu ia membuka dan membaca isi suratnya. Tampak rona sedih tergambar di raut wajahnya.

"Ada apa? Kok kelihatan sedih."

"Ditolak lagi tulisan saya, Mas."

"Jangan menyerah dan tetap semangat untuk terus menulis, kirim lagi yang banyak nanti pasti ada yang dimuat." Aku memberinya semangat. Ia mengangguk lantas masuk ke dalam sambil menutup pintu. Aku pun kembali melanjutkan tugasku, mengantarkan surat-surat yang masih banyak.

***
HARI mulai beranjak malam. Giliran bertugas mengantarkan surat sudah selesai.

Tiba di rumah, aku duduk termenung di kursi malas. Di depanku, semangkuk mi rebus yang belum juga aku sentuh. Mengingat kembali 15 tahun lalu, orang-orang masih banyak menggemari surat-menyurat. Entah itu surat ke sahabat pena, surat cinta, surat selamat ulang tahun hingga surat selamat hari raya. Sementara, aku sendiri tak suka berkirim surat apalagi membalasnya.

Sekarang aku menyesalinya, mengapa aku harus benci dengan surat hanya karena kedua orangtua bercerai gara-gara ayah menemukan surat cinta dari selingkuhan ibu. Karena ternyata berkirim surat itu menyenangkan. Tak sedikit orang jadi penasaran menunggu kepastian surat akan datang. Itulah bagian mengasyikkan dari surat.

Kriiiing!!

Suara telepon mengagetkanku. Aku bergegas mengangkatnya.

"Ada apa, Bu?"

"Ibu cuma pingin tahu kamu masih kepikiran buat ganti pekerjaan."

"Sudah enggak, Bu. Surat Man mantap jadi tukang pos saja, Bu."

"Syukurlah." Ibu tiba-tiba menutup teleponnya. Aku tertegun sejenak mengetahui ibu yang cepat-cepat menutup teleponnya. Biasanya, aku duluan yang menutup telepon.

Aku putuskan menelepon balik ibu. Namun ternyata pulsaku tak mencukupi untuk menelepon. Segera, kukirimkan pesan via whatsapp.

"Maaf pulsa Ibu habis." Balasan pesan dari ibu.

Aku bergegas mengirimkan pesan via SMS ke seorang teman, penjual pulsa elektronik.

"Ibu, sudah kubelikan pulsa."

"Terima kasih, anakku." Ibu membalas pesanku tak kurang dari 10 menit.

Aku pun menyadari waktu berkirim SMS dan whatsapp lebih cepat daripada lewat surat. Di situ aku terkadang mulai merasa khawatir surat akan semakin tergerus perubahan zaman, suatu hari nanti. Bilsa itu terjadi, aku harus siap kehilangan pekerjaanku sebagai tukang pos. Aku benci membayangkan itu benar-benar terjadi kepadaku nanti. Aku berharap semoga kekhawatiranku itu masih lama. Karena aku belum puas mengganti waktuku yang terbuang membenci surat, dulu.

Yogya, 2016 (k)

Herumawan Prasetyo Adhie, tinggal di Pringgokusuman GT II/537A RT24/RW06 Yogyakarta 55272

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan Prasetyo Adhie
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 3 Juli 2016















0 Response to "Membenci Surat"